Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 135 - Air mata kerinduan



Darius terus memandangi wajah putrinya yang masih takut bertemu dan bersentuhan dengannya.


sesi pertama untuk Tasya bertemu dengan Darius hari ini cukup berjalan lancar. Erika melihat sedikit perkembangan emosi di hati Tasya untuk kembali menyayangi papinya.


Tasya memang masih tidak ingin bersentuhan dengan Darius tetapi Tasya sudah mulai mau bicara dengan Darius. Tasya mau menyapa Darius dan menanyakan kabar papinya.


Darius begitu terharu mendengar suara putrinya memanggil dirinya dengan sebutan Papi. dia benar-benar tidak bisa lagi menahan air matanya. dia menitikkan air matanya. lalu ia menghapusnya kembali agar ia tidak terlihat lemah di hadapan putrinya.


"Tasya maafkan tapi sayang. papi janji sama Tasya tidak akan mengulangi lagi hal yang buruk kepada Tasya ataupun kepada mami. Papi mau, Tasya kembali menyayangi Papi. Tasya mau'kan sayang sama papi lagi?"tanya Darius kepada putrinya.


Tasya pun mengangguk untuk menjawab pertanyaan papinya. meski Dia berbicara hanya sekata dua kata. namun bagi Darius itu sudah cukup menandakan Tasya mau menerimanya sedikit demi sedikit.


bagi Darius sekarang yang terpenting adalah kembali membangun emosi bersama dengan Tasya. emosi yang membuat dia kembali dekat dengan putrinya. dia sekarang ingin menunjukkan betapa sayangnya dia kepada Tasya. Dia sangat kesepian karena tidak bisa bertemu dan tidak bisa berbicara langsung dengan putrinya.


Darius bahkan malu untuk bertanya tentang kondisi putrinya kepada diniar. dia terlalu malu menghadapi anaknya dan juga mantan istrinya. dirinya terlalu banyak melakukan kesalahan kepada Dinniar yang sudah begitu baik kepadanya dan juga kepada ibunya bahkan karena diniar pun, dia bisa menjadi seseorang yang dipandang oleh orang lain.


setelah sesi pertemuan antara Darius dan Tasya selesai. Erika memperbolehkan diniar dan juga Jonathan untuk masuk ke dalam ruangannya.


Erika ingin menunjukkan kalau Tasya sudah mau sedikit demi sedikit menerima Darius kembali. namun saat dia meminta Tasya untuk bersalaman dengan papinya. Tasya menolak dengan keras.


"Aku tidak mau!" Tasya berteriak


dinniar berusaha membujuk putrinya. Dia meminta putrinya untuk bersalaman dengan Darius karena memang mereka akan berpisah.


Dinniar melihat hal itu semakin sakit hatinya. dia tidak ingin putrinya menyimpan rasa kesal dan benci kepada Darius yang merupakan ayah biologis sang putri. Dinniar berusaha terus membuat Tasya yakin dengan memberikan isyarat.


Darius perlahan mendekati Tasya yang terlihat begitu tidak nyaman berada di sekitarnya.


"Tasya, coba bayangkan terus masa-masa indah dan menyenangkan bersama papi. Tasya pasti akan merasa tenang dan yakin kalau papi begitu menyayangi Tasya." Erika meminta pasiennya mengenang masa bahagia bersama Darius.


Tasya memejamkan matanya dan mulai membayang ya setiap momen bahagia yang dia miliki selama beberapa tahun sebelum akhirnya Darius menghancurkan kebahagiaan itu.


Sesekali Tasya tersenyum dan sesekali mengkerut seperti ketakutan. mungkin memori menyakitkan itu terkadang terlintas di benaknya.


"Sekarang buka mata Tasya perlahan-lahan dan tatap wajah papi. bilang kalau Tasya sayang papi." Pinta Erika.


Mata yang terpejam perlahan terbuka lebar. dia tatap wajah Darius yang jaraknya kurang dari satu meter di depannya. Awalnya ada keraguan di hati Tasya sehingga membuatnya kembali menutup matanya. Namun, pada akhirnya dia memberanikan diri menatap wajah Darius.


"Tasya sayang papi." ujarnya dengan perlahan.


mendengar pernyataan itu lolos dari bibir mungil putrinya. Dinniar dan Darius menitikkan air mata mereka berdua tanpa sadar. Dengan cepat Darius memeluk tubuh mungil putrinya.


"Papi juga sangat sayang sama Tasya. papi rindu sekali. ingin sekali papi memeluk Tasya sejak lama." Darius begitu erat memeluk putrinya.


Suasana haru dan mengandung bawang itu membuat semua yang melihat menjadi berkaca-kaca. Mereka begitu tak kuasa menahan air mata.


"Pak Darius, maaf. kita kembali ke sesi berikutnya. agar semuanya berjalan dengan lancar." Erika menepuk bahu Darius.


Darius melepas pelukannya dan menyeka air matanya dan air mata yang juga berlinang di pipi putrinya.


"Tasya bagaimana perasaannya? masih takut sama papi?" tanya Erika.


Tasya sedikit menggeleng, tapi Erika masih lihat raut wajah tidak nyaman. dia memaklumi Karena ini baru sesi pertama dan pertama kalinya mereka bertemu lagi setelah insiden Darius yang membawa paksa Tasya pergi dari rumah.


"Tasya, lihat Tante Erika dan dengarkan kata-kata Tante ya. fokus lihat ke sini ya." Erika mengeluarkan alat hipnoterapi milik dirinya.


Erika mulai bicara beberapa kata yang berusaha mempengaruhi Tasya sehingga sesuatu hal yang positif masuk ke dalam pikirannya.


"Tasya sudah lebih tenang sekarang?" tanya Erika sambil menyingkirkan alat hipnoterapi.


Sesi terapi sudah semua di laksanakan. Darius kembali mendekati putrinya. dengan ragu Tasya mendekat, tapi tiba-tiba berlari ke arah Jonathan dan bersembunyi di balik tubuh atletisnya papa tampannya.


"Sayang, kamu kenapa? tadi kita kan sudah enjoy. dan itu adalah papi. ayo jangan begini." Jonathan meminta Tasya keluar.


Tasya perlahan muncul dari balik badan Jonathan lalu menengadahkan wajahnya agar bisa melihat wajah papanya.


"Tasya, karena hari ini sudah sangat pintar. papa akan mengajak Tasya ke restoran Jepang sekitar sini. itu adalah restoran Jepang terenak." Jonathan menyentuh dagu dari wajah yang masih mendongak menatapnya.


"Aku mau digendong papa." ujar Tasya.


Darius yang mendengar suara manja putrinya kepada pria lain, membuat dirinya merasa semakin jauh dari sang putri.


hati Ayah mana yang tidak hancur ketika putrinya lebih memilih pria lain untuk bersama. Darius menyadari bahwa Jonathan memang benar-benar mencintai dan menyayangi Tasya dengan segenap hati.


"Tasya boleh Papi peluk Tasya sekali lagi. kita mungkin akan bertemu lagi tapi tidak tahu kapan. jadi izinkan Papi untuk memeluk Tasya sekali lagi." Darius memohon kepada putrinya untuk memeluk sebelum mereka berpisah.


Tasya menggelengkan kepalanya. Jonathan menatap Tasya dan berbisik.


Darius tidak tahu apa yang dibersihkan oleh Jonathan di telinga putrinya. namun setelah Jonathan berbisik Tasya pun meminta turun dan langsung menghampiri Darius lagi.


Tasya mendekati Darius dan mengecup pipi dari lalu kembali ke pelukan Jonathan. mendapat kecupan kecil dari putrinya Darius begitu senang. dia tidak tahu harus berbicara apa. karena meski Tasya tidak mau dipeluknya tapi dia mau mengecup pipi Darius.


Darius berpamitan kepada Erika, diniar dan Jonathan. dia juga melambaikan tangan kepada putrinya Tasya.


Dinniar tersenyum melihat Tasya yang membalas lambaian tangan darius.


"Tasya hebat sekali hari ini. Mami bangga sekali sama Tasya. Papa juga bangga kan sama Tasya?"tanya diniar kepada suaminya.


"tentu saja Papa sangat bangga. anak Papa benar-benar pemberani. papa jadi makin sayang sama Tasya. sekarang kita berpamitan dulu sama Tante Erika dan papa akan bawa Tasya dan Mami ke restoran Jepang kesukaan Tasya." ujar Jonathan