
Alesya selesai untuk siap-siap ke sekolah. Dia menggendong tas ranselnya dan berjalan menuju lantai dasar rumahnya untuk sarapan pagi bersama keluarganya.
"Papa kemana, Mih?" tanya Tasya saat duduk di kursinya.
"Papa hari ini ada pertemuan pagi. jadi sudah berangkat duluan ke kantor." Dinniar ikut duduk di kursi setelah selesai menyiapkan sarapan.
Tasya mengambil sandwich buatan maminya dan dia merasakan ada rasa yang begitu membuat mulutnya tak bisa berhenti mengunyah.
"Tasya, makannya perlahan." Dinniar memperingati putrinya.
"Mih, ini isi dagingnya dari restoran yang biasa kita datangi ya?" tanya Tasya dengan mulut yang penuh.
"Iyah, kamu benar sayang. papa sengaja memesannya untuk kalian. kalau masih mau, nanti sepulang sekolah mami akan siapkan lagi untuk kalian." Ujar Dinniar.
"Wah aku mau Mih." dengan lantang Devano langsung menjawab.
"Aku juga dong." Tasya dan Alesya serempak menjawab lalu tertawa.
Mereka tertawa karena kompak menimpali pertanyaan maminya. Dinniar juga tersenyum melihat tingkah kedua putri tercintanya.
BIP BIP BIP
suara ponsel berdering terdengar dari dalam tas Alesya. dengan cepat dia mengangkat teleponnya.
"Halo, kenapa?" tanya Alesya.
"Sya, hari ini kita ada remedial yang tugas praktek kemaren. Lo enggak lupa bawa bahan-bahannya kan?" tanya temannya melalui telepon.
"Iyah, udah di bawa kok. si Raka coba Lo telepon. pastiin dia Dateng dan bawa alatnya. jangan bikin rusuh lagi tuh anak." Kesal Alesya.
Selesai berbincang dengan temannya di telepon. Alesya langsung kembali menyantap sarapannya. Dia sangat menikmati sarapannya pagi ini. sandwich dengan daging ham khas restoran kesukaan mereka.
Cinta dan kasih sayang jonathan kepada anak-anaknya sangat patut diacungi jempol. dia begitu memprioritaskan anak-anaknya dan juga sang istri tercinta. baginya mereka adalah harta yang tak ternilai dan begitu berharga. Jonathan selalu memenuhi semua keinginan keluarganya. dia senang melihat ketiga anaknya gembira sebelum pergi beraktivitas.
Tak lama saat mereka bersiap ke sekolah terdengar suara dari arah cctv.
"semangat anak-anak papa sekolahnya. papa sayang kalian semua. cium dan peluk jauh dari papa." Jonathan bicara melalui sambungan cctv yang tersambung ke ponselnya.
"Semangat bekerja juga papa." ujar ketiga anaknya dengan begitu kompaknya.
Dinniar mengantar ketiga anaknya ke depan sebelum dia bersiap untuk pergi ke butik miliknya. banyak pesanan masuk dan juga banyaknya pelanggan yang membeli akhir-akhir ini. tak heran banyak pelanggan di butik Dinniar. dia memang selalu mempertahankan kualitas dan juga mempertahankan keunikan atau ciri khas dari produknya.
"Hati-hati sayang. Bye." Dinniar melambaikan tangannya kepada ketiga anaknya.
Alesya pergi menggunakan sepeda motor miliknya sedangkan dia adiknya diantar oleh supir pribadi menggunakan mobil.
"Aku sebaiknya bersiap. hari ini akan ada pelanggan yang datang untuk fitting baju pengantin." desisnya sambil masuk kembali ke dalam rumah.
Dengan langkah yang cukup cepat Dinniar memasuki rumahnya. dia terbiasa untuk datang lebih awal daripada pelanggannya. ini adalah salah satu pelayanan yang sangat membuat pelanggan di butiknya puas. selain cara kerja mereka yang cepat dan sangat teliti. mereka juga selalu tepat waktu untuk menyambut kedatangan pelanggan.
.
.
.
"Sya, Temenin ke tata usaha ya nanti jam istirahat." Pinta jelita.
"okeh siap." jawab Tasya singkat.
Guru masuk ke dalam kelas dan mereka bersiap untuk ujian harian. Dengan wajah yang cukup tegang mereka berusaha tenang menghadapi ujian matematika hari ini. guru matematika mulai membagikan kertas ujian mereka tak berani menatap wajah guru yang terkenal super jutek itu.
"Sebelum mengisi lembar ujian, berdoa dan kalian harus ingat siapa yang mencontek akan di keluarkan dari jam pelajaran matematika selama satu pekan." tegasnya sambil menatap seluruh anak murid yang ada di dalam kelas.
Debaran jantung mereka semakin berdetak kencang. tangan mereka bahkan cukup gemetar saat memegang pensil untuk menulis nama di kertas jawaban.
"Berasa di neraka gak sih?" tanya jelita.
"Neraka jahanam ini mah." Tasya tertawa.
sedikit candaan membuat Tasya dan jelita cukup tenang dan mereka akhirnya siap untuk mengisi soal dari pelajaran yang sangat ditakuti oleh kebanyakan orang.
.
.
.
Alesya dan teman-temannya bersiap untuk menghadapi remedial ujian praktek yang gagal tempo hari.
Alesya dan kedua temannya berusaha untuk merakit beberapa komponen agar bisa berfungsi sesuai dengan tujuan dari praktek tersebut.
"Kayaknya ada yang salah ya kita merakitnya." ujar salah seorang teman satu kelompoknya.
"kayaknya nih, tapi bagian yang mana ya?" Alesya berpikir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
waktu sudah terbuang dua puluh menit sedangkan jam pelajaran hanya berlangsung tiga puluh lima menit. itu artinya waktu yang tersisa hanya tinggal lima belas menit lagi.
Raka sejak tadi tidak diberi kesempatan oleh Alesya. dia hanya memperhatikan ketiga temannya merakit sambil senyum-senyum.
sreeet
Raka langsung mengambil alih papan komponen. dia tidak bisa lagi hanya diam.
"Raka, Lo mau ngapain sih?" kesal Alesya.
"Waktunya udah enggak banyak lagi'kan? kalo cuma diliatin enggak akan beres." Gumam Raka sambil mencopot kembali semua komponen yang sudah terpasang.
dengan gerakan tangan yang cepat dan sangat lincah Raka selesai mempreteli semuanya.setelah itu dengan gerakan tangan yang cepat dia kembali menyusun komponen di atas papan.
Alesya dan kedua temannya terlihat melongo dengan kecepatan tangan Raka. hanya butuh waktu kurang dari sepuluh menit semua sudah selesai dirakit olehnya.
"Nah, sekarang tinggal kita nyalakan." Raka menggerakkan tangannya menuju tombol yang tersedia untuk menyalakan rakitannya.
Tek
bunyinya terdengar merdu di telinga. dan Menyala lah sesuai dengan fungsinya. Alesya bersorak dengan lantang dan teman-teman lainnya langsung menoleh ke arahnya.
"ternyata dia pintar juga." gumam Alesya di dalam hatinya sambil menatap Raka sekilas.