Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 103 - Papa idaman



Jonathan dan Dinniar membawa Tasya ke psikolog anak. Mereka ingin memastikan kembali kondisi Tasya setelah kemarin Darius membawa paksa sang putri.


"Selamat Pagi."Dinniar membuka pintu dan mengucap salam setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk oleh temannya.


"Pagi, hallo anak cantik." Erika terlebih dahulu menyapa pasiennya yang lucu.


"Selamat pagi Tante Erika." Tasya tersenyum manis.


"Hai, Din. apa kabar?"


Dinniar dan Erika bersalaman dan saling menempelkan pipi mereka bergantian.


Erika dan Dinniar memang bukan teman dekat. Dinniar pernah bertemu Erika dan menolong Erika ketika psikolog anak itu terjatuh dari tangga saat di stasiun kereta. Dinniar menolong dan membawanya ke rumah sakit. Di sanalah mereka berkenalan dan Erika memberikan kartu namanya.


Dinniar memutuskan untuk pergi membawa Tasya ke klinik psikolog anak yang dibuka oleh Erika karena memang sudah cukup terkenal. Klinik love child adalah klinik yang menangani anak-anak yang memerlukan jasa konseling. Erika langsung turun tangan sendiri dalam mengatasi pasiennya. Dengan sikap yang ramah dan sangat penuh keibuan. Erika menyembuhkan banyak anak.


"Tasya, how are you today?" tanya Erika sambil menggendong Tasya dan menaruhnya di atas ranjang klinik.


"I'm good, Tante Erika and i'm very happy. Because i have a new papa." Tasya melirik ke arah Jonathan.


Erika melihat ke arah pria yang memang baru pertama kali di lihatnya.


"Oh ya? waw congratulation Tasya dan mami." Erika mengedarkan matanya ke arah Dinniar yang sedang tersenyum.


Erika melihat kebahagiaan yang sedang terajut diantara ketiga manusia yang di temuinya pagi ini. Erika merasa ini adalah kabar yang bagus dan membuat emosi Tasya sepertinya sudah mulai stabil.


"Terlihat Tasya begitu nyaman dekat dengan papa barunya. aku pikir ini hal yang baik untuk proses penyembuhan Tasya. ini akan semakin mempermudah penyembuhan." Erika tersenyum tipis.


Tasya menjalani serangkaian proses terapi. Erika merasa bingung kenapa bisa setiap dia menyebut kata papi dan nama Darius. Raut wajah Tasya langsung berubah menjadi ketakutan. Sedangkan ketika menyebut kata papa dan mama Jonathan dia sambut dengan senyuman.


Erika bertanya beberapa hal kepada Tasya dan dia sepertinya sudah bisa menyimpulkan apa yang terjadi kepada Tasya sampai saat ini.


Erika meminta untuk bicara empat mata dengan Dinniar. Sedangkan Tasya dan Jonathan keluar ruangan untuk bermain di taman bermain yang di sediakan oleh klinik love child.


"ada apa Erika?" tanya Dinniar.


"Din, sepertinya Tasya benar-benar tidak nyaman dengan papinya. Apa ada kejadian yang di luar kendali lagi?" tanya Erika.


Dinniar diam. dia bingung harus bercerita dari mana kepada Erika. Dinniar menatap Erika lekat.


"Pasti ada kan? makanya kamu diam. ceritakan saja intinya Dinniar. tidak perlu keseluruhan. aku hanya perlu menganalisa lagi untuk Tasya." Erika menyentuh dan menggenggam tangan Dinniar.


"satu Minggu lalu. mantan suamiku membawa Tasya ke rumahnya dengan paksa saat aku sedang tidak ada di rumah. dia pingsan saat aku sampai untuk menjemputnya dan di opname selama dua hari karena kritis." Dinniar menceritakan inti dari kejadian yang menimpa Tasya.


"ya tuhan, bukan kah aku sudah berpesan kepadamu untuk sementara bicara kepada suamimu agar tidak mendekati Tasya." ujar Erika.


"Aku sudah bicara, dia tidak mau mengerti dan tidak mau bersabar. alhasil Tasya kembali menjadi korban dari keegoisannya." Dinniar menangis.


Erika menepuk punggung tangan Dinniar untuk menenangkan wanita yang memiliki putri menggemaskan.


"Tasya, tapi begitu bahagia dengan keberadaan papa barunya. itu hal yang menakjubkan bagiku Dinniar. apa ada yang Jonathan lakukan sehingga membuat putrimu begitu nyaman dan bahkan bisa langsung tersenyum ketika aku menyebut namanya." Erika sangat penasaran.


Dinniar menggeleng. "Jonathan hanya bersikap biasa saja. hanya saja dia begitu perhatian dan tatapan tulusnya mungkin yang membuat Tasya nyaman berada di dekatnya." tutur Dinniar.


"Itu bisa jadi. karena anak bisa secara tidak langsung mengetahui siapa orang yang tulus kepadanya dan siapa yang tidak tulus. Perasaan anak memang sangat peka. Dia memiliki pertahanannya sendiri untuk melindungi diri sebenarnya." Tutur Erika.


"Jadi bagaimana dengan putriku?" tanya Dinniar.


"tiga hari lagi, kita pertemukan Tasya dengan papinya. kita harus mempertemukan mereka berdua. itu hal yang baik dan kita bisa memasukkan pemahaman kepada Tasya bahwa papi menyayangi dirinya." Nasehat Erika.


Dinniar terdiam, terlihat dari raut wajah Dinniar ada sebuah keraguan. Dia takut Tasya malah syok karena bertemu dengan papinya.


"Jangan khawatir Dinniar. aku akan menjaga Tasya. dia percaya kepadaku. jadi kita juga harus membuat dia kembali percaya kepada papinya." Erika meyakinkan Dinniar.


Dinniar dan Erika keluar ruangan dan mereka melihat Tasya sedang bermain dengan wajah yang sangat gembira penuh dengan tawa. Jonathan juga ikut tertawa bersama Tasya. pemandangan yang sangat sedap di lihat dan begitu diidamkan oleh banyak orang.


"Andai aku punya anak. pasti suamiku akan begitu bahagia seperti suamimu." Erika tiba-tiba curhat dadakan sangking terpana dengan pemandangan yang dia lihat.


"Kalau boleh tahu, sudah berapa lama kamu menikah?" tanya Dinniar.


"Aku sudah dua tahun menikah. Suamiku tidak menuntut ku untuk segera hamil. Hanya saja aku tahu dia begitu menginginkannya. terlihat dari sorot matanya saat melihat anak kecil." Erika menyapu air mata yang hampir terjatuh.


"Jangan berkecil hati. Aku rasa kamu bisa memiliki buah hati. Aku sarankan jangan terlalu lelah dan coba beberapa obat herbal. Ada obat yang pernah temanku konsumsi dan dia hamil setelah beberapa kali mengkonsumsinya." Dinniar menceritakan pengalamannya.


"Oh ya? boleh beritahu aku obat herbal apa itu. karena aku harap bisa juga seperti temanmu." Erika kembali ceria.


Dinniar berpamitan kepada Erika dan menghampiri dua orang terkasihnya. Tasya dan Jonathan menghentikan permainan mereka yang begitu asik.


"Kita pulang yuk." ajak Dinniar.


"Sebelum pulang, papa mau ajah mami dan Tasya ke suatu tempat dulu." Jonathan menggandeng tangan mungil Tasya dan Dinniar.


mereka berjalan bergandengan tangan sampai ke tempat parkir mobil.


Jonathan mengarahkan laju mobilnya ke suatu tempat yang begitu dia ingin kunjungi setelah menikah dengan Dinniar. Kebetulan dia hari ini tidak perlu ke kantor, jadi dia akan habiskan waktu bersama dengan Tasya dan juga Dinniar.


Selama perjalanan Jonathan terus mengembangkan senyumannya. tak lepas-lepasnya senyuman itu dari wajahnya.


Mereka sampai di sebuah mall besar dan memasukinya bersama.


"Kita ke mall, pa?" tanya Tasya.


"Iyah sayang. papa mau ajak Tasya dan mama ke suatu tempat yang akan membuat Tasya senang." Jonathan begitu bersemangat.


Jonathan, Dinniar dan Tasya menyusuri jalan yang ada di dalam mall. menembus dinginnya udara yang di sajikan oleh pengelola mall agar pengunjungnya tetap merasa nyaman meski berada lama di dalam mall.


"Kita masuk." Jonathan mengajak istri dan anak sambungnya masuk ke dalam salah satu toko baju.


"Kamu mau beli baju mas?" tanya Dinniar.


"Iyah, baju untuk kita bertiga dan sekalian kita berfoto. di sana ada studio box untuk kita berfoto bersama." Jonathan menunjuk sebuah box yang cukup besar dan muat untuk sepuluh orang.


Jonathan memilih beberapa baju. mulai dari baju tidur, baju santai, sampai baju pergi.


"silahkan pak, untuk mengganti pakaian di sebelah sana." Pelayan toko memberikan baju yang telah di bayar oleh Jonathan dan memberitahukan tempat ganti pakaian.


Selesai mengganti pakaian dengan baju tidur. Jonatan, Dinniar dan Tasya masuk ke dalam box. banyak beberapa pernik untuk menjadi aksesoris yang membuat semakin meriah fotonya.


Mereka bertiga bergaya bersama dan mereka begitu menikmati suasana. mereka terus melakukan foto bersama dengan berbagai pakaian yang di belinya. Mereka membuat beberapa gaya dan membuat hasil foto semakin menggemaskan.


Mereka mengambil hampir lima belas foto dan mencetaknya semua. Tasya begitu bahagia dengan semua perlakuan dan kejutan yang sering di berikan oleh Jonathan kepadanya.


"Tasya senang?" tanya Jonathan.


"Sangat senang papa. terima kasih sudah membuat kejutan lagi untuk Tasya hati ini." Tasya tersenyum lebar.


"kalau begitu, tuan putri papa pasti perutnya udah krucuk-krucuk. kita cari makan dulu baru habis itu kita pulang. gimana?" tanya Jonathan sambil mencubit gemas pipi putrinya.


"Boleh, papa tahu ajah kalau aku udah lapar." Tasya mengelus perutnya yang cukup buncit.


Dinniar tersenyum senang. dia beruntung memiliki pria yang mau menerima kondisinya sebagai seorang janda beranak satu. Ditambah lagi Jonathan yang selalu bisa memperlakukan mereka seperti ratu dan putri dimanapun berada.


Kebahagiaan itu datang bertubi-tubi kepadanya beberapa hari ini selama dia menikah dengan Jonathan. meski ada terbesit ketakutan akan kegagalan. Namun, Dinniar berusaha kuat untuk percaya kalau Jonathan tidak akan pernah mengkhianati dirinya.