
Darius memikirkan apa yang ada di dalam surat tersebut. Dia sedang menimang keputusan yang akan diambil olehnya.
Darius tidak tahu siapa pengirim surat tersebut. Dia bingung apa akan menemui orang itu atau tidak karena dia takut ini sebuah jebakan atau tindak kejahatan.
Darius membaca kembali surat yang diterimanya. Dia menelaah setiap kata yang tertulis di dalam surat itu.
"Baiklah. Sebaiknya aku tidur dan memutuskannya besok saja." Darius membenamkan kepalanya ke bantal dan berusaha terlelap.
Dulu dia tidur selalu ditemani oleh wanita yang dicintainya. Dinniar kini sudah bukan miliknya lagi. Cornelia kini mendekam dipenjara karena tindak kejahatan.
...****************...
"Sayang, kamu sudah mau tidur?" tanya Jonathan saat dia dan Dinniar sudah berada di atas tempat tidur.
"Belum, kenapa Mas?" tanya Dinniar.
"Apa aku boleh tidur sambil memelukmu?" Jonathan bertanya dengan berat hati takut ditolak oleh istrinya.
"Jika itu yang kamu inginkan silahkan saja." Dinniar seperti memberi izin kepada suaminya.
Jonatan kemudian memeluk Dinniar yang tidur dengan memunggunginya.
"Aku sebagai bersyukur memilikimu sebagai istriku. Aku tidak pernah menyangka kita bisa bersatu sebagai suami istri. Aku akan selalu menjagamu dan juga Tasya. Aku juga mau memiliki keturunan darimu." Jonathan berbisik di telinga istrinya.
"Aku juga bersyukur memiliki kamu sebagai suamiku. Kamu yang bisa menerimaku sebagai seorang janda anak satu dan kamu yang bisa menerima Tasya sebagai anak sambungmu." Dinniar menyentuh tangan Jonathan.
"Aku akan selalu menerimamu dan aku akan selalu menyayangi Tasya seperti putriku sendiri. Aku begitu mencintaimu istriku." Jonathan mengecup mesra bagian kepala belakang Dinniar.
Dia begitu mencintai istrinya. Dia berjanji sebagai seorang pria akan setia dan akan selalu melindungi Dinniar dan Tasya.
Semalaman mereka tidur sambil berpelukan hingga menjelang pagi. Dinniar memindahkan tangan suaminya yang sejak semalam memeluk dirinya.
Dinniar perlahan bangun dari posisinya dan hendak turun dari ranjang. Jonathan yang mengetahui pergerakan istrinya. Dia langsung menarik tubuh Dinniar. Dengan cepat Dinniar kembali dalam pelukannya. Kini Dinniar berada tepat di atas dada bidang milik suaminya. terasa detakan jantung yang begitu cepat milik Jonathan. Dinniar menjadi semakin yakin kalau dirinya benar-benar dicintai oleh Jonathan.
"Pagi-pagi mau kemana sih?" tanya Jonathan yang bicara dengan mata yang masih tertutup dan tangan yang merengkuh Dinniar.
"Aku mau menyiapkan sarapan." Dinniar menoleh ke arah Jonathan.
"Tidak perlu, Mbok Jumi dan bi Imah pasti sedang bekerja sama membuat masakan. Kita jangan mengganggu mereka yang sedang berkolaborasi membuat makanan yang enak. Biarkan mereka juga mengakrabkan diri." Jonathan mempererat pelukannya.
Dinniar menjadi tersenyum karena perkataan suaminya.
"Kenapa senyum? Hari ini, hari pertama kita pacaran'kan?" tanya Jonathan dan di balas anggukan Dinniar.
Merasa istrinya mengangguk, Jonathan kembali tersenyum.
"Kalau begitu bolehkan aku mengajukan satu permintaan?" tanya Jonathan sambil membuka matanya.
"Apa?" tanya Dinniar.
"Bolehkan kita pacaran dengan gaya pacaran dewasa? karena kita sudah menikah, jadi aku pikir. menciummu dan memelukmu atau bahkan lebih dari itu, adalah hal yang halal dilakukan." Jonathan mengajukan permintaannya.
"Boleh, asal lakukan secara bertahap hingga aku siap."
"Bagaimana aku bisa tahu kalau kamu siap dengan seranganku?" tanya Jonathan lagi.
"Saat aku siap, aku akan memberimu sebuah kode."
"kode? baiklah, aku akan menunggu kode itu." Jonathan menarik tubuh Dinniar dan membetulkan posisi istrinya hingga Dinniar tidur di atas lengannya.
Jonathan menempelkan dahinya di dahi Dinniar. hidung mereka juga saling bersentuhan. wajah keduanya begitu dekat tanpa sekat.
Degupan jantung Dinniar semakin cepat. Dia sebelumnya tidak pernah seberdebar ini. Dulu saat bersama Darius karena sudah terbiasa bersama dan berpacaran lama dirinya jadi tidak terlalu berdebar seperti saat ini. Ada rasa yang begitu berbeda saat dirinya berdekatan dengan pria yang belum sepenuhnya dia kenal, tapi debaran jantung itu dia nikmati. Ada rasa bahagia dan rasa malu yang datang disaat bersamaan.
"hanya dengan menatapmu dari jarak dekat saja aku sudah begitu bahagia. Aku akan selalu mencintaimu dan menjaga cinta ini."
Jonathan semakin menekan wajah Dinniar hingga kini bibir mereka saling bersentuhan. Jonathan memberikan sentuhan awal di bibir Dinniar dengan lembut. Dinniar tetap diam dan matanya terpejam.
Jonathan memberanikan diri bertindak lebih jauh. Dia mulai kembali menautkan pagutannya di bibir Dinniar. Tanpa dia duga, Dinniar membalas ciumannya. Jonathan tersenyum sejenak tanpa melepaskan pagutannya.
Mereka pagi ini fix melakukan olah raga wajah dengan sangat mendalam dan menjiwai. Kecupan Jonathan semakin menuntut dan Dinniar semakin memberikan balasan yang tepat.
Jonathan melepaskan pagutannya dan mengecup kening Dinniar lalu tersenyum.
"Aku mandi dulu." Dinniar langsung menghindari Jonathan dengan wajah yang masih memerah.
Dinniar turun dari ranjang dan langsung menuju kamar mandi dengan langkah cepat.
Jonathan semakin suka dengan tingkah malu-malu istrinya. Jonathan juga senang karena Dinniar sedikit demi sedikit sudah mulai membuka diri.
...****************...
Darius langsung bersiap dan sudah menetapkan pilihannya. Dia meraih kunci mobil di nakas dan berpamitan dengan ibunya.
"Kamu memangnya mau kemana?" tanya Bu Susi.
"Ada urusan, Bu."
"Darius, ibu harap kamu tidak melakukan hal konyol lagi. Dan ibu harap kamu mulai fokus kembali dengan usahamu. Ibu lihat beberapa laporan kalau ada beberapa artis yang mulai mengundurkan diri. Kamu harus fokus dan mulai membenahi semuanya lagi. kamu harus membangun kembali bisnis yang sudah dirintis lama olehmu. Jangan lepaskan semua itu." Nasihat Bu Susi kepada putranya.
"aku tahu Bu. tidak perlu ibu khawatirkan pekerjaanku. ibu santai saja di rumah." Darius langsung keluar rumah dan memasuki mobilnya.
Dia mengeluarkan mobil dari dalam gerbang rumah dan menginjak pedal gas dengan kuat.
Darius semakin penasaran dengan orang yang telah mengiriminya pesan. Dia juga sangat ingin tahu tujuan orang itu mengirim pesan.
Darius memantau tempat dimana dia dan si pemilik nomor telepon membuat janji temu. Darius melihat sebuah mobil berhenti dan ponselnya berdering.
"Halo." Darius menjawab panggilan telepon.
"saya sudah sampai. kita masuk ke dalam cafe yang ada di seberang jalan. Saya tunggu." Pria itu mengakhiri panggilannya dan Darius mengarahkan mobilnya menuju cafe yang di maksud.
Setelah memarkir mobilnya. Darius bergegas masuk ke dalam cafe karena sudah sangat penasaran.
Dia melihat orang yang ada di dalam cafe dan Darius duduk di depannya.
"Kamu yang menghubungiku?" tanya Darius santai.
"Benar, saya yang menghubungi pak Darius. Saya dapat pesan yang harus di sampaikan secara langsung." Jelas pria itu.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Darius dengan serius.
"Saya yang akan menjadi informanmu. Saya tahu kalau anda sangat ingin bersama dan menemui Putri anda." ujarnya.
"Ya, semua itu benar. Hanya saja siapa sebenarnya kamu? itu yang ingin saya tahu terlebih dahulu." Tekan Darius.
"Anda hanya perlu tahu kalau saya adalah informan yang akan membantu anda. Ada seseorang yang sangat ingin membantu anda. Jika anda sepakat ingin saya bantu, saya akan menyampaikannya kepada dia yang menyuruh saya membantu anda." Tegas pria tersebut.
"Apa yang dia inginkan dari saya semisal saya ingin dia membantu saya?" tanya Darius.
"Dia hanya ingin meminta kebebasan." Ucap pria itu penuh dengan penekanan.
Darius menautkan alisnya dan mengerutkan dahinya.
"Kebebasan?" tanya Darius heran.
"Benar. kebebasan. dia hanya ingin itu agar semakin membuatnya lebih leluasa membantu anda." Pria itu menyipitkan kedua matanya.
Darius semakin penasaran siapa sebenarnya orang di belakang pria itu. Dia ingin tahu kebebasan apa yang sebenarnya dia maksud.
"Jadi bagaimana?" tanya pria itu yang membuyarkan lamunan Darius.
"Baik, saya akan ikuti. Kita sepakat untuk bekerja sama, tapi jangan pernah mengecewakan saya. kamu bisa menerima akibatnya." Darius bicara dengan sedikit ancaman peringatan.
"Tenang saja. dia tidak akan pernah mengecewakan anda. Dia akan membantu anda semaksimal mungkin." Tegas pria itu dengan wajah serius.
"sebenarnya siapa yang menyuruhmu?" tanya Darius.
"Siapa dia, itu akan anda ketahui nanti. Kalian akan bertemu jika waktunya sudah tepat." pria itu bangkit dari duduknya dan meninggalkan Darius yang masih duduk.
Darius memperhatikan pria itu yang berjalan keluar cafe. Darius benar-benar sangat penasaran dengan pria yang ingin menjadi informannya. Dia juga menyetujui kesepakatan untuk bekerja sama. Darius sangat ingin bertemu dengan Tasya.
"Aku akan segera bertemu dengan Tasya. Papi kangen banget sama Tasya." Darius menyapu air yang meleleh dan membasahi matanya.
Kerinduannya kepada Tasya begitu dalam. hanya saja Darius tidak tahu caranya agar dia bisa bertemu dengan Tasya. ditambah lagi dari surat yang diterimanya. Memberitahukannya kalau ternyata Dinniar sudah menikah dengan Jonathan.