Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
228-Gengsi itu ada



Melihat Raka berhasil membuat ujian mereka lulus dengan nilai sempurna. membuat Alesya menjadi malu.


"Gimana, kerenkan gue?" Raka mendekati Alesya.


"Biasa ajah tuh. lagian kita semua juga bisa kali." jawabnya ketus.


"Yakin bisa? kayaknya kalo tanpa bantuan gue. ujian remedial ini bakalan gagal total lagi." pungkasnya.


"eh, semua ini kita lakuin harus dengan team. kerja sama, jadi bukan semata karena Lo. seharusnya kita bisa selesai lebih awal kalo Lo bantuin dari pertama. yang bikin kita masuk zona remedial kan Lo." Alesya tak mau kalah.


"okeh-okeh. kali ini gue ngalah. meskipun sebenernya bukan kesalahan gue mutlak." Raka bicara tepat di telinga Alesya.


mendengar temannya bicara secara jelas di telinganya. membuat Alesya semakin mengepalkan tangannya. Alesya tidak mau mengakui kepintaran dan kelihaian Raka dalam menyusun semua kerangka.


"Ngeselin banget sih tuh orang. udah jelas dia yang bikin gue masuk remedial. selama ini belum pernah gue itu ikut ujian remedial!" Alesya semakin kesal.


"udah-udah, sya. enggak usah di pikirin. yang penting sekarang kalian lulus ujian praktek. besok-besok yang lebih teliti lagi biar nanti enggak masuk remedial." Alvi menenangkan Alesya.


"lebih teliti? jadi Lo juga mikir gue salah merakit semuanya?" Alesya malah menjadi jengkel kepada sahabatnya.


"bukan begitu, sya. Alesya ... sya ...." Alvi mengejar sahabatnya yang marah terhadap dirinya.


"jangan ngambek dong. gue kan enggak bermaksud. gue niatnya bikin Lo tenang enggak kesel lagi." Alvi memohon sambil terus berjalan mengikuti langkah Alesya.


"bodo amat! pokoknya gue kesel!" Alesya masuk ke dalam toilet putri untuk menghindari kejaran dari Alvi.


"Sya, Lo kok gitu sih. ah enggak seru deh." rengek Alvi.


"Lo yang enggak seru. udah sana pergi. mau jadi cewek Lo." balas Alesya.


Alesya sebenarnya bukan tipe anak yang mudah marah. hanya saja dia merasa kesal lantaran Raka itu sejak awal tidak ada berkata maaf karena hampir menabraknya tempo hari. di tambah lagi. di sekolah dia mengacaukan ujian praktek. rasa kesal Alesya semakin menumpuk lantaran hari ini Raka bicara seakan dia adalah penyelamat mereka semua.


"bikin kesel ajah deh tuh orang. udah tau dia yang dari awal salah. minta maaf kek ke kita eh malah songong begitu sikapnya. dia pikir dia kayak begitu keren apa?!" sungut Alesya di dalam kamar mandi.


"Alesya ... Alesya. jadi orang tuh naif banget sih? bilang ajah kalo Lo itu suka diperlakukan kayak begitu sama si Raka. enggak usah sok jual mahal deh." Seseorang keluar dari kamar mandi dan langsung menyisirnya dengan sejumlah kata-kata.


"apaan sih nih nenek lampir satu. kalo enggak tau permasalahannya. mulutnya diem ajah enggak usah komat-kamit." Alesya memercikkan air ke wajah Gita.


"Heh! ngeselin banget ya Lo jadi orang." teriak Gita saat Alesya melangkah keluar kamar mandi.


"Sya, kenapa tuh nenek lampir?" Alvi langsung menghampiri Alesya lagi.


"tau ah. udah ke kantin ajah." Alesya terus berjalan.


Alvi langsung senyum-senyum sendiri. lantaran jika Alesya sudah bersikap demikian berarti rasa kesal terhadap dirinya sudah hilang.


"Untung dia udah enggak marah lagi." desisnya sendirian.


Alvi langsung mensejajarkan langkahnya dengan Alesya dan bersiap menuju ke kantin bersama sahabatnya itu.


.


.


.


Dinniar kedatangan seorang tamu spesial di butiknya. dengan ramah dan sangat sopan dia menyapa.


"Halo Bu Dinniar." Seorang wanita menyapanya.


"Silahkan duduk ibu Qiandra." Dinniar mempersilahkan.


"Bu Dinniar saya cocok sekali dengan gambar yang telah ibu kirimkan. anak saya juga sangat cocok. kemungkinan kami akan buat satu set baju couple. dan untuk design yang kemarin dibuatkan sepuluh set. saya akan bayar lunas semuanya." ibu Qiandra mengeluarkan kartu debit dan memberikannya kepada staf butik.


"Bu Dinniar anaknya sudah berapa? maaf ya saya tanya-tanya." ujarnya dengan tersipu.


" saya sudah punya tiga anak. sudah sekolah menengah atas, sekolah dasar dan taman kanak-kanak." tutur Dinniar dengan suara yang lembut.


"anak saya juga sudah sekolah menengah atas. dia murid pindahan di sekolah menengah atas harapan." jelasnya


Dinniar terperanjat. dia tidak percaya kalau ternyata salah satu pelanggannya juga salah satu orang tua murid di sekolah yang sama dengan Alesya.


"Anak saya juga yang besar dan yang sekolah dasar bersekolah di sekolah harapan." Dinniar kembali merespon.


"Kalau begitu. Bu Dinniar harus menjadi salah satu tamu saya. akan ada perayaan pengangkatan direktur utama dan suami saya yang menempati jabatan itu." tuturnya sambil mengeluarkan kartu undangan dan memberikannya kepada Dinniar.


Dinny menerimanya. dan dia hanya bisa senyum tipis. sebab meski Bu qiandra adalah pelanggannya. mereka tidak terlalu dekat.


Selesai pembayaran Bu qiandra langsung pergi meninggalkan butik dan Dinniar hanya menatap kartu undangan yang masih di pegangnya.


"Aku harus bicara dulu dengan suamiku." decaknya seorang diri.