Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
330 - Sekolah menengah atas



setelah satu bulan menjalankan magangnya. Alesya kembali ke sekolah dan mengikuti ujian. Kini dia melakukan ujian sekolah untuk kelulusan. Kelas tiga adalah hal yang paling ditunggu oleh mereka karena dikelas tiga sekolah menengah atas ini. Berarti mereka akan segera menjadi seorang remaja dengan status mahasiswa.


"gimana tadi ujiannya, sya?" tanya Alvi yang kini di kelas tiga mereka tidaklah satu kelas.


"Ya, cukup menguras otak. Matematika bro. Bikin kepala mau meledak!" Alesya bicara sambil melotot.


"Gue sih biasa." Alvi bicara dengan sangat sombong.


"Biasa apa? Biasa nyontek?" celetuk Icha.


"Apaan sih. Biasa, biasa ngasal jawabnya." Alvi bicara sambil menaik turunkan alisnya.


Alesya dan Icha tertawa bersama. Mereka memang tidak percaya kalau Alvi semudah itu mengerjakan soal matematika. dia saja masih kesulitan saat menjawab beberapa soal. Apalagi dia yang sering kali membolos dimata pelajaran matematika.


"Bete nih. Ke kantin yuk. Makan. Laper." ajak Icha yang sudah terkuras energinya karena mengerjakan soal matematika


mereka bertiga pergi ke kantin sekolah. memesan banyak makanan dan juga minuman. Matematika adalah ujian terakhir untuk hari ini. Makanya mereka sepuasnya nongkrong di kantin sekolah.


"Ya elah, nongkrong di kantin. Nongkrong itu di cafe kali." sindir Gita.


Alvi, Alesya dan Ica. sangat sebal karena harus melihat Gita di kantin.


"gue itu ya kalau lihat dia pas lagi mau makan rasa udah kenyang." ujar Alvi.


"bener banget lo. gue juga sama kalau lihat muka dia apalagi tingkahnya dia rasanya belum makan aja udah pengen muntah." Icha yang sudah kesal sekali dengan sikap Gita ikut menyindir.


Icha yang di kenal sebagai siswa yang paling rajin dan tidak pernah membuat ulah saja bisa kesal ketika ada sosok kita yang memang seringkali membuat onar.


"biasa aja kali. mungkin karena makanan yang gak higienis atau mungkin karena makanan yang gak enak jadi kalian udah kenyang dan serasa pengen muntah. makanya makan dong di cafe jangan makan di kantin." kita terus saja menyindir ketiga teman sekolahnya.


"terserah kita dong, mau makan di kantin kek. mau makan di rumah kek atau mau makan di manapun yang penting kita bayar." Alvi sudah sangat jengah dengan kelakuan Gita.


"udah nggak usah diladenin guys gue tahu kok dia itu ke kantin juga mau makan atau kalau nggak dia mau beli minuman. karena ada kita aja dia ngerasa gengsi." sindir Alvi lagi.


"terserah gue dong mau ke kantin atau mau ke mana pun." Gita langsung melengos meninggalkan mereka bertiga.


"sumpah yang ngeselin banget tuh orang. giliran kita sendiri kayak gitu dia nggak terima, tapi dia sendiri demen banget nyindir orang." Icha rasanya ingin melempar botol saus ke arah Gita.


"udah guys ngapain sih ngurusin dia. makan aja santai. lagi pula makanannya halal juga dan enak. dia aja yang belagu enggak makan di kantin sok kaya dia." Alesya tambah sewot.


kita bertiga akhirnya makan dengan tenang setelah Gita pergi dari kantin. masakan kantin sebenarnya sangat enak hanya saja beberapa anak yang sok kaya jarang sekali ingin makan di kantin dan lebih senang makan di cafe sebelah yang makanannya menurut beberapa yang lidahnya normal itu tidak enak.


.


.


.


dua minggu sudah mereka menyelesaikan ujian sekolah. mereka semua kini sedang menunggu hasil dari ujian yang telah mereka kerjakan. hasil ujian itu menentukan bisa atau tidaknya mereka masuk universitas unggulan.


Alesya berharap dia bisa masuk universitas ternama di negara Singapura. Dia sangat ingin pergi ke sana. dia ingin belajar ilmu manajemen bisnis di sana.


Alesya sangat berusaha untuk bisa mendapatkan nilai yang terbaik di sekolah menengah atas ini. selalu berusaha menjadi anak yang berprestasi. sudah 3 tahun berturut-turut ia selalu menjadi juara pertama di dalam kelas. dia juga sudah dua kali mengikuti pertukaran pelajar ke beberapa negara. menjadi siswa yang berprestasi adalah rencana awalnya untuk bisa masuk universitas ternama dan juga unggulan.


Alesya juga sudah banyak mencari tahu tentang universitas yang akan dia jadikan tempat untuk menuntut ilmu. Alesya berjanji kepada Dinniar dan juga Jonathan untuk memajukan dan menjadi seorang pebisnis handal.


.


.


.


"sya, ayo kita latihan lagi. satu kali lagi ya." kata Alvi.


Alesya bernyanyi sangat merdu dan sahabatnya Alvi mengiringi lagunya dengan musik dari gitar.


guru-guru yang melihat penampilan mereka di kelas saat sedang berlatih sangat takjub. Pasalnya suara Alesya sangat merdu terdengar.


"wah keren banget. suara lo itu enak banget didengarnya. pokoknya kalau dalam tingkat level lo itu level 10 suara lo, pedas!" Icha menekan kata-kata dari kalimat terakhirnya.


Alesya tertawa geli dengan kata-kata yang diucapkan oleh sahabatnya itu. Dia baru tahu ada suara yang pedas.


"aneh deh apaan sih suara sih pedas." kekeh Alesya.


"iya pedas lo tahu kan semua makanan pedas-pedas itu enak dan selalu bikin nagih." Icha bicara sambil matanya merem melek.


"ya udah yuk sekarang kita pulang aja. Udah sore juga nih. besok itu kita jadi artis. jadi harus fit." ceria Icha lagi.


.


.


.


Alesya sudah selesai menjadi seorang siswi sekolah menengah atas. Hari ini adalah acara wisuda untuk pelepasan anak sekolah.


Alesya dipilih untuk bernyanyi di atas panggung dengan diiringi musik gitar yang dimainkan oleh Alvi. Sedangkan Icha terpilih membacakan puisi.


semua sudah bekerja keras untuk berlatih bersama. Alesya dan juga Alvi siap untuk tampil di atas panggung. Alesya membuat lagu sendiri. lagu ini khusus dipersembahkan olehnya untuk kedua orang tua yang begitu sangat menyayanginya.


"sekarang kita panggilkan artis kita yang berikutnya. Alesya dan Alvi."


semua yang menonton berteriak-teriak dan juga bertepuk tangan yang sangat meriah.


Alvi dan Alesya naik ke atas panggung.


Alesya duduk di bangku dan Alvi bermain gitar. Baru saja sedikit Alvi memperdengarkan kemahirannya memainkan gitar. Orang-orang sudah sibuk bertepuk tangan dan memvideokan aksi mereka di atas panggung.


hari-hari aku lewati bersamamu mamaku dan kau selalu ada untuk melindungiku dan menjagaku.


hari-hari aku lewati dengan tegar dan penuh berarti. semua itu karena dirimu apa yang selalu hadir untukku.


pelukan hangat dari kalian untukku selalu menjadi yang terhangat. kalian adalah mentari dalam hidupku dan takkan pernah tergantikan.


mama oh papa aku berharap kalian selalu ada sampai aku dewasa nanti. ingin mengukir senyuman di wajah kalian. kuingin memberikan segalanya seperti yang telah kalian lakukan untuk diriku selama ini.


Alesya terus bernyanyi di atas panggung diiringi musik dari permainan gitar Alvi. semua yang datang di acara perpisahan sekolah harapan sangat terharu dengan lirik lagu yang ditulis oleh Alesya sendiri.


setelah mereka berdua selesai bernyanyi di atas panggung. semua orang kembali bersorak sorai dan bertepuk tangan dengan sangat meriah untuk sekali lagi.


"itulah penampilan yang sangat memukau untuk acara pada hari ini. penyanyinya adalah salah satu murid berprestasi sekolah kami yang setiap tahunnya menjadi juara pertama. sebagai guru kami semua sangat bangga sekali kepada Ananda Alesya. Dia sangat tekun dalam belajar dia juga sangat disiplin. panas sekalipun Ananda Alesya lakukan hal yang menyimpang dari aturan sekolah. maka kami juga pernah mengirimkan Ananda untuk menjadi salah satu siswa yang mewakili sekolah harapan ke Singapura pada tahun kemarin saat Ananda kelas 2 sekolah menengah atas. dan kami bersyukur di sana Ananda Alesya juga menjadi juara kedua yang membuat nama sekolah menengah atas harapan semakin bersinar dan semakin dikagumi oleh banyak orang."


salah satu guru yang menjadi pembawa acara. memberikan kata-kata untuk Alesya yang menjadi siswi teladan.


Dinniar dan Jonathan sangat terharu. Anaknya ternyata telah menjadi seorang siswi yang terkenal dengan kebaikannya.