Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 122 - Makan malam romantis



Jonathan dan Dinniar akhirnya sampai di tempat makan yang mereka tuju. ternyata di sana Jonathan memilih sebuah tempat yang bisa dibilang sangat romantis. mobil ini adalah surprise di saat mereka sedang berdua. terlihat di beberapa sudut ada beberapa pasangan lain yang berada di restoran yang sama dengan mereka. Jonathan telah membikin salah satu meja.


melihat semua ini diniar senang karena memiliki seorang suami yang begitu romantis dan tidak perhitungan.


banyak sekali percakapan dan obrolan romantis yang yang tercipta di antara mereka berdua.


permisi kata seorang pelayan yang membuat Jonathan menoleh ke arahnya. seorang pelayan itu terlihat sedang membawa buket bunga mawar merah yang cukup besar lalu bukan itu diberikan kepada Dinniar.


begitu terkejutnya diniar melihat hal tersebut. ini adalah surprise atau kejutan kedua kalinya yang diberikan Jonathan untuk dirinya.


pelayan itu juga meletakkan beberapa lilin-lilin dan menyalakan lilin tersebut aroma wangi dari lilin yang menyala menyeruak ke seluruh ruangan membuat suasana menjadi lebih intim lagi.


makan malam mereka begitu sangat romantis. bukan hanya romantis yang diberikan oleh Jonathan tetapi makanan-makanan lezat disajikan untuk mereka berdua dari restoran mahal itu.


restoran itu begitu terkenal dengan makanan yang lezat dan juga tempatnya yang begitu romantis.


jumatan juga mengajak istrinya untuk berdansa bersama dengan alunan musik yang diputar oleh pelayan restoran.


"apakah kamu suka sayang?"tanya Jonathan.


"Aku sangat suka dan ini melebihi ekspektasiku." senyumannya terlihat.


...****************...


di tempat lain Susi tengah asik menonton film kesukaannya. yang merasa beberapa hari ini penuh dan hanya film itulah yang mampu mengembalikan semangatnya.


adegan film lanjutan sinetron kesukaan Susi.


"Nay!" teriak Nick.


"Nick ikuti apa yang Aku sarankan kepada mu! Kasus ini cukup sulit dan rumit, Aku tidak mau kecerobohan mu membuat kita terluka." ucap Nayyara.


"Kau bilang ceroboh? Aku akan membuat kita terluka? kau hanya ingin terlihat keren sendiri, kan?" Kata Nick dengan kasar.


Natael masuk kedalam ruangan dan melihat dua orang yang berlainan jenis kelamin ini sedang bertengkar.


"Bertengkar lagi! kenapa kalian sangat suka sekali ribut dipagi hari?" keluh Natael.


"DIAM!" teriak mereka berdua yang membuat Natael membatu seketika.


"Sudah biarkan saja mereka, nanti juga akan membaik dengan sendirinya" ujar Nekel yang menyerobot masuk.


Setiap hari kejadian seperti ini akan selalu terjadi, dibilang bumbu dalam team tidak juga tapi memang mereka adalah sepasang saudara yang cukup kompak saat menyelesaikan kasus yang membuat nama team mereka semakin sedap dipandang orang.


"Kau! kerjakanlah apa yang dia suruh!" Perintah Natael dengan jengkel.


"Nekel kau coba buka seluruh catatan mu untuk kasus pembunuhan ini, apakah ada hal yang janggal atau persamaan dalam kasus pembunuhan yang pernah kita selidiki, karena kasus ini sudah tiga minggu tidak bisa kita pecahkan"


Kasus pembunuhan berantai ini membuat Natael merasa pusing dan tidak bisa tidur nyenyak, pria yang sebaya dengan ayah Nayyara ini selalu berusaha agar teamnya bisa terus berkembang.


******


"Americano satu" pesan seorang pria yang memiliki postur tubuh super Perfect sesuai dengan idaman para wanita.


"Satu americano" teriak kasir.


"Silahkan ditunggu Pak" kasir memberikan struk pembelian dan juga kartu debit milik Nigel.


"Kau sudah memutuskan tentang penugasan mu ke luar kota?" Ujar Cokky saat Nigel duduk didepannya.


"Hmm, aku akan pergi kesana, sepertinya sangat menarik" ujar Nigel sambil menyilang kan kakinya.


Nigel ditugaskan keluar kota untuk membantu pihak kepolisian memecahkan kasus pembunuhan yang sedang viral dimana-mana.


*******


"Woooaaaaah lihat ini ibu, bukan kah sangat bagus bola basket ini?" seru Jonathan


"Apa yang terlihat bagus? Itu sama seperti bola basket yang lainnya!" ujar Saleema kepada putranya.


"Tidak Ibu ini sungguh berbeda, coba lihat lah!" Jonathan memperlihatkan gambar bola basket yang ada di ponselnya.


"Sama saja"


"Bu ini ada tanda tangan pemain basket terkenal dan harganya sangatlah mahal!" Pekiknya.


"Hanya sebuah tanda tangan membuat bola basket itu terlihat berbeda dan mahal?" Saleema tidak percaya akan hal itu.


"Benar Ibu" ujar Jonathan meyakinkan.


"Berarti kalau Ibu berikan tanda tangan di setiap box makanan yang dijual maka harganya akan semakin mahal?"


"Bukan Ibu, ini semua karena dia pemain basket terkenal didunia!" Jonathan kembali memberitahu ibunya.


"Sudahlah, jangan kau pandangi terus bola basket itu, cepat bantu ibu cuci piring-piring disana, sebentar lagi toko kita akan buka" Saleema selesai melipat serbet dan meletakkannya di dalam laci.


Jonathan menyimpan ponselnya dan langsung mengerjakan tugas yang diberikan kepadanya.


Jonathan selalu membantu ibunya di toko makanan siap saji "Manpai" dari bahasa Jepang yang  artinya "kenyang".


*****


Ruang rapat team End.


"Kita sebaiknya membagi tugas, karena kasus yang kita kerjakan tidak hanya satu atau dua" kata Natael.


"Aku dan Nayyara akan menangani kasus pembunuhan ini, semua ikut andil namun saat ini Aku dan Nayyara saja yang menyelidikinya dulu."


Semua orang setuju dengan pembagian tugas ini, mereka selalu kompak tak pernah protes dengan tugas yang diberikan, hanya saja terkadang suka berlebihan.


*****


"Kita harus memeriksa jasad nya lebih teliti lagi, kamu harus lihat setiap detailnya, tulis jika menemukan sesuatu, ingat jangan bicara apapun saat di tempat otopsi nanti!"


Nayyara dan Natael pergi ke tempat menyimpan jasad yang akan diotopsi.


"Halo pak Natael" sapa dokter kepolisian yang bertugas mengotopsi jasad.


"Halo Dicky"


Mereka berdua saling berjabat tangan.


"Halo Nay" sapa nya juga pada Nayyara yang berdiri di belakang Natael.


Nayyara hanya tersenyum kepada pria yang umurnya juga sebaya dengan ayahnya.


Dicky, Natael dan ayah Nayyara yang bernama Zein adalah sahabat sejak SMA, namun nasib buruk menimpa Zein ayah Nayyara.


"Silahkan masuk" Dicky mempersilahkan Nayyara dan Natael untuk masuk keruang otopsi.


Nayyara langsung memakai sarung tangan khusus nya dan melihat dengan seksama jasad gadis yang terbunuh itu.


"Nayyara sudah sangat besar sekali" ujar Dicky sambil memperhatikan Nayyara dari kejauhan.


"Benar dia tumbuh dengan cepat, bahkan aku pun tak menyadarinya, aku terakhir bertemu dengannya saat di pemakaman Zein dan dia tahun lalu dia tiba-tiba masuk ke divisi ku" jelas Natael.


"Ya, kini kau selalu bertemu dengan anak sahabatmu setiap hari, sedangkan Aku hanya akan bertemu dengannya jika ada kasus pembunuhan yang kalian tangani." Senyum Dicky.


"Anak itu persis ayahnya, gigih, selalu ingin tahu, selalu teliti dan bisa memprediksi dengan baik." puji Natael.


Mendengar pujian Natael kepada Nayyara putri sahabat mereka membuat ekspresi wajah Dicky berubah menjadi datar.


Nayyara menghampiri Dicky dan Natael yang sedang asik mengobrol.


"Sudah?" tanya Natael.


"Sudah Pak" jawabnya.


"Baiklah, kami berdua pamit dulu," ujar Natael.


"Semoga kasus ini bisa terpecahkan" kata Dicky sambil menepuk bahu sahabatnya.


*****


"Apa kau sudah mencatat semuanya?"


"Sudah Pak, dan ada sesuatu yang menggangguku"


Nayyara menceritakan setiap detail yang dia dapatkan dari penyelidikannya.


"Apa disana ditemukan tanda seperti benang biru?" tanya Natael.


"Hmmm ... tidak ada," jawab Nayyara.


Natael terdiam setelah mendengar apa yang diucapkan Nayyara.


"Aku akan terus memburu mu, setelah itu Aku menemukan mu, Aku akan menanyakan hal yang selama ini membuat hati ku sesak."  Natael bergumam dalam hatinya.


Mereka berdua tiba kembali di kantor kepolisian dan masuk kedalam ruang kerja.


"Bagaimana?" tanya Nick dan Nekel saat mereka tiba.


"Tidak ada hal yang membuat kita menemukan titik terang," jawab Nayyara.


Mereka semua tertunduk lemas dengan kasus yang belum terpecahkan ini.


Selama mereka menjadi team tidak ada kasus yang tidak terpecahkan, semua terpecahkan dengan mudah dan paling lama kasus tertunda selama dua hari, kali ini mereka sudah mencari pelaku dan mencari bukti selama satu Minggu tapi belum juga mendapatkannya.


"Aku rasa kali ini pelakunya sangat profesional!" Celetuk Nick.


"Tunggu dulu, bukannya sepuluh tahun lalu kau juga pernah menyelidiki kasus ini pak?" Tanya Nekel


"Be ... Benar" Natael menjawab dengan gugup.


"Apa kita bisa melihat berkasnya lagi, siapa tahu kita bisa ikuti cara penyidik itu dalam memecahkan kasus ini" ujar Nekel.


Natael terdiam, dia tidak mau membuka kasus yang menghilangkan nyawa orang yang begitu dekat dengannya.


"Dimana berkas itu?" Tanya Nayyara.


Natael semakin tercengang, dia benar-benar bingung harus berkata apa.


"Bukankah kasus itu adalah kasus yang diselidiki oleh paman?" Tanya Nick kepada Nayyara.


"Benar kasus itu adalah kasus terakhir ayah ku!" Tegas Nayyara.


"Ayah?" Tanya Nekel yang tidak tahu apapun tentang pekerjaan ayah Nayyara.


"Ayahku adalah seorang polisi divisi kriminal sama dengan ku, dia menyelesaikan kasus itu dan tak lama setelah kasus selesai tepatnya satu Minggu setelahnya ayahku meninggal dunia akibat kecelakaan!" Jelas Nayyara sambil meraba kejadian yang menimpa ayahnya.


"Tidak Nay! kasus itu sebenarnya belum selesai dan saat kasus itu akan dibuka kembali, aku kehilangan sahabat terbaikku!"