Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
230-Acara pesta



Dinniar dan Jonathan bersiap untuk pergi ke acara pesta yang digelar oleh rekan bisnis mereka berdua. Dinniar berdandan dengan gaya yang cukup elegan meskipun dengan pakaian yang sederhana. memang benar kata orang. wanita terlihat cantik bukan dilihat dari seberapa tebal make-upnya, seberapa kaya dirinya, seberapa suksesnya, atau seberapa mahal pakaian yang dia kenakan. wanita akan terlihat cantik dan anggun karena kepribadiannya yang baik, pintar dan tulus.


Jonathan berkali-kali terus terpesona melihat sisi kecantikan yang dimiliki oleh istrinya. dia sangat terkagum-kagum malam ini dengan penampilan Dinniar.


"istriku memang sangat luar biasa. sudah bertahun-tahun aku menikahinya. berkali-kali pula aku dibuatnya jatuh cinta." Jonathan benar-benar menyanjung istrinya hingga rona merah menyembul dari pipi wanita yang sudah melahirkan dua orang anak.


Dinniar tersenyum malu. dia tidak pernah menyangka kalau suaminya akan sangat cinta kepada dirinya. di dalam hati Dinniar dia juga merasakan sedih bukan hanya kebahagiaan. dia bersedih mengingat masa lalunya yang begitu berantakan. berbeda dengan kehidupannya sekarang. Jonathan selalu memperlakukan dirinya bak seorang ratu satu-satunya di dunia ini. tak pernah lelaki itu menyakiti hati Dinniar yang masih menyimpan luka.


"apakah ratu sudah siap untuk menghadiri acara pesta malam ini?" tanya jonathan sambil bersimpuh di kaki Dinniar.


"Mas, apa-apaan sih kamu? malu tau di liatin anak-anak." Dinniar berbisik kecil ditelinga suaminya.


Jonathan kemudian tertawa geli. meskipun mereka sudah lama tinggal di satu atap. tetap Dinniar malu kalau kemesraan mereka di tonton oleh putri dan putranya.


"Mas, kalau kamu terus seperti ini aku akan memberikan hukuman yang pantas untukmu." Dinniar mulai memasang wajah mengancam dan tak lama tersenyum.


"Sudah ayo kita berangkat nanti terlambat." Jonathan menggandeng tangan istri tercintanya.


dengan langkah lebar dan penuh rasa percaya diri. Jonathan membawa istrinya keluar rumah dan masuk ke dalam mobil. Dinniar sudah seperti icon dari Jonathan. bagi Jonathan istrinya adalah warna dalam hidupnya. istrinya adalah identitasnya. istrinya adalah dunianya. Jonathan adalah suami yang sangat bisa menghargai wanita dan tahu harus bersikap seperti apa untuk menyenangkan hati seorang istri.


Dengan mengendarai mobil. mereka hanya perlu menempuh dua puluh menit agar bisa sampai di tempat acara.


selesai memarkirkan mobilnya. Jonathan langsung turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Dinniar.


"silahkan turun ratuku yang cantik."


lagi-lagi dia menyanjung istrinya sampai wajah Dinniar kembali memerah. suaminya memang selalu bisa membuatnya menjadi wanita yang sangat beruntung.


"Selamat datang pak Jonathan." sapa seorang pria berusia lima puluh tahun yang menghampiri.


"Terima kasih." Jonathan merasa terhormat karena telah disambut kedatangannya.


"Hai Dinniar." sapa seorang wanita yang berlarian ketika melihat Dinniar datang.


"Selamat malam, Bu." Dinniar menyapa dengan sangat sopan.


"cantik sekali. apa ini suami Bu Dinniar?" tanyanya.


"Benar. perkenalkan ini suamiku. namanya Jonathan." Dinniar memperkenalkan suaminya dengan penuh senyuman diwajahnya.


"kalian memang pasangan yang sangat cocok. pantas saja kalau kalian menjadi pasangan pebisnis yang fenomenal." puji pria itu.


"terima kasih." Dinniar dan Jonathan mengucapnya serempak.


"Tante Dinniar. Om jonathan." seorang remaja menyapa.


"Hai. kamu di sini?" tanya Jonathan yang mengenali Raka.


"Ini anak kami. apa pak Jonathan mengenalnya?" tanya pria paruh baya itu.


"tentu. dia adalah anak dari putri sulung saya. dia juga pernah mampir. benarkah Raka?" Jonathan bertanya sambil menarik kedua sudut bibirnya.


"benar. saya senang bisa bertemu om di acara ini." Raka menjabat tangan jonathan dengan sangat sopan sekali.