Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 14 - Hati yang kau sakiti



Setelah beberapa menit dia menunggu team suaminya beranjak, akhirnya Dinniar bisa mengetahui dimana suaminya berada.


Tak berapa lama dia duduk menanti kedatangan suaminya yang dia tunggu. Akhirnya Darius menunjukkan batang hidungnya. Darius tidak hanya sendiri turun dari dalam mobil, dia ditemani seorang gadis muda cantik nan sexy, berbalut gaun mewah berwarna gold dengan riasan wajah yang glowing.


"Ternyata seleramu masih sama, Mas. Apa kini kamu mencintainya karena hal yang sama juga saat kamu pertama kali mendekatiku? Sungguh caramu masih kuno, tapi tetap bisa menarik perhatian wanita cantik." Dinniar terus memperhatikan.


Dinniar masih dalam hati yang tenang. Dia tidak mau bertindak gegabah. Dia harus mengingat perkataan Sonia.


"Kalau dia ternyata benar selingkuh? Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Sonia kepada sahabatnya lagi.


"Aku akan menangis, menangis untuk terakhir kalinya." Dinniar menggenggam erat tangan sahabatnya saat menjawab pertanyaan yang dimilikinya.


"Dengar, jika kamu menemukan kecurigaan, foto atau videokan semuanya. Itu bisa menjadi alat bantu, menjadi bukti perselingkuhannya jika dia tidak mau melepaskan selingkuhannya." Pesan Sonia.


Sebagai seorang psikolog Sonia sering mendengarkan berbagai macam cerita pasiennya yang mengalami kasus perselingkuhan, kdrt dan lain sebagainya. Karena terlalu sering mendengarkan Sonia juga sampai saat ini belum memiliki pasangan hidup.


Dinniar terus mengintai suaminya. Pria yang menurutnya sedang mempermainkan rumah tangganya. Pria yang tidak sadar telah menyiram bensin disekitar rumahnya sendiri. Bensin itu sewaktu-waktu akan membakar rumahnya, hanya tinggal menunggu tanggal mainnya saja.


.


.


Darius yang turun dari dalam mobil bersamaan dengan Cornelia langsung mengadakan sesi wawancara antar juri dengan peserta model.


Cornelia sesekali menatap wajah Darius, begitu juga Darius dia terus menatap wajah kekasih gelapnya.


Melihat mereka, mungkin semua orang akan menganggap Cornelia adalah pasangan dari Darius.


"Miss. Cornelia, I love you." Salah satu model pria menyatakan perasaan kagumnya terhadap Cornelia.


Mendengar beberapa perkataan para model pria yang menjadi calon model ajang pencarian bakat, membuat Darius merasa sedikit kesal. Wajahnya berubah menjadi cemberut dan Cornelia menikmati pemandangan itu.


Di kejauhan Dinniar melihat hal yang serupa, dirinya yang sangat hapal dengan sikap suaminya langsung bisa menebak bahwa suaminya sangat cemburu.


"Dulu, jika ada yang menggodaku, kamu langsung menghampiri dan mengancam mereka. Kenapa sekarang tidak kamu lakukan seperti kamu yang dulu? Apa kamu takut jika gosip menerpamu atau kamu takut karir wanita itu meredup?" bisik Dinniar pada dirinya sendiri.


Dinniar mulai lelah melihat hal itu tapi dia terus berusaha menahan amarahnya.


Dinniar ingin terus mengetahui sampai dimana rasa suka suaminya terhadap wanita yang menjadi selingkuhannya.


"Sekarang terbukti sudah, kamu memang berselingkuh. Aku tidak menyangka Mas, kamu begitu tega kepadaku dan Tasya. Kita berdua menjadi korban pengkhianatan dirimu." Dinniar terisak.


Bagaimana dia tidak terisak, suaminya diam-diam tengah berciuman dengan wanita muda itu saat Dinniar mengikuti mereka ke ruang ganti.


Dinniar mengambil satu potret nakal suaminya, dia kini sudah ada bukti. Dia kemudian pulang kembali ke hotel. Sudah kesal dia melihat kelakuan suaminya yang berani berselingkuh.


.


.


Di dalam kamar hotel Dinniar melakukan panggilan telepon dengan Sonia.


"Son, Mas Darius, Mas Darius benar-benar mengkhianati aku dan Tasya." Cerita Dinniar dengan bersimbah air mata.


"Keterlaluan dia, kenapa dia bisa mencintai wanita lain selain kamu dan Tasya? Apa dia sudah gila?" Sonia memijat keningnya perlahan.


Sonia sudah sangat emosi, rasanya dia ingin pergi menghampiri suami sahabatnya itu dan memukulinya hingga babak belur.


Dinniar masih menangisi kisah rumah tangganya, Sonia yang hanya bisa menghibur dari jarak jauh merasa sangat sedih melihat sahabatnya hanya bisa menangis sendirian.


"Din, aku hanya bisa peluk jauh kamu. Aku harap kamu bisa berpikir jernih, jangan gegabah dan main cantik." Pesan sahabatnya sambil memonyongkan bibirnya dan mengecup layar ponsel.


Dinniar terlihat tersenyum sedikit, Sonia sedikit lega.


"Kapan kamu mau pulang? Apa perlu aku jemput?" tanya Sonia.


"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri. Sebentar lagi aku akan pulang. Sampai jumpa nanti, terima kasih sudah mau mendengarkan curhatan ku." Dinniar dan Sonia saling menutup teleponnya.


Dinniar akhirnya menenangkan dirinya sejenak, dia berendam di dalam bathtub dengan membubuhi aroma terapi di dalam air mandinya.


.


.


Sonia kembali menemani keponakannya alis anak Dinniar bermain.


"Tasya, sebentar lagi Mami pulang, Tasya mandi dulu, dandan yang cantik terus kita ajak Mami makan malam bersama." Ajak Sonia.


"Tante, boleh ajak Om Adrian dan Tante Violin?" tanya Tasya.


"Boleh dong, nanti Tante telepon mereka ya, sekarang anak cantik mandi dulu." Cubit gemas Sonia di pipi Tasya.


Sonia memandangi Tasya yang beranjak menjauh dari dirinya.


"Haruskan anak sekecil itu menanggung kesedihan akibat ketidak bijaksana sikap Papinya? Sungguh jika mereka bercerai, sudah pasti korban sesungguhnya adalah dia." Sonia meratapi nasib anak kecil itu.


Anak akan menjadi korban sesungguhnya saat kedua orang tuanya memilih sebuah perceraian sebagai jalan penyelesaian masalah mereka.


"Aku harap, rumah tangga kalian bisa terselamatkan, aku tidak mau kalian terpisahkan, dari beberapa pernikahan yang aku lihat. Pernikahan kalianlah yang sangat aku suka. Jadi aku berdoa semoga Darius kembali ke jalan yang benar." Sonia berdoa sambil bergumam.


.


.


Dinniar bersiap untuk pulang kerumahnya. Saat dia hendak keluar dari kamar hotel, betapa terkejutnya dia melihat suaminya dan wanita itu berjalan ke arahnya.


Dengan cepat Dinniar menutup pintu kamarnya lagi. Dia mengintip melalui door viewer. Dia melihat betapa mesranya suaminya dengan perempuan itu.


"Mas, tidak sadarkah kamu ada hati yang telah kamu sakiti? Rasanya sangat sakit melihat mu dengan wanita lain." Dinniar bersandar di pintu kamar hotel.


Hatinya benar-benar hancur sehancur hancurnya. Mungkin tidak akan bisa hati ini di perbaiki lagi. Wanita yang sudah tersakiti, maka luka itu akan selamanya bersemayam di hatinya. Bayangan tentang hal yang membawa luka akan selalu terlintas dibenaknya. Wanita memang mudah memaafkan tapi sulit melupakan.


Pria yang berkhianat sekali dan berbohong sekali, tidak akan pernah bisa mengembalikan keadaan pada tempat semulanya lagi. Pria itu tidak akan pernah mungkin kembali sepenuhnya. Dia pasti akan kembali main api karena sebelumnya sudah pernah merasakan nyamannya bermain api.


Bersabar saat ini adalah yang bisa di lakukan oleh Dinniar. Dia akan bertahan demi putrinya, jika memang masih bisa diperbaiki. Dia akan memperbaiki keadaan meski tidak seperti semula.