
Dinniar yang baru saja sampai di mobilnya dan hendak masuk ke dalam. mengurungkan niatnya untuk pergi. dia lalu berlari untuk kembali ke ruko tersebut.
"Kenapa aku curiga dengan ruko itu. rasanya sangat aneh sekali ada klinik di ruko terpencil." Dinniar berusaha berlari dengan cepat.
Dinniar masuk ke dalam gang dan dia lihat ada asap yang mengepul dari dalam klinik yang menjadi tujuan salsa. Dinniar lalu menjadi panik dan melangkah maju mendekati klinik itu.
"Tolong ... tolong aku." seseorang berteriak dari dalam klinik.
Dinniar sontak saja mengenal suara itu. "Salsa!" teriaknya sambil memukul-mukul pintu.
dia lihat pintunya terhalang sebatang kayu. dia langsung berusaha menyingkirkannya meski harus memakan waktu. kayu itu cukup besar dan juga berat. membuat Dinniar kesulitan menyingkirkannya. perlahan dia berusaha agar bisa membuka pintu.
"Bertahanlah salsa. aku akan menolong mu." teriak Dinniar.
"Dinniar, tolong aku." salsa menangis.
"Aku pasti menolong mu. jadi aku mohon bertahanlah demi janin yang kamu kandung." kata Dinniar.
Dinniar berusaha mengangkat kayu yang berat itu seorang diri. dan dia berhasil membuat pintu terbuka. dia lihat salsa sudah tergeletak di lantai dengan setengah sadar.
"Salsa, aku mohon tetap sadar. tetaplah bersamaku. aku akan membawamu ke rumah sakit terdekat." Dinniar membantu salsa berdiri dan memapahnya keluar dari klinik itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi? kenapa kamu bisa terjebak sendirian di dalam kobaran api." Dinniar bertanya meski dia tahu salsa tidak bisa menjawabnya sekarang.
Dinniar memasukkan salsa ke dalam mobil dan membawanya secepat mungkin menuju rumah sakit.
Dinniar menoleh sesekali untuk melihat kondisi salsa dan berusaha menjaganya tetap sadar hingga sampai ke rumah sakit.
"Ya tuhan tolong jaga dan selamatkan dia." lirih Dinniar sambil menggenggam salah satu tangan salsa.
"terima kasih." ujar salsa dengan suara yang sangat pelan.
"jangan bicara. hemat tenagamu. sepuluh menit lagi kita akan sampai di rumah sakit " kata Dinniar yang kemudian fokus kembali menyetir mobilnya.
lalu tidak lama keluar perawat membawanya dan memapah salsa ke atas kasur.
"Aku mohon selamatkan dia. dia sedang mengandung. dia menghirup asap akibat kebakaran." kata Dinniar kepada perawat.
"baik, kami akan berusaha menolongnya. sebaiknya ibu tunggu di sini dan mengisi formulir perawatan." ujar salah satu perawat itu.
salsa di bawa masuk ke ruang unit gawat darurat. di sana dia kan mendapatkan pertolongan dengan tepat.
"bertahanlah salsa." harap Dinniar.
tangan Dinniar yang masih bergetar lalu merogoh saku bajunya. dia berusaha menghubungi Darius dan juga suaminya. Dinniar kini menunggu kabar dari pihak rumah sakit dan juga kedatangan dua pria yang ditunggunya.
Dinniar menunggu dengan harap-harap cemas. dia takut terjadi sesuatu kepada salsa dan janinnya.
Darius datang lebih dulu dari pada Jonathan memang jarak kantornya lebih dekat ke arah rumah sakit ini.
"Dinniar apa yang terjadi? kenapa bisa kamu bersama dengan salsa?" tanya Darius yang terlihat panik.
melihat pria yang pernah dia cinta terlihat panik. membuat hati Dinniar terenyuh. mau bagaimanapun Darius mengisi hari-harinya lebih dari tujuh tahun lamanya.
Dinniar menceritakan semua yang dia dan salsa alami hari ini. Darius mendengarkan dengan memasang wajah penuh kebingungan.
"Dia, tapi tidak sama sekali menghubungi aku Dinniar. aku sudah memeriksa panggilan masuk ke telepon selulerku." ucapnya.
"Aku juga tidak mengerti, tapi aku sudah meminta anak buah untuk menyelidiki sekitar sana apakah ada cctv yang bisa menjelaskan detailnya." jelas Dinniar.
"Dinniar, terima kasih sudah menolong istriku dan calon anak kami. aku tidak tahu harus membalas mu dengan apa." tuturnya sambil menangis.
"Cukup balas dengan menjaga keluargamu saat ini. jangan pernah mengkhianati istrimu dan juga menelantarkan anakmu."
perkataan Dinniar bagaikan pukulan keras bagi Darius. dia benar-benar malu terhadap wanita yang selalu baik kepadanya itu.