Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
306 - Kecupan



Keesokan harinya Jonathan kembali memantau sesi pengambilan video promosi kedua. Kali ini dia ikut dalam video promosi.


Jonathan sebagai wakil dari hotel menjadi icon penting juga dalam promosi hotel keluarganya. Hanya saja dia akan melakukan pengambilan gambar ditemani oleh seorang kameramen saja.


Jonathan bercerita sedikit tentang sejarah dari hotel ini berdiri. Lalu dia mengutarakan visi dan misi hotel.


"Kami akan menyambut anda dengan kenyamanan dan mengantar anda dengan senyuman." ujar Jonathan di sesi terakhir video promosi.


"Okeh, cut. Selesai." kameramen memberikan aba-aba.


Jonathan menarik napas panjang karena lega sesi pengambilan gambar telah selesai dan telah dia lalui. Jonathan jarang sekali tampil di depan kamera. Dia hanya beberapa tampil dan beberapa pengambilan foto itupun terjadi bersamaan dengan acara seperti acara bakti sosial atau pemberian bantuan untuk korban bencana alam.


Jonathan sedang mengirim pesan kepada istrinya. Dia terkadang senyum-senyum sendiri. tanpa sadar ada yang masuk ke dalam ruangan itu.


Saat selesai sesi pengambilan gambar. Evelin masuk ke ruangan dan tiba-tiba memeluk dan mengecup pipinya sambil tersenyum manis.


"Apa-apaan kamu Evelin! Tidak bisakah kamu bersikap normal?" sambil mendorong tubuh Evelin.


"Aku hanya ingin menyapamu. Bukan kah itu yang sering kita lakukan?" Evelin kembali mendekat.


"jangan gila kamu evelin. aku sudah menikah!" tegasnya.


"Aku tahu. Namun, kamu masih menyimpan rasa untukku bukan? Kenapa harus disembunyikan?" Evelin berkata dengan sangat percaya diri.


"Hentikan omong kosong ini, Evelyn. Aku tidak lagi menyimpan rasa atau apapun untuk dirimu. Aku sudah berkeluarga dan tak ada yang tersisa untukmu." tegas Jonathan sambil bangkit dari duduknya.


Jonathan berjalan menjauh dan menuju ke pintu untuk keluar dari ruangan itu. Dia tidak mau ada scandal antara dia dan Evelin.


"Kenapa? Kenapa kamu begitu mudah melupakan aku? Bukankah kamu frustrasi karena kehilanganku?" tanya Evelin dengan napas yang naik turun menahan tangis.


"Tak ada yang tersisa diantara kita, Evelin. Kamu yang meninggalkan aku dan aku sudah melupakan dirimu. Aku menemukan wanita yang tetap untukku. Aku sekarang dan sampai kapanpun akan tetap mencintainya. Hubungan kita sudah berakhir saat kau memilih putus denganku. Jadi jangan pernah berharap rasa itu masih ada atau aku akan kembali kepadamu!" Jonathan keluar dari ruangan itu.


Evelin menggebrak meja dengan tangannya hingga memerah. Dia tidak rela semudah itu Jonathan melupakannya sedangkan dia masih terkurung rasa cinta yang tak berujung.


"Kamu pasti bohong. Kamu pasti masih mencintaiku. Aku akan buktikan kalau kamu masih mencintaiku." evelin membalikkan badannya dan ikut keluar dari dalam ruangan.


Evelin pergi ke ruang ganti dan menemui managernya untuk mengetahui jadwalnya satu Minggu ke depan.


"kamu sudah cek?" tanya Evelin.


"Sudah. dari hari kamis sampai dengan Rabu. Akan ada sesi wawancara dan juga iklan produk shampo." jelas manager Evelin.


"Kapan aku libur atau ada waktu senggang?" tanyanya yang membuat manager mengerutkan dahi.


Evelin tidak biasanya menanyakan hari liburnya. Dia selalu saja memilih bekerja dan bekerja . Dia jarang sekali mengambil libur untuk memanjakan diri kecuali memang dia sudah memerlukannya.


"Di hari kamis. Jadwal Mu hanya sesi wawancara saja. dari kamu bisa pergi."


tanpa mendengarkan apa yang dikatakan oleh managernya lebih lanjut. Evelin langsung meraih tasnya dan keluar dari ruangan ganti.


"Mau kemana dia?" tanya Melinda kepada manajer Evelin saat berpapasan dengan model papan atas itu.


"Aku tidak tahu. Dia awalnya tanya tentang jadwalnya. Setelah dijelaskan dia langsung pergi begitu saja." bebernya.


"Apa ada masalah?" tanya Melinda.


"Sepertinya tidak ada. Mungkin moodnya saja yang sedang kurang baik."


Melinda menarik bahunya ke atas dan tidak ingin memikirkan apa yang sedang dipikirkan oleh Evelin.


"Aku akan berusaha untuk membuat mereka bersatu." serunya.


Melinda berhasil membuat manager Evelin terpengaruh dengan cerita omong kosongnya. dia merasa kalau manager Evelin sangat polos dan tidak berpikir jauh.


"Kenapa bisa dia memiliki manager yang bodoh seperti itu?" Melinda lalu menutup pintu ruang ganti.


.


.


.


Hari yang sangat melelahkan sudah dilalui oleh banyak orang begitu juga oleh Jonathan. Dia kembali ke rumah dan langsung memeluk tubuh istrinya dengan erat.


"Aku merindukan dirimu." Jonathan berbisik.


"Aku juga merindukanmu." Dinniar membalas pelukan suaminya.


"Sayang kamu bersih-bersih dulu. ada yang ingin aku bicarakan kepadamu sayang." ujar Dinniar sambil melepas pelukannya.


"Baiklah, aku mandi dulu baru nanti kita berbincang mesra. Sambil berpelukan lagi." Jonathan mencubit gemas pipi sang istri.


Dinniar tersenyum dan menyentuh pipi sang suami. "kita akan bersenang-senang malam ini." ujarnya penuh makna.


Jonathan langsung bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia tidak mau melewatkan kesempatan bersenang-senang yang ditawarkan sang istri untuknya. Jika istrinya sudah bicara demikian berarti Dinniar punya jurus jitu untuk membuatnya semakin bersemangat menuju tempat tidur.


Selepas suaminya masuk ke dalam kamar mandi. Dinniar menyiapkan sesuatu untung Jonathan.


"Teh, cemilan dan juga ...." dia menatap sebuah botol kecil yang diletakkannya di atas meja.


Dinniar lalu menyalakan aroma terapi agar suasana semakin rileks. Dia juga menyiapkan baju tidur suaminya yang senada dengan baju tidur yang dia kenakan.


"Semua sudah siap. Tinggal menunggu dia keluar dari kamar mandi." gumamnya.


Dinniar duduk di kursi sambil menatap dirinya di cermin.


"Apakah dia akan mengizinkanku? Apa usulan mama akan diterimanya?" Dinniar bicara di depan cermin.


"Sayang, apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Jonathan ketika keluar dari ruang ganti.


"Tidak ada apa-apa." Dinniar lalu mengambil nampan berisi teh hangat dan juga cemilan.


"Diminum dulu." Dinniar menyodorkan cangkir teh.


"terima kasih sayang. Kamu memang selalu menjadi yang terbaik." puji Jonathan.


Setiap malam mereka memang selalu menciptakan sebuah suasana romantis agar hubungan semakin erat dan komunikasi juga semakin lancar.


" Apa ada yang ingin kamu bicarakan?" tanya Jonathan yang bisa menebak dari raut wajah istrinya.


"Heem, tapi kita bicarakan sambil aku mengurut tubuhmu. Kamu pasti lelah seharian bekerja ditambah lagi hari ini ada sesi pengambilan video promosi." ujar Dinniar sambil membaringkan suaminya di kasur.


Selagi istrinya membaringkan dirinya di kasur. Jonathan menggunakan kesempatan itu untuk mengecup bibir seksi sang istri yang selalu membuatnya kecanduan.


"Aku mencintaimu, sekarang dan selamanya." ujar jonathan tanpa melepas pagutannya.


Mereka bermesraan di atas kasur sebelum dinniar mengurut suaminya. Aktivitas diatas ranjang memang bisa membuat pasangan suami istri semakin erat dan bisa membuat pembicaraan semakin lancar. Konon bisa juga membuat sang suami menyetujui apa yang diinginkan oleh istrinya.