
semerbak wangi pada rumputan dan adanya kicauan burung kecil membuat rasa sangat indah.
sekolah harapan wa seluruh pol resort khusus untuk anak-anak sekolah menengah atas harapan. mereka akan mengadakan acara pentas seni di resort tersebut.
"wah di sini nyaman sekali." gumam beberapa anak murid yang sudah berdatangan dan menikmati indahnya resort.
"tempat ini cocok sekali ya untuk kita mengadakan pentas seni memang guru kita paling oke apalagi kepala yayasan." ujar salah satu guru yang memandangi indahnya suguhan pemandangan Resort ini.
"lihat itu ada burung berterbangan di langit. andai aku bisa terbang aku ingin sekali bermain-main bersama mereka." para siswa dan siswi saling menikmati keindahan dan sangat merasa terpengaruh dengan suasana.
Alesya juga ikut menikmati keindahan yang ada di resort ini. Alesya dan teman-temannya saling berbisik mengagumi keindahan.
"wah di sini ada kolam renang juga. bisa berenang nih." kagum alvi
"males ah gue nggak mau berenang kalau nanti berenang ganti bajunya juga repot lagi pula bawa bajunya juga sedikit." sambar ica
"duh aku jadi pengen males-malesan nih di sini jadi nggak mau kerjain apa-apa biar bisa menikmati pemandangan yang ada." celetuk Raka saat lewat di dekat Alesya.
"Lo sih emang dasarnya males-malesan dari dulu." sindir Alesya.
"ye boleh ngasih sewot sama orang. orang mau males kek dari dulu atau mau males sekarang kek terserah dong. urusin orang banget." sewot Raka yang tak terima dengan sindiran Alesya.
"Udah dong Sya nggak usah ngeladenin dia dan nggak usah berantem juga. kita tuh disini mau belajar bukan mau cari keributan. mentahan dikit kenapa sih?" tegur Ica yang tak tahan dengan sikap dua teman sekolahnya yang selalu ribut kalau bertemu.
"iya iya gue janji nggak bakal nyari ribut. kesel aja gue tuh kalau setiap lihat dia. apalagi caranya ngomong itu loh. bikin orang sewot." Alesya bicara sambil memandang Raka dari kejauhan.
"Udah sih nggak usah dibahas nanti jatuh cinta lagi. bisa berabe urusannya." celetuk Alvi.
"yey kok lo yang sewot sih Vi?" Ica terkekeh.
"Kak kita itu udah janji selama duduk di sekolah menengah atas sampai kuliah harus fokus belajar nggak boleh yang ada namanya jatuh cinta apalagi sampai pacaran." Alvi mengingatkan kembali janji mereka bertiga.
mereka memang sama-sama pernah berjanji kalau selama sekolah formal sampai mereka kuliah nanti akan fokus sampai mendapatkan nilai yang terbaik dan menjadi lulusan yang terbaik. itu masih terjaga sampai mereka sekolah di menengah atas ini. bertiga memang sosok teladan di sekolah yang selalu mementingkan prestasi daripada aksi.
"Sya di sana ada kolam ombak lo Sya. Ca, Alesya. berenang yuk." ajak Alvi.
"ye kalau lo mau berenang ya berenang aja kali. Kita kan beda jenis kelamin lu cowok gue cewek ya masa kita tidak berenang dalam satu kolam yang sama. suka ngaco deh otaknya nih.". Alesya menoyor Alvi karena kesal.
"bener juga ya apa kata dia masa kita berenang bareng?" Alvi garuk-garuk kepala.
"ye emang lu nih dasar aja Oneng." ceplos Ica.
setelah melihat-lihat area sekitar resort mereka semua masuk ke dalam kamar yang sudah disediakan dan disewa oleh sekolah harapan.
"kalian semua istirahat nanti ibu akan memanggil untuk makan siang bersama di cafe resort ini. ibu harap kalian tetap stay di kamar jangan pergi kemanapun tanpa izin dari para guru. kalian mengerti?" tanya salah satu guru yang mengatur anak-anak.
"siap bu guru." jawab mereka semua serempak.
"pemainnya capek juga muter-muter terus baris di aula. kayaknya masih ada waktu sejam nih buat lurusin kaki sama meremin mata." ujar Icha yang satu kamar dengan Alesya.
"gua mau kabarin Mami dan papa dulu ya."
Alesya mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi maminya. dia tahu kalau maminya pasti akan merasa cemas. apalagi urusan mengenai Cornelia belum juga terselesaikan. sebenarnya dia dilarang untuk pergi namun entah kenapa tiba-tiba papi dan maminya mengizinkan.
"Mami aku udah sampai di resort. iya aku janji akan menjaga diri dan tidak akan terpisah dari guru serta teman-teman. kami dan papa tenang aja ya Alesya bisa jaga diri." Alesya berusaha meyakinkan kedua orang tuanya.
"kalau kita Aku tutup dulu ya Mami teleponnya. aku mau istirahat dulu sebelum makan siang. dadah mami." Alesya memutuskan sambungan teleponnya.
di tempat yang jauh dari keberadaan Alesya. seorang wanita sedang termenung. dia tetap mencemaskan putri cantiknya. masalah yang belum terselesaikan membuat hatinya gusar walaupun dia tahu putrinya sekarang sudah besar dan bisa menjaga diri sendiri.
"Mas kamu udah bener-bener minta tolong kan sama Raka untuk jagain Alesya?" tanya dilihat yang sudah berkali-kali menanyakan hal yang sama.
"sayang kamu nggak usah secemas itu. aku sudah benar-benar meminta tolong kepada Raka dan juga kepada guru-guru. lagi pula sepertinya Adrian juga ikut." Jonathan berusaha untuk menenangkan istrinya.
"aku hanya khawatir Cornelia akan berbuat sesuatu kepada anak-anak kita." ujar Dinniar dengan lesu.
"kamu tidak perlu khawatir yang berlebihan. lagi pula aku sudah menempatkan beberapa anak buahku untuk berjaga-jaga." akan mengelus pipi istrinya.
"lagi pula karena dia juga tidak mungkin tahu kan kalau misalkan Alesya pergi?" tetap saja diniar masih menyimpan kecemasan. terdengar dari pertanyaannya itu.
meski suaminya sudah berusaha meyakinkan pada Dinniar bahwa anak mereka akan baik-baik saja. tetap saja istrinya itu merasakan kekhawatiran yang begitu mendalam.
"percaya padaku kita mampu dan bisa melindungi anak-anak meski di luar jangkauan kita. sudah berbekal ilmu bela diri. mereka tetap bisa melindungi diri sendiri jika ada marabahaya yang menghampiri."
.
.
.
Darius yang sedang dalam masa bahagia karena istrinya sedang mengandung anak pertama mereka membuat Darius begitu semangat untuk memberikan yang terbaik kepada istrinya.
"Mas Terima kasih kamu sudah sangat baik kepadaku. Aku beruntung memiliki sosok suami seperti ini." kata salsa sambil menatap teduh suaminya.
"sudah kewajibanku untuk memberikan yang terbaik untuk kamu dan untuk calon anak kita. aku berjanji kesalahanku di masa lalu saat bersama istri pertama. takkan terulang lagi padamu." janji Darius kepada Salsa.
Salsa menatap wajah suaminya begitu dalam. dia bahkan sampai menitikkan air matanya yang tak bisa dia bendung lagi.
"kenapa kamu menangis? apakah ada yang salah dari perilaku aku?" tanya Darius dari sambil mengelus wajah sang istri.
"kamu tidak berbuat salah apapun kepadaku. mungkin ini bawaan bayi jadinya aku terlalu sensitif." Salsa menghapus air matanya.
"maafkan aku Mas. aku mungkin yang akan membawa keretakan di dalam rumah tangga kita. saat kamu ingin menjadi sosok suami yang terbaik. akulah wanita yang akan mengucapkan semua mimpimu itu. aku minta maaf. tapi satu yang harus kau ketahui aku mencintaimu dengan tulus." Salsa bicara di dalam hatinya sambil kembali menitikkan air mata.