Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
part 71 - Karam sebelum berlabuh



Jonathan yang mendengar harapan dari Tasya. menjadi merasa kalau kapalnya takkan pernah berlabuh.


dia merasa harus mengubur dalam-dalam rasa cintanya kepada Dinniar. memang bukan hanya sekali ini saja dia harus memendam perasaannya. namun, entah mengapa kali ini rasanya sangat sakit dan berat untuk melepas rasa cinta ini.


Alesya menghampiri Jonathan yang sedang terduduk di dekat kolam renang.


"Om, jangan pernah menyerah. aku yakin kalau memang kalian berjodoh pasti akan menemukan jalannya." Alesya sudah sangat dewasa.


Alesya bisa membaca pikiran dan merasakan perasaan orang lain. Jonatan merasa keponakannya ini semakin hari semakin tumbuh menjadi pribadi yang sangat pengertian.


"Om bukan ingin menyerah. hanya saja harapan dari Tasya mungkin bisa saja terkabulkan," ujar Jonathan.


"mungkin itu bisa terjadi, tapi mungkin juga bisa tidak terjadi. banyak kemungkinan di dunia ini om. aku rasa Bu Dinniar belum tentu ingin kembali kepada suaminya."


bocah berusia lima belas tahun itu seperti sangat pintar membaca situasi. Jonathan bangga kepada keponakannya yang sudah semakin dewasa.


"Aku belum tahu apa yang harus aku lakukan saat ini. banyak kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dalam kehidupan ini. Namun, apakah kemungkinan itu akan berpihak kepadaku?"


Jonatan semakin galau. awalnya ia semangat untuk pembuktian cintanya. akan tetapi ternyata ada setitik celah yang mampu menundukkan semangatnya. dia bukan putus asa. hanya saja dia pikirannya kini buntu dan tak bisa mencari solusi untuk kisah cintanya.


...****************...


"Tasya, sayang. ayo cepat. nanti kita terlambat ke sekolahnya."


setelah berlibur beberapa hari untuk menghilangkan penat dan stres mereka. kini semua sudah kembali ke kehidupan normal. Dinniar kembali ke aktivitas sehari-hari. dia juga akan kembali menjadi kepala sekolah.


"Mih. hari ini aku bawa bekal apa?" tanya Tasya.


"Mami bawakan scrambled egg sandwich. karena ini hari Senin kita ada upacara dan kamu juga pulang cepat hari ini."


Dinniar kini menyiapkan bekal putrinya sendiri sebagai tanda perhatiannya. dia tidak mau kalau putrinya merasa kalau dirinya tak terlalu mengurusnya dan menyerahkannya kepada baby sitter terus.


"sayang selesaikan sarpanmu. setelah itu kita berangkat."


Dinniar dulu hampir kecolongan saat Tasya masih less bimbel. jadi dia tidak mau hal itu terulang. baginya hanya Tasya kini hartanya yang paling berharga.


"Mih, ayo kita berangkat." Tasya sudah siap dengan perlengkapan sekolahnya.


"Assalamualaikum." terdengar seseorang mengucap salam.


Dinniar dan Tasya menoleh kearah suara dan mereka temukan Darius sudah masuk ke dalam rumah.


"duh, kok bisa sih tuan masuk? bukannya pintu masih kita gembok?"


"aku juga enggak tahu."


kedua asisten rumah tangga itu saling berbisik.


"waalaikumsalam." Dinniar menjawab salam. karena menjawab salam dalam Islam adalah wajib.


"Tasya." Darius menghampiri Tasya dan mengelus lembut rambut putrinya.


Tasya langsung bersembunyi di balik badan maminya. dia sepertinya masih trauma.


"sayang, tidak usah takut. papi'kan sayang Tasya. maafkan papi atas kejadian tempo hari." Darius menunjukkan wajah menyesalnya.


"Mih, ayo cepat berangkat. nanti aku terlambat."


Tasya menarik-narik tangan maminya. dan Dinniar langsung tersenyum.


"ternyata rasa itu masih tersisa di hatimu. padahal kemarin kamu bilang ingin kita kembali berkumpul."


Dinniar sedikit bingung dengan sikap putrinya, tapi dia bisa melihat kalau putrinya masih menyimpan rasa sakit itu.