Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 156 - pergolakan hati



"Welcome home." teriak semua orang dengan suka cita.


Dinniar sangat senang kepulangannya di sambut oleh banyak orang. Dia juga langsung mencari sosok yang sangat dia khawatirkan seharian kemarin.


Dia lihat Alesya berdiri diantara para pekerja. Alesya tidak ada di barisan paling depan seperti Tasya dan wajahnya juga di tekuk seperti tidak senang melihat Dinniar pulang.


Dinniar langsung mengembangkan senyumannya ketika melihat anak sulungnya meski bukan darah dagingnya. Alesya kemudia memalingkan wajahnya ketika Dinniar memandang kearahnya.


Saat ini Dinniar mungkin belum menyadari akan perubahan sikap Alesya terhadap dirinya. Dinniar mendekati Tasya dan memeluknya erat. tak lama dia juga menghampiri Alesya. dia memeluk Alesya, tapi tak direspon.


"Bu, makan siang sudah siap semua. kami sudah membuat beberapa masakan kesukaan ibu." kata BI Imah menghampiri Dinniar.


"Kita akan makan bersama siang ini. Kalian juga ikut makan bersama." kata Dinniar kepada para pekerja yang ada di rumahnya.


Dinniar menggandeng tangan Alesya dan Tasya. Dia sangat merindukan kedua anaknya.


Dinniar mendudukkan Tasya di salah satu kursi dan saat itu Alesya langsung mencari kursinya sendiri. Dinniar menatapnya dan tetap tersenyum.


"Sayang, mami nanti mau bicara dengan Alesya." Ujar Dinniar ketika menghampiri Alesya lagi.


Dinniar duduk di samping Alesya sedangkan Tasya duduk di samping baby sitternya. Jonathan duduk di samping Dinniar.


"saya mengucapkan terima kasih karena kalian sudah menyiapkan acara penyambutan seperti ini. Saya yakin kalian sudah mendengar kabar beritanya. Terima kasih sudah mendoakan saya dan calon bayi kami." Dinniar tersenyum kepada semua orang.


Tasya menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Mami, apa aku akan punya adik?" tanya Tasya.


"Benar Nona. nona Alesya dan nona Tasya akan memiliki adik bayi." kata mba Surti.


"Hore adik bayi. aku suka sekali." Tasya bersorak kegirangan. sedangkan Alesya hanya diam saja.


Jonathan memperhatikan Alesya. entah kenapa sejak pertemuan mereka di taman. Alesya lebih banyak diam. dia bahkan tidak bertanya dimana maminya. biasanya dia yang paling sering merengek ketika tidak melihat Dinniar.


Alesya sering kali mencari keberadaan Dinniar dan tasya ketika mereka sama-sama berada di dalam rumah. Alesya sangat menempel kepada Dinniar. mereka berdua sudah seperti amplop dan perangko. namun, sejak di rumah Alesya bahkan tidak menyebut nama Tasya ataupun Dinniar.


"apa dia mengalami hal buruk? aku bahkan belum bertanya apapun kepadanya sejak semalam. semalam aku hanya mengantarnya pulang dan menemaninya sebentar saja lalu pergi ke rumah sakit." Jonathan merasa bersalah karena tidak memperhatikan Alesya.


Mereka semua makan bersama di satu meja makan yang sama. Dinniar senang bisa berbagi kebahagiaan kepada semua orang.


selesai makan siang, Dinniar dan Jonathan kembali ke kamar mereka berdua. Dinniar di baringkan di ranjang oleh Jonathan agar bisa lebih banyak istirahat.


"Mas, apa yang terjadi kepada Alesya? apa kamu sudah mengetahui penyebab hilangnya dia?" tanya Dinniar.


"Dia sudah pasti itu adalah penculikan. aku sudah memerintahkan Rendy untuk mencari dalang atas kejadian semua ini." jelas Jonathan.


"Mas, kamu juga belum cerita sama aku. bagaimana kamu bisa menemukan Alesya."


"Kamu harus mencari tahu semuanya. aku tidak mau hal seperti ini terjadi. Alesya mungkin sudah besar dan tidak seberat Tasya jika dia mengalami trauma. namun, tetap saja, sesuatu yang mengerikan akan membekas di ingatannya. aku mau semua ini segera ada titik terang." pinta Dinniar.


"Sudah sekarang kamu tidur saja. aku akan bereskan semuanya nanti..aku akan pastikan hal buruk tidak akan lagi terjadi kepada keluarga kita sayang." janji Jonathan kepada istrinya.


Dinniar akhirnya memutuskan untuk tidur setelah berbincang dengan suaminya mengenai apa yang terjadi kepada Alesya.


...****************...


Saat makan malam tiba. mereka kembali berkumpul di ruang makan. Dinniar melihat Alesya, tapi anak itu langsung melewatinya bahkan tidak menyapa dirinya. Jonathan menyaksikan semua tingkah tidak sopan Alesya.


Dinniar melihat kalau Alesya sedikit berbeda hari ini. Dia yang sedang duduk bersama dan berkumpul di meja makan Terus menatap ke arah Alesya. Tak biasanya Alesya menghindarinya. Dinniar juga ketika tersenyum ke arahnya seperti diabaikan olehnya.


"Ada apa dengannya? kenapa dia seperti sedang marah kepadaku? ah, apa ini hanya perasaanku yang sedang sensitif karena kehamilanku? tidak mungkin Alesya begitu kepadaku. dia adalah anak yang sangat manis dan santun. Bahkan aku sangat ingin dia terlahir dari rahimku." Dinniar begitu sangat tulus menyayangi Alesya.


Alesya mengaduk-aduk makanannya dia seperti orang yang sedang tidak nafsu makan dan tidak suka dengan menu masakannya. padahal yang di ketahui semua orang, Alesya sangat suka dengan makanan menu daging dan kentang.


"Alesya, apa kamu sakit?" tanya Dinniar dengan sangat perhatian.


Alesya yang mendapatkan pertanyaan hanya diam. Dia enggan sekali menanggapi pertanyaan dari Dinniar.


"Alesya, mami bertanya kepadamu." Jonathan menyadari kalau Alesya sepertinya cukup abai.


"Alesya tidak lapar. Aku ke kamar dulu mau istirahat." Alesya meletakkan sendok dan garpu yang tadi di pegangnya. dia langsung beranjak dari tempatnya dan menaiki seluruh anak tangga menuju ke kamarnya.


"Ada apa dengannya?" tanya Jonathan yang bingung dengan sikap Alesya.


"Sudah biarkan saja. mungkin dia masih lelah setelah kepergiannya semalam. Nanti aku akan ke kamarnya dan bicara." Dinniar meminta Jonathan untuk lebih tenang.


Menghadapi anak remaja memang agak sedikit sulit tidak mudah dalam menghadapi anak remaja yang sedang dalam masa labil. Banyak hal yang mesti di pelajari oleh orang tua. Banyak juga cara pendekatan untuk lebih dekat dan membuat anak merasa nyaman agar bisa menjadi kawan bagi anak remaja mereka.


Dinniar mengetahui bagaimana cara agar bisa mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh seorang remaja yang sedang merasa galau.


"Apa ini tentang pria?" tanya Jonathan sambil berbisik.


"Bukan hanya tentang pria. tidak semua hal yang membuat galau itu karena pria. hah dasar kalian para pria selalu inginnya wanita galau karena kalian." Dinniar menggelengkan kepalanya. sedangkan Jonathan tersenyum kecil.


Di dalam kamarnya Alesya sedang sibuk dengan pemikirannya sendiri. dia mengurung diri di dalam kamarnya. sudah tiga puluh menit dia menyendiri sejak meninggalkan ruang makan.


Tak lama terdengar suara ketukan pintu dari luar. Alesya menatap pintu kamarnya sendiri. dia sangat enggan membuka pintu kamarnya. dia sengaja mengunci pintu kamar dari dalam agar tidak ada yang bisa mengganggu dirinya yang sedang ingin sendirian.


...****************...