
Ulang tahun Alesya pada kali ini sangatlah meriah dan berbeda dari tahun biasanya. Keluarga serta teman-temannya datang untuk merayakan. Alesya sangat senang dan bersyukur kalau kedua orang tuanya dan kedua adiknya ingat dengan hari ulang tahunnya.
rasa sedih di hati Alesya sirna begitu saja. ini dia semakin yakin kalau Dinniar, Jonathan dan adiknya yang benar tulus mencintai dan menyayangi dirinya.
Aku tidak akan pernah mudah lagi dipengaruhi oleh orang lain. keluargaku adalah rumahku. Di mana mereka adalah tempatku untuk mencurahkan kasih sayang dan mendapatkan kasih sayang. tidak ada orang yang akan bisa membuat aku jauh dari mereka bahkan membenci mereka.
Alesya terus mengembangkan senyumannya bahkan sesekali dia tertawa dengan atraksi badut yang didatangkan oleh Jonathan.
"lucu banget ya Kak badutnya." seru Devano sambil terus tertawa.
"iya dek baru itu lucu banget hidungnya merah, besar dan rambutnya keriting." Tasya menikmati hiburan yang disajikan oleh sang badut.
"sayang mami harap kamu selalu bahagia dan tertawa seperti ini. mami selalu mendoakan mu dan berharap kamu tumbuh dewasa dengan sangat baik. menjadi orang yang sukses dan selalu membanggakan kami sebagai kedua orang tuanya." Dinniar berbisik di telinga Alesya.
Alesya lalu menggandeng pinggang maminya dan menempelkan kepalanya di kepala Dinniar.
"aku juga selalu berdoa yang terbaik untuk keluarga kita. Aku ingin selalu bersama dengan Mami, papa dan adik-adik. kalian adalah harta yang paling terindah di dalam hidupku."
Teman-teman Alesya satu satu izin pulang karena hari memang sudah larut malam. Alesya berterima kasih kepada teman-teman yang sudah datang di acara ulang tahunnya dan turut ikut memberikan kejutan.
"kita pulang dulu ya sya. bahagia selalu ya." kata beberapa temannya kepada Alesya.
"Terima kasih ya udah datang. kalian memang paling the best." Alesya bersalaman kepada beberapa temannya yang sudah mau pulang.
.
.
.
Melinda yang sedang berada di rumahnya sedang memikirkan bagaimana reaksi Alesya yang marah karena kecewa dengan Dinniar dan Jonathan yang tidak mementingkan hari ulang tahunnya.
"Aku pastikan Alesya akan membencimu selamanya. aku yakin saat ini pasti Alesya sedang marah. dan tidak sampainya hadiah ulang tahun itu pasti akan dianggap Alesya sebagai alasan belaka." kekehnya.
Melinda menatap langit-langit kamarnya dan tak lama memejamkan mata. Dia bersiap menyambut kabar baru hari esok. Dia sudah berjanji kepada Alesya untuk menjemput dan mengajaknya makan siang bersama.
Sedangkan di ruang tamu Syam sedang menerima tamu istimewa. Mereka berbincang sangat serius.
"aku yakin anak mu bisa mendapatkan Jonathan. Dengar, dia adalah aset untukku. dia dirawat olehku sejak bayi saat istrimu tiada. Jagan sampai orang luar tahu identitas aslinya. Karena kalau sampai mereka tahu. para pemegang saham tidak akan mengizinkannya menjadi pengganti ku." ujar Syam kepada pria yang merupakan ayah kandung Melinda.
Melinda adalah anak dari kakak iparnya Syam. mereka mengangkat Melinda menjadi anak sejak Melinda baru lahir ke dunia karena memang kakak iparnya meninggal dunia dan istrinya menginginkan anak perempuan begitu juga dengan dirinya.
ayah kandung Melinda tidak bisa berbuat apapun karena memang dia juga mendapatkan keuntungan dari Melinda menjadi anak angkat adik iparnya. ayah Melinda tidak perlu bekerja terlalu keras untuk melakukan kehidupannya sendiri dan dia bahkan sudah menikah lagi dengan seorang wanita dan memiliki anak darinya.
Syam awalnya memang hanya ingin mengadopsi melindas saja akan tetapi dia akhirnya berniat untuk menjodohkan Putri angkatnya dengan keponakannya sendiri. Namun, sayang keluarga Jonathan tidak setuju akan hal itu. begitu pula dengan Jonatan.
.
.
.
"Kamu sudah siap sayang?" tanya Dinniar sambil menyiapkan sarapan dan juga bekal untuk anak serta suaminya.
"sudah, mih. Sepertinya aku nanti akan pulang telat. Ada janji dulu sama temen." Alesya kemudian duduk di bangku dan bersiap untuk sarapan.
Alesya sekarang selalu lebih dulu bangun dan sarapan. sekolah menengah atas harapan sangatlah ketat. Anak yang terlambat tidak diperbolehkan masuk dan dianggap tidak hadir di kelas.
"Ini bekal kamu. Kamu hati-hati dan jangan terlalu lama di luar sana. Mami masih khawatir orang punya niat jahat kepada keluarga kita." pesan Dinniar yang mengingatkan anaknya.
Bukan hanya niat. Bahkan dia sudah melakukannya kepadaku. Aku akan lebih berhati-hati lagi dan tidak mudah terhasut oleh omongan orang lain. Aku akan ikut melindungi keluarga kita.
Alesya semakin bertekad untuk melindungi keluarganya dari orang-orang yang ingin memecah belah keluarganya dan berbuat hajat kepada keluarganya.
"Mih, aku berangkat sekarang ya." Alesya memasukkan bekal ke dalam tasnya serta botol air minum.
"Kakak sudah mau berangkat?" tanya Devano.
"Iyah, kakak jalan duluan ya. Kalian harus hati-hati kepada siapapun. Jangan mudah dekat dengan orang lain dan percaya kepada orang lain." pesan Alesya kepada kedua adiknya.
Dinniar mendengar perkataan anak gadisnya dan dia langsung mengerutkan dahinya. Tak pernah Alesya berkata sedalam itu kepada adik-adiknya.
Apa Alesya mengalami sesuatu? Aku harus memeriksanya.
Dinniar menajamkan fillingnya sebagai seorang ibu. dia selalu hafal sikap dan sifat anak-anaknya. Alesya tak biasanya berkata begitu jika dia tidak mengalaminya sendiri.
"Dadah, kakak."
Tasya dan Devano melambaikan tangannya. Dan Alesya keluar rumah.
Dinniar kembali menyiapkan bekal. Dia meletakkan tiga kotak makan dan mengisinya dengan masakan yang sudah diolah.
"Wah seru nih menu makan siangnya." Jonathan muncul sambil merapihkan dasinya.
"Ayo sarapan." Dinniar meletakkan apronnya dan menghampiri Jonathan.
Dinniar merapihkan dasi yang masih terlihat kurang pas. Dia juga membenarkan kerah baju suaminya. Mereka kemudian sarapan bersama.
.
.
.
Melinda sangat tidak sabar untuk bertemu dengan Alesya hari ini. bahkan untuk menunggu satu jam lagi saja dia sudah tak karuan rasanya.
"Aku sangat penasaran bagaimana reaksi Alesya. Aku yakin dia akan menangis dan mengadu kepadaku tentang perilaku keluarga di hari ulang tahunnya yang sangat mengecewakan." Melinda kembali melirik jam di atas meja kerjanya.
Bekerjaoun Melinda menjadi tidak terlalu fokus. Padahal hari ini adalah jadwal dia untuk menyerahkan konsep promosi iklan yang ada beberapa revisi karena Jonathan menolak untuk menjadi model pria yang beradegan sebagai pasangan avelin.
jam menunjukkan pukul 13:30. Dia langsung menyambar telepon genggamnya dan bergegas pergi menuju ke sekolahan Alesya. Dia bahkan sempat berlarian di lobi menuju ke parkiran.