Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 96 - Hari bahagia



Dinniar bersiap dan memantapkan diri untuk menjadi istri dari seorang pengusaha stasiun televisi dan juga seorang pewaris kerajaan bisnis kedua orang tuanya.


Jonathan juga mempersiapkan diri dan memantapkan diri untuk menjadi seorang suami sekaligus seorang ayah sambung dari anak istrinya. Jonathan mempersiapkan diri lahir dan batin.


Jonathan sangat mencintai Dinniar. dia bahkan rela bekerja kerasa mencari Tasya saat sedang dalam penyekapan penculik. Di mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari Tasya dan ternyata dia sendiri yang menemukannya.


tantangan Jonathan menikahi Dinniar bukan hanya menjadi suami idaman, tapi sekaligus menjadi ayah idaman bagi Tasya.


Untungnya Tasya begitu dekat dengannya sehingga mudah baginya untuk mengakrabkan diri dengan anak kecil yang imut dan cantik itu.


Tasya sangat senang melihat maminya akan menikah lagi dengan pria baik seperti Jonathan yang dia juluki om baik. Tasya terus melihat kepada Jonathan dan juga Dinniar secara bergantian ketika mereka berdua sedang mempersiapkan diri.


"Mami sangat cantik kan?" tanya Tasya kepada Omanya.


"cantik sekali sayang. Tasya bahagia melihat mami akan menikah lagi?" tanya mama Juwita kepada cucunya.


"Aku sangat bahagia. mami pasti akan bahagia bersama om baik. Tasya sangat ingin melihat mami terus tersenyum setiap hari bukan menangis seperti kemarin-kemarin." Tasya mengungkapkan perasaannya.


Mama Juwita begitu tersentuh hatinya mendengar perkataan cucunya yang begitu bijaksana.


harapan seorang anak yang sangat ingin kalau maminya hidup bahagia dan sangat ingin melihat senyuman di wajah maminya.


Beruntungnya Dinniar memiliki seorang putri cantik yang begitu perhatian dan sangat menginginkan kebahagiaan atas maminya.


Penghulu datang dan mereka semua mempersilahkan penghulu untuk duduk di bangku sofa yang sudah di sediakan oleh mereka.


"Maafkan kamu telah merepotkan bapak penghulu dan menikah di tempat dan waktu yang sangat dadakan ini." kata Hartono.


"Tidak apa pak. ini namanya sudah ketentuan dari tuhan dan memang sudah jalannya seperti ini. menikah tidak perlu mewah. asalkan sakral. lagi pula menikah syaratnya adalah ijab dan qobul, serta adanya mahar." kata bapak penghulu.


"silakan pak diminum dan di cicipi dulu sambil menunggu pengantin wanita selesai di rias." kata Sonia yang menyodorkan minuman dan cemilan.


Sonia akan menjadi saksi penyatuan Dinniar dan juga Jonathan. Dia ingin menyaksikan kisah penyatuan dua insan yang sedang bersemi cintanya di dalam hati.


Sonia melihat Jonathan sedikit gugup karena ini adalah pernikahan pertamanya. dia mondar mandir dan akhirnya Sonia menghampiri calon suami sahabatnya itu.


"Jangan terlalu gugup. santai saja. semua akan berjalan dengan lancar. aku tahu ini yang pertama bagimu. namun, aku harap ini menjadi yang terakhir juga untukmu dan Dinniar meski kamu bukanlah yang pertama untuknya." Sonia berkata seakan memberikan tanda kalau dia tidak ingin sahabatnya kembali merasakan sakit hati akibat kegagalan membina rumah tangga.


Jonathan menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.


Jonathan segera mempersiapkan dirinya karena Dinniar sudah selesai di rias oleh perias pengantin.


Dinniar begitu cantik dengan balutan kebaya dan juga singer di atas kepalanya. Dinniar dan Jonathan saling bertatapan. Jonathan begitu terpana dengan kecantikan calon istrinya itu. bagi Jonathan Dinniar bak bidadari yang turun dari langit ketujuh yang akan menjadi pendamping hidupnya.


Dinniar dan Jonathan sudah siap dengan pakaian masing-masing. Dinniar dan Jonathan duduk berdampingan. Bapak penghulu duduk di samping Hartono sebagai wali nikah dari putri kandungnya.


Ijab Qabul dimulai dan Jonathan sangat lancar mengucapkan janji sucinya. Kini Dinniar dan Jonathan resmi sebagai suami istri. Mereka menandatangani buku nikah dan memakaikan cincin pernikahan di jari manis secara bergantian. Dinniar menyalami Jonathan yang kini sudah berstatus sebagai pria yang menjadi suami sahnya.


"Alhamdulillah, semua berjalan lancar." Juwita mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


"Selamat ya, pak Jonathan dan ibu Dinniar. Kalian sudah resmi secara agama dan negara sebagai suami dan istri. Semoga pernikahan kalian sampai ke jannahnya." Doa pak penghulu.


Kedua pasangan suami istri tersebut tersenyum tipis karena masih malu-malu.


"Pak penghulu, saya ucapkan terima kasih banyak karena sudah mau repot-repot datang kemari karena permintaan pribadi saya." Jonathan bersalaman dengan pak penghulu.


"Ah pak Jonathan. Mana ada sih orang yang enggak mau kalau di kasih uang segepok." bisiknya di telinga Jonathan.


Jonathan mengerti. pasti Rendy yang melakukan itu semua agar pak penghulu melancarkan rencananya.


"Terima kasih pak sekali lagi." Jonathan berjabat tangan untuk yang terakhir dengan bapak penghulu.


Jonathan kembali bergabung dengan keluarga barunya.


"Alhamdulillah. sekarang kalian sah menjadi suami dan istri. Jonathan mama titip Dinniar dan juga Tasya ya." pinta Juwita.


"Siap, Tante." Jonathan menjawab dengan malu-malu.


"Jangan panggil Tante lagi dong. Panggilnya mama dan papa sekarang. kita kan sudah menjadi keluarga." Juwita menepuk lengan pria yang sudah sah menjadi menantunya.


Jonathan tertawa kecil karena malu. "Iyah mah, Pah." Jonathan merevisi perkataannya.


"Papa." panggil Tasya dengan lantang.


"Tasya." Dinniar membantu putrinya yang hendak turun dari ranjang rumah sakit.


"Aku mau salaman sama papa, Mih." pintanya.


Dinniar langsung mengalihkan pandangannya ke arah Jonathan. Seketika Jonathan yang menghampiri anak sambungnya itu.


"Tasya mau salaman?" Jonathan menghampiri.


"Pah, selamat ya. Papa sudah menjadi suami mami. Tasya mau papa selalu menjaga dan menyayangi mami," kata Tasya setelah menyalami Jonathan.


"Pasti sayang. papa pasti akan menjaga dan menyayangi mami. tidak hanya mami, tapi Tasya juga." Jonathan mengacak-acak lembut rambut Tasya.


Mereka semua memancarkan rona bahagia. terlebih lagi Jonathan yang begitu bahagia bisa menikahi wanita pujaan hatinya.


"Hari ini kan Tasya pulang. Gimana kalau kalian semua pulang ke rumah ku? Rendy sudah menyiapkan semuanya. nanti Bibi dan baby sitter Tasya akan di jemput oleh supir." Usul Jonathan.


"ide yang sangat bagus. jadi Darius tidak bisa bertemu dengan Tasya untuk sementara waktu." Hartono menyetujui usulan dari Jonathan.


Dinniar hanya bisa mengangguk. dia yang sudah menjadi seorang istri sudahlah pasti harus ikut kemana langkah kaki suami membawanya.


Dinniar dan mamanya merapihkan semua barang dan mereka bersiap untuk kembali ke rumah.


Jonathan meminta Rendy membereskan urusan administrasi Tasya. Sedangkan dia dan keluarga barunya pulang ke rumah. Jonathan sudah meminta asisten rumah tangganya dan juga mamanya untuk menyiapkan kejutan sebagai welcome home dalam menyambut kedatangan Dinniar dan Tasya.


Aku bahagia sekali. kamu wanita yang sangat baik bisa menjadi pendamping hidupku. aku begitu beruntung bisa menjadi suami dari wanita yang begitu berharga dan mendapatkan seorang anak yang lucu seperti Tasya.


"Jangan lupa ya. aku mau punya adik bayi." kata Tasya sambil terus tersenyum lebar.


Mereka yang mendengarnya langsung tertawa terbahak karena ternyata anak kecil seperti Tasya bisa juga bicara seperti itu tanpa di perintah.