
Dinniar sepulang dari mengantar anak-anak terkejut melihat rumahnya yang sudah ramai.
"Ada apa ini?" Dinniar masuk ke rumah dengan wajah tak biasa
Di rumahnya sudah ada keluarga om syam dan ditambah lagi dengan ibu mertuanya juga . Dinniar tidak menyangka kalau ibu mertuanya secepat itu bisa berada di rumahnya.
"Dinniar, suamimu ini. Dia telah menodai melinda. Semalam di tempat kalian berpesta. Jonathan menarik paksa Melinda ke dalam kamar yang ada di dalam bar. Apa kamu tidak tahu?" tanya Tante Kamelia.
"Apa maksud Tante? Itu tidak mungkin aku kembali ke rumah ini dan mas Jonathan ada di sampingku." Dinniar memulai aktingnya.
Di sini semua orang sedang berakting. Dinniar, Jonathan, Melinda dan om syam. Mereka sedang beradu peran. Permainan kali ini dalam kendali dinnydan Jonathan tanpa diketahui oleh om syam dan anak angkatnya itu.
Tante Kamelia memperlihatkan bukti-bukti yang dia dapatkan dari bar tempat kemarin mereka semua mengadakan pesta penyambutan untuk Dinniar.
"Lihat itu. Betapa suamimu tidak bermoral sekali Dinniar. Dia tidur di atas ranjang yang sama dengan putriku." Tante Kamelia menangis melihat ketidak adilan terhadap putrinya.
"Apa kamu yakin Kamelia? kamu tahu sendiri sifat putraku. Dia sangat mencintai istrinya dan sangat menghormati wanita. Dia bukan pria yang berlaku kotor." bela mama Jonathan.
"kamu masih bisa membelanya padahal bukti ini sudah ada?" teriak Tante kamelia.
Dinniar melihat bukti foto yang dibawa oleh Tante dari suaminya. Dia bergetar melihat gambar suaminya sedang tidur bersama Melinda.
Melihat Dinniar gemetar. Melinda tertawa di dalam hatinya. Dia lagi-lagi merasa kalau dirinya menang dan berhasil membuat kepercayaan Dinniar melemah terhadap Jonathan.
"Kamu percaya itu Dinniar? Apa kamu juga akan mengelak?" tanya om syam.
Om Syam mulai membuka suaranya dan mulai membuat keributan. Di tambah lagi ke dua anak laki-lakinya datang ke rumah dengan wajah penuh amarah.
"Mas, kenapa kamu tega melakukan ini? Apa kurangnya aku mas? Aku sudah berusaha untuk menjadi istrimu yang baik." Dinniar menangis.
"Dinniar kamu jangan percaya semua itu." mama mertuanya meminta menantunya untuk tidak cepat percaya begitu saja.
Jonathan dan Dinniar bertengkar di depan keluarga om syam. Kedua kakak Melinda juga ikut menghakimi Jonathan. Sehingga membuat Dinniar menangis.
Dinniar pura-pura tidak sanggup mendengar dan melihat semua pengkhianatan yang dilakukan oleh suaminya. Jonathan berusaha meyakinkan Dinniar bahwa semua itu tidak benar, tapi Dinniar tidak percaya itu semua.
Melinda dan Syam yang melihatnya bertepuk tangan di dalam bayangannya. Mereka senyum-senyum tanpa terlihat oleh mereka yang ada di ruangan ini.
Permainan Syam dan Melinda membuat semua orang percaya dan saling menyerang. Kedua kakak angkat Melinda benar-benar tidak habis pikir dengan sikap Jonathan yang tak pernah mereka bayangkan.
"Adikku mungkin memang menyukaimu Jonathan, tapi tidak selayaknya kamu memperlakukan dia seperti itu!" satu tinjuan melayang di wajah Jonathan.
Dinniar serta ibu mertuanya terkejut. Mama Jonathan langsung menghampiri putra tercintanya.
"Jonathan. kamu tidak apa-apa?" tanyanya penuh rasa khawatir.
"Aku baik-baik saja." Jonathan menghapus jejak darah yang keluar dari ujung bibirnya dan berusaha berdiri kembali.
"Apa kalian tidak dengar! Dia tidak melakukannya. Anakku tidak mungkin berbuat seperti itu. Dia sangat menghormati wanita." tegas sang ibu yang membela putranya.
Jonathan melihat wajah mamanya dengan rasa bersalahnya. Dia tak kuasa melihat kesedihan apalagi air mata mamanya sampai berlinang membasahi kedua pipi.
"Jonathan, pasti pipimu sangat sakit." dia mengusap pipi sang putra yang mulai memar.
"Mas, sudah ada buktinya. Kamu masih ingin mengelak? Kamu bilang sangat mencintai aku. Kamu bilang tidak akan pernah mengkhianati aku. Kenapa kamu berbuat seperti itu, mas?" Dinniar menangis hingga dia terjatuh ke lantai dan pingsan.
"Aku mohon kalian keluar dari rumahku!" usir Jonathan.
"Jonathan jangan kamu bersikap tidak bertanggung jawab seperti ini. Kamu yang selalu bilang kalau kita harus bertanggung jawab dengan semua yang kita lakukan. Kenapa, kenapa kamu malah mangkir dari tanggung jawab mu!" Kamelia menarik rambut Jonathan hingga beberapa rambutnya terlepas.
"hentikan, kamelia!"
Mama jonathan berusaha keras untuk membela putranya. Dia yang tahu bagaimana sikap Jonathan tidak mempercayai semuanya.
"Dengar Jonathan. kamu menunggu pertanggung jawaban dirimu sebagai seorang pria. Jika tidak aku akan membuatmu kehilangan segalanya." ancam dalam satu anak om Syam sambil menunjuk ke arah Jonathan.
Jonathan dibantu mamanya untuk duduk di sofa. Setelah duduk mamanya memeriksa luka di wajah putra semata wayangnya.
"Mas, kamu tidak apa-apa?" Dinniar meringis melihat wajah suaminya memar.
"tidak apa-apa, sayang. Terima kasih sudah menahannya." Jonathan menggenggam tangan istrinya.
"Apa maksudmu berterima kasih Jonathan? Dia tidak membelamu tadi. Dia malah ikut menyalahkan mu."
"Mah, maafkan aku. kami berdua yang merencanakan ini semua. Jika aku memberitahukan mama pasti semua tidak berjalan lancar." Jonathan bersimpuh di kaki mamanya.
"apa maksudnya ini? Dinny, Jonathan bicara yang jelas. mama tidak mengerti."
"Om Syam ingin mendapatkan haknya sebagai pewaris hotel. Dia ingin menjadi pemilik sah hotel. Dan Melinda terobsesi memiliki aku. Dia sampai membawa Evelin kembali. Dia menjadikan Evelin model di hotel. Dia membuat ingin menjebak aku dalam permainannya, tapi sayangnya banyak orang baik yang memihak kepadaku dan Dinniar. Sehingga kami mengikuti permainan Melinda dengan permainan kami semua." jelas Jonathan.
"Evelin? Di mana wanita itu? Dia membuatmu hampir putus asa. Mama harus menemuinya dan memberi pelajaran kepadanya."
"Mah, tenang. Evelin yang membantu kami juga. Sayangnya dia harus terbaring kritis di rumah sakit. Melinda memberinya racun untuk menyingkirkan Evelin. Dia tidak mau ada wanita lain yang merebutku." cerita Jonathan.
"benarkah? Apa sampai hati Melinda melakukan hal keji seperti itu?" tanyanya dan diangguki oleh Jonathan.
"Mama tenang saja. Nyawa Evelin bisa tertolong. Kondisinya memang masih kritis. Kita butuh memberinya semangat hidup agar dia mau berjuang menyelamatkan nyawanya sendiri." tutur Dinniar yang bersimpati.
"mama benar-benar tidak menyangka. Om dan Melinda bisa berbuat sejauh ini. Mama harus menemui mereka dan membuat mereka berdua sadar. Mama tidak bisa diam saja seperti ini."
"Mah, sabar. Kita sedang menunggu dia menyerang lebih. Mama serahkan kepada kita berdua. Mama tenang saja. Aku dan Dinniar akan mengatasi Melinda. Untuk om Syam. Karena dia adalah saudara kandung mama. Jadi kami serahkan hukumannya kepada mama. Namun, nanti. Jika kamu sudah menyelesaikan permainan ini." Jonathan memberi pengertian kepada mamanya yang tidak terima perlakuan om syam dan Melinda.
"Mah, aku membawa anak-anak ke rumah lamaku. Aku rasa di sana tempat yang paling aman. Aku tidak bisa membawa mereka ke rumah mama. Aku takut mereka salah paham dengan semua ini." kata Dinniar.
"Mama akan menyusul mereka dan menjaga mereka di rumah lamamu. Kamu dan jonathan uruslah semuanya. Mama tidak mau menunggu terlalu lama. Kalau kamu butuh sesuatu. Katakan saja kepada mama."
mama Jonathan memberikan dukungan kepada anak dan menantunya. Dia akan terus mendukung demi kedamaian semuanya.
Selesai drama yang melelahkan di rumahnya. Dinniar dan Jonathan lalu beristirahat setelah mamanya meninggalkan rumah mereka. Jonathan merebahkan tubuhnya di atas ranjang kamar dan merentangkan kedua tangannya sangking merasa sesak di dadanya.