Not Perfect Wedding

Not Perfect Wedding
Part 168 - Mendadak galak



Dinniar pergi ke rumah sakit di mana dia akan melakukan pemeriksaan kandungan. dana kondisi dunia dan cukup lemah saat kemarin dibawa ke rumah sakit. memintanya untuk melakukan pemeriksaan seminggu sekali sampai usia kandungannya menginjak 2 bulan.


"selamat sore bu Dinniar." seorang suster menyapa Dinniar dengan sangat sopan.


"selamat sore juga suster. apa dokter Agustin ada hari ini?"tanyanya kepada suster.


"tentu saja ada dokter Agustin sedang memeriksa pasien yang lainnya. apa ibu membawa surat pendaftarannya biar saya bantu daftarkan."


sungguh baik suster itu kepada Dinniar. diniar begitu sangat disambut oleh beberapa suster yang pernah membantunya saat pertama kali mengunjungi rumah sakit dalam kondisi tidak sadarkan diri.


Dinniar memberikan lembar kertas dan juga kartu asuransinya. hari ini dia diantar oleh di Imah lagi ke rumah sakit. Jonathan masih sibuk jadi diniat tidak memberitahukan Jonathan Kalau hari ini dia ada pemeriksaan kandungan.


"Bu duduk dulu di sini bibi ambilkan minuman dulu di depan." air minum untuk linear yang sudah disiapkan oleh pihak rumah sakit untuk setiap pasir dan orang yang ikut menunggu pasien.


"Maaf bu tadi bibi lupa bawa air minum."kata bi Ima kepada dunia saat menyerahkan sebotol air mineral.


"tidak apa-apa Bi. Maaf saya sudah mendapatkan bibi. Saya tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa untuk mengantarkan saya pergi ke rumah sakit. sonia sedang pergi ke Jerman. sedang sibuk mengurus anaknya yang sedang tumbuh gigi jadi sedikit rewel. kalau minta tolong pada Adrian tidak mungkin. nanti yang ada orang bisa salah paham terhadap saya." Dinniar sedikit terkekeh bersama bi Imah.


"si ibu ini. bisa saja melawaknya." puji Bi Imah.


suster menghampiri Dinniar dan juga bi Imah. "Bu ini kartu pendaftarannya dan kartu asuransinya. Ibu mendapatkan nomor sepuluh. ini sudah antrian ke-5. sisa 4 nomor lagi. baru setelah itu Ibu bisa masuk untuk melakukan pemeriksaan." dengan sangat detail suster itu menjelaskan.


Dinniar sangat aneh karena semua orang begitu hormat kepadanya dan juga sangat baik terhadap dirinya. dia sangat dilayani di rumah sakit itu sudah seperti berada di rumahnya sendiri.


Dinniar menunggu gilirannya di panggil oleh suster yang sejak tadi duduk di dekat pintu ruangan dokter kandungan.


"BI, saya mau jalan-jalan dulu. keliling sekitar rumah sakit. saya bosan menunggu di sini." Dinniar bangun dari duduknya dan berjalan menyusuri rumah sakit.


"bibi temani Bu." kata BI Imah bersiap berdiri.


"tidak perlu bi. saya bisa sendiri. bibi tunggu saja di sini. takut nanti saya giliran di panggil. bibi hubungi saja saya. jika ada apa-apa saya juga akan menghubungi bibi." kata Dinniar


Dinniar berjalan-jalan tanpa di temani oleh BI Imah. dia berjalan santai untuk menghilangkan rasa bosannya karena harus menunggu.


Dinniar tidak sengaja berjalan menuju ruangan dimana seseorang juga sedang di rawat di sana.


"Dinniar." katanya saat wanita itu keluar dari ruangan perawatan.


"Cornelia." Dinniar menyebut namanya.


Terbesit rasa marahnya. dia sangat kesal melihat Cornelia saat berpapasan dengannya tidak merasa bersalah sedikitpun


padahal dialah yang membuat kekacauan di dalam rumah tangganya.


"Sedang apa kamu di sini?" tanya Cornelia dengan sangat santainya.


"bukan urusanmu." jawab Dinniar.


Dinniar tidak mau menghiraukan Cornelia. karena dia takut akan kehilangan kendali akan emosinya yang saat ini sudah berkumpul di dadanya.


"Tunggu." Cornelia menarik tangan Dinniar. dengan cepat Dinniar menyingkirkan tangan Cornelia. saat dinniar menyingkirkan tangan Cornelia. tubuh wanita itu terhuyung hingga membentur pintu.


"Argh!" dia merintih kesakitan.


"Maaf, aku tidak sengaja."


Saat dinniar bicara seperti itu. Cornelia merintih kesakitan di bagian perutnya. Dinniar panik karena dia tahu kalau Cornelia sedang mengandung anak mantan suaminya.


"kamu kenapa Cornelia?" tanya Dinniar yang terlihat panik Dimata Cornelia.


"Perutku sakit tiba-tiba." dia terus meringis kesakitan.


"Cornelia tunggu di sini. aku akan segera panggilkan dokter dan juga suster." Dinniar mencari dokter dan juga suster.


dia langsung ke pusat informasi dan meminta bantuan.


"Cepat ada wanita hamil yang perutnya sedang kesakitan. aku mohon bantulah dia." Dinniar meminta bantuan dengan sangat tulus.


Meski dia sangat marah kepada Cornelia. namun, dia tidak sampai hati untuk membuat Cornelia kehilangan janin yang ada di dalam rahimnya Dinniar tahu betul rasanya keram perut seperti apa. karena dulu dia pernah merasakannya saat mengandung Tasya.


Dinniar melihat beberapa suster membantu Cornelia untuk menuju ruangan perawatan lagi.


Dia berjalan dengan sangat tertatih dan disaat itu juga dia melirik kearah Dinniar dengan senyuman licik di bibirnya.


"Bu, sudah waktunya ibu masuk ruangan dokter." BI Imah tiba-tiba menemuinya.


"BI, bibi sejak kapan ada di sini?" tanya Dinniar.


mereka berdua pergi menuju ruangan dokter Agustin yang bekerja sebagai dokter kandungan di rumah sakit tersebut.


"BI, apa bibi melihat kejadian tadi?"tanya Dinniar.


"kejadian ini dan nenek sihir itu bertemu?" tanya bi Imah.


Dinniar langsung mengangguk. "benar bi. apa bibi melihatnya?" tanya Dinniar lagi.


"Ibu Dinniar." terdengar suara memanggil nama Dinniar.


Dinniar masuk ke dalam ruangan dokter sendirian. sedangkan BI Imah memilih untuk menunggu di luar.


BI Imah lalu tidak duduk di ruang tunggu melainkan dia pergi ke sebuah ruangan. dia lalu menanyakan nama pasien yang ingin ditemuinya.


"oh, Bu Cornelia. dia sedang ada di ruangan perawatan ibu hamil. jika ingin menemuinya silahkan masuk." kata suster itu.


BI Imah sedikit ragu untuk masuk ke dalam ruangan itu. namun, hatinya tetap ingin bertemu dengan Cornelia.


BI Imah membuka pintu dan melihat Cornelia sedang berbaring di tempat tidur.


"Siapa kamu?" tanya Cornelia ketika menyadari ada seseorang masuk ke dalam ruangannya.


"saya adalah asisten rumah tangga Bu Dinniar dan pak Jonathan." jawab BI Imah.


"mau apa kamu kemari?" tanya Cornelia.


"Aku mau bicara denganmu." BI Imah memasang wajah sangat serius.


"Apa yang membawamu kemari untuk menemui ku? apa majikanmu yang memberimu perintah?" tanya Cornelia dengan sangat piciknya.


"Mereka semua bukan orang-orang pengecut yang akan mengirimkan kepada dirimu. aku kemari atas kemauan diriku sendiri. aku kemari untuk memberikan peringatan keras kepadamu." BI Imah kini berdiri di dekat Cornelia.


jarah BI Imah dan Cornelia kurang dari satu meter. BI Imah menatap Cornelia dengan tatapan tajam yang selama ini dia sembunyikan dengan raut wajah teduhnya.


"Aku tahu kamu ingin mengacaukan hidup majikanku. Namun, sebelum kamu bisa melakukan hal itu. kamu harus berhadapan langsung denganku. aku tidak akan pernah membiarkan dirimu menyentuh mereka lagi. aku akan pastikan kamu tidak akan pernah bisa melukai mereka. Jangan pernah main-main dengan mereka yang sudah banyak berbuat baik terhadap orang banyak. mereka bukan sampah seperti dirimu. kamu itu adalah nenek sihir yang tidak tahu malu." BI Imah dengan sangat puas memaki-maki Cornelia. dia sangat kesal sehingga mengeluarkan seluruh uneg-uneg yang ada di hatinya.


Selesai memakai Cornelia. dia pergi dari ruangan tersebut untuk kembali kepada Dinniar. Cornelia sangat kesal sehingga mengepalkan kedua tangannya. dia menahan kesal dan tidak bisa melakukan apapun karena dia sudah di pasang kateter.


BI Imah sangat berani untuk bersikap tegas kepada Cornelia.


"dasar pembantu kurang ajar! Dinniar kamu memang memiliki banyak pendukung di belakangmu. namun, aku tidak akan kalah hanya karena gertakan dari pembantumu itu. dia sudah berani memakiku. aku akan pastikan hidup ya juga menderita. aku akan balas dendam. dasar pembantu murahan!" teriaknya dengan sangat kecil.


Cornelia tidak bisa berteriak lantang seperti biasa karena kondisinya yang semakin lemah. dokter sudah bersiap untuk melakukan operasi kuret terhadapnya. dokter tidak mau mengambil resiko, karena Cornelia adalah tanggung jawabnya saat berada di rumah sakit. meski dia menolak di keluarkan janinnya. tetap saja dokter melakukan operasi dan memintanya menandatangani surat persetujuan.


Cornelia juga terpaksa menyetujui tindakan tersebut. dia ingin membalaskan dendamnya kepada Dinniar. dia tidak mau nyawanya ikut terancam dan tidak bisa membalaskan dendamnya.


di ruangan dokter Agustin. Dinniar sedang di periksa kondisi janinnya.


"Wah detak jantung bayinya sudah sangat normal ya Bu. dan kondisi janin juga semakin membaik. terus di konsumsi vitamin dan juga obat penguat kandungannya. sampai satu bulan penuh. setelah itu kita akan lihat lagi kondisi janinnya. jika sudah okeh. maka tidak perlu lagi mengkonsumsi obat penguat kandungan." jelas dokter Agustin sambil memainkan alat USG di area perut Dinniar yang masih terlihat rata sebagai seorang ibu yang memiliki satu anak.


Setelah selesai pemeriksaan Dinniar kembali ke kursinya dan duduk di sana. Dinniar mendengarkan berbagai macam wejangan dari dokter spesialis kandungannya.


"terima kasih dokter. berkat bantuan dokter saya bisa menyelamatkan dan mempertahankan janin ini." Dinniar sangat bersyukur memiliki seorang dokter spesialis kandungan yang sangat baik sekali.


"Sama-sama Bu. ingat jangan stres ...,"


"Jangan banyak bergerak dan jangan banyak pikiran. benarkan dokter?" Dinniar menyela perkataan dokternya.


dokter Agustin langsung terkekeh mendengar Dinniar yang hafal dengan wejangannya.


"Ah ternyata Bu dinniar sangat cepat sekali hafal apa yang akan saya bicarakan."


mereka berdua saling tertawa. Dinniar tidak menyangka akan mendapatkan dokter yang baik hati dan sangat bawel sekali. dokter Agustus sudah nampak seperti kakaknya yang sedang menjaga kondisi kesehatan adiknya.


Dinniar keluar dari ruangannya dan dia melihat BI Imah masih setia menanti ya di bangku tunggu.


"BI. BI Imah." panggil Dinniar.


BI Imah yang ketiduran langsung bangun dan melihat wajah majikannya sudah berada tepat di depan wajahnya.


"maaf Bu. saya ketiduran." BI Imah langsung membuka matanya lebar.


Dinniar dan bi Imah langsung pergi dari rumah sakit. karena satu jam lagi Jonathan akan pulang dari kantor.