
Hari ini adalah hari dimana Jonathan akan memulai syuting promosi. Jonathan sudah mempersiapkan semuanya sejak awal dengan sangat apik bersama dengan karyawan lainnya.
"Rendy, kamu sudah siapkan kemanan yang ketat? usahakan orang-orang yang menjaga keamanan adalah orang-orang yang kamu percaya," kata Jonathan sambil berjalan ke arah sekolah.
"Sudah, pak. mereka sebagian sudah berjaga di pintu gerbang depan. sisanya akan menyebar dan berkeliling sekolah untuk mengawasi sekitar." Rendy berjalan di sebuah Jonathan.
Mereka tiba paling awal. Jonathan memang selalu ingin menunjukkan kedisiplinan kepada setiap karyawannya. Keamanan juga sudah siap sejak awal.
"selamat pagi." Adrian ternyata juga tiba lebih awal.
"Hai, Adrian. wah pagi sekali sudah ada di sekolah. terima kasih sudah menyempatkan datang." Jonathan menjabat tangan Adrian.
"Saya ingin lebih mengawasi dan mempersiapkan keadaan dulu. saya tidak mau ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. karena ini lingkungan sekolah. sudah pasti ini adalah tanggung jawab utama kami sebagai pengelola sekolah." Adrian begitu memiliki tanggung jawab yang besar sebagai seorang pemilik sekaligus pengelola sekolah.
Dinniar yang melihat suami dan sahabatnya sedang asik berbincang menghampiri mereka berdua.
"Adrian." Dinniar menyapa sahabatnya lebih dahulu.
Jonathan menatap Dinniar yang sedang tersenyum kepada Adrian. ada desiran rasa cemburu dihatinya saat ini.
"Aku tidak boleh cemburu buta. aku tahu mereka sudah lama menjalin persahabatan. meski Adrian menyukai Dinniar. kenyataannya Dinniar tidak pernah berpaling dari pasangan hidupnya selama ini. jadi aku tidak perlu khawatirkan apapun." Jonathan berusaha untuk menepis perasaannya itu.
"Tasya dimana?" tanya Jonathan
"dia sudah masuk ke dalam kelas. aku memintanya untuk masuk dan menunggu bel pelajaran di mulai." Dinniar mengalihkan pandangannya dari Adrian ke Jonathan.
"Aku keliling dulu." Adrian berpamitan kepada keduanya.
"Kamu cantik sekali hari ini." puji Jonathan yang kagum dengan kecantikan istrinya.
"Jadi aku cantik hari ini ajah nih? kemarin-kemarin enggak cantik?"
"cantik dong sayang. kamu itu selalu cantik dimanapun, kapanpun dan dalam keadaan apapun." gombalan mulai tercuat dari bibir suaminya.
Setelah mendengar beberapa kata gombalan dari suaminya Dinniar hatinya berbunga-bunga. dia seakan-akan ingin terbang ke langit ke tujuh.
"Aku masuk ke ruangan dulu. setelah itu aku akan ikut bergabung dengan kalian." Dinniar membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju ruang kerjanya.
Semua sibuk melakukan tugasnya masing-masing sebelum acara syuting video di mulai. Jonathan melihat area sekitar dan memastikan semua beres terkendali.
"Ren, kenapa model kita belum juga datang? kamu engga salah kasih tanggalkan?" tanya Jonathan yang bingung modelnya tak kunjung muncul.
"tidak mungkin, pak. saya sudah memberitahukannya dan di kontrak juga tertulis tanggal pelaksanaan syutingnya." jelas Rendy.
Kekhawatiran mulai melanda hati Jonathan. dia tidak mau apa yang sudah dipersiapkan hari ini sia-sia.
"kamu coba hubungi dia lagi. atau mungkin dia kesasar?" tanya Jonathan dengan mengutarakan kemungkinan yang terjadi.
"tidak mungkin, pak. saya sudah bagikan lokasi kita sekarang ini. jadi enggak mungkin dia kesasar." tegas Rendy
Rendy segera menghubungi manager dari model yang sudah menandatangani kontak dengan perusahaan tempatnya bekerja.
"Tidak bisa di hubungi pak. saya tidak tahu harus menghubunginya kemana lagi." Rendy terlihat putus asa.
"Saya akan coba menghubunginya." Jonathan ikut berusaha.
Sebagai seorang CEO dia tidak hanya bisa diam saja menonton atau menyaksikan kekacauan ini. Sepuluh menit lagi mereka harus segera melakukan pengambilan gambar.
Anak-anak yang akan ikut menjadi model mereka sudah siap. mereka tinggal menunggu model sesungguhnya datang.
Jonathan tidak mendapatkan apa yang diusahakannya. Model yang di kontraknya tidak mengangkat panggilan telepon dari dirinya.
"Pak, gawat." Rendy menyodorkan telepon seluler miliknya kepada Jonathan.
betapa terkejutnya Jonathan membaca pesan singkat yang di kirim oleh sang model ke nomor telepon asisten pribadinya.
"Ini sebuah pelanggaran Rendy. saya tidak terima hal ini. dengan mudahnya dia mengembalikan semua uang kontrak begitu saja." Jonathan terlihat sangat marah.
"Mas, kapan syutingnya di mulai?" tanya Dinniar.
"Aku juga pusing sekali." Jonathan memijat keningnya.
"Kenapa sih?" Dinniar mengedarkan panggilannya kepada dia pria yang berada di samping kanan dan kirinya.
"Begini Bu Dinniar. model yang seharusnya datang. tiba-tiba membatalkan kontrak dengan kami dan tidak bisa datang kemari." paparnya.
"terus bagaimana? syuting apa akan ditunda?" tanya Dinniar dengan memasang wajah bingungnya.
"Syuting harus tetap berjalan. kita tidak boleh mengecewakan anak-anak yang sudah bersiap dan menantikan semua ini." Jonathan berharap bisa menyelesaikan semuanya.
"Saya akan coba menghubungi beberapa model lain." Rendy mengangkat kembali telepon selularnya dan mencoba menghubungi beberapa model kenalannya.
"Kenapa semua bisa terjadi seperti ini?" tanya Dinniar kepada suaminya.
Dinniar yang tidak pernah tahu dunia periklanan dan dunia syuting. bingung bagaimana cara mengatasinya dan mencari jalan keluarnya.
Rendy mencoba sebisanya. namun, ternyata semua model sedang banyak job. ada yang di luar kota dan dalam kota.
"Semua tidak bisa pak." Rendy kembali putus asa.
Jonathan semakin kebingungan. mengontrak atau meminta model lain menjadi pengganti sangatlah sulit. semua ada prosedurnya. dia baru kali ini mengalami hal seperti ini.
"Kita tunda satu jam kedepan syutingnya. saya akan memikirkan ini semua. kamu berikan arahan dulu kepada mereka agar nanti saya syuting tidak ada kesalahan lagi." pinta Jonathan.
Dinniar merasa dirinya tidak berguna. dia tidak bisa membantu apapun saat ini untuk mengeluarkan suaminya dari dalam masalah yang sedang dihadapi.
"Ya tuhan berikanlah jalan keluar untuk suamiku. aku tidak mau proyeknya terhambat. aku juga tidak enak kepada anak-anak murid dan orang tua murid." Dinniar berusaha ikut berpikir.
Rendy dan konstan saling sibuk dengan telepon genggamnya masing-masing. mereka berusaha menghubungi beberapa model lain yang pernah bekerja sama dengan stasiun televisi milik Jonathan.
...****************...
Merasa senang adalah hal yang saat ini dirasakan oleh Cornelia. lagi-lagi rencananya kali ini berjalan sangat mulus. Dia berhasil menggemparkan situasi Jonathan saat ini.
Cornelia adalah biang keladi di balik kesulitan yang sedang dialami oleh suami Dinniar.
Dia juga mendapatkan pesan terima kasih dari suaminya. karena dengan bantuan Cornelia. Darius bisa mendapatkan model yang bagus dan mereka mendapatkan beberapa tawaran job lagi.
Cornelia saat ini seperti sedang mendayung di dua danau sekaligus. danau yang memiliki pemandangan yang indah sesuai dengan apa yang ingin dia lihat saat ini.
"Kita lihat, sehebat apa kamu bisa menangani kegemparan ini. aku yakin banyak orang yang akan kecewa dengan kinerja perusahaan dan pemimpin perusahaan." Cornelia semakin mengembangkan senyumannya.
Banyak hal yang sudah Cornelia lakukan demi bisa kembali ke dalam pelukan suaminya. dia juga ingin segera Darius mengeluarkannya dari dalam jeruji besi yang membuat dirinya tidak bebas mengembangkan sayapnya.
"Kamu lakukan tugas selanjutnya. ingat kali ini harus berhasil lagi seperti saat ini. kalau kamu bisa bekerja dengan bagus lagi. saya akan berikan bonus tambahan." Cornelia kembali memberikan angin segar kepada anak buahnya.
Dengan mengimi-ngimingi uang dengan jumlah besar dia bisa mengendalikan semua orang untuk bekerja dengannya.
...****************...
Semua anak-anak sudah siap untuk melakukan syuting. mereka sudah hafal skrip yang akan mereka katakan saat syuting nanti.
Dinniar semakin merasa iba kepada suaminya. dia baru kali ini melihat suaminya berwajah muram dan sangat terpuruk. wajah Jonathan sangat lesu sekali. Rendy juga bingung semua cara sudah siap coba, tapi tidak bisa mendapatkan model yang sedang tidak bekerja.
Rendy mengedarkan pandangannya kesana dan kesini. Rendy merasa sangat kebingungan. Rendy melihat wajah istri bosnya. dia langsung melirik ke arah bosnya dan mulai ingin memberikan isyarat mengenai apa yang sedang di pikirkan.
Jonathan menatap Rendy berusaha mendapatkan sinyal yang dia berikan. Jonathan akhirnya mengerti dan ikut menatap istrinya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Good idea." Jonathan menjentikkan jarinya.
"Kamu sangat pintar Rendy. saya benar-benar tidak terpikirkan akan hal itu. Sekarang juga saya akan mencoba untuk bicara. kamu doakan saja semoga dia menyetujui semua rencana kita dan saya rasa dia cocok untuk dijadikan model kita." Jonathan tersenyum lebar.
Dia mulai merangkai kata-kata untuk berbicara dengan wanita pujaan hatinya.