
Dinniar selesai menguncir rambut lurus putrinya. Dia juga berdandan rapih, Darius menghubunginya kalau akan pulang hari ini.
"Mami, Papi jadi pulang hari ini?" Tasya memandang Maminya.
"Iyah sayang, Mami makanya mau buatin masakan kesukaan papi." Dinniar tersenyum.
Selesai dengan Tasya, Dinniar keluar kamar putrinya dan langsung menuju dapur.
Satu asisten rumah tangganya membantu dirinya menyiapkan bahan masakan.
"Bu, ini sudah semua dipotong."
"Taro saja di sana, nanti saya yang olah. Kamu sekarang potong daging kotak-kotak. Jangan terlalu besar."
Dinniar membuat soto Betawi hari ini. Soto Betawi salah satu makanan kesukaan Darius, makanan bersantan dan di tambah susu ini memang selalu nikmat di santap kapanpun.
Selain pintar, cantik dan mandiri, Dinniar juga jago memasak. Masakannya juga menjadi favorit para sahabatnya.
.
.
"Sampai ketemu lagi ya, Mas." Cornelia cipika cipiki dengan Darius.
Manager Cornelia sering kali mengingatkan untuk berhenti menjadi simpanan pemilik Agency. Dia tidak mau suatu hari karir Cornelia hancur karena tercium menjadi pelakor.
Darius pergi dan Cornelia masuk ke dalam apartemennya bersama dengan managernya.
"Sampai kapan kamu mau jadi kekasih gelapnya?" tanya sang manager.
"Sampai dia menikahi diriku." Cornelia bicara sambil tersenyum.
Sungguh lelah dia memperingati modelnya. Dia benar-benar tidak punya kuasa atas kehidupan pribadi model yang sedang naik daun ini.
.
.
Darius memarkir mobilnya di garasi rumah.
Dia mengeluarkan beberapa paper bag yang berisikan oleh-oleh untuk istri dan anaknya.
"Assalamualaikum, Papi pulang." Darius masuk ke dalam rumah sambil membawa tentengannya.
Tasya yang mendengar suara papinya, langsung menghampiri sumber suara.
"Papi." Tasya melompat ke dalam pelukan Darius.
"Anak Papi, sudah wangi sekali. Pasti Mami yang mandiin dan kuncir." Darius mencolek kecil ujung hidung putrinya.
"Mas, kamu sudah sampai." Dinniar meraih tangan suaminya dan mengecup punggung tangan Darius.
"Kamu sehat?" tanya Darius.
"Sehat dong. Kamu sendiri gimana sehat? Pasti capek banget ya ngurus urusan di sana?" tanya Dinniar.
"Cape banget sayang, aku bahkan merasa kesepian selama di hotel." Darius tersenyum.
"Bagaimana mungkin kamu bisa kesepian, bukannya sebaliknya, kamu sangat bahagia?" Dinniar mengingat kembali apa yang dia lihat kemarin.
"Papi, bawa oleh-oleh buat Tasya dan juga Mami. Coba di lihat ya, papi mau mandi dulu."
Darius menunjukkan beberapa isi paper bag yang dibawanya dan sebelum dia beranjak. Darius mengecup kecil kening istrinya.
Dinniar hanya tersenyum kaku. Hatinya masih sakit, tapi dia harus terus menyembunyikan rasa sakitnya demi keutuhan rumah tangganya.
Darius masuk ke dalam kamarnya dan membersihkan diri.
Sedangkan Dinniar membantu putrinya memeriksa oleh-oleh yang di bawa suaminya.
Beberapa barang adalah boneka, ada coklat dan ada satu tas lagi yang berisi sebuah kotak yang di bungkus dengan kertas kado.
"Ini isinya apa, Mi?" tanya Tasya.
Beberapa paper bag juga berisi pakaian, yang sepertinya untuk Dinniar. Pakaian *** dress yang biasa Dinniar pakai saat tidur.
Kali ini dia tidak seantusias dulu saat mendapat hadiah dari suaminya. Dia tidak bisa menerima hadiah itu jika hati suaminya masih berbagi.
Dinniar hampir menitikkan air matanya, tapi dia menahannya dan mencoba menenangkan hatinya sendiri.
"Sayang, Mami ke dapur dulu ya."
Dinniar langsung bergegas, dia takut putrinya melihat kesedihan yang sedang melandanya.
Di dapur Dinniar memanaskan soto Betawi buatannya, dia menghela napas beberapa kali agar tidak menangis.
"Sayang, kamu masak apa? Wanginya sampe ke kamar." Darius dari kamarnya langsung berlari ke dapur.
"Aku buat soto Betawi kesukaan kamu. Pasti kan tubuh kamu butuh stamina setelah lelah bekerja, jadi aku buatin soto." Dinniar mencoba tetap tenang.
"Sayang, kamu memang wanita yang paling hebat di dunia. Istri yang paling pengertian. Kamu wanita satu-satunya dalam hidupku yang paling aku sayang." Darius mengeratkan pelukannya.
Dalam dekapan suaminya dan mendengar kata-kata manis suaminya, seharusnya saat ini dia sedang terbang melayang. Namun dirinya kini mengetahui pengkhianatan yang di lakukan suaminya.
"Kata manis itu sudah tidak akan mempan lagi terhadapku, Mas. Pasalnya kamu telah berbagi. Jadi kata-kata itu juga sudah tidak berlaku lagi sekarang. Dulu mungkin memang aku satu-satunya, tapi sekarang ada dia yang selalu membuatmu bahagia." Dinniar menyeka hidungnya.
"Sayang kamu kenapa? Nangis? Ada apa?" Darius terlihat cemas.
"Enggak kok, aku hanya terharu. Karena ternyata hanya aku satu-satunya wanita yang kamu cintai." Dinniar kembali melihat masakannya.
"Sebenarnya, ada satu wanita lagi."
Deg
Dinniar membeku. "Apa dia akan mengakuinya? Reaksi apa yang harus aku berikan jika dia mengakui perselingkuhannya?" Dinniar berpikir keras.
"Tasya. Dia wanita kedua yang aku cintai setelah kamu."
Dinniar tersenyum kaku setelah mendengar penuturan suaminya.
Darius, kamu belum tahu kalau istrimu sudah mengetahui kebusukan dirimu. Saat ini mungkin Dinniar akan menyembunyikan apa yang dia ketahui.
Darius membantu Dinniar menyiapkan makan siang mereka.
Darius, Dinniar dan Tasya makan dalam satu meja yang sama.
"Hmmm ... Masakan Mami emang yang terbaik." Darius mengacungkan jempolnya.
Tasya juga ikut beraksi hal yang sama. Putrinya mengangkat kedua jempol miliknya.
Dinniar merasa sangat senang, sebab itulah dia akan menekan terus perasaan sakitnya dan akan terus berusaha mempertahankan rumah tangganya.
Hari semakin cepat berlaku, banyak hal yang mereka lakukan bersama setelah kepulangan Darius.
Canda tawa menghiasi perjalanan mereka hari ini.
"Aku bisa bertahan, pasti bisa. Aku adalah istrinya. Aku tidak akan rela jika Mas Darius terus pergi ke dalam pelukan wanita itu."
Dinniar naik ke atas kasurnya. Dirinya sudah memakai wewangian dan juga sudah berdandan cantik.
"Wanginya istriku dan cantiknya ratuku." Puji Darius.
Dinniar menunjukkan pesonanya, mau tidak mau dia adalah istri sah suaminya. Meski dia tahu apa yang dilakukan suaminya bersama wanita itu. Dia harus bisa mempertahankan apa miliknya. Jadi dia akan membuat Darius kembali dalam pelukannya.
Dinniar membuat sensasi malam ini penuh dengan gairah. Dia memikat suaminya untuk masuk ke dalam pelukannya dan Darius terhanyut dalam permainan.
Dinniar malam ini memberikan servis terbaik untuk suaminya. Dia ingin membuktikan bahwa istrinya masih bisa memberikan apa yang dia butuhkan.
"Jangan pernah mencari yang lain. Ada aku di rumah yang akan melayani dirimu, Mas." Dinniar berbisik di telinga suaminya.
"Aku akan selalu bersama dirimu." Balas Darius.
"Aku akan pastikan itu. Lihat apa yang akan aku lakukan kedepannya. Wanita itu ataupun dirimu tidak akan bisa berkutik di hadapanku. Aku akan merebut apa yang menjadi milikku." Dinniar sudah bertekad. Maka semua akan berjalan sesuai dengan rencananya.