Because, I Love You

Because, I Love You
#98



Saat Kirana selesai mandi, dia membuatkan kopi untuk Rendy lalu mengantarkannya ke ruang tamu. Dia melihat Rendy sedang fokus pada ponselnya. Entah sedang melihat apa dia dilayar ponselnya. Terlihat begitu serius hingga alisnya mengerut.


Kirana meletakkan secangkir kopi diatas meja dan Rendy mengalihkan pandangannya menatap Kirana dengan wajah datarnya.


Kirana yang masih berdiri merasa tidak nyaman ditatap seperti itu oleh Rendy. "Kenapa ngeliatin aku kayak gitu sih Mas?"


"Duduk sini." Rendy menepuk sofa disebelahnya tanpa menjawab pertanyaan Kirana.


Kirana melangkah pelan kearah Rendy lalu duduk disampingnya. "Ada apa?"


Rendy menghela nafasnya sebelum bicara pada Kirana. "Mulai besok, aku akan antar jemput kamu."


"Hah?" Kirana terbengong.


"Kamu lihat ini." Rendy menyodorkan ponselnya yang memperlihatkan beberapa foto dirinya bersama Kirana saat tadi makan siang bersama direstoran. "Ada wartawan yang diam-diam ngambil foto kita lalu langsung diterbitkan. Tapi masih aman karena muka kamu nggak keliatan." Lanjut Rendy yang mencemaskan kalau saja Kirana akan diserbu oleh wartawan karena sudah terlibat hubungan dengannya.


Semua karena Olivia yang memberitahu kepada media kalau Rendy pimpinan baru Pradipta Group adalah kekasihnya yang selama ini tidak ingin publik mengetahuinya.


Sebelumnya, publik tidak tau tentang Rendy. Setelah Olivia menyebarkan hubungannya dengan Rendy, banyak sekali media yang mencari tau tentang laki-laki tampan ini yang belum genap dua bulan kembali ke tanah air. Padahal hubungan mereka sudah berakhir. Olivia memang sengaja melakukan itu agar semua tau lelaki tampan sang pengusaha muda itu adalah miliknya.


"Iya, untung aja." Ucap Kirana menghela nafas lega.


"Mulai besok, aku akan antar jemput kamu." Ucap Rendy sambil meraih kopi yang dibuatkan Kirana lalu meminumnya lalu meletakkan kopinya kembali di atas meja.


"Hah?" Kirana terbengong sejenak. "Kamu nggak perlu repot-repot buat antar jemput aku mas. Kan aku udah selalu bareng kak Haris berangkatnya, kebetulan arah ketempat kerjanya searah sama aku." Ucap Kirana dengan tersenyum tidak menyadari kalau raut wajah Rendy langsung berubah tidak suka.


Rendy diam dan menatapnya dingin. Seketika Kirana tersadar akan ucapannya barusan yang ternyata menbuat kekasihnya ini mungkin...cemburu.


"Eum..Mas. Aku..bukan maksudku untuk..."


"Nggak apa-apa. Aku ngerti." Sahut Rendy dengan cepat memotong ucapan Kirana lalu mengalihkan tatapannya kearah lain.


Bukannya sudah menjadi hal yang wajar untuk mengantar jemput kekasihnya sendiri? Tapi, sepertinya Kirana terlihat lebih nyaman bersama Haris daripada bersama dengannya. Mungkin, Kirana masih belum terbiasa dengan Rendy yang statusnya kini sudah menjadi kekasihnya.


"Mas, kamu marah ya?" Tanya Kirana sambil memegang tangan Rendy.


Rendy menoleh dan menatapnya lagi. "Kamu pikir aja sendiri. Saat aku pergi dengan perempuan lain, gimana perasaan kamu?"


Kirana mengatupkan bibirnya dan terdiam. Dia teringat saat melihat Rendy bersama Leni masuk ke Hotel waktu itu. Ya, dia cemburu dan ingin sekali marah. Tapi saat itu, hubungan mereka masih belum jelas. Dan sekarang, mereka telah resmi menjalin hubungan yang serious untuk kedepannya.


"Ya udah, kalau gitu besok aku naik ojek online aja deh."


Rendy tersenyum sinis merasa heran dengan gadisnya yang polos ini. "Ki, kamu bisa nggak sih bikin aku nggak kesel sama kamu sebentar aja?"


"Kok kamu gitu ngomongnya Mas? Aku ngeselin ya? Ya udah, sebaiknya kamu balik lagi aja keperusahaan. Daripada disini nemenin akhmmp.."


Seketika Kirana terdiam saat Rendy membungkam mulutnya dengan bibirnya. Rendy menutup mulut Kirana dengan ciuman yang membuat Kirana terkejut dan mendorong dada bidangnya.


Tapi, tenaganya tidak bisa membuat Rendy melepaskan ciumannya malah Rendy memeluk pinggang ramping Kirana dengan sebelah tangannya. Sebelah tangannya lagi menekan tengkuk Kirana untuk memperdalam ciumannya.


Nafas Kirana sampai tersengal akibat ulah nakal kekasihnya yang tampan ini.


"Aduh! Sakit sayang." Rendy sedikit meringis merasakan sakit saat Kirana mencubit dengan keras perut six packnya.


"Rasain! Kamu tuh ya Mas! Bisa nggak sih nggak main nyosor seenaknya aja?!" Kirana terlihat sangat kesal dan marah sambil memukuli dada bidang Rendy dengan sekuat tenaga setelah mencubit perutnya. Tapi, wajahnya juga merona karena Rendy memanggilnya dengan sebutan "sayang".


"Nggak bisa!" Jawab Rendy lalu menangkap kepalan tangan Kirana lalu menatap gelang yang melingkar dipergelangan tangan kiri Kirana lalu segera melepaskannya dengan wajahnya yang kembali dingin.


Kirana menyadari itu. Pasti Rendy merasa cemburu dengan gelang pemberian Haris ini. Tapi, untuk melepaskannya, dia merasa kalau dia tidak bisa menghargai pemberian dari orang sebaik Haris.


"Mas?"


"Hm?" Rendy tidak menoleh tapi dia meraih ponsel disaku celananya karena ponselnya berdering.


Kirana pun mengurungkan niatnya untuk bicara kepada Rendy.


Rendy melihat siapa yang menelponnya. Ada nama Andreas dilayar ponselnya sedang memanggilnya. Dia tau pasti Olivia yang saat ini menelponnya.


Rendy menghela nafasnya lalu menggeser tombol warna merah menolak panggilan telepon dari Olivia.


Kirana mengernyitkan keningnya melihat Rendy menolak panggilan telepon yang entah dari siapa tidak tahu. "Kenapa nggak kamu angkat Mas?"


"Nggak penting." Jawabnya datar lalu memsukkan kembali ponselnya kedalam saku celananya.


"Belum juga kamu angkat, gimana bisa tau kalau itu nggak penting?"


"Udahlah, tidak ada urusannya dengan kamu!" Ucap Rendy dengan dingin dan terdengar tajam ditelinga Kirana hingga hatinya terasa bagai tertusuk.


Kirana mengatupkan bibirnya dan memilih diam memalingkan wajahnya kearah lain.


Ponsel Rendy kembali berdering tapi kali ini nada notifikasi pesan masuk. Dia meraih lagi ponselnya dari saku celana dan melihat siapa yang mengirim pesan kepadanya.


Ternyata Andreas dan Rendy masih mengira kalau itu adalah Olivia karena Olivia memakai nomor Andreas untuk menghubunginya.


Rendy mengernyitkan keningnya saat membuka dan membaca pesan dari Andreas. Wajahnya terlihat terkejut. Kali ini benar-benar Andreas yang mengiriminya pesan.


"Rend, Oliv mencoba bunuh diri. Sekarang aku lagi membawanya kerumah sakit."


Rendy langsung bangkit berdiri lalu menoleh menatap Kirana. "Aku pergi dulu, ada urusan." Ucapnya dengan datar kemudian segera beranjak pergi begitu saja sebelum Kirana menjawabnya.


Kirana hanya mendengus kesal dengan sikap Rendy yang masih belum bisa dia tebak. Kadang lembut dan sangat manis, tapi kadang tiba-tiba terlihat marah dan acuh kepadanya seolah tidak peduli dengannya. Tapi, Kirana tau kalau Rendy laki-laki yang sangat baik.


"Dasar lelaki aneh! Tadi dia bilang nggak mau ninggalin aku sendirian. Tapi nyatanya dia pergi gitu aja." Kirana mengira kalau Rendy mungkin akan kembali ke perusahaan dan sama sekali tidak menaruh curiga kepada kekasihnya ini yang pada kenyataannya pergi kerumah sakit untuk menemui Olivia.


"Hazyuhh!" Kirana tiba-tiba bersin-bersin.


................