
"Hallo Bro! Apa kabar? Sudah lama nunggu?." Sapa Andreas ketika datang ke kafe menemui Rendy sambil memeluknya singkat.
"Baik." Balas Rendy memeluk sekilas Andreas dan melepasnya. "Aku belum lama sampai. Ayo duduk." Lanjutnya mempersilakan Andreas duduk dan Rendy melambaikan tangannya ke pelayan untuk memesan makanan.
"Gimana dengan kabarmu sendiri dan hubunganmu sama Oliv?" Lanjut Rendy. "Kita pesan makanan dulu." Imbuhnya saat seorang pelayan menghampiri mejanya dengan membawakan buku menu.
Mereka memesan makanan sesuai keinginan dan selera mereka masing-masing. Pelayan mencatat semua pesanan mereka lalu pergi dengan membawa catatan ditangannya.
"Aku baik, dan... " Jawab Andreas kemudian menghela nafasnya terlihat ada kaluhan diwajahnya. "Sebenarnya aku dan Oliv, kita nggak pernah menjalin hubungan seperti yang kamu kira Ren. Kami masih tetap berteman meski ya...begitulah." Lanjutnya dan tidak perlu mengatakan sepenuhnya yang sudah pasti Rendy akan paham dengan hubungan mereka yang selalu diluar batasan. "Aku minta maaf banget sama kamu." Lanjutnya yang merasa sangat bersalah kepada Rendy.
"It's ok. Nggak perlu bahas lagi masalah itu. Lagi pula, aku udah nggak peduli Olivia mau menjalin hubungan dengan siapa aja. Aku ngajak kamu bertemu cuma ingin tau apa kamu tau sekarang ini Olivia ada dimana?" Tanya Rendy dengan serius menatap Andreas. Karena meski Rendy telah mendapatkan informasi dari Beni yang masih belum jelas, mungkin saja Andreas tahu sesuatu tentang Olivia dan masa lalunya yang masih belum diketahuinya.
Andreas mengernyit menatap Rendy. "Dia? Seminggu ini, dia nggak kasih kabar. Terakhir, dia bilang sedang menghadiri acara pertemuan dengan para model terkenal dari berbagai negara di New York. Setelah itu, dia nggak ada kabar lagi. Mungkin, dia sibuk dan aku bisa memakluminya." Jawab Andreas tanpa menyembunyikan apapun yang dia ketahui.
Tidak heran kalau Olivia sangat sibuk dan sering pergi keluar negeri menghadiri pertemuan-pertemuan dengan para model terkenal dari berbagai negara didunia.
Saat menjalin hubungan dengan Rendy pun, Olivia sudah sering pergi untuk menghadiri pagelaran fashion show bersama para model papan atas.
Tapi, sejak berakhirnya hubungan mereka, Rendy sudah tidak ingin tau menau tentang kabar mantannya ini. Sedang apa? Bagaiamana kabarnya?
Rendy sudah benar-benar berusaha ingin melupakan Olivia dan semua kenangan tentang wanita itu.
Dan tiba-tiba, pagi-pagi sekali tadi ada nomor asing yang dia kira adalah temannya. Ternyata Olivia yang menelponnya dengan nomor asing itu. Meskipun Rendy sudah memblokir semua kontak Olivia, dia masih sangat ingat nomor kontak mantannya itu.
"Jadi, seminggu yang lalu Oliv menelponmu?" Tanya Rendy kembali dan Andreas mengangguk.
"Iya. Memangnya ada apa? Tumben kamu menanyakan Olivia?"
Rendy kemudian mengambil ponselnya dari saku jasnya lalu melihat list panggilan masuk pagi ini dan dia tunjukkan kepada Andreas. "Kamu kenal nomer ini?" Rendy menunjukkan nomor asing yang dipakai Olivia tadi pagi saat menghubunginya.
Andreas mengernyitkan keningnya menatap nomor tersebut. "Ini nomer luar negeri. Nomer siapa ini?" Tanya balik Andreas yang terlihat memang tidak mengenali nomor tersebut.
"Tadi pagi nomer ini menelponku. Aku pikir, temenku yang nelpon aku, tapi ternyata suara Oliv." Ucap Rendy semakin serius menatap Andreas yang semakin mengerutkan keningnya merasa tidak mengerti maksud Rendy.
"Olivia minta tolong aku buat nyelametin dia." Ucap Rendy menyambar ucapan Andreas. "Apa kamu bener-bener nggak tau tentang kabar Oliv?" Lanjutnya bertanya pada Andreas karena setau dia, selama ini Olivia lebih sering bercerita dan mengeluh pada Andreas.
"Dia minta tolong ke kamu?" Andreas balik tanya dengan wajah yang langsung berubah menjadi cemas.
"Iya. Dia nangis-nangis dan dari suaranya dia terdengar seperti ketakutan. Tapi, tiba-tiba panggilan terputus. Aku coba telepon balik, tapi nomernya udah nggak aktif." Jawab Rendy terlihat tenang tapi dalam hati, dia juga merasa cemas mengkhawatirkan Olivia.
"Apa dia diculik? Bisa jadi dia merampas HP si penculik dan berusaha telepon kamu buat minta tolong. Terus dia...." Ucap Andreas terhenti dan dia menatap Rendy dengan wajah semakin khawatir.
Sebelum Rendy mengenal Olivia, memang Andreaslah yang lebih dulu mengenalnya. Dia sudah jatuh cinta kepada Olivia sejak lama sebelum akhirnya dia mengenalkan Olivia pada Rendy dan Olivia malah jatuh cinta kepada Rendy.
"Permisi kak, ini pesanannya." Tiba-tiba pelayan datang mengantar pesanan mereka dan menatanya dimeja. "Silahkan kak. Selamat menikmati." Lanjut pelayan tersebut dengan senyum ramah setelah menata semua hidangan dimeja.
"Terimakasih." Ucap Rendy dengan ramah dan pelayan itu segera pergi meninggalkan meja mereka.
"Setelah Olivia telepon aku pagi tadi, aku langsung meminta Beni untuk mencari tau. Dan menurut informasi, Oliv disekap oleh mantannya." Ucap Rendy melanjutkan pembicaraannya tentang Olivia.
"Maksudmu, kalo dia disekap oleh mantannya? Astaga!" Andreas begitu terkejut seketika dan memegangi kepalanya, meremas rambutnya sendiri.
"Kamu tau tentang mantan Olivia sebelum aku?" Tanya Rendy yang merasa kalau Andreas tau tentang masa lalu Olivia sebelum dengannya.
"Ren, kalo memang Oliv disekap oleh Axel si laki-laki gila itu, kita harus segera nyusul dia kesana dan bawa Oliv keluar dari sana!" Tegas Andreas dengan penuh antusias karena sangat mengkhawatirkan Olivia.
"Axel?" Rendy seperti tidak asing mendengar nama itu.
"Ya. Axel De Munly. Dia salah satu mantan Olivia sebelum kamu yang menurut cerita Oliv, dia itu nggak beres otaknya. Kadang sangat baik, lembut, manjain dia. Tapi kadang dengan tiba-tiba marah nggak jelas sampai nyiksa Oliv.
"Axel De Munly." Gumam Rendy dengan mengepalkan tangannya dengan erat ketika mengingat laki-laki itu.
................