Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 232



Kini Maria terlihat lebih kesal hingga semakin jelas amarahnya memuncak melihat Joe dan Exelle mulai cekcok untuk mencuri perhatian Pelangi.


"Hentikan kalian!!!" Teriak Maria berada di tengah mereka.


"Apa-apaan ini? Sungguh bodoh. Kalian hanya bertingkah norak seperti ini demi cewek seperti dia? Oh my God." Kembali Maria berucap dengan tegas menunjuk wajah Pelangi. Membuat Pelangi sedikit terhentak mengedipkan kedua matanya.


"Hei, Maria. Apa yang kau katakan? Dia calon pacara ku, lihat lah dia. Sangat manis dan lucu, jangan mengumpatnya lagi. Dia memang pantas aku rebut, hahaha."


"Cih, brengsek! Berani kau merebut atau menyentuhnya, aku pastikan kau tidak akan pernah berani membanggakan wajahmu yang cantik itu." Ancam Joe dengan menudingnya.


"Woah, bos.. Dia menghinamu seperti wanita bos, hajar bos."


"Hahaha, biarkan saja untuk saat ini dia merendahkan ku sepuasnya. Aku tidak ingin membuat calon pacar ku merasa buruk nantinya,"


"Exelle, pliss. Apa yang kau perhatikan dari cewek seperti dia?" Maria masih bersikeras tidak menerima jika dua lelaki di hadapannya benar-benar memperebutkannya.


"Hei kau. Kenapa sejak tadi kau saja yang terus menghinaku hah? Apa kau sungguh merasa tersaingi oleh ku? Dasar cewek manja."


"So what? Kau mengataiku cewek manja? Beraninya kau..." Maria hendak menjambak rambut Pelangi, namun dengan sigap terhalangi oleh Joe sedangkan Exelle menghadap ke arah Pelangi, membelakangi Joe yang menghadang Maria utk melindungi Pelangi.


Posisi yang tak terduga, justru Exelle dan Pelangi kini saling bertatap-tatapan. Kedua mata mereka saling memandang satu sama lain. Exelle tersenyum manis ketika Pelangi menengadah menatapnya. Menyadari hal itu Pelangi mendorong tubuh Exelle hingga tersungkur dan terhuyung ke tubuh Joe.


"Joe, kau..." Pelangi terkejut melihat Joe menghalangi tubuh Maria begitu sangat dekat.


"Langi, kau tidak apa-apa?" Tanya nya sembari melirik ke arah Exelle.


"Sebaiknya kau urus saja mereka, aku lebih baik pulang." Jawab Pelangi dengan dingin kemudian berlalu pergi meraih kunci mobil yang sejak tadi di atas meja.


"Langi, Langi.. Tunggu, pliss... Sayang, Pelangi.." Dengan setengah berlari Joe mengejar langkah cepat Pelangi keluar dari ruangan.


"Joe!!!" Maria menariknya dengan kuat dari belakang.


"Lepasin aku, Maria. Aku harus mengejar pacar ku,"


"Lalu bagaimana dengan ku? Kau tega membiarkan ku disini sendiri?"


"Kau, aaaakh... Kau pulang lah dengan naik taxi atau minta saja cowok brengsek itu mengantarmu pulang." Jawab Joe dengan cetus.


"Enggak mau, aku mau dengan mu saja. Bukan yang lain, hem...," Rengek manja Maria.


Joe menarik nafasnya dalam-dalam dan menepis tangan Maria. Kemudian di berlari mengejar Pelangi keluar dari restoran, mengabaikan teriakan kesal Maria memanggil namanya. Dengan tergesa-gesa bahkan sampai berlarian tunggang langgang, namun usahanya sia-sia. Pelangi telah melajukan mobilnya dengan sangat cepat berlalu pergi begitu saja.


"Hah, Langi... Kenapa kau pergi begitu saja?" Joe menghela nafas panjang dengan menarik rambut di kepalanya.


"Joe, Joe.. Kau baik-baik saja." Maria menghampirinya dengan nafas ngos-ngosan karena berlarian.


"Aaarght... Ini semua karena mu, sejak tadi kau membuatnya kesal." Bentak Joe pada Maria.


"Apa, apa sih yang ku lakukan? Apa yang ku katakan padanya? Sampai kau marah padaku."


"Aakh, sudah lah. Kau memang tidak pernah mau mengakui kesalahan mu itu."


"Hahaha, marahan niye. Eh Mery, aku duluan ya. Ingat, hati-hati dengan cowok plinplan di sebelahmu itu." Exelle muncul dari arah belakang meledek Joe dan Maria. Joe mengepalkan kedua tangannya hendak memukul Exelle kembali.


"Joe, sudah jangan. Jangan memukulinya lagi, Exelle memang suka bercanda." Maria menghalangi Joe untuk tidak lagi melimpahkan amarahnya.


"Kau bilang bercanda? Apa kau gila, Maria?"


"Ih, Joe.. Kau bahkan sudah berani mengataiku seperti cewek tadi. Apakah aku sungguh terlihat seperti orang gila?" Jawab Maria dengan memperhatikan sekujur tubuhnya sendiri.


"Terserah!"


Kemudian Joe pergi untuk mencari taxi, Maria tak mau kalah. Dia mengejarnya dari belakang, hingga sebuah mobil taxi berhenti di depan Joe. Maria mendahuluinya masuk agar tidak tertinggal oleh Joe.


🌻🌻🌻


Pagi hari, Pelangi sedang menonton TV dan bermalas-malasan di sofa. Kedua adik kembarnya bermain di sebelahnya dengan ramai dan saling merebut mainan. Membuat Pelangi merasa jengah dan terusik kenyamanannya bermalas-malasan di depan TV.


"Ma, mau kemana?" Tanya Pelangi saat melihatku memakai baju yang di ketahuinya akan bepergian.


"Mama mau keluar sebentar, ada yang harus mama beli."


"Pelangi ikut dong, Ma. Bosan nih, dirumah aja."


"Hem??? Mama cuma mau belanja kebutuhan di dapur loh, ya.. Mungkin juga beberapa pakaian ganti."


"Ikut!" Jawabnya lagi.


"Memangny gak ada acara nih, bareng Joe?"


"Kagak. Ayo dong, Ma. Pelangi ikut ya,"


"Hmm.. Baiklah, cepat ganti baju. Masa cewek cantik pakai baju begitu," Ujar ku ketika melihatnya hanya memakai kaos longgar di padukan dengan celana kain pendek.


Kemudian dengan secepat kilat Pelangi beranjak pergi berlari menuju kamarnya di atas.


"Kalian ikut mama dan kakak, tidak?" Tanya ku pada si kembar.


"Enggak ah, Ma. Malas, para cewek kalau belanja gak ingat waktu." Jawab Rafa dengan acuh, sembari terus menyusun sebuah kotak permainan.


Ya ampun, Tuhan. Siapa yang mengajarinya berkata demikian?


"Nanti mama beli ice cream loh, bareng kakak."


"Gapapa, Ma. Di kulkas masih ada stok, nanti kami minta si embok aja yang siapin." Jawab Rafi kali ini.


Huhft... Beruntung aku juga memiliki anak gadis, paling tidak masih ada yang akan sama dengan ku, menamani belanja dan berjalan-jalan santai di mall. Iya kan???


"Hmm... Baiklah, jika begitu. Mau oleh-oleh gak dari mama?"


"Ehm, terserah mama aja deh. Eh Mainan baru juga boleh deh, Ma." Jawab keduanya bergantian.


Dalam perjalanan, aku mencoba mengajaknya ngobrol sembari fokus menyetir. Dia yang sejak tadi hanya diam, sesekali mengecek ponselnya yang sejak tadi bergetar terus menerus, tapi hanya di abaikannya. Bahkan beberapa kali sebuah panggilan telepon sejak tadi dia matikan, tanpa menerimanya dahulu.


"Ehm, gak ada planing lagi nih bareng si Joe?"


"Enggak ada, Ma. Lagian Joe sibuk, Pelangi juga lagi malas mau pergi."


"Bukan nya sekarang kita juga lagi pergi?"


"Beda tauk,"


Hmmm... Pasti lagi dan lagi nih, urusan anak muda. Fix, mereka berantem.


"Ehm... Jadi gimana nih setelah seharian dirumah tante Abel?"


"Biasa aja, Ma. Seru, asyik kok. Tante Abel sedikit cerewet, Pelangi sampai kehabisan kata untuk menanggapinya."


"Hahaha, yaah.. Begitu lah, tante mu. Tapi enak loh, punya calon mertua yang bisa diajak ngobrol santai dan menggila bareng sepertinya."


"Ih, mama. Apaan sih, mertua apaan? Mama menyuruhku cepat-cepat menikah?"


"Dih, sensitif. Lagi kedatangan tamu bulanan? Mama kan hanya bercanda."


"Bahas yang lain aja deh, Ma." Bantah Pelangi mengalihkan.


"Iya deh, iya. Lagi pula kita sudah akan sampai nih," Tunjukku ke arah depan lalu memasuki area parkir khusus pengunjung.


Setelah memasuki sebuah Mall besar kami menuju pusat pembelanjaan khusus berbagai makanan dan kebutuhan dapur. Aku dan Pelangi berjalan beriringan sembari Mendorong sebuah troly belanja.


"Ma, Pelangi aja deh yang dorong. Mama pilih-pilih aja apa yang mau di beli, Pelangi juga mau beberapa cemilan ya Ma."


"Boleh, pilihkan juga untuk adik-adik mu ya."


"Iya..." Jawab Pelangi dengan nada panjang. Kemudian kami sedikit terpisah jauh memilah milih berbagai stok makanan, sementara Pelangi berjalan di lorong khusus berbagai snack yang tertata rapi.


Seperti biasa, Pelangi selalu menyukai cemilan yang berbau rasa keju dan barbeque. Kemudian yang hendak dia raih hanya tersisa satu, entah mungkin karena suatu kebetulan atau memang Tuhan telah mengaturnya. Tempatnya begitu lebih tinggi, hingga Pelangi begitu kesal karena lelah menopang kedua kakinya yang berjinjit.


Kemudian seseorang mengambilnya lebih dulu, membuat Pelangi kesal karena usahanya sejak tadi gagal, malah justru orang lain dengan mudahnya meraih nya.


"Hai, itu bagianku." Ucap Pelangi menegurnya. Seseorang itu menolehnya.


"E,eh.. Kau???" Pelangi terkejut saat mengetahui seseorang yang merebut snacknya tadi.


"Hai, cewek galak. Woah, sepertinya kita memang berjodoh. Kita selalu bertemu dengan cara yang tidak di sengaja seperti ini."


"Kau pasti menguntitku bukan?"


"Hah, ya sudah lah. Berhubung kau memang cantik dan manis, gapapa GR begitu."


"Dih, siapa juga yang GR hah?" Jawab Pelangi membentaknya.


"Dasar galak!!!" Ucap Exelle dengan tersenyum nakal.


"Nih, kau mau ini kan?" Kemudian Exelle memberikan snack yang Pelangi inginkan tadi.


Pelangi terdiam, dia tampak ragu untuk menerimanya. Disisi lain, dia begitu ingin snack itu. Itu favorite nya, tapi disisi lain... Exelle, adalah cowok yang sangat dia benci karena tingkahnya yang selalu konyol, gila, dan nekat.


"Ayo, ambil. Kau mau ini kan?" Ujar Exelle kembali. Kemudian menaruh snack itu di troly di hadapan Pelangi sejak tadi.


"Ehm, aku..."


"Udah, gak usah makasih segala. Jika kau juga menyukai snack ini, aku rela berbagi. Hihi,"


"Dih, GR. Siapa juga yang mau bilang makasih, aku hanya..."


Pelangi menahan ucapannya sejenak, dalam hatinya mencoba mengingat kembali pertemuannya dengan Exelle di restoran malam tadi. Serta bagaimana dia mengenal Maria begitu akrab dan dekat.


Uught... Haruskah aku bertanya bagaimana Maria itu? Jika bertanya, aku takut dia akan berpikir jika aku cemburu. Sudah pasti itu akan membuatnya senang dan merasa memiliki kesempatan. Jika tidak, aaakh aku penasaran bagaimana Maria itu. Apakah dia menyukai Joe juga???


"Halo, cewek galak. Woei!!!" Exelle melambaikan tangannya di hadapan wajah Pelangi hingga membuyarkan lamunannya.


"Ih, apaan sih."


"Hahaha, kau ini sungguh menggemaskan. Aku makin jatuh cinta nih,"


Pelangi salah tingkah mendengar Exelle berkata demikian tanpa ragu.


"Jangan gombal deh, aku hanya.. Aku.. Ehm, aku hanya penasaran bagaimana kau mengenal Maria. Eh, hanya sedikit penasaran, tidak lebih." Jelas Pelangi dengan ekspresi datar, namun sesekali dia menyentuh telinganya yang menandakan dia berbohong. Jauh di dalam hatinya dia sungguh ingin tahu banyak tentang Maria.


"Pfftt... Mery? Kau penasaran atau mencemburuinya hah? Hahaha."


"Jika tidak mau menjawabnya ya sudah, aku pergi." Dengan wajah cemberut Pelangi mendorong troly nya untuk melewati Exelle yang meledeknya.


"Eeh, tunggu cewek galak. Maafkan aku, aku hanya bercanda barusan. Jangan marah dong,"


Pelangi mengurungkan niatnya, Exelle tersenyum penuh kemenangan setelah berhasil membuat langkah Pelangi terhenti tepat di hadapannya.


"Kami hanya akrab dan dekat saat duduk di bangku SMP dulu, karena dia tinggal di Indonesia dulu. Kemudian dia pindah ke LN bersama kedua orang tua nya yang memutuskan tinggal disana."


"Apakah dia cewek yang baik?"


"Ehm..." Exelle menatap Pelangi dari ujung kaki hingga ujung kepalanya, seraya menopang dagunya dengan ibu jarinya, seolah sedang melakukan penelitian pada tubuh Pelangi.


"Hei, kau. Dasar mesum, apa yang kau pikirkan saat ini hah?"


"Astaga, apakah aku sungguh terlihat mesum?"


"Lalu mengapa kau melihatku dengan mata seperti itu?"


"Aku hanya membandingkan kau dengan Mery. Sepertinya kau jauh lebih baik, Tuhan telah menciptakan mu dengan segala sesuatu yang menakjubkan di sekujur tubuhmu ini. Maka itu, aku tergila-gila padamu cewek galak. Hehe," Dengan santai Exelle tersenyum nyengir pada Pelangi yang menatapnya sangat tajam.