
Sesampainya diperusahaan, Rendy langsung menuju ruang rapat karena ia sudah terlambat untuk memimpin rapat.
"Pak Rendy!" Seru Siska sambil sedikit berlari dari depan pintu ruang rapat ketika melihat Rendy keluar dari lift bersama Beni dan menghampirinya.
"Semua petinggi perusahaan sudah menunggu didalam. Dan ini berkas-berkas yang anda perlukan." Lanjut Siska memberitahu lalu menyerah berkas-berkas untuk rapat.
"Terimakasih." Ucap Rendy lalu masuk kedalam ruang rapat.
Semua petinggi perusahaan dibawah pimpinan Rendy berdiri menyambutnya.
"Maaf saya terlambat." Ucap Rendy lalu duduk di kursinya dan semuanya ikut duduk kembali.
"Mas Rendy, kamu dari mana saja?" Bisik Pak Sony yang duduk disebelah Rendy.
"Tadi aku ada urusan Om. Maaf." Jawab Rendy dan Pak Sony hanya sedikit mengangguk memakluminya.
Rendy memulai memimpin rapat.
Setelah hampir dua jam, rapat selesai dan Rendy segera kembali ke ruangan kantornya diikuti Siska dan Beni.
Setelah menyerahkan berkas-berkas hasil rapat, Siska segera keluar dan kembali ke meja nya.
Rendy meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Kirana lagi tapi kali ini nomor Kirana tidak aktif.
"Tadi Kirana bilang mau balik ke kantor?" Tanya Rendy pada Beni.
"Iya Bos." Jawab Beni.
Rendy kemudian menghubungi manager Kirana melalui intercom.
"Ya Pak Rendy? Ada yang bisa saya bantu?"
Tanya sang manager dengan sopan.
"Tolong panggil Kirana, suruh dia keruangan saya sekarang." Ucap Rendy.
"Pak Rendy sudah kembali? Tapi, Kirana tidak kembali ke kantor. Emm..bukannya tadi Pak Rendy bersama Kirana?"
Rendy mengernyitkan keningnya.
"Kalau begitu, terimakasih." Ucap Rendy lalu memutuskan panggilannya.
"Ben!" Seru Rendy memanggil Beni.
"Ya Bos?"
"Cari tau dimana alamat rumah Kirana!" Titah Rendy pada Beni.
"Oke Bos." Jawab Beni lalu segera beranjak pergi untuk mencari alamat Kirana.
Rendy menghela nafasnya dan menyandarkan punggungnya dikursi kebesarannya.
"Selain hobi jatuh, dia juga hobi kabur." Gumamnya lalu meraih dokumen yang menumpuk dimejanya dan ia mulai fokus dengan pekerjaannya sambil menunggu informasi dari Beni.
...
Kirana baru saja sampai dirumahnya. Ia meletakkan tasnya dimeja ruang tamu lalu duduk bersandar disofa.
Ia menghela nafanya panjang merasa lelah. Lelah karena sepanjang jalan tadi, ia terus kepikiran oleh Rendy dan terbayang-bayang saat Olivia menciumnya.
Kirana menggelengkan kepalanya sambil menepuk-nepuk kepalanya. "Nggak nggak nggak! Kenapa aku jadi terus mikirin Pak Rendy sih? Hufff!" Gerutunya lalu ia bangkit berdiri meraih tasnya dan berjalan menuju kamarnya.
Kirana meletakkan tasnya dimeja lalu ia mengambil handuk dan keluar dari kamar. Kirana ingin mandi menyegarkan tubuh dan otaknya agar tidak lagi kepikiran tentang Rendy yang berciuman dengan Olivia.
Selesai mandi, ia menuju dapur untuk melihat bahan makanan yang masih ada disana. Masih ada mie instan dan beberapa cemilan saja. Kirana belum menerima gaji pertamanya dan ini sudah akhir bulan. Hanya tinggal beberapa hari lagi, dia sudah menerima gaji pertamanya.
Kirana membuat teh hangat lalu mengambil cemilan dan membawanya kekamar.
Ini masih jam empat sore. Biasanya kalau dia kerja, jam lima sore baru keluar dari gedung megah Pradipta Grup dan kurang lebih jam setengah enam petang baru sampai rumah.
Kirana menghela nafasnya lagi lalu ia meminum teh hangatnya dan menikmati cemilannya. Ia teringat kalau ponselnya tadi mati karena kehabisan baterai. Ia mengambil ponselnya didalam tasnya lalu segera mengisi daya pada ponselnya dan meletakkannya dimeja.
Kirana duduk termenung dibangku sambil menopang dagunya. Ia masih saja tidak bisa mengusir bayangan saat Olivia mencium Rendy tadi.
Kirana meremas rambutnya merasa sangat kesal sendiri. "Iiiih! Ngapain sih masih kepikiran itu terus?! Nyebelin banget!" Gerutunya sambil meremas rambutnya sendiri dengan kesal.
Kirana terbangun dan ia terlihat seperti orang bingung. Ia melihat jam ternyata sudah hampir jam enam petang.
Kirana merasa lapar dan ia keluar dari kamarnya menuju dapur. Ia mengambil sehungkus mie instan kuah dan membuatnya.
'Tok Tok Tok!'
Kirana menoleh dan menghentikan gerakan tangannya yang ingin menuang mie yang baru saja matang ke dalam mangkuk.
"Seperti ada yang mengetuk pintu?" Gumamnya sambil melebarkan pendengarannya.
'Tok Tok Tok!'
Memang benar ada suara ketukan pintu. Kirana meletakkan panci kecilnya diatas kompor dan segera berjalan menuju ruang tamu untuk membuka pintu.
'Ceklek'
"Hai!" Sapa seseorang yang sudah berdiri tegak didepan pintu menatapnya.
Seketika Kirana terbelalak karena terkejut. "Pa..Pak Rendy?!" Pekiknya dengan tergagap dan mata melebar menatap Rendy.
"Iya. Boleh saya masuk? Saya perlu bicara sama kamu." Tanya Rendy masih menatap Kirana.
"Hah? Emm..tapi. Dari mana Pak Rendy tau alamat rumah saya?" Tanya Kirana masih tergagap dan ekspresi terkejut.
"Itu nggak penting. Saya kesini mau bicara sama kamu." Jawab Rendy dan Kirana melangkah kesamping memberi akses pada Rendy untuk masuk.
"Silahkan masuk Pak." Ucap Kirana mempersilahkan Rendy masuk.
Rendy pun berjalan masuk sambil melihat sekeliling isi dalam rumah Kirana yang menurutnya sangat kecil dan sederhana. Tapi terasa nyaman.
"Emm..silahkan duduk Pak." Ucap Kirana lagi mempersilahkan Rendy duduk dan Rendy pun duduk.
"Pak Rendy mau minum apa?" Lanjutnya dengan gugup.
"Kopi." Jawab Rendy dengan cepat sambil sedikit tersenyum pada Kirana.
"Hemm..maaf Pak. Hanya ada teh dan air putih. Saya belum belanja bulanan." Ucap Kirana dengan menyengir.
Rendy terdiam sejenak lalu sedikit mengangguk. "Kalau gitu air putih aja." Ucap Rendy.
"Saya ambilkan dulu." Ucap Kirana dan segera melangkah cepat menuju dapur mengambilkan segelas air putih untuk Rendy.
"Ini silahkan Pak." Ucap Kirana sambil meletakkan segelas air putih dimeja didepan Rendy lalu ia duduk dikursi seberang berhadapan dengan Rendy.
"Terimakasih." Ucap Rendy lalu meraih gelas yang berisi air putih tersebut kemudian meminumnya hingga tandas dan meletakkan kembali gelasnya.
Kirana hanya sedikit melotot memperhatikan Pak Presdir tampannya ini yang seperti sedang kehausan hingga ia menelan ludahnya saat melihat Rendy langsung menghabiskan segelas air putih yang dibawakannya.
"Kenapa melihat saya seperti itu?" Tanya Rendy dengan mengernyit menatap Kirana.
"Ah? Emm..enggak kok Pak." Jawab Kirana yang langsung memalingkan wajahnya merasa malu karena seperti kepergok sedang mengintip seseorang.
Mereka pun terdiam sejenak dengan Rendy yang masih menatap Kirana sedangkan Kirana masih menatap kearah lain merasa malu juga tidak enak hati karena hanya menyuguhi segelas air putih kepada Pak Presdir tampannya ini.
"Emm..Pak Rendy mau bicara apa sama saya?" Tanya Kirana yang memulai pembicaraan diantara mereka dengan sedikit menunduk.
"Saya cuma mau tanya sama kamu. Kenapa tadi pergi gitu aja tanpa pamit? Kamu coba kabur lagi dari saya?" Tanya Rendy dengan menatap Kirana.
"Saya nggak kabur kok Pak. Tadi saya juga pamit ke Pak Beni." Jawab Kirana dengan polos.
"Atasan kamu itu Beni atau saya? Dan urusan kita tadi masih belum selesai." Tanya Rendy kembali menunjukkan wajahnya yang merasa kesal dengan Kirana.
"Emm..maaf Pak. Tadi..saya hanya nggak mau ganggu Pak Rendy sama pacar Pak Rendy." Jawab Kirana dengan gugup sekaligus juga kesal dengan Rendy hingga berani menyebut Olivia sebagai pacarnya.
Rendy terdiam dan mengernyit menatap Kirana yang seketika menundukkan wajahnya.
"Dia bukan pacar saya!" Ucap Rendy dengan penuh penekanan.
"Oh, bukan pacar ya? Tapi kenapa mesra banget tadi ciumannya Pak?" Tanya Kirana yang semakin berani sambil menatap Rendy.
Rendy semakin mengerutkan keningnya menatap Kirana dengan heran. Lalu ia tersenyum miring. "Kenapa saya merasa kalau kamu sedang cemburu?"
................