
Tiba di suatu gedung mewah, dimana pesta undangan diadakan. Aku merangkul lengan suamiku Irgy, memasuki ruangan. Baru saja satu langkah memasuki ruangan tersebut, hampir semua mata menatap ke arah kami dengan semua sapaan dan kejahilan dari semua tamu undangan yang entah siapa mereka.
Tak hanya itu, tatapan demi tatapan dari setiap wanita dari segala sudut mengarah pada Irgy. Namun seolah Irgy sudah biasa akan sikap mereka padanya, dia tetap bersikap tenang hingga langkah kami terhenti tepat di hadapan pasangan suami istri. Mereka lah yang mengadakan acara ini.
"Bro, selamat bertambah usia. Sukses terus karir elu ya," Ucap Irgy menjabat tangan laki-laki di hadapannya kemudian meteka beradu tos dan saling memeluk.
"Eh, nona Fanny. Terimakasih atas kehadiran nya juga," Ucap wanita di sisi laki-laki itu.
"Ehm, sama-sama. Ini kado dari kami," Ucap ku sembari memberikan kotak hadiah kecil dari tas dompet ku.
"Wow, hadiah yang paling gue tunggu nih bro. Dari sahabat gue yang terkenal tajir sejak lahir,"
"Cih, bisa aja elu bro." Jawab Irgy menanggapi candaan temannya.
Tiba-tiba beberapa orang lainnya datang menghampiri kami, hingga membentuk sebuah lingkaran dari beberapa orang disisi kami. Aku semakin tidak nyaman dengan obrolan mereka yang sedikit terdengar nakal menggoda Irgy. Namun Irgy hanya tertawa lepas menanggapi candaan mereka.
Anehnya, mereka tidak memandang batasan wanita dan laki-laki. Sama saja, gaya bicara dan candaan mereka tidak peduli sekitar. Irgy melirikku yang mulai gelisah berada ditengah-tengah mereka. Ku coba meraih segelas jus orange yang di bawakan oleh seorang pelayan.
Kemudian terdengar seorang lelaki salah satu dari mereka menyeru. Dan itu terdengar mengganggu serta membuatmu penasaran.
"Astaga, ******. Ini reuni akan menjadi hal yang paling bersejarah dalam hidup kita." Ujar laki-lak itu.
"Hey, itu Hana bukan? OMG, itu sungguh dia. Hana..." Panggil salah seorang wanita lagi.
Aku mulai kesal, entah siapa lagi yang akan berkumpul mengelilingi posisiku dengan Irgy. Tapi satu hal yang membuatku mulai terhentak. Sikap Irgy tampak gusar mendengar nama itu di sebut, seketika Irgy menoleh ke arah dimana wanita yang bernama Hana itu muncul.
Aku mengernyit, aku mulai bertanya-tanya dalam hati. Siapa, kenapa, ada apa???
"Hai, ehm.. Senang berjumpa dengan kalian kembali. Apa kabar kalian?" Sapanya dengan santun dan lembut kepada seluruh teman-teman Irgy yang ikut serta berada di sisi kami.
"Uuuuuh, coba lihat. Apakah ini Hana primadona sekolah kita dulu? Dia berubah semakin mengagumkan setelah berhasil meraih nilai terbaik di Harvard University." Jawab salah satu laki-laki. Meski dia telah menggandeng wanita lain di sisinya.
"Ah, kau terlalu berlebihan. Aku tetap Hana seperti yang kalian kenal," Ucapnya dengan lembut dan penuh santun, penampilannya begitu cantik dan anggun. Berdagu lancip, rambut tebal bergelombang, sorot mata yang tajam, kulit putih, dan tinggi badannya tidak jauh dari postur tubuhku.
Satu hal lainnya lagi yang ku tangkap dengan mata kepala ku sendiri. Sebuah isyarat dari teman dekat Irgy, si pemilik pesta ulang tahun malam ini. Seolah dia gelisah dan di ikuti oleh beberapa teman lainnya yang saling bersenggolan diam-diam.
Entah kenapa kali ini Irgy terdiam seribu bahasa, sikapnya kaku di depan ku tanpa berani menatap wajah kami yang berada di dekatnya.
"Upz, kenapa kalian pada diam?" Tanya wanita yang sejak tadi di sanjung-sanjung.
"E,eh.. Hana, apa kau sudah menikah? Kau lama tidak ada kabar. Dan..."
"Eh, emmh.. Aku baru saja melangsungkan pertunangan. Tapi sayang, tunangan ku tidak bisa ikut malam ini. Dia masih melangsungkan kuliah S3 nya di New York," Jawab nya sembari tersipu malu menyentuh daun telinga nya.
"Huuuuu... Kau memang pantas mendapatkan itu semua cantik," Jawab salah satu laki-laki yang bertingkah konyol sejak tadi. Aku semakin penasaran sosok Hana ini, kenapa dia berhasil membuat suami ku terdiam mendadak. Ini membuatku ingin menjambak suami ku sendiri.
"Oy, Irgy. Kenapa kau mendadak diam begitu? Hahaha, apa kau begitu terkejut akan kehadiran Hana disini? Ayolah, itu semua sudah berlalu Man.." Ucap kembali salah satu laki-laki yang bertindak konyol sejak tadi. Dan seketika dia mendapat serangan injakan kaki dari teman Irgy yang mengadakan pesta.
"Aw, iya iya maaf." Jawab nya ketika mendengar banyak bisikan.
Howh... Apakah Hana adalah mantan Irgy?
Aku mulai menggertakkan gigi ku. Ketika aku menyaksikan sendiri ekspresi wanita yang bernama Hana itu berubah seketika. Seolah sedang di kejutkan sesuatu yang tak terduga, lalu dia salah tingkah.
"Baik, aku sangat baik." Jawab Irgy singkat.
"Ya ampun, apa kau sungguh Irgy. Ketua osis dulu? Kau berubah begitu banyak Irgy, ya ampun. Aku tidak percaya ini, ah... Haha, astaga. Dulu kau, sangat..."
Ucapan wanita itu terhenti ketika pandangan ku ia sadari saat menatapnya tanpa berkedip.
"Upz, maaf. Apakah, dia... Istrimu?" Tanya wanita itu kembali dengan terbata-bata.
"Ah, ya. Eh, ah.. Ehm, dia istriku. Fanny," Jawab Irgy memperkenalkan ku. Aku menyumbingkan bibir ketika Irgy melihat ke arahku, membuat Irgy mengatupkan kedua bibirnya. Dia mengerti jika aku mulai kesal akan situasi ini.
"Ehm.. Hai, aku.. Aku Hana." Dia mengulurkan tangan lebih dulu padaku.
"Fanny," Balasku dengan senyuman tipis.
"Aku bisa mati berada di suasana menegangkan ini." Ucap salah satu seorang lagi.
"Aku tidak percaya jika kau justru lebih dulu menikah dari ku, Irgy." Ucap Hana kembali dengan senyuman.
"Itu karena kau selalu berpikir jika Irgy adalah laki-laki yang cupu dan pemalu. Tapi coba lihat istrinya saat ini tak kalah cantik bukan? Hahaha."
"Heh, diam kau. Dasar sok tahu kau, itu karena dulu Irgy tidak pernah berani menyatakan langsung perasaannya dulu pada Hana. Padahal Hana sudah menantinya setiap hari,"
"Itu karena Hana selalu meledek Irgy laki-laki cemen dan cupu. Bukan kah begitu Hana? Hahaha."
Terjadi perdebatan kecil dan saling melempar ledekan diantara mereka para teman-teman Irgy, seolah mereka saling membentuk suatu kelompok. Team Hana melawan team Irgy. Bukan kah itu menyebalkan terlihat jelas di depan ku?
"Hahaha.. Sudah.. Kalian tetap saja sama. Itu tidak benar, aku tidak pernah menganggap Irgy laki-laki cemen atau cupu, atau seperti yang kalian ucapkan barusan. Hanya saja, Irgy selalu menunda untuk mengatakan perasaan nya padaku. Kami memiliki sebuah komitmen hingga pelulusan sekolah, iya kan Irgy?" Jawab Hana melirik ke arah Irgy.
Shit !!!
Pemandangan apa ini? Suasana apa ini? Aku seolah tak dianggap. Dan ini kali pertama Irgy bersikap menjijikkan. Dia begitu kikuk dan salah tingkah, aku benci.
"Aku ngantuk. Sebaiknya kalian lanjutkan reuni kalian dulu, aku cari angin diluar." Jawab ku menyela.
"Eh, Fanny. Tunggu, aku harap kau tidak akan salah paham. Kami hanya mengenang masa kami di sekolah, tidak ada maksud lain." Ujar Hana menghentikan ku.
Aku tersenyum tipis hanya di ujung bibir kiriku saja. Ku tatap wajah Irgy yang mulai kebingungan akan sikapku ini.
"No problem. Aku sudah biasa, kalian bisa melanjutkan mengenang masa lalu kalian tanpa merasa tidak nyaman dengan keberadaan ku." Lalu aku pergi, Irgy menahan tangan ku.
"Sayang, ayo kita pulang."
"Kenapa? Kau takut mengulang masa indah SMA mu? Ayo lah, jarang-jarang kau berkumpul dengan mereka." Jawab ku sembari menepis tangan Irgy dengan sedikit kasar.
"Nona Fanny, ehmm.. Biar aku yang menemanimu." Jawab Istri dari teman baik Irgy yang sedang mengadakan pesta malam ini. Kemudian dia menghampiriku dengan cepat ketika semua teman sekolah Irgy menahan Irgy untuk tetap tidak beranjak mengejarku.
Huhft... Kau bisa membayangkan perasaan ku malam ini, aku ingin meluapkan amarah dan tangis ku. Tapi mendadak sekunur tubuh ini lemas. Bagaimana tidak? Awalnya aku tidak percaya jika Irgy memang menganggapku adalah cinta dan wanita pertama di dalam hidupnya meski berulang kali dia mengatakannya.
Tapi ini? Apa ini hah? Bukan kah saat ini dia terlihat sama seperti para lelaki yang pernah ku kenal sebelumnya? Pembohong besar dan brengsek saat ku perhatikan dari kejauhan Irgy menikmati setiap candaan dan ucapan mereka di masa lalu.