Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 197



Hari ini pun Joe kembali tidak hadir di sekolah, membuat ketiga sahabat Pelangi kebingungan bertanya-tanya. Khususnya Jeni, dia terlihat begitu gelisah dan cemas. Seketika ia mengutak atik ponselnya untuk melakukan panggilan telepon kepada Joe.


Bathin Pelangi bergumam..


Kemana Joe??? Belakangan ini dia menghilang tanpa kabar. Apakah terjadi sesuatu??? Bukan kah dia juga tahu jika malam nanti aku akan mengadakan pesta. Ah, sudah lah. Bukan urusan ku, terserah dia saja.


Menjelang pulang sekolah, ketiga sahabat Pelangi mulai beraksi mengingatkan pada semua teman-teman di kelasnya untuk menghadiri pesta ulang tahun Pelangi. Tampak para teman-teman cowok di kelas Pelangi begitu antusias untuk hadir agar bisa menaklukkan hati Pelangi. Begitu pun diluar kelas Pelangi, para kakak kelas dan lainnya begitu gigih.


"Duh, gimana nih si Joe.." Ujar Lisa sembari berjalan menuju pintu gerbang sekolah.


"Heem.. Aku pun sejak tadi menunggu kabar dari si kumis tipis. Ih, nanti malam aku ingin dia menjadi pasangan ku."


"Hey, jangan coba-coba. Joe milik ku," Jawab Lisa dengan menyenggol lengan Lucas. Sementara Jeni hanya berdehem sesekali, Pelangi menatapnya dengan senyuman tipis.


Tiba di pintu gerbang, ketiga sahabat Pelangi sudah di jemput oleh supir pribadi mereka masing-masing. Tak lama kemudian mobil BMW keluara terbaru muncul dan berhenti tepat di hadapan Pelangi. Sejenak membuat ketiga sahabatnya pun sontak menoleh ke arah mobil tersebut.


Pelangi terkejut ketika sosok yang sangat di kenalnya keluar dari mobil tersebut dan melambaikan tangan, sementara ketiga sahabatnya tercengang.


"Pa-pa???"


"Yes, ini papa. Kenapa terkejut begitu, Nak?" Tanya Irgy menghampiri Pelangi.


"Hai om," Sapa ketiga sahabat Pelangi yang kembali menghampiri Pelangi lalu dengan santun bersalaman secara bergantian pada Irgy.


"Halo anak-anak, kalian belum pulang?"


" Belum om, kami sengaja menunggu jemputan dulu untuk tuan puteri Pelangi."


"Kalian memang sahabat yang baik. Om bangga pada kalian,"


"Tapi Pa, mobil ini? Aah, papa. Mobil ini terlalu muda untuk papa, ih." Pelangi mulai protes membuat ketiga sahabatnya kembali terheran-heran. Karena sikap Pelangi mulai hari ini berbeda, sedikit banyak bicara meski masih sedikit kaku.


"Kau menyukainya, Nak?" Tanya Irgy.


"Hemm.. Mobil ini keren, Pa."


"Hah, papa sudah menduganya. Jika begitu papa tidak sia-sia, jika kau menyukainya."


"Maksud papa?"


"Ini hadiah ulang tahun mu, Nak. Mulai besok papa akan mengajarimu menyetir,"


"Kyaaaaaaaa... Aku juga maaauuu," Ujar serentak ketiga sahabat Pelangi yang kemudian berhamburan menyentuh dan mengecek, memeluk, serta berulang kali menyeru melihat mobil tersebut.


Namun Pelangi terpaku menatap papa nya, Irgy. Kedua matanya berkaca-kaca tanpa mampu mengeluarkan kata, mengetahui hal itu Irgy memeluk puterinya tersebut yang kini sudah menginjak usia 17 tahun.


"Heey, cup cup cup. Kenapa kau menangis, Nak???"


"Maafkan Pelangi, Pa. Selama ini Pelangi sudah..."


"Sssssttt.. Tidak perlu meminta maaf, mari kita mulai lagi dari awal Nak. Papa sudah sangat rindu sosok puteri papa di masa kecil dulu, yang selalu ceria, jahil, cerewet, manja, dan.. Mudah tertawa lepas."


Pelangi mengangguk dengan isakan tangisnya.


"Hikzt.. Princess cold, aku jadi ikut sedih dengan pemandangan ini." Ujar Lisa menyeka air matanya setelah melihat sahabatnya demikian.


"Huwwaaaa... Akhirnya, kita akan melihat sosok Princes kita yang baru," Ujar Lucas dengan histeris.


"Cih, sejak awal aku sudah merasa jika Pelangi kita bukan lah sosok yang demikian." Ucap Jeni dengan menitikkan air mata.


🌻🌻🌻


Perputaran jam seolah begitu cepat, hari sudah mulai sore. Segala persiapan untuk pesta ulang tahun pelangi sudah tertata rapi dengan segala hiasan dekor yang begitu menakjubkan. Namun aku dibuat kesal oleh Abel yang tidak menepati janjinya untuk membantu ku menyiapkan semuanya dan membawa Tama kerumah.


"Hahaha, astaga. Apakah kau begitu kesal pada nona Abel hingga sejak tadi kau hanya cemberut saja?" Tanya Kevin menggoda ku. Sejak tadi diam-diam dia melirikku yang selalu memasang wajah cemberut dan menggerutu menyebut nama Abel.


"Aku kesal, dia sungguh menyebalkan. Dia sudah berjanji akan kemari dengan Tama, puteranya. Tapi sejak tadi, dia mengabariku saja tidak. Huh,"


"Sudah lah. mungkin dia sibuk. Lagi pula semua sudah beres bukan?"


"Hemm, tapi.. Ya sudah lah, aku ke kamar Pelangi dulu." Jawab ku hendak pergi.


"Fanny," Panggil Kevin dengan lirih, menghentikan langkah ku dan menoleh ke arahnya kembali sejenak.


"E,eh.. Baik lah. Terimakasih," Jawab ku singkat kemudian mempercepat langkahku menaiki tangga.


Tok tok tok...


"Nak, apa kau masih tidur?" Ku ketuk pintu kamar puteri ku, Pelangi.


"Masuk, Ma. Gak di kunci kok,"


Aku langsung membuka pintu kamar Pelangi setelah dia menjawabnya demikian. Ku lihat dia tersenyum menyambutku di kamarnya yang tengah duduk di sisi ranjang, namun sangat jelas terlihat kedua matanya tampak sembab.


"E,eh.. Nak, kau.. Ada apa? Apakah kau menangis? Kenapa Nak?"


"Ma-ma.." Ucapnya sembari langsung memeluk tubuh ku dengan erat melingkarkan kedua tangannya di pinggangku. Lalu menangis sejadi-jadinya, membuatku semakin kebingungan.


"Hey Nak,"


"Maafkan Pelangi, Ma.. Maafkan Pelangi sudah membuat mama dan papa bersedih selama ini karena sikap Pelangi,"


Aku tak kuasa mendengarnya berkata demikian, dengan isakan tangis. Karena sudah jelas, sejak awal ini salah ku dan keegoisan ku di masa lalu sehingga membuatnya merasa buruk.


"Tidak, Nak. Tidak, ini bukan salah mu. Ini salah mama, kau hanya belum mengerti dan butuh waktu lebih lama sedikit. Hanya saja, mama sudah sangat rindu sosok mu di masa kecil yang selalu ceria dan penuh tawa, kau selalu manja, kau selalu bercerita dan cerewet. Apapun itu kau selalu mengadu pada kami, kami rindu itu semua Nak."


"Mulai detik ini, mama akan kembali melihat sosok puteri kecil mama dulu. Tapi, berikan Pelangi waktu ma. Pelangi berjanji akan mengembalikan semua yang mama dan papa inginkan itu."


"Mama saaangat menyayangimu, Nak. Kami sangat membanggakan mu, kau segalanya bagi kami."


Pelangi mengangguk cepat menanggapinya, lalu aku menyentuh kedua pipinya yang cubby. Menyeka air mata yang terus mengalir dari kedua matanya yang menatapku dengan sendu.


"Sudah, jangan menangis lagi. Sebentar lagi seseorang akan datang untuk menyulapmu secantik mungkin bak seorang puteri dari kerajaan."


"Terimakasih segalanya, Ma. Mama sudah menyiapkan segalanya begitu mewah hari ini, terimakasih."


"Senyum dong," Ujar ku pada nya. Dia menurut, membuat hati ku ingin mencuat keluar rasanya. Ada rasa haru yang begitu bahagia tiada batas.


🌻🌻🌻


Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, tampak beberapa undangan yang mengaku dari teman-teman sekolah Pelangi mulai berdatangan setelah ketiga sahabat Pelangi lebih dulu tiba.


Semua keluarga telah berkumpul, ibu ku sedang asyik ngobrol dengan Abel karena lama tidak bertemu. Sedangkan kedua orang tua Irgy seperti biasanya, sikapnya seolah enggan berbaur dengan kami. Hanya Irgy yang sesekali menghampiri mereka, sebab Irgy harus menemui beberapa tamu undangan dari rekan kantornya.


Namun ada satu pemandangan yang begitu kurang enak ku rasa. Cinta, puteri Ira. Sebuah gaun yang di kenakannya begitu minim dan terbuka, sejak tadi dia mondar mandir seolah mencari perhatian.


"Fanny sayang, apa kau marah pada ku baby?" Tanya Abel merengek manja setelah sejak tadi ku abaikan dengan wajah cemberut.


".........."


Aku diam, aku sengaja mengabaikannya.


"Bu, coba lihat Fanny. Dia mendiami ku sejak tadi, aku berbicara dengannya, tapi dia terus mengabaikan ku." Abel mengadu pada ibu ku kemudian.


"Fanny, ada apa dengan mu?"


"Cih, dasar. Ngadu aja terus," Jawab ku cetus melirik Abel dengan tajam.


"Tuh, kan Bu. Fanny marah pada ku, Bu. Hari ini aku sungguh sibuk, jadi tidak sempat untuk membantunya menyiapkan semua ini."


"Aku bukan hanya marah karena itu, tapi kau berjanji akan membaca Tama. Tapi kau malah datang dengan suami mu saja, huh..." Jawab ku bersungut-sungut melirik dengan tajam ke arah suami Abel yang sedang berbincang dengan Irgy.


"Hahaha, astaga. Ehm, putera tampan ku akan segera datang. Kau sabar lah sebentar, Fanny."


Tak berapa lama kemudian, puteri ku Pelangi berjalan menuruni anak tangga di temani oleh ke tiga sahabatnya yang mengiringinya. Terdengar beberapa orang menyeru dan memuji kecantikan puteri ku ini, aku hampir saja dibuat tidak mengenalinya. Seseorang make over yang kami sewa khusus untuk nya tidak mengecewakan meski dengan bayaran yang tinggi.


"Kyaaaaa, apakah dia sungguh Pelangi kecil ku dulu? Aaakh, Fanny. Dia sungguh tumbuh dengan sangat baik, dia begitu cantik dan jelita. Benar kata putera ku, tidak heran dia begitu antusias mencari kado yang begitu special."


Aku sedikit heran dengan seruan Abel saat ini, tapi ku abaikan sejenak. Entah apa yang dia maksud itu, aku hanya menatapnya sekilas. Dia begitu terperangah melihat puteri ku Pelangi di sulap bak seorang puteri raja.


Begitu banyak pujian dan pujian serta beberapa dari kalangan murid cowok yang tak lain teman sekelas Pelangi tampak saling berebut mengucapkan selamat pada Pelangi. Aku merasa sedikit bergidik, rasanya tidak ingin Pelangi cepat beranjak dewasa nantinya. Ketika dia bertemu dengan seseorang yang mampu membuatnya jatuh cinta lalu siap menikah, oh tidak.. Dia akan jauh dari ku.


Pelangi melempar senyuman nya dan menghampiri ku ketika dilihatnya aku sedang memandanginya sejak tadi. Dia langsung memeluk ibu ku, seorang nenek yang selalu dia sebut oma baik. Kemudian Abel mengambil alih untuk memeluk dan mengecup kening Pelangi, membuatnya sedikit terkejut dan keheranan lalu menatapku. Seolah tersirat banyak tanya dari ekspresi wajah nya pada ku.