Because, I Love You

Because, I Love You
#122



Kirana terpaku sejenak dan dia merasa sulit untuk bernafas saat mendengar ucapan Beni.


Air matanya kembali menetes saat dia mengedipkan matanya. Dia berbalik dan menatap Beni tidak percaya.


"Maaf Mbak, kalau selama ini aku juga diam nggak beri tau kamu. Aku cuma nggak mau kamu sedih karena mengkhawatirkan Bos dan aku yakin Bos pasti juga nggak mau kamu sedih." Ucap Beni.


Kirana perlahan melangkah maju mendekati Beni. "Pak Ben, harusnya kamu tetep kasih tau aku! Selama ini aku udah salah paham sama Mas Rendy! Bahkan aku anggep dia laki-laki brengsek karena udah mempermainkan aku selama ini! Kenapa kamu tega sama aku?!" Ucap Kirana dengan keras kemudian memukul dada bidang Beni bersamaan air matanya yang semakin deras membasahi wajahnya.


Beni merasa sangat bersalah. Ini memang salahnya karena sudah membuat Kirana salah paham terhadap Rendy.


Ternyata, tidak semua yang menurutnya baik, juga akan menjadi baik untuk orang lain. Beni merutuki dirinya sendiri.


"Maaf Mbak, maaf. Ini salahku. Sebaiknya sekarang, kamu cepat temui Bos dulu. Nanti kamu boleh pukuli aku lagi sampai puas." Ucap Beni dengan menunduk penuh rasa bersalah.


Kirana tidak mau berlama-lama lagi bicara dengan Beni. Dia langsung berlari menuju ruangan Rendy. Saat ingin mendorong pintunya, kebetulan Tania-sekertaris baru Rendy menarik pintunya dan keluar dari ruangan Rendy.


Kirana terpaku sejenak menatap Tania yang ternyata sangat cantik.


"Kamu, Kirana?" Tanya Tania yang membuat Kirana mengerjapkan. matanya dan tersadar dari lamunan singkatnya.


"Em..iya Bu, saya...


"Silahkan masuk karena Pak Rendy sudah menunggu sejak tadi." Ucap Tania memotong ucapan Kirana.


Kirana hanya mengangguk sopan dan tersenyum canggung kemudian segera masuk. Tania pun menutup pintunya dan kembali ke meja kerjanya yang ada didepan ruangan Rendy.


Kirana melihat Rendy yang sedang duduk bersandar disofa dengan sikunya diletakkan disamping sofa dan memijat pelipisnya.


Sepertinya, rasa sakit dikepalanya masih belum hilang. Tapi, sudah berkurang dan masih bisa dia tahan.


"Maaas.." Panggil Kirana dengan suara bergetar dan sudah hampir menangis lagi.


Rendy menghentikan pijatannya lalu mengangkat pandangannya menatap kearah Kirana.


Kirana bisa melihat wajah Rendy yang pucat. Mungkin karena memang kondisi Rendy masih belum stabil.


Rendy bangkit berdiri tanpa mengalihkan tatapannya pada Kirana. Raut wajahnya menunjukkan kesedihan.


Dia merentangakan kedua tangannya.


Melihat itu, Kirana langsung berlari dan memeluk Rendy. Tangisnya pun pecah. Rendy memeluk erat tubuh kecil Kirana yang terasa semakin kurus.


"Maaf." Satu kata pertama yang keluar dari mulut Rendy untuk Kirana dipertemuan pertamanya setelah dia mengalami kecelakaan hingga koma dan kehilangan ingatannya.


"Udah dong, jangan nangis." Ucap Rendy lagi karena Kirana hanya menangis dan semakin memeluknya dengan erat.


Rendy mengusap-usap punggungnya dengan lembut. Hatinya ikut menangis karena dia juga merasa sangat bersalah. Sudah selama ini, dia tidak mengingat Kirana dan belum lama dia tersadar dari pingsannya tadi, saat itu juga dia langsung menyebut nama Kirana.


Beni yang mendengarnya pun merasa terkejut sekaligus bahagia karena akhirnya ingatan Bosnya sudah kembali. Dia mengingat Kirana juga sudah mengingat dirinya. Itu sebabnya Beni mencari Kirana karena Rendy terus menanyakan Kirana pada Beni.


Rendy pun meminta Beni untuk membawa Kirana kemari.


"Ki, kalau kamu masih nangis terus gini, aku makin pusing nih." Ucap Rendy dan Kirana langsung menghentikan tangisannya. Hanya suara sesenggukannya saja.


Rendy melonggarkan pelukannya dan menunduk menatap Kirana. Dia mengusap air mata Kirana yang membasahi pipinya dengan ibu jarinya. "Aku minta maaf udah lupain kamu." Ucapnya lagi dan Kirana menggelengkan kepalanya.


"Itu karena kamu mengalami amnesia Mas, makanya kamu lupa sama aku." Akhirnya Kirana mengeluarkan suaranya dan Rendy tersenyum sambil memeluknya lagi.


Dia mengecup Puncak kepala Kirana dengan penuh cinta. "Aku kangen banget sama kamu, Ki. Aku bener-bener minta maaf." Ucap Rendy yang masih meminta maaf pada Kirana.


Kirana akhirnya bisa tersenyum. Senyum ceria yang selama ini sirna. Dia melepaskan pelukannya kemudian sedikit mendongak menangkup rahang Rendy dan menatap wajah tampan kekasihnya yang terlihat pucat.


"Muka kamu pucet banget Mas. Kamu udah makan belum?" Tanya Kirana penuh perhatian.


Rendy memeluk pinggang Kirana agar hingga tidak ada jarak diantara mereka. "Kenapa kamu makin kurus gini sih? Aku sampai takut peluk kamu. Takut tulang kamu patah." Ucap Rendy tanpa menghiraukan pertanyaan Kirana yang langsung mendapat pukulan didada bidangnya.


"Nggak usah mengalihkan topik deh! Aku tanya kamu udah makan belum? Kenapa jadi bahas tubuh aku?" tanya Kirana lagi sambil mendengus kesal dan cemberut.


Kirana mengerjapkan matanya dan terbengong karena terkejut saat Rendy mengecup sekilas bibirnya. Rasanya, dia ingin Rendy mengecupnya lama karena dia juga merindukan ciuman lembut darinya. Ciuman yang mempu membuatnya melayang dan menggila.


"Aku belum makan. Apa kamu udah makan?" Jawab Rendy dan balik bertanya.


Kirana hanya menggelengkan kepalanya sambil mengerjapkan matanya. Membuat Rendy semakin merindukannya. Tingkah Kirana yang seperti ini yang selalu membuat Rendy merasa gemas dan ingin menciumnya.


Kirana kembali terkejut karena Rendy mengecup bibirnya lagi. Owh, tidak hanya mengecup. Tapi Rendy benar-benar menciumnya.


Tangan Kirana yang berada didada bidang Rendy perlahan naik dan melingkar dileher Rendy. Dia memejamkan matanya dan membalas ciuman Rendy.


Mereka pun melampiaskan rasa rindu mereka dengan saling memeluk erat dan bertukar saliva.


Entah mengapa Rendy semakin merindukan bibir candu milik Kirana hingga ciumannya yang lembut kini berubah menjadi menuntut.


................