Because, I Love You

Because, I Love You
Episode 158



Aku mengeluh nafas panjang dengan segera menyeka air mata ku yang sejak tadi menemani lamunan ku, duduk sendiri di ruang TV.


"Aaarght.. Sial, aku jadi membuka pesan ini kan."


Dan aku baru melihatnya, setelah berapa lama aku tidak membuka lagi akun sosmed ku beserta pesan pribadi yang dikirim oleh Dudut. Aku terkejut melihat pesan yang begitu banyak di kirimnya padaku.


"Kau tahu ini jam berapa? Aku sudah bersuami."


Balas ku singkat. Dan sesaat kemudian hanya dalam hitungan detik sebuah balasan dari Dudut sudah mendarat.


"Aku hanya memastikan saja jika kau sungguh telah menikah. Apa kau baik-baik saja malam ini beb?"


Fiuht.. Aku memang belum pernah memasukkan foto pernikahan ku di akun sosmed ku, karena semenjak aku di cap sebagai Pelakor hanya karena status hubungan palsu ku dengan Dudut di dunia maya. Itu membuatku merasa terpukul, hahaha. Ini memang konyol, karena aku belum pernah sekalipun bertemu dengannya tapi di cap sebagai Pelakor siapa yang suka???


"Aku baik-baik saja." Balas ku singkat.


"***Tapi balasan mu menunjukkan bahwa kau sedang tidak baik, bagaimana jika suami mu tahu kau sibuk berkutat dengan ponsel mu di jam ini?"


"Bukan urusan mu dan bukan urusan dia pula."


"Beb, jangan begitu. Walau aku sedikit sakit mendengarmu telah jadi milik orang saat ini, tapi kau seorang istri. Sudah seharusnya kau melayani suami mu, gih.. Temani dia***."


Sejak kapan dia jadi penasehat begini??? Tanya ku dalam hati.


"Apa kau salah minum obat?"


Balasku kemudian.


"***Tidak beb, aku hanya baru menyadari jika hubungan kita tidak akan seperti dulu lagi. Waktu mu terbatas, terbagi hanya untuk suami dan anak mu. Sedangkan aku hanyalah bayangan semu yang pernah meninggalkan cerita seru di hidupmu."


"Apaan sih, jadi ngehalu begitu dirimu?"


"Aku serius beb, kali ini aku akan membatasi komunikasi kita. Mendengarmu hidup bahagia, aku ikut bahagia. Gih, tidur.. Ini sudah jam tidur mu bukan***?"


Ku lirik sebuah jam dinding yang menempel di tembok ruang TV, menunjukkan pukul 10 malam. Dan Irgy tak kunjung pulang. Apa-apaan ini???


Haruskah aku menelponnya saja? Cih, itu hanya akan membuatnya berpikir aku sudah melupakan semua yang terjadi di malam reuni kala itu.


"Suami ku belum pulang dari kantor."


Kembali aku membalas pesan pribadi pada Dudut.


"Apa? Sudah jam berapa ini beb? Apa kau butuh teman malam ini? Aku siap menemanimu, seperti dulu. Kau bebas berbicara apapun pada ku. Aku akan menjadi pendengar setia mu..."


Dan jujur aku tertarik, aku luluh membaca balasan dari Dudut kali ini. Aku merasa menemukan tempat dan sasaran untuk ku luapkan segala kepenatan ku yang tertahan dalam sepekan terkahir.


Dan kami mulai berbincang melalui via telepon. Aku menceritakan tentang semua ingatan ku yang begitu jelas saat malam reuni, tentang kemarahan mu yang hingga saat ini masih menggerutu di hati. Tentang semua, semua yang terjadi padaku hingga aku terisak tangis. Dudut tetap setiap mendengarnya walau kami sempat berdebat karena Dudut merasa aku wanita yang egois dan pengecut.


Setelah kami cukup lelah dalam berdebat, pada akhirnya tetap Dudut lah yang mengalah. Ia berusaha menghibur ku, berusaha mencairkan segala keresahan ku, hingga berhasil membuatku perlahan mengantuk dan tertidur begitu saja di sofa.


Entah berapa lama dan sejak kapan aku sungguh tertidur pulas. Kemudian aku mendengar suara yang tak asing lagi bagi ku di telinga.


"Nyonya, Bangun. Bangun Nyonya, sudah pagi.. Mengapa Nyonya tidur di sofa ini?"


Aku terkejut dan seketika beranjak bangun dari tidur ku yang sejak tadi menelungkup dalam selimut yang entah lah kapan aku memakai selimut ini. Seingat ku, aku tidak membawa selimut ini malam tadi.


"Ehm, bi.. Jam berapa ini?" Tanya ku pada bibi asisten.


"Pukul 5 pagi Nyonya." Jawab bibi asisten.


"Ah, kenapa terasa begitu lama aku tertidur. Kepalaku jadi sakit, ehm.. Bi, apakah tuan pulang semalam?"


"Tuan pulang jam 4 pagi tadi Nyonya, tapi beliau pulang hanya untuk mandi dan mengganti pakaian. Lalu ke kamar nona kecil kemudian pergi lagi."


"Apa? pergi lagi?" Aku terkejut bukan main setelah mengetahui Irgy pulang hanya untuk itu saja lalu pergi kembali tanpa membangunkan ku. Aku sudah menduganya, jika selimut ini dia lah yang memakaikannya.


Tapi.. Kenapa dia semakin aneh? Membuatku semakin curiga. Aku mulai di serang amarah yang kian semakin menggunung.


🌻🌻🌻


Sikap Irgy membuatku bertanya-tanya dan hilang fokus, bahkan aku sampai salah memilih seragam sekolah Pelangi pagi tadi. Beruntung Pelangi menyadari dan sudah menghafalnya, dengan cepat aku merubahnya kembali.


Seperti biasa, setelah mengantar Pelangi pergi ke sekolah. Aku kembali kerumah dan menunggu kembali jam berputar hingga tiba waktu untuk menjemputnya lagi. Sebelum sampai dirumah, aku berniat mencari Irgi di kantornya. Untuk memastikan jika apa yang aku pikirkan mengenainya beberapa hari ini dia mengacuhkan ku itu tidak benar adanya.


Tiba di depan toko perhiasan milik Irgy, aku bergegas keluar dari mobil. Dan hendak memasuki toko tersebut, dari kejauhan aku melihat sosok Khery sedang melayani seorang wanita dengan sangat ramah dan akrab. Sesekali mereka bercanda, dan ku perhatikan sosok wanita itu seperti aku pernah melihatnya di suatu tempat.


Ketika langkah ku sampai di dalam ruangan, Khery menghentikan obrolannya sejenak lalu menatapku dari kejauhan. Dan tatapannya padaku kali ini terlihat membuatnya mulai kikuk. Itu sudah hal biasa bagi ku...


Namun langkah ku mendadak terhenti dan mematung di tempat ketika aku melihat sosok wanita di hadapan Khery menoleh ke arah belakang. Tepatnya dimana aku sedang berjalan hendak menemui Irgy.


Kenapa? Kenapa wanita ini sungguh berada disini? Di perusahaan Irgy.. Kenapa? Mungkin kah mereka sungguh saling bertemu diam-diam di belakang ku Tuhan?


"Hai, Fanny. Ehm, kita bertemu lagi. Dan ini secara tidak di sengaja juga ya. Apa kabar?" Sapanya dengan ramah seolah dia tidak pernah melakukan kesalahan sebelumnya.


"Hana, kau.. Sudah pernah bertemu Fanny sebelumnya?" Tanya Khery lebih dulu menyela sebelum aku menjawabmya.


"Haha, iya mas. Kita sudah pernah bertemu di suatu pesta reuni,"


Aku harus bersikap apa lagi kali ini Tuhan? Bahkan Khery sudah terlihat begitu akrab dengan wanita itu... Aku harus apa? aku harus bagaimana?