Because, I Love You

Because, I Love You
Episode 156



Memang benar, perasaan kecewa selalu mampu dan berhasil membuat sekujur tubuh serasa lumpuh seketika. Terlebih pada orang yang kita sayangi, kita cintai, dan kita percayai sepanjang hidup kita, karena yang ku tahu.. Kecewa itu levelnya diatas marah bukan?


Aku tak mampu lagi meluapkan segala amarah ku walau saat ini sudah kian memuncak dan rasanya mengoyak relung hatiku. Rasanya sudah memaksa ingin meledak menghancurkan seluruh tubuh ku.


"Sayang, jangan diam terus. Kau membuatku takut, aku tidak ingin kita bertengkar sampai dirumah dan Pelangi melihat nya. Ini akan merusak psikisnya nanti, lebih baik kau meluapkan segala amarah mu." Ucap Irgy berulang-ulang padaku.


Aku menghela nafas dalam-dalam, tetap dengan mulut membungkam. Lalu aku hendak memasuki mobil lebih dulu. Aku sungguh ingin segera sampai dirumah, tubuh dan pikiran ku terasa sangat lelah.


"Tunggu, Ok. Ok, aku brengsek. Aku ********, aku berbohong, aku jahat, apa lagi umpatan itu aku mengakuinya."


"Kau sudah selesai bicara? Aku ingin pulang." Balas ku dengan posisi tubuh yang terhuyung-huyung.


"Baik lah Fanny, baik. Aku tidak akan bicara lagi," Ucap Irgy dengan lirih setelah aku memijit-mijit batang hidung ku.


Sepanjang dalam perjalanan pulang aku tetap diam seribu bahasa. Pandangan ku hanya fokus menatap pinggir jalanan di balik jendela mobil, sementara hanya air mata yang berbicara. Yang sudah berkali-kali aku menyekanya hingga mata mu begitu sembab sesampai dirumah.


Aku langsung menuju pintu kamar pribadi Pelangi setelah sejak tadi Irgy terus manggil ku untuk bicara seraya menaiki tangga. Aku tak peduli, kemudian mu ketuk perlahan pintu kamar Pelangi namun Irgy menarik ku.


"Sayang, kita harus bicara berdua di kamar. Untuk apa kau memasuki kamar puteri kita?" Tanya Irgy dengan panik.


"Kau masih ingin melihatku berada dirumah ini bukan?" Ucapku cetus.


"Apa maksudmu? Jangan mengancam ku."


"Aku ingin tidur di kamar Pelangi." Jawab ku singkat kemudian membuka pintu kamar Pelangi. Dan ku lihat bibi asisten sedang tertidur dengan posisi duduk di sofa mini dekat ranjang Pelangi. Irgy menyusulku memasuki kamar Pelangi.


"Bi, bibi... Bangun," Aku mencoba membangunkan bibi asisten yang seketika dia terkejut lalu beranjak bangun dengan posisi berdiri.


"Maaf Nyonya, bibi ketiduran. Maaf,"


"Maafkan kami bi, pulang larut. Istirahatlah di kamar bibi, aku akan menemani Pelangi." Jawab ku lagi.


"Baik nyonya, baik. Permisi..." Pamitnya kemudian keluar kamar dengan cepat. Ku tatap wajah puteri ku yang tertidur pulas, ku kecup keningnya dengan lembut kemudian.


"Kalau begitu, aku akan ikut tidur disini bersama kalian."


"Keluar !!!" Ucapku dengan cetus.


"Yank, kau boleh menghukumku dengan cara apapun tapi jangan pernah mengusirku dari sisi mu."


"Apa kau tuli?" Jawab ku dengan menekan nada bicaraku.


Irgy terhentak dengan mengatupkan kedua bibirnya.


"Baiklah, aku mengerti. Mungkin mau butuh waktu untuk berpikir dulu, iya kan? Baik lah, aku keluar."


Kemudian Irgy keluar kamar. Pintu tertutup dengan rapat, bergegas aku melangkah ke arah pintu lalu menguncinya rapat-rapat. Lalu aku menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, ah tidak. Lebih tepatnya lagi...


Aku menelungkupkan wajah ku di antara kedua lutut kaki ku yang terduduk saat ini, di bawah shower yang sengaja ku nyalakan lebih dulu. Aku menangis dengan segala luapan yang sejak tadi aku tahan. Aku ingin berteriak sekeras mungkin, tapi aku takut membangunkan Pelangi yang sedang tidur lelap.


Aku dikejutkan oleh suara pintu yang berulang kali di ketuk dengan keras dari luar kamar. Tersadar jika semalaman aku tertidur di kamar mandi, ku lirik jam yang masih setia melingkar di pergelangan tanganku menunjukkan pukul 6 pagi.


"Ya ampun Tuhan.. Aku bangun kesiangan."


Dengan cepat aku berusaha bangun, meski kepala ku masih terasa pening dan berat. Sekujur tubuh rasanya kaku dan bagai berjalan di atas perahu karet saja. Setelah keluar dari kamar mandi, ku lihat Pelangi masih tertidur lelap.


"Sayang, Pelangi... Bangun nak, ayo kita sudah hampir terlambat ke sekolah." Aku mencoba membangunkannya dan menggoyangkan tubuh Pelangi berulang-ulang.


Pelangi bergerak dan menyipitkan matanya melihat sekeliling kemudian beranjak terduduk di hadapan ku.


"Loh, ma. Kita gak jadi ke pesta?"


"Sayang, ini sudah pagi. Waktunya sekolah, kau tertidur semalam. Jadi mama dan papa pergi berdua aja deh," Jawab ju menjelaskan dengan lembut. Dan Pelangi tampak terlihat menundukkan wajah melihat gaun yanh masih di gunakannya sejak semalam.


"Sayang, apa kau marah pada mama?" Tanya ku lagi.


Pelangi menggelengkan kepalanya menanggapi tanya ku. Aku tahu hatinya pasti sedikit sedih karena tidak ikut serta bersama kami pergi ke pesta. Tapi paling tidak ini menjadi sesuatu yang harus ku syukuri, jika saja Pelangi ikut hadir, walau bagaimanapun aku tidak ingin membuatnya memiliki pikiran buruk tentang papanya.


"Ayo kita mandi, nanti terlambat kesekolah. Apa kau tidak ingin segera bertemu Lucky?"


Seketika wajah Pelangi berubah berubah ceria dengan melebarkan senyumannya padamu, kedua pipinya yang kian mulai chubby semakin membuatnya terlihat memiliki mata sipit.


Tepat jam setengah 7 aku sudah siap begitu pula dengan ku untuk mengantar Pelangi ke sekolah. Dan ini untuk yang pertama kalinya aku kesiangan bangun. Semua karena pesta dan reuni semalam, ah... Itu salah satu sebab nya kenapa aku selalu menolak dan enggan menghadiri reuni masa SMA.


Saat membuka pintu kamar Pelangi, aku di kejutkan oleh sosok Irgy yang sudah berdiri di depan pintu. Membuatku terperangah menatapnya kemudian


"Sayang, aku ikut mengantar Pelangi ke sekolah." Ucapanya lirih.


"Tidak perlu. Aku bisa sendiri dan sudah biasa mengantarnya sendiri." Jawab ku dengan cetus.


"Yeay yeay, papa akan ikut kesekolah." Teriak Pelangi sembari melompat. Dan Irgy langsung menggendongnya.


"Hmm.. anak kesayangan papa, papa akan mengantarmu bersama mama pagi ini. Dan khusus hari ini, papa juga akan ikut menjemput Pelangi saat pulang nanti." Jawab Irgy sembari mengecup kepala puteri tunggalnya itu.


"Sayang, biar mama saja yang mengantarmu ya. Papa sibuk," Jawab ku menyela.


"Aaah, aku mau papa juga yang mengantarku ke sekolah ma."


"Sayang, jangan memaksa dan manja begitu. Nanti mama belikan mainan baru," Ucapku dengan sedikit keras.


Pelangi terdiam kemudian.


"Sayang, ayolah..." Ujar Irgy padaku. Namun aku masih mengabaikannya kembali dengan berjalan melewatinya yang sejak tadi berdiri di hadapan ku dengan menggendong Pelangi di depan pintu kamar pribadi Pelangi.


"Bi, bibi.. Tolong siapkan sarapan Pelangi untuk di bawa ke sekolah pagi ini, cepat sedikit ya bi. Udah kesiangan," Perintah ku sembari menuruni anak tangga menuju dapur.