
Dengan cepat aku menyeka air mata ku ketika tersadar kak Rendy bertanya padaku. Membuat pikiranku terhentak seketika.
"Eh bocah, kau baik-baik saja?" Tanya kak Rendy.
"Hemm... Aku baik-baik saja kak, aku hanya sedikit terharu. Akhirnya Nia mau berteman dengan ku dan percaya padaku."
"Itu karena kau memang wanita baik-baik sayang." Ucap kak Shishi kemudian.
"Pelangi akan sangat bahagia melihat ini hadiah ini semua."
"Dan kami semakin tidak sabar melihatnya." Jawab kak Rendy kemudian. Ku lirik jam di pergelangan tangan ku sudah menunjukkan bahwa Pelangi sebentar lagi akan pulang.
"Ehm, kalian bisa bersantai dulu disini. Aku akan menjemputnya dulu di sekolah,"
"Kau yakin akan menjemputnya sendiri, kau sedang hamil sayang." Ucap kak Shishi padaku.
"Hey, kakak ipar. Ayo lah, jangan membuatku terlihat lemah di depan kakak ku Rendy. Atau dia akan meledekku nantinya." Jawab ku menyumbingkan senyuman tipis.
"Huuh, dasar. Baik lah, kakak akan menikmati rumah mewah mu ini."
"Santai kak, kau bisa menganggapnya seperti rumah sendiri. Baiklah, aku akan menjemput puteriku. Dia pasti akan sangat bahagia melihat uncle nya datang." Jawab ku berlalu pergi keluar.
"Hati-hati mengemudi." Teriak kak Rendy di belakang, aku hanya melambaikan tangan padanya tanpa menoleh lagi.
Di sisi lain...
"Beb, kenapa kau langsung berkata jujur jika boneka beruang ini dari brother Kevin? Kau membuat Fanny jadi sedih."
"Yah, mau gimana lagi honey. Fanny sudah bahagia dengan kehidupannya, dengan keluarga kecilnya. Dan kini dia sudah akan menjadi ibu dari 3 anak sekaligus. Kevin juga berhak bahagia bukan? Meski dalam hatinya, Fanny tidak akan tergantikan."
"Aku mengerti beb, terimakasih selalu mengerti posisi brother Kevin. Semoga tahun ini Nia segera bisa hamil, aku ikut prihatin dengan kehidupan mereka."
🌻🌻🌻
Sedang hatiku, dalam perjalanan menuju sekolah Pelangi masih terngiang di telinga seolah aku bercengkrama langsung dengan sosok Nia.
Sesaat kemudian aku sudah tiba di pintu gerbang sekolah Pelangi, disitu aku melihat Pelangi baru saja keluar dari keluar dan berjalan menghampiriku yang menantinya di halaman. Dia tersenyum manis kepada ku, aku membalasnya dan mengulurkan tangan untuk menyambutnya dalam pelukan.
Nia, aku sudah lebih dulu berada di posisimu yang telah lama menanti kehadiran buah hati. Tapi lihatlah, Tuhan selalu berlaku adil dan maha pendengar. Ku harap kau pun begitu nantinya.
Aku bergumam dalam hati setelah Pelangi berada dalam pelukan ku. Memeluknya selalu merasa tenang dan damai.
"Bagaimana di kelas hari ini sayang?" Tanya ku pada nya. Sembari merapikan poni rambutnya yang acak-acakan.
"Males ma, gak seru."
"Oh ya? Kenapa begitu?" Tanya ku heran.
"Enggak ada Lucky, Ma."
"Hemm.. Semoga besok dia sudah kembali ke sekekolah ya Nak."
"Kenapa sih Ma? kita gak ketemu Lucky aja?"
"Sayang, Lucky kan sedang sakit. Jadi dia harus di jaga ketat, agar lekas sembuh."
"Pelangi kan dokter ma,"
"Tapi nak, disana juga banyak polisi." Jawab ku berbisik sembari mataku melirik kanan dan ke kiri.
"Kalau gitu Pelangi mau jadi polisi aja. Biar bisa ketemu Lucky," Jawabnya dengan berbisik pula.
"Hahaha... Sudah, ayo kita pulang dulu. Mama punya kejutan untuk mu Nak, kau pasti menyukainya."
"Eeeh, dengarkan mama. Kau ini anak perempuan, dan perempuan itu harus feminin, anggun, dan berkelas. Bukan malah main bola, bola basket itu juga permainan yang seharusnya laki-laki mainkan."
"Tapi Pelangi juga suka Ma,"
"Gak bo-leh. Paham,"
"Iya deh, ma. Tidak lagi,"
"Bagus, ayo masuk mobil. Kejutan mu sudah pasti tidak sabar menunggu mu." Jawab ny yang dengan tegas kemudian menyuruhnya memasuki mobil. Lalu aku melajukan mobil dengan perlahan menuju rumah kembali.
Tiba dirumah Pelangi langsung berlari ke dalam rumah setelah keluar dari mobil. Aku menyusulnya dengan cepat kemudian aku mendengar seruan Pelangi yang begitu antusias.
"Kyaaaaaaaaaaaaaa... Bonekaaaaa..."
Teriaknya dengan menepuk-nepuk kedua pipinya. Membuat kak Rendy dan kak Shishi berebutan untuk memeluk dan menciumi Pelangi. Aku tertawa cekikikan melihat tingkah Pelangi yang seketika mematung setelah di peluk dan diciumi oleh mereka.
Hingga malam tiba, Irgy begitu senang menyambut kedatangan kak Rendy dan istrinya. Serta memaksa mereka untuk bermalam satu kali ini saja, setelah melalui banyak drama dengan anak mereka yang sengaja ditinggal bersama kedua orang tua kak Rendy, akhirnya mereka menerima tawaran kami untuk bermalam dirumah kami.
Kak Rendy bersama Irgy sudah sibuk beradu sebuah permainan yang entah apa saja mereka lakukan sejak tadi, begitu ribut dan terdengan canda tawa yang begitu lepas. Sementara Pelangi sudah beranjak tidur dengan para teman barunya, dua boneka hadiah hari ini. Dia begitu senang dan bahagia hingga tidak ingin di ganggu oleh siapapun.
Ku lihat kak Shishi duduk ujung tepi kolam sedang memainkan ponselnya, aku menghampiri setelah mengecek kembali ke kamar Pelangi.
"Kak Shishi.." Panggilku dengan menambahkan beberapa cemilan kue kering dan potongan buah-buahan.
"Hemm, kita tidak jauh berbeda. Saat kakak hamil dua janin sekaligus, mulut ini tidak bisa berhenti mengunyah."
"Hahaha, aku sampai lelah dibuat oleh mereka kak. Ini menyenangkan ku rasa, hanya saja. Aku sedikit tidak percaya diri akan perubahan tubuhku ini, melebar kesana kemari."
"Itu kelebihan ibu hamil, menggemaskan dengan porsi tubuh yang seperti itu. Apa kau tahu?"
"Hahaha, kakak... Ih, kau hanya menggodaku bukan?"
"Kau lihat saja kakak mu ini, bukan kah kita sama-sama melebar saat ini?"
Lalu kemudian kami tergelak tawa sembari mencicipi beberapa cemilan, dan menyeruput jus jeruk hangat yang sengaja di siapkan untuk menemani kami malam ini.
"Fanny," Panggil kak Shihsi kemudian.
"Ya kak? Hem.." Jawab ku spontan menolehnya, tatapan nya begitu sayu mengarah padaku.
"Berdoalah juga untuk kebahagiaan brother Kevin, dia sudah cukup menderita selama ini Fanny."
Aku tahu itu kak Shishi...
"E,eh, ah... Tentu kak, akupun ingin dia hidup bahagia bersama Nia."
"Kau tahu, tadinya dia sudah sempat ingin menyerah. Sebab Nia berkali-kali selalu ingin mengakhiri hidupnya karena merasa tidak pantas lagi mendampinginya. Dia sudah lelah meyakinkan semuanya, tapi dia sungguh laki-laki tersabar. Aku salut, aku ingin punyai hati sepertinya."
Aku pun merasa dia memang laki-laki yang seperti itu, tapi itu dulu. Saat ini, dia milik Nia. Dia harus bahagia dengan Nia.
"Fanny..."
"Hemm... Upz, maaf kak. Hehe, aku jadi melamun." Jawab ku gagap.
"Ah, kau ini. Tapi kakak masih menyayangkan sekali kalian tidak berjodoh, andai saja.. Aku akan lebih merasa tenang dan bangga jika Dia bisa bersatu dengan mu. Tapi melihatmu sudah begitu bahagia dengan keluarga kecil mu, aku ikut bahagia. Semoga setelah ini, kebahagiaan juga akan menyusulnya."
"Walau begitu, kita tetap bisa menjadi keluarga besar. Aku dan Kevin tetap bisa menjadi saudara layaknya aku dan kak Rendy bukan?"
"Kalian memang sama-sama memiliki hati yang besar. Semoga kebahagiaan selalu menyertai kalian selamanya."
Aku tersenyum hangat menanggapi nya kemudian, Kevin memang baik. Sangat baik, terkadang darinya aku selalu belajar untuk bisa memiliki hati yang luas. Seluas samudera, kedewasaan yang tak semua orang mampu menjalaninya, namun.. Aku selalu gagal, hingga kini walau kami sudah tak lagi menjadi sepasang kekasih namun kami tetap bisa saling menjalin tali persaudaraan, saling membagi perhatian dan peduli satu sama lain. Atau mungkin, kita selalu diam-diam saling menyebut nama dalam doa di hati masing-masing.