
Jeni semakin hari semakin tidak tenang dan merasa kesal melihat keakraban dan kedekatan Joe dengan Pelangi. Hari ini, dengan bermodalkan nekat Jeni ingin mengutarakan perasaan nya lebih dulu kepada Joe, seorang cowok yang membuatnya telah jatuh cinta untuk yang pertama kalinya.
"Joe, pulang sekolah nanti ada yang mau aku bicarakan."
Joe mengernyit mendengar Jeni berkata dengan nada serius serta merta setengah berbisik saat mereka berpapasan di kantin.
"Hem, berdua saja. Ini sangat penting, Joe." Ucap Jeni lagi.
"Oh, baiklah. Pulang sekolah, ok." Jawab Joe tanpa ragu.
Tiba waktu pulang sekolah, Lisa dan Lucas segera mengajak Jeni keluar kelas lebih dulu untuk segera pulang.
"Ayo, Jen." Ajak Lisa.
"Ehm, Sa. Elu duluan aja deh, aku ada urusan lain sebentar. Nanti ku susul," Ucap Jeni berpura-pura.
"Langi, tunggu aku di mobil ya. Aku lupa, ada buku yang harus ku pinjam di perpus."
"Kebiasaan lu, Joe. Jangan lama-lama, aku juga harus mampir ke minimarket nanti."
"Iya sayang, nanti ku antar."
Pelangi hanya diam mengabaikan ucapan dan kata panggilan sayang yang mulai biasa diucapkan oleh Joe padanya setiap hari. Pelangi merasa panggilan sayang itu hanyalah sebatas rasa sayang antara sahabat atau kakak beradik.
"Ayo, Lisa.. Lucas, kita keluar. Ehm, Jen. Kita tinggu diluar ya," Pelangi mengajak kedua sahabatnya saja dan melambaikan tangan pada Jeni tanpa sedikitpun bertanya serta curiga akan sikap Joe dan Jeni.
Di tengah langkah mereka, Lisa mulai timbul perasaan gelisah dan curiga. Ia tidak bisa menahan diri untuk tidak melontarkan apa yang kini dipikirkannya.
"Princess Cold, ehm... Aku, aku ada sesuatu yang ingin disampaikan."
"Kenapa, Sa?" Tanya Pelangi santai sembari terus melangkah.
Lisa menoleh ke arah Lucas dan Pelangi dengan tatapan ragu.
"Apaan sih, Sa. Iih, biasa deh. Sok serius ah," Lucas mulai protes.
"Kalian ngerasa aneh enggak sih, sikap Jeni akhir-akhir ini. Khususnya barusan, dan Joe juga...ehm,"
"Aneh apanya. Sa? Kau hanya terlalu banyak berpikir."
"Iya nih, Lisa. Apaan sih, mikirnya. Enggak mungkin ah, mereka janjian di belakang kita. Jeens selalu jujur, lagi pula Joe sudah menjadi milikku." Ucap Lucas dengan mengibaskan jemarinya.
"Jangan bercanda deh, aku serius.." Bantah Lisa. Membuat Langkah Pelangi terhenti dan menolehnya saat mereka sudah tiba di halaman sekolah.
"Lisa, aku sudah tahu semuanya. Jadi biarkan saja semua, Sa. Jangan memperumit keadaan dalam persahabatan kita, hemm.."
Lisa terhentak mendengar ucapan sahabatnya demikian, yang selama ini diam-diam memahami jika Jeni menaruh hati yang begitu dalam pada Joe yang saat ini sangat dekat dan akrab dengannya.
"Hah..."
Tampak Lisa menghembuskan nafasnya setelah ia menariknya begitu dalam.
"Princess Cold, sebagai sahabat mu. Aku ingin bertanya sesuatu, tolong jawab dengan jujur."
"Hem, apaan lagi Sa?" Tanya Pelangi dengan menatap Lisa lebih serius.
"Kamu yakin baik-baik saja?"
"Maksud mu, Sa?"
"Kamu enggak cemburu nih, jika nantinya Joe akan menerima cinta Jeni?"
Pelangi dan Jeni mengabaikan seruan Lucas yang merengek manja karena terkejut akan hal ini, dia tidak habis pikir. Lucas mendecak kesal karena merasa hanya dia yang tidak menyadari hal ini.
"Hahaha, Lisa. Pertanyaan apa itu, Sa?" Pelangi terbahak-bahak mendengar pertanyaan Lisa.
"Pelangi, pliss jangan menganggap ini lelucon. Apa kau tidak cemburu nantinya?"
"Aduh, Sa. Aku dan Joe selama ini memang dekat dan akrab. tapi kita hanya sebatas kakak beradik sejak kecil kami sudah..."
"Itu dulu, Princess cold. Perasaan kalian belum memahami apapun kecuali keinginan untuk bermain bersama. Lain hati dengan sekarang bukan?"
"Eh, ah, ehm.. Sa, kita ini beneran hanya sebatas kakak beradik."
"Tapi kamu nyaman kan, dekat dengan nya?"
"Siapapun yang dekat dengan Joe, akan merasakan hal yang sama, Lisa."
"Tidak, Pelangi. Yang ku lihat dari kalian, adalah kenyamanan yang berbeda. Bahkan kau kini berubah semenjak kehadiran Joe di sisi mu, selama ini kau memiliki kami. Dan kau banyak di kejar-kejar oleh banyak cowok di sekolah kita ini, mereka semua tampan. Tapi hanya Joe bukan yang bisa merubah mu, membuatmu selalu ceria dan tertawa lepas."
"Sa, itu karena kita sudah saling dekat sejak kecil."
"Pelangi, pliss.. Tanya hati kecil mu, Joe menyukaimu lebih dari sekedar sahabat atau kakak beradik yang kau anggap selama ini."
"Hahaha, Lisa. Astaga. wajar kan jika dia menyukai gadis cantil sepertiku, hihi." Pelangi kembali terkekeh-kekeh menggoda Lisa yang sejak tadi terus mendettenya.
"Lisa, hikzt.. Aku sedih, Joe milikku. Hanya milikku," Kembali Lucas menyela perbincangan.
"Dear, bisa diam sebentar kan? Atau gue cabutin lagi tu bulu hidung lu."
"Aw, Baik. Aku akan diam," Lucas menutupi hidungnya dengan kedua tangannya. Membuat Pelangi semakin tertawa melihat kekocakan para sahabatnya itu.
"Tanyakan pada hati kecilmu, Princess cold."
"Hahaha, tanya apaan lagi Sa? Udah deh, ah. Sejak kapan kau seolah seperti peramal percintaan, hahaha kebanyakan nonton drakor lu."
"Pelangi, aku serius. Ih, Joe menyukaimu sebagai wanita. Dia jatuh cinta pada mu, kau paham?"
Pelangi terkejut mendengar Lisa berkata demikian dengan intonasi nada yang sedikit tinggi. Selama ini dia tidak pernah berpikir demikian akan kedekatan dan keakrabannya dengan Joe. Selama ini dia terlalu merasa nyaman dan enjoy ketika bersama Joe, bahkan apapun yang Joe katakan untuk menggodanya dia anggap angin berlalu.
"Sa, aku..."
"Plis, aku melihat cinta yang begitu dalam dari kedua mata Joe setiap kali menatapmu. Pelangi, dia sangat baik dan perhatian, dia juga pintar, dia lebih mengenalmu bahkan dari pada kami para sahabatmu. Aku bahagia, karena semenjak Joe hadir di tengah kita kau berubah lebuh ceria dan terbuka pada kami. Kau mau pergi ketempat keramaian, kau mau tertawa lepas, dan kau kadang menggila untuk menghibur kami kala sedih."
Pelangi terpaku menatap wajah Lisa tanpa berkata sesuatu pun. Ia mulai menyadari akan semua ucapan Lisa yang tidak sempat ia sadari selama ini. Dia hanya berpikir jika Joe selalu berbuat hal apapun demi kebahagiaan Pelangi adalah wujud dari rasa pedulinya sesama sahabat atau wujud kasih sayang sebagai kakak beradik seperti masa kecil mereka dulu.
"Cobalah untuk memikirkannya, Pelangi. Ku pikir hanya Joe yang berhak memiliki mu, dan kau jadikan orang special di hatimu."
"Tapi, Sa. Aku..."
"Pliss, sudah saatnya kau merasakan indahnya berpacaran di usia remaja kita ini."
"Dih, apaan sih.. Kau saja masih enggan berpacaran,"
"Itu karena cowok yang ku incar belum juga mengutarakan perasaannya padaku, huh."
"Aah, sungguh begitu?" Atau, kau hanya tidak ingin menyakiti Lucas?" Pelangi mencoba menggoda Lisa, untuk menutupi perasaannya yang kini mulai gelisah untuk membenarkan apa yang sejak tadi dia dengar dari Lisa, itu membuatnya gusar sesaat.
Lalu Lucas dan Lisa saling menatap satu sama lain, kemudian mereka saling berteriak dan mengatakan 'TI-DAAAKKK'. Pelangi semakin terkekeh-kekeh mendengar teriakan mereka dan saling menjauhi dengan rasa jijik.