
Pelangi duduk santai dengan ketiga sahabatnya, sembari menunggu Joe masuk kembali dengan membawa kejutan yang akan dia ucapkan tadi.
Pelangi melirik jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya, kedua kakinya mulai menari-nari berdecak di atas lantai, gelisah menunggu Joe yang tak kunjung datang.
"Hah, lama sekali. Aku sudah sangat mengantuk, hoaaem..." Lisa mulai menguap dan menyandarkan kepalanya di bahu Jeni.
Ceklek!!!
Suara pintu terbuka.
"Ttarraaa!!!"
Joe masuk ke ruangan dengan membawa sebuah sebuah kue tart ukuran kecil, kue itu berbentuk bulat dengan hiasan warna Pelangi. Sontak membuat semua terheran-heran.
"Kyaaaaa... Kue nya sangat cantik." Lucas menyeru dengan memegangi kedua pipinya.
"Apakah ada yang ulang tahun malam ini?" Tanya Lisa dengan mengucek kedua matanya.
"Memangnya ku tart ada hanya untuk yang berulang tahun?"Tanya Joe kembali sembari meletakkan kue di atas meja dengan pelan dan hati-hati, lalu menyalakan semua lilin di atasnya.
"Ayo, kita tiup. Dengan harapan kita akan berjuang bersama dan sukses di masa depan." Ujar Joe mengajak yang lain.
"Oke, mari kita tiup lilin nya. Yeay..." Lucas dengan riang bertepuk tangan hendak meniup nya. Lalu mereka bersamaan meniup lilin dengan senyuman penuh harap dalam hati kelak mereka akan saling mendukung dan sukses bersama.
"Fuhh..."
"Yeaaay... Huhu," Lagi-lagi Lucas yang paling ceria menyeru.
Kemudian Joe memotong kue itu dengan segera, namun seakan dibuat perlahan untuk mengulur waktu. Sesaat kemudian datang seorang pelayan membawa beberapa gelas minuman.
"Wow. Pangeran ku, apa kau sungguh menyiapkan ini semua untuk kami?" Tanya Lucas dengan terperangah.
"Silahkan dinikmati untuk mas dan mbak-mbak disini. Ini adalah minuman menu terbaru di kafe kami, paling banyak diminati karena rasanya unik, meski di bandrol dengan harga termahal."
"Wow, thank you... Mas ganteng." Ujar Lisa mulai genit.
Pelangi tersenyum tanpa ragu dan curiga dia langsung menyeruput minuman itu di susul oleh ketiga sahabatnya. Karena perpaduan warna nya yang begitu manis membuat mereka tergiur untuk segera meneguknya.
"Eh, Joe? Kau hanya memesan untuk kami saja?"
"Ini khusus untuk kalian." Jawabnya singkat.
"Joe, ehm.. Terimakasih." Ujar Pelangi dengan menujuk segelas minuman soft drink yang dia tegak barusan.
"Cih, apaan sih. Ucapan terimakasih itu simpan saja dulu, hehe." Jawabnya dengan senyum nyengir.
Huh, kenapa lama sekali reaksinya? Bukan kah mereka bilang hanya beberapa detik saja. Dosisnya bahkan sudah ku tambahkan untuk Pelangi dan Lisa. Aku harus menahan dengan cara apa lagi?
Bathin Joe.
"Hem, ayo. Kita pulang saja, ini sudah larut bukan?" Ujar Pelangi berdiri.
"Oke, kita pulang sekarang. Ehm, Joe. Terimakasih semuanya." Jeni beranjak berdiri di susul oleh Lisa yang terlihat sudah sangat lemas dan terus menguap.
"Sa, ih... Kebiasaan, dasar lu ya. Nantangin sih, begadang." Ujar Jeni menyenggol Lisa hingga hampir terjatuh karena begitu lemah.
"Ya ampun, iih.. Lisa, apaan sih. Jika sudah mengantuk kenapa masih memaksa tetap disini, iih." Lucas pun mulai protes karena Lisa terhuyung ke sisi bahu nya.
"Aduuuh. Maaf, aku ngantuk banget. Ayo pulang, Jeeen. Elu yang nyetir ya."
Jeni hanya menghela nafas dengan menggelengkan kepalanya. Sementara Pelangi mulai gelisah merasakan hal yang bergemuruh dalam dirinya, tapi masih berusaha dia tahan meski sedikit mual.
"Ehm, kalian hati-hati. Dan terimakasih semuanya, untuk Lucas... Tempat ini sangat rekomended." Ujar Joe bersikap ramah kembali. Lucas mengedipkan matanya dengan mengacungkan jari jempol pada Joe.
"Yuk..." Ajak Pelangi kemudian sembari merogoh kunci mobilnya dan melihat sekeliling ruangan.
"Langi, ada apa?"
"Eh, kunci mobilku. Aduh, dimana sih? Aku lupa menaruhnya."
"Elu naruh dimana?" Tanya Jeni. Sedang Lisa sudah tidak lagi fokus dengan keadaan di ruangan.
"Aaah. Sial, kenapa aku jadi pelupa begini. Aku akan mencarinya di toilet, barangkali aku membawa dan melupakannya disana."
Pelangi beranjak keluar tanpa menunggu jawaban dari semua sahabatnya. Mereka ikut mencari meski Lisa sesekali terhuyung lemas.
"Eh, kalian. Kalian keluarlah lebih dulu, aku akan menyusul nantinya. Eh Lucas, tolong bawakan tas ku keluar ya." Ujar Pelangi setelah ia kembali masuk hanya setengah badan saja di balik pintu. Lalu beranjak pergi dengan setengah berlari.
"Aaakh, Sejak kapan Princess cold kita ceroboh begini. Aku sudah sangat mual menahan ngantuk ini. Jeeen, ayo kita tunggu diluar saja. Aku ingin tidur sebentar di dalam mobil sampai Pelangi datang." Ajak Lisa dengan memijit-mijit ujung kening kepalanya.
"Eh, dasar lu ya. Mana mungkin kita meninggalkan Princess gold sendirian?" Bantah Jeni.
"Astaga. Dia sudah menyuruh kita menunggunya diluar. Aku sangat mengantuuuuk," Jeni merobohkan tubuhnya di bahu Jeni.
"Eeeeh, Lucas bantuin gue." Jeni hampir terjatuh lalu menarik baju Lucas. Dengan sigap Joe menahan tubuh Jeni untuk tidak terjatuh beruntun karena tertindih Lisa dan Lucas.
"Kalian keluar saja, aku akan membantu Pelangi. Tunggu kami di mobil, kasian Lisa. Sepertinya dia sangat mengantuk sampai begitu pucat." Titah Joe dengan berpura-pura panik.
"Hah, menyebalkan. Dia sungguh berat, apakah dia banyak makan belakangan ini?" Jeni mengomel sembari memapah Lisa yang sejak tadi mendecak sebal karena sangat ingin mengantuk.
"Aduuh, bukan kah ini memang penyakit lama Lisa yang mudah sekali tidur?" Lucas pun mengomel hingga manyun.
Lalu mereka keluar dari ruangan. Lisa sudah berkali-kali meneriaki mereka karena sangat berisik, hingga melupakan tas mini Pelangi begitu saja.
"Huh... Maafkan aku, maafkan aku. Aku harap kalian tidak akan membenciku setelah ini." Ujar Joe dengan mengelus bagian dadanya berkali-kali.