Because, I Love You

Because, I Love You
#106



Kirana berjalan dengan langkah cepat keluar dari Club.


Rossa dan Yolanda yang mencarinya melihat bayangan Kirana yang berjalan cepat dengan wajah sedih kearah keluar. "Eh itu Kirana!" Seru Rossa sambil menepuk lengan Yolanda yang sedang melihat kearah meja bartender dan melihat Rendy yang baru saja bicara dengan seorang wanita sexy lalu pergi meninggalkannya.


"Iya aku juga lihat." Ucap Yolanda sambil menoleh menatap kearah perginya Kirana.


"Ayo kita kejar dia, Yol!"


"Eh tunggu, Ros! Itu Pak Rendy kaya nya lagi ngejar Kirana deh. Kita nggak usah ikut ngejar deh ya." Yolanda menarik tangan Rossa yang hendak melangkah.


"Tapi, Yol....


"Udahlah, Ros! Biarin aja mereka nyelesein masalah mereka dulu. Kita duduk-duduk dulu aja disini. Siapa tau nemu jodoh disini..hehe." Ucap Yolanda berusaha mengalihkan Rossa yang ingin menyusul Kirana.


Rossa mendengus terpaksa ikut duduk bersama Yolanda dan memesan minuman.


...


"Ki tunggu!" Seru Rendy dengan langkah lebar lalu meraih tangan Kirana dan menariknya lalu mengajaknya masuk kedalam lift.


"Lepas!" Kirana langsung menghempaskan tangan Rendy. "Ngapain kamu ngikutin aku? Aku mau balik kekamar, nggak bakal kabur kok, tenang aja." Imbuh Kirana dengan wajah yang memerah karena menahan kemarahannya terhadap Rendy.


"Kamu ini kenapa sih? Cemburu?" Tanya Rendy yang membuat Kirana semakin tersulut emosi.


"Kamu pikir aja sendiri! Kalau aku yang ketemuan sama cowok lain dan genit-genit meluk-meluk lengan cowok lain, gimana perasaan kamu?" Tanya Kirana dengan penuh emosi. "Itu juga kalau kamu bener-bener punya perasaan ke aku." Imbuhnya dengan pelan sambil memalingkan wajahnya kearah lain.


"Astaga sayang! Jadi kamu cemburu?" Rendy malah terkekeh geli sedangkan Kirana masih dilanda rasa kecewa dan sakit hati karena Rendy masih belum menyadari kesalahannya yang sudah berbohong kepadanya.


Rendy merangkul Kirana ketika pintu lift terbuka. Dia mengajak Kirana masuk kedalam penthousenya untuk bicara karena tidak ingin ada orang lain yang melihat atau mendengarnya.


"Mas, aku tuh capek ngantuk, mau tidur! Ngapain kamu maksa banget sih ngajak aku kesini?" Gerutu Kirana sambil menyingkirkan tangan Rendy yang merangkulnya.


"Ya udah, tidur aja disini. Terserah, kamu mau tidur dikamar mana." Ucap Rendy sambil melepas jaketnya dan melemparnya kesofa lalu berbalik menatap Kirana yang terdiam juga sedang menatapnya.


Rendy melangkah mendekat, sedikit membungkuk lalu mencolek hidung Kirana. "Masih mikirin yang tadi?"


Kirana mendengus kesal. "Kamu sama sekali nggak ada niat buat jelasin ke aku Mas?"


Rendy menegakkan tubuhnya lagi. "Bukannya aku udah jelasin ke kamu tadi? Kamu nggak percaya?" Tanya Rendy.


Kirana mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Sepertinya aku ragu lagi sama kamu."


Rendy mengernyit merasa tidak mengerti dengan sikap Kirana. Dia sudah menjelaskan kepada Kirana, tapi Kirana tidak percaya kepadanya. "Ki, udah ya. Aku nggak mau ribut lagi sama kamu. Terserah kamu mau percaya atau enggak."


"Kamu sendiri udah bohong sama aku, Mas. Kamu bilang kamu lagi sibuk ngurusin kerjaan. Tapi ternyata ketemuan sama cewek lain. Gimana aku mau percaya sama kamu?! Kalau kamu memang lebih suka sama Lena, kenapa kamu maksa aku buat mau jadi pacar kamu? Kenapa nggak sama Lena aja? Kamu seolah nggak pernah mau tau gimana perasaan aku, Mas." Ucap Kirana dengan keras karena tidak bisa lagi menahan emosinya lalu semakin pelan dikalimat terakhirnya dan suaranya terdengar bergetar menahan tangis.


Rendy masih diam mendengarkan sambil menatap lekat Kirana membiarkannya mengeluarkan semua apa yang ingin dikatakan kepadanya.


Kirana menundukan sedikit wajahnya berusaha mengontrol emosinya.


"Udah selesai ngomongnya?" Tanya Rendy sambil meraih dagunya untuk menatapnya lagi.


Rendy dapat melihat kesedihan pada wajah kekasihnya ini. Mata Kirana terlihat merah dan terdapat cairan bening dipelupuk matanya. Dia tau kalau Kirana sedang menahan tangisnya.


Baik apanya? Cewek baik-baik nggak mungkin ngajak ketemuan cowok orang dengan berpakaian minim bahan!


Gumam Kirana dalam hati penuh emosi.


"Terserah kamu Mas. Aku mau balik kekamar dulu." Ucap Kirana kemudian beranjak pergi.


Rendy hanya terdiam membiarkan Kirana pergi. Bukannya dia tidak peduli, tapi dia tidak ingin melanjutkan pembicaraannya dengan Kirana yang pastinya akan berujung pertengkaran. Membiarkan Kirana menenangkan hatinya dulu untuk sejenak.


Rendy menghela nafasnya panjang setelah Kirana benar-benar keluar dari penthousenya. "Kenapa dia nggak bisa percaya sama aku?"


...


Keesokan paginya.


Rencana untuk menghabiskan waktu bersama Rendy dihari terakhir liburan ini batal. Sejak malam kemarin, Kirana tidak ingin melihat Rendy. Pesan dan panggilan telepon dari Rendy pun tidak dihiraukannya.


Kirana memutuskan untuk ikut rombongan teman-teman sekantornya pergi ke pantai dihari terakhir liburannya saat ini.


"Ki, serius kamu batalin acara kamu sama Pak Rendy? Kamu nggak nyesel?" Tanya Rossa saat perjalanan menuju pantai.


"Nyesel apanya sih Ros? Ya enggak lah. Ngapain juga nyesel?" Jawab Kirana diselingi tawanya seolah tidak pernah terjadi apa-apa.


"Ya kali aja si cewek gatel itu nyamperin Pak Rendy dan ngajakin jalan tanpa sepengetahuan kamu." Ucap Rossa kembali seketika membuat Kirana terdiam. Senyum diwajahnya pun menghilang.


Kirana jadi teringat saat Rendy menjemput Lena dan mengajaknya ke Hotel. Meskipun sampai saat ini dia belum tau apa yang mereka lakukan di Hotel saat itu. Pikiran Kirana pun traveling dan mengarah ke hal hal diluar batasnya.


Nggak! Nggak mungkin! Mas Rendy nggak mungkin ngelakuin itu!


Batin Kirana sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat seolah mengusir pikiran kotornya tentang Rendy.


"Ki. Tuh kan! Pasti kamu kepikiran Pak Rendy dan cewek itu?" Seru Rossa sambil menepuk lengan Kirana membuat Kirana tersadar dari lamunannya.


"Hah? Eng..gak kok Ros. Kamu tuh ya, jangan bikin aku makin galau deh! Aku percaya sama Mas Rendy kok." Ucap Kirana lalu menghela nafasnya yang terasa berat.


Di penthouse milik Rendy, laki-laki tampan ini lebih memilih untuk mengecek pekerjaannya dan menyibukkan dirinya didalam sana.


Berkali-kali dia mencoba menelpon Kirana, tapi kekasihnya ini sepertinya memang masih merajuk dan tidak menjawab panggilan telepon darinya. Pesannya pun tidak ada yang dibalas. Hanya dibaca saja.


Rendy menghela nafasnya panjang lalu kembali fokus pada pekerjaannya seolah tak kenal waktu hingga jam makan siang tiba.


Dia kembali mencoba menelpon Kirana. Akhirnya Kirana menjawab telepon darinya.


"Ki, kamu dimana sekarang?"


"Pak Rendy, Kirana Pak! Dia..dia kecelakaan!"


Seketika Rendy terpaku, terdiam sesaat dan entah mengapa pikirannya langsung kacau mendengar kabar ini.


Tidak berpikir panjang, dia meminta lokasi keberadaan Kirana dan segera beranjak pergi menyusulnya.


................