Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 311



Lucky tak dapat melontarkan kata-kata lagi, doa menjadi kembali menjadi pendiam seketika. Belum lagi diluar sedang turun hujan, suasana semakin terasa membuatnya seakan di bawa lari menuju kenangan di masa kecilnya dengan Pelangi. Kini, gadis yang membuatnya selama ini hampir saja kehabisan nafas menahan sakit dan rindu yang dia pendam bertahun-tahun lama nya, sudah di depan mata. Tapi mengingat kembali adanya Exelle dan Lisa, bagaimana dia harus mengatakan semuanya begitu saja dengan mudah?


"Aaah, diluar sedang hujan. Wah, sepertinya langit sedang mengerti suasana hati kita saat ini." Ucap Lisa dengan mengedipkan kedua matanya menatap nakal Lucky.


"Ayo kita pulang!" tiba-tiba saja Lucky mengajaknya pulang, padahal mereka sampai di restoran baru 1 jam. Bagi Lisa itu bukan waktu yang lama, bisa saja dia menghitungnya hanya 10 menit. Tapi bagi Lucky, tujuannya sudah tercapai selebihnya dia tidak lagi peduli.


"Tapi, di luar masih hujan." Bantah Lisa menolak untuk pulang, sementara Lucky sudah berdiri lebih dulu.


"Maaf, maafkan aku Lisa. Tapi aku lupa jika masih ada urusan yang penting malam ini, aku ada payung di mobil. Aku akan mengambilkannya untuk mu agar tidak basah kuyup menuju mobilku." Jawab Lucky dengan tegas.


Yang di pikirkan oleh Lisa adalah, mereka bisa menikmati hujan sejenak berjalan beriringan dalam satu payung berdua. Akan sangat romantis tentunya.


"Baiklah, aku akan menunggumu di luar. Ambilkan payungnya untuk ku." Titah Lisa kemudian dengan senyuman menggoda.


Lalu Lucky beranjak pergi dengan langkah cepat, dia berlarian menuju mobilnya untuk meraih payung. Kebetulan dia memang selalu menyediakan payung di dalam mobilnya lebih dari satu. Jadi dia bisa menggunakannya kapan saja saat di butuhkan.


Saat sudah kembali menghampiri Lisa, betapa terkejutnya Lisa yang kemudian wajahnya di tekuk berapa lipatan. Dalam hatinya mengumpat pelan, dia pikir bahwa Lucky hanya akan membawa satu payung untuknya berdua dalam satu payung.


"Ayo," ajak Lucky tanpa aba-aba lagi menuju mobilnya yang di parkir tak jauh dari depan restoran tersebut.


Saat sudah dalam perjalanan pulang. Lisa berulang kali melirik wajah Lucky yang terdiam tanpa kata, tatapannya kosong namun dia seperti sedang tergesa-gesa. Laju mobilnya begitu cepat dia kendalikan.


Hem, apakah aku salah bicara tadi? Mengapa dia mendadak cuek dan dingin kembali padaku?


Bathin Lisa bergumam.


"Hei. Cowok cuek, apakah aku membuatmu kesal tadi? mengapa kau diam saja? Kau berubah dingin lagi." Ujar Lisa memulai bicaranya.


"Ehm, tidak. Maafkan aku jika membuatnya merasa tidak nyaman, aku hanya sedikit terburu-buru." Jawab Lucky dengan lembut.


"Oh, syukurlah. Ku pikir kau marah padaku, jadi mulai sekarang kita bisa lebih dekat bukan?"


"Maafkan aku, Lisa. Aku belum terbiasa berteman dekat dengan wanita, karena aku..." Lucky menghentikan nada bicaranya.


"Aku apa?"


"Ehm, maafkan aku. Lupakan saja, kita bisa berteman seperti biasanya saja."


Gila, maksudnya dia menolak untuk dekat dengan ku lebih dari ini? Begitu? Aaarght... Menyebalkan, apa kau menantang ku?


"Sa, kau tidak marah bukan?" Tanya Lucky menghentakkan Lisa yang menggerutu dalam hatinya.


"Ah, eh, oh... Tidak. Aku tidak marah, haha mana mungkin aku marah pada laki-laki yang tampan dan baik sepertimu, emh.. Tapi, lain waktu kita masih bisa kan jalan berdua." Lisa memaksakan diri untuk tetap demikian. Untuk tidak menyinggung perasaan Lisa, Lucky hanya tersenyum manis menanggapinya.


Tak lama kemudian mereka tiba di apartemen, hujan masih saja belum mereda. Dengan sigap Lucky keluar dari mobil dengan membawa payung untuk mengantar Lisa sampai di depan pintu apartemen.


"Ehm, Lucky. Makasih ya, sudah mengajakku makan malam dan kita mengobrol banyak hal. Aku seneng banget deh," Ujar Lisa setelah sampai di depan apartemen tepatnya di lantai bawah.


"Iya, Sa. Sama-sama, eeeh... Ya sudah kamu masuk, gih." Jawab Lucky dengan senyuman. Senyuman itu membuat Lisa semakin gemas dalam hatinya karena merasa terpesona dan tergoda oleh lelaki yang dahulu dia kenal sangat cuek. Namun kali ini dia mudah melempar senyumannya.


"Eh, gak ikut sampai masuk ke dalam nih. Princess cold pasti belum tidur, kita bisa mengobrol bersama."


Lucky kembali merasakan gemuruh dalam hatinya ketika mendengar nama Pelangi. Iya masih berusaha menahan ini semua, karena dia tidak tahu harus berbuat apa setelah ini mengingat jika Exelle, saudaranya. Jatuh cinta bahkan sangat mencintai Pelangi, wanita yang juga sangat Lucky nanti selama ini.


"Ehm, lain kali saja. Cepat masuklah, nanti kau kedinginan." Jawab Lucky menolak halus, dalam hati dia hanya menahan diri saja. Sebenarnya dia sudah tidak sabar, meski hanya sekedar bertatap mata saja. Sedangkan dalam hati Lisa kembali berteriak kegirangan karena mendengar ucapan Lucky yang dia pikir itu adalah wujud perhatiannya.


"Hem, baiklah. Aku masuk dulu ya, hati-hati di jalan nanti. Hujan masih deras, bye Lucky."


Lalu kemudian Lisa melangkah pergi berbalik badan, menyembunyikan wajahnya yang tersipu malu. Namun di luar, Lucky masih berdiri menatap air hujan yang terjatuh dengan derasnya. Dia melepas napas panjang, dia menutup kembali payung yang dia genggam sejak tadi. Lalu melangkah di bawah derasnya hujan, dia tengadahkan kepalanya menatap langit malam. Derasnya air hujan yang jatuh kini seakan menari berdecakan di wajahnya. Ada rasa bahagia yang sungguh ingin meluap dari dalam hatinya, air matanya mengalir bersama derasnya hujan. Ya, air mata bahagia bercampur sedih juga sesal yang mendalam.


"Langi, aku sungguh merindukanmu." Ujarnya di tengah derasnya hujan.


Sedang di dalam sana, Lisa dengan tergesa-gesa berlarian menuju pintu apartemen setelah keluar dari ruang lift dahulu.


Saat sudah memasuki ruangan, dilihatnya bibi Yasmin masih menunggunya. Disambutnya Lisa dengan senyuman hangat.


"Sudah pulang, nona? Apakah mau dibuatkan minuman hangat? Diluar sedang hujan kau pasti kedinginan."


"Ah, baiklah." Ujar bibi Yasmin dengan senyuman hangat. Padahal dia ingin menyampaikan keadaan Pelangi yang membuatnya khawatir karena sejak tadi belum keluar kamar. Namun di urungkan niatnya, melihat Lisa yang begitu riang gembira.


Setelah di kamar, Lisa melihat Pelangi duduk termenung di sofa mini menghadap kaca jendela yang sengaja dia buka tirainya. Sepertinya Pelangi sedang menatap hujan diluar sana.


"Princess cold, kyaaaaa... Kau tahu, aku sangat bahagiaaaaaaa."


Mendadak Pelangi terhentak menoleh ke arah pintu kamarnya, dia terkejut karena kedatangan Lisa yang tidak dia sadari memasuki kamar di tambah lagi suara Lisa yang begitu lantang membuyarkan lamunannya sejak tadi.


"Eng..." Pelangi termangu menatap Lisa yang langsung saja memeluknya dengan ekspresi riang gembira.


"Kau membuatku terkejut, Sa. Ada apa? Kau begitu bahagia." Ujar Pelangi dengan terkejut.


"Aku bahagiaaa, aku sangat bahagia. Ehm, sepertinya aku dan Lucky berjodoh deh."


Pelangi mulai merasa sesak kembali, tiba-tiba saja hatinya ingin mengumpat dan menjerit, perasaan apa itu belum dia sadari.


Aku sudah menduganya. Mereka pasti sudah...


"Princess cooold, ih lagi-lagi kau melamun. Dengerin aku dong, eh apa kau tahu? Ehm, kau pasti tidak percaya itu. Lucky, si cuek. Ternyata dia dulu pernah tinggal di indonesia, dan dia pernah sekolah di taman kanak-kanak yang sama sepertimu. Kalian pernah satu sekolah saat kecil dulu, eh tapi... Kenapa kau tidak mengenalnya?"


Degh!!!


Seketika Pelangi membelalakkan kedua matanya. Detak jantungnya serasa terhenti detik ini juga, ada berbagai macam rasa yang tak mampu dia luapkan mendengar hal itu.


Tuhan, benarkah? benarkah itu? Dia... Dia Lucky yang sama. Ah, tidak. Ini tidak mungkin.


"Princess cooold, ih kamu dengar gak sih? Kau pasti terkejut bukan? Hahaha sama, aku juga. Tapi aneh, Lucky juga seperti kebingungan tadi." Ujar Lisa kembari berceloteh dengan menggaruk-garuk keningnya seperti kebingungan.


Aku.. Aku harus memastikannya malam ini. Aku harus menemuinya malam ini juga, aku akan menemuinya.


"Sa, aku... Aku keluar sebentar, Ya." Ucap Pelangi dengan tergesa-gesa meraih ponselnya.


"Eeeh, kau mau kemana? Diluar sedang hujan lebat. Ini sudah malam." Lisa menarik tangan Pelangi dengan cepat untuk menahannya.


"Eh, aku... Aku lagi pengen nyemil, ah tidak aku sedang datang bulan. Aku harus membeli pembalut segera." Jawab Pelangi menepis tangan Lisa dengan buru-buru lalu melangkah keluar kamar.


"Eh Princes cold... Ya ampun, ada apa dengannya. Bukan kah baru seminggu yang lalu dia datang bulan?" Lisa tampak kebingungan namun mengabaikannya karena dia sudah merasa sangat kelelahan.


"Non, mau kemana?" Bibi Yasmin kebingungan hendak menahan Pelangi yang terburu-buru keluar.


"Aku hanya akan keluar sebentar, bi." Jawab Pelangi yang kemudian berlalu menghilang di balik pintu tanpa mendengar ucapan bibi Yasmin lagi.


Dengan langkah tergesa-gesa. Pelangi kemudian mencari-cari nama Lucky di ponsel Pelangi yang seketika dia jadi lupa saat Exelle menyuruhnya untuk menyimpan nomor Lucky. Entah nama apa yang dia berikan di kontak ponselnya.


Setelah menemukannya, dia lalu mencoba untuk melakukan panggilan namun tak juga mendapat respon hingga akhirnya memasuki ruang lift terasa begitu lama. Pelangi sungguh gusar sembari tiada hentinya menangis hingga gemetaran sekujur tubuhnya.


"Lucky, pliss angkat dong. Pliss aku sudah lama menunggu ini semua, apa kau tahu?" Ujar Pelangi sembari berlarian hendak keluar halaman. Tak peduli meski malam ini hujan tengah deras diluar sana.


Langkahnya terhenti saat melihat sosok yang dia nantikan menerima panggilannya sejak tadi, tengah berdiri di bawah derasnya hujan, kondisinya basah kuyup dengan kepala masih mendongak ke atas seolah menatap lantai atas Apartemen yang Pelangi tempati.


Pelangi tersenyum lega di balik tangisannya saat ini, lalu kemudian dia melangkah dengan setengah berlarian hendak menghampiri Lucky yang kemudian menyadari kedatangan Pelangi. Mereka saling menatap satu sama lain sejenak, bibir Lucky pun sudah gemetaran karena dia basah kuyup oleh hujan.


Pelangi masih berdiri di teras apartemen lantai bawah, menatap lekat sosok laki-laki yang dia nantikan, yang dia pikirkan, yang dia rindukan selama bertahun-tahun ini, begitupun Lucky. Rasanya tak mampu lagi dia ungkapkan perasaanya saat ini. Dengan langkah sedikit berat, Pelangi menghampiri Lucky menembus derasnya hujan. Dia tak peduli meski akan basah kuyup juga nantinya.


"Langi..."


Hanya itu kata yang keluar dari mulut Lucky. Dengan isakan tangis yang berat, Pelangi langsung memeluk erat tubuh laki-laki yang kini dengan nyata ada di depan matanya. Bukan lagi dengan khayalan dan mimpi yang selalu datang menganggunya.


"Maafkan aku, yang tidak mengenalmu sejak awal." Bisik Lucky di telinga Pelangi. Suaranya begitu parau, membuat Pelangi semakin memeluknya erat.


"Kau tahu betapa aku sangat lama menunggu hal ini, Lucky. Sejak awal aku sudah mengenalmu, tapi kau membuatku ragu. Kau jahat, kau jahat."


Lucky semakin mempererat pelukannya lagi pada tubuh sintal wanita yang di nantinya selama ini. Tangisan yang meluap di bawah derasnya hujan rasanya masih belum mampu mewakili perasaan mereka malam ini.