Because, I Love You

Because, I Love You
#35



Olivia masih berdiri diam dan terus menatap Rendy. "Aku akan pergi setelah makan siang sama kamu." Ucap Olivia sambil melangkah dan mendekat kearah Rendy lalu berdiri disamping meja Rendy.


Rendy yang sedang membuka dokumen, gerakan tangannya terhenti lalu menatap Olivia. "Makan siang bareng kamu?" Tanya Rendy mengulangi ucapan Olivia dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Hmm. Kamu nggak mau?" Jawab Olivia dengan mengangguk lalu kembali bertanya pada Rendy.


Rendy berpikir sejenak lalu ia tersenyum. "Sorry, siang ini aku udah ada janji makan siang bareng pacar baruku." Ucap Rendy yang seketika membuat Olivia merasa cemburu.


"Ren! Berhenti pura-pura! Aku tau kamu sengaja mau menghindari aku kan? Kamu nggak sungguh-sungguh punya pacar baru kan Ren?!" Ucap Olivia dengan keras penuh emosional menatap Rendy.


Rendy menghela nafasnya lalu bangkit berdiri dengan tersenyum menatap Olivia. "Dengar Oliv! Kamu pikir cuma kamu aja yang bisa dengan mudah berpaling? Aku cuma nggak mau terus merasa kecewa dan sakit hati karena kamu. Jadi apa salahnya kalau aku punya pacar lagi untuk menggantikan posisi kamu dihati aku? Ini membuat aku jadi bisa lebih mudah melupakan kamu."


"Oh, itu artinya kamu masih belum bisa move on dari aku kan? Kamu masin cinta sama aku Ren. Dan perempuan yang kamu bilang pacar barumu itu, kamu sengaja manfaatin dia untuk membalasku kan? Kamu cuma mau bikin aku cemburu?" Tanya Olivia dengan senang karena merasa bahwa Rendy masih mencintainya dan hanya memanfaatkan Kirana untuk membalasnya, membuatnya cemburu saja.


Rendy mendengus dan tersenyum menatap Olivia. "Aku bukan orang yang suka mempermainkan perasaan orang lain Oliv. Apalagi mempermainkan perasaan seorang wanita." Ucap Rendy dengan serius menatap Olivia. "Apa kamu perlu bukti kalau aku sunguh-sungguh punya hubungan dengan perempuan yang pernah kamu temui bersamaku waktu itu?" Lanjut Rendy yang membuat Olivia merasa yakin dengan ucapan Rendy kalau Rendy memang benar-benar telah menjalin hubungan dengan wanita lain dan melupakannya.


Tapi hati dan pikiran Olivia masih mengelak. Ia menolak untuk percaya dan akan tetap mengejar Rendy. "Kalau begitu, siang ini kamu buktiin ke aku kalau kamu dan perempuan itu memang pacaran! Karena aku tetap nggak akan percaya sama omonganmu itu Ren!" Ucap Olivia yang membuat Rendy kembali berfikir.


Sial! Sepertinya, aku harus melibatkan Kirana lagi dalam masalah ini.


Batin Rendy merasa gelisah karena harus melibatkan Kirana yang belum tau tentang permasalahnya dengan Olivia.


"Kenapa kamu diam? Kamu takut kalau ternyata kamu memang sedang bersandiwara untuk membuat aku berhenti ngejar kamu?" Tanya Olivia dengan wajah bangganya.


"Takut? Untuk apa aku takut? Siang ini, aku akan buktiin ke kamu! Dan aku harap setelah ini kamu akan berhenti menemuiku Oliv!" Ucap Rendy dengan tegas menatap Olivia.


"Oke!" Jawab Olivia tanpa ragu.


Rendy kembali duduk dan ia meraih ponselnya dari saku jasnya.


Rendy mengirim pesan kepada Kirana secara pribadi karena ia sangat membutuhkan bantuan dari Kirana kembali.


...


Kirana yang sedang merapikan berkas-berkas dimejanya melirik ke ponselnya yang bergetar disisi mejanya.


Pak Rendy?


Batinnya ketika melihat nama Rendy dilayar ponselnya mengirim pesan kepadanya.


Ia segera membuka dan membaca pesan dari Pak Presdir tampannya ini.


Pak Rendy : [Kirana, siang ini temui aku direstoran Jepang yang dekat dengan Mall pusat kota.]


Kirana mengerutkan keningnya saat membaca pesan dari Rendy.


Ada apa Pak Rendy minta aku untuk menemui dia?


Tanya Kirana dalam hati merasa cemas.


"Kirana, udah selesai? Kita makan yuk?" Tanya Yolanda yang sudah berdiri lalu menghampiri meja Kirana.


"Ayuk ah! Aku udah laper banget nih!" Sambung Rossa yang juga berdiri dan melangkah kemeja Kirana.


Kirana segera mengunci layar ponselnya lalu menatap Yolanda dan Rossa bergantian.


"Maaf ya? Siang ini aku nggak bisa makan siang bareng kalian." Ucap Kirana dengan tidak enak.


"Kenapa emang? Kamu udah janjian sama pacar kamu ya? Hayo ngaku!" Tanya Rossa dengan melotot dan menuding Kirana dengan jari telunjuknya.


"Ya udah nggap apa-apa kali kalau memang Kirana udah ada janji sama pacarnya." Sambung Yolanda dengan terkekeh memberi dukungan pada Kirana.


Ponsel Kirana kembali bergetar lalu berdering. Kali ini ada panggilan masuk dan panggilan tersebut dari Rendy.


Tatapan Rossa dan Yolanda pun mengarah pada ponsel Kirana dan Kirana terlihat panik. Ia menggenggam ponselnya, menutupi layar ponselnya agar Rossa dan Yolanda tidak melihat siapa yang sedang menelponnya saat ini.


"Cieee. Angkat aja Ki. Pasti dari pacar kamu kan? Nggak usah malu gitu sama kita." Ucap Rossa dengan menggoda Kirana.


"Ya udah Ros. Kita ke kantin sekarang yuk. Keburu rame!" Ajak Yolanda dan Rossa pun langsung mengiyakan.


"Ki, kita duluan ya!" Ucap Yolanda dan Kirana mengangguk sambil tersenyum lalu mereka berdua segera pergi menuju kantin untuk makan siang.


Kirana menghela nafasnya lega. Ia melihat ponselnya dan melihat panggilan tak terjawan dari Rendy. Ia merasa cemas karena tidak tau mengapa tiba-tiba Pak Presdir memintanya untuk menemuinya direstoran Jepang? Kalau memang ada masalah dengan pekerjaannya tidak mungkin Rendy memintanya untuk menemuinya di restoran.


Pasti ada masalah lain yang Kirana belum tau.


Ponsel Kirana kembali bergetar dan berdering. Ia melihat layar ponselnya dan terdapat nama Rendy sedang memanggilnya.


Kirana langsung menggeser tombol warna hijau dan menjawab panggilan telepon dari sang Presdir tampannya ini.


"Ha..hallo Pak? Ada apa ya Pak Rendy meminta saya untuk menemui Bapak direstoran Jepang?"


Tanya Kirana dengan pelan sambil melihat sekeliling karena tidak mau sampai ada orang yang mendengarnya.


"Sekarang juga kamu turun ke basement tempat mobil saya terparkir. Saya tunggu!"


"Tapi Pak..."


Belum sempat Kirana menjawab, Rendy sudah langsung menutup panggilan teleponnya.


Mau tidak mau, Kirana terpaksa harus segera turun ke basement parkiran khusus untuk Presdir dengan terburu-buru.


Untung saja tidak ada yang melihatnya saat ia turun menuju basement parkiran khusus untuk Pak Presdir. Ia pun kembali menghela nafas lega saat sudah sampai basement.


Ia melihat mobil mewah milik Rendy lalu segera berjalan kesana. Beni sudah berdiri disamping mobil yang sudah menyala.


"Silahkan masuk mbak Kirana." Ucap Beni dengan sopan sambil membukakan pintu mobil barisan belakang.


"Terimakasih." Ucap Kirana dengan perasaan tidak enak lalu ia membungkuk ingin masuk tapi seketika ia membeku dan sedikit terkejut melihat Rendy yang ternyata sudah duduk didalam mobil.


"Cepat masuk." Ucap Rendy sambil menutup MacBooknya dan menatap Kirana.


Kirana pun masuk dan duduk disamping Rendy. Beni menutup pintunya lalu masuk dibagian kemudi dan segera melajukan mobilnya.


Kirana merasa sangat cemas dan gelisah. Ia meremas tali tanya dan menggigit bibir bawahnya dengan sedikit menundukkan wajahnya.


"Maaf kalau harus melibatkan kamu lagi." Ucap Rendy membuka percakapan diantara mereka.


Seketika Kirana mengangkat wajahnya dan berani menatap Rendy. "Apa maksud Pak Rendy?" Tanya Kirana dengan wajah bingungnya.


"Saya butuh bantuan kamu lagi. Saya juga minta maaf sama kamu. Waktu itu saya belum sempat meminta maaf dan berterimakasih secara langsung sama kamu." Ucap Rendy dan Kirana hanya diam mendengarkan sambil mencerna ucapan Rendy.


"Maaf Pak, sebenarnya saya masih bingung nggak ngerti. Kenapa waktu itu Pak Rendy bilang ke Olivia kalau saya pacar baru Bapak?" Tanya Kirana dengan menatap Rendy.


"Saya harap kamu tidak salah paham. Saya minta maaf untuk itu. Nanti saya akan jelaskan semuanya ke kamu. Tapi untuk saat ini, saya benar-benar butuh bantuan kamu Kirana." Ucap Rendy dengan serius menatap Kirana. "Saya minta kamu untuk jadi pacar pura-pura saya lagi. Hanya untuk siang ini aja. Apa kamu bersedia membantu saya?" Lanjut Rendy dengan penuh harap.


Kirana melebarkan tatapannya dan kembali terkejut. "Jadi pacar pura-pura?" Tanya Kirana mengulangi kata-kata Rendy dengan bingung dan tidak percaya.


"Iya. Tapi kalau kamu keberatan nggak apa-apa. Kamu punya hak untuk menolak." Jawab Rendy dengan sedikit tersenyum tidak ingin memaksa Kirana meski hatinya berharap penuh padanya.


................