Because, I Love You

Because, I Love You
#100



Pagi harinya, Kirana terbangun. Dia merasakan kepalanya pusing. Tenggorokannya kering. Matanya panas dan tubuhnya lemas. "Aduh kayaknya aku kena flu deh ini."


Dia beranjak keluar dari kamar dengan sedikit tertatih karena kakinya masih sakit dan tubuhnya juga lemas.


Tok Tok Tok!


Kirana menghentikan langkahnya ketika sampai diruang makan karena mendengar ada suara ketukan pintu dari luar rumahnya. "Siapa sih?" Gumamnya sambil berbalik dan berjalan kepintu.


"Mas Rendy? Kamu ada apa kesini?" Tanya Kirana setelah membuka pintunya dan melihat Rendy berdiri dengan memakai setelan jasnya begitu tampan dan berwibawa. Aroma parfum yang membuat Kirana semakin terpana ingin selalu dipeluknya.


"Kamu sakit? Muka kamu pucet gini."


Bukan menjawab pertanyaan Kirana tapi Rendy balik bertanya dengan mengerutkan keningnya saat melihat wajah Kirana yang pucat. Rendy mengulurkan tangannya dan menempelkan punggung tangannya di dahi Kirana. "Astaga Ki, kamu demam!"


"Maaas, kamu tuh lebay banget." Kirana menepis tangan Rendy. "Kamu masuk dulu gih. Aku mau mandi." Imbuh Kirana sambil berbalik melangkah masuk tapi Rendy langsung meraih lengannya.


"Nggak usah mandi. Aku anter kamu ke dokter sekarang! Ayo!" Tegas Rendy sambil menarik pelan Kirana.


"Nggak usah Mas. Aku cuma..hazyuh!" Kirana bersin sambil menutupi wajahnya sebelum menyelesaikan ucapannya lalu menggosok-gosok hidungnya. "Aku cuma flu aja. Diminumin obat juga ntar sembuh."


Rendy menghela nafasnya. Dia merasa heran dengan gadis polosnya ini. "Terserah kamu aja. Aku akan minta Beni beliin sarapan sekalian obat buat kamu. Kamu istirahat aja dirumah. Nggak usah ngantor!" Tegas Rendy memasang wajah galaknya. "Ini perintah dari pimpinan kamu!" Tambahnya saat Kirana ingin protes.


Kirana mendengus kesal dan mengerucutkan bibirnya lalu melangkah kearah sofa dengan menghentakkan kakinya dan duduk disana. Sikapnya membuat Rendy gemas kepadanya.


"Sini aku peluk dulu." Rendy duduk disamping Kirana dan menariknya dalam dekapan hangat. Kirana hanya diam tidak menolak dan tersenyum.


...


Beni mengantar makanan dan juga obat kerumah Kirana atas perintah Rendy.


"Makasih ya Pak Beni. Jadi ngerepotin." Ucap Kirana sambil menyengir merasa tidak enak harus merepotkan Beni.


"Nggak repot kok mbak. Bos Rendy dimana ya?" Tanya Beni.


"Bos lagi dikamar mandi." Jawab Kirana. "Duduk dulu Pak Ben. Aku buatin minum. Mau kopi atau teh?" Imbunya.


"Nggak usah Mbak, aku udah ngopi tadi." Jawab Beni.


"Ben, tolong siang nanti kamu bawain semua pekerjaanku kesini." Seru Rendy sambil berjalan dari arah dalam menuju ruang tamu sudah tidak memakai jas dan dasinya dengan lengan kemejanya yang digulung sampai siku.


"OK Bos. Kalau gitu aku pamit. Mari Mbak." Beni pun segera pergi ke perusahaan Pradipta.


"Loh Mas, kamu nggak ke perusahaan?" Tanya Kirana dengan menatap Rendy.


Rendy duduk kembali di sofa. "Enggak." Jawabnya dengan santai sambil membuka box makanan dari restoran ternama. "Sini duduk. Sarapan dulu."


Kirana duduk disamping Rendy dan menatap beberapa makanan diatas meja dengan tatapan tidak selera. Tidak seperti biasanya saat melihat makanan enak, mata Kirana akan berbinar. Mungkin karena saat ini, dia sedang kurang sehat.


"Kenapa? Pusing?" Tanya Rendy dengan penuh perhatian.


"M-hm." Kirana mengangguk.


"Ya udah. Kamu makan dulu, terus minum obatnya."


"Aku nggak laper Mas. Pengen tidur aja."


Rendy menghela nafasnya. "Tapi kamu harus makan. Dikit aja. Aku suapin kamu." Ucap Rendy sambil mengambil box makanan yang berisi bubur ayam.


Kirana merasakan tubuhnya begitu lemas dan sedikit kedinginan. Dia membiarkan Rendy menyuapinya hingga habis setengah porsi Kirana sudah tidak mau lagi.


Rendy meletakkan bubur ayamnya dan mengambil air minum juga obat untuk Kirana. "Ini minum dulu obatnya."


Selesai minum obat, Kirana benar-benar ingin sekali tidur. Tapi, dia merasa bingung karena ada Rendy disini. Beruntung kekasihnya yang super tampan ini sangat pengertian. "Udah sana kekamar. Istirahat." Ucapnya dengan lembut sambil mengusap kepala Kirana penuh kasih sayang.


Diperlakukan seperti ini oleh laki-laki yang dicintainya, tentu saja membuat hatinya merasa berbunga-bunga. Kirana tersenyum dan mengangguk pelan. Dia pun beranjak masuk kedalam kamarnya, tapi kemudian keluar lagi dengan membawa bantal dan selimutnya.


Rendy menatapnya dengan mengernyit. "Aku mau tidur disini aja. Masa kamunya aku tinggal sendirian." Ucap Kirana sambil meletakkan bantalnya disamping Rendy dan membaringkan tubuhnya yang terasa lemas disofa panjang tempatnya duduk tadi dengan posisi miring.


Rendy hanya tersenyum lalu mengusap-usap kepala Kirana dan Kirana pun langsung tertidur. Randy sedikit bungkuk dan memiringkan kepalanya untuk menatap wajah Kirana saat tidur.


Kamu jauh lebih cantik saat tidur. Batin Rendy lalu mengecup pelipis Kirana dan menegakkan tubuhnya kembali.


...


Beberapa hari kemudian, semua karyawan senior dan berprestasi sudah berkumpul dilobi perusahaan Pradipta termasuk Kirana. Mereka bersiap untuk berangkat liburan ke Bali dengan menggunakan transportasi darat karena permintaan dari mereka sendiri.


Rendy sebagai pimpinan perusahaan juga ikut bersama mereka yang kini mulai berhamburan keluar dan menaiki Bus dan menempati tempat duduk mereka masing-masing sesuai dengan nomor yang telah diberikan.


Sikap mereka sudah jauh lebih baik dan ramah terhadap Kirana setelah kejadian waktu itu. Bahkan sering dibuat baper dengan sikap perhatian Rendy terhadap Kirana yang membuat Kirana mencubit pinggang kekasih tampannya ini.


Seperti saat Kirana naik ke dalam Bus, Rendy lebih dulu naik berdiri dipintu dan menarik pelan tangan Kirana untuk berpegangan padanya lalu merangkulnya.


Kirana merasa sangat malu dengan perlakuan Rendy yang selalu membuat semua teman-temannya memperhatikan dan bersorak seolah mendukungnya.


Rendy dan Kirana duduk berdampingan dikursi deretan tengah. Bus yang besar berkapasitas sekitar lima puluh sembilan orang yang berlogo Pradipta Eksekutif. Bus ini milik perusahaan Pradipta dan tentunya memiliki fasilitas dan fitur yang canggih.


Jika dilihat dari sisi eksterior, Bus eksekutif milik perusahaan Rendy ini memang tidak memiliki perbedaan dengan Bus reguler lainnya. Tapi jika sudah nemasuki kabin Bus ini, mereka sudah pasti akan terpukau saat melihat sisi interiornya.


Kursi Bus tersebut juga dilengkapi dengan sandaran tangan, bantal dan selimut. Selain itu, juga terdapat foot rest atau pijakan kaki khusus sehingga para penumpang tidak akan merasakan pegal ketika menempuh perjalanan panjang selama berjam-jam.


Fasilitas lainnya yang dapat dinikmat dari Bus ini seperti full AC, TV Led, Wifi, toilet, makanan ringan, makanan perasmanan, recleaning seat, TV/DVD, GPS dan smoking area. Disetiap kursi penumpang juga terdapat layar LCD sebagai fasilitas hiburan. Tentu saja semua yang duduk didalam akan merasa sangat nyaman dan menikmati perjalanannya.


................