
Selama di dalam kelas, Joe selalu menjahili Pelangi tanpa henti. Tidak peduli walau saat jam pelajaran pun berlangsung, dan kali ini Jeni bersikap normal seperti biasanya di kelas setelah perdebatannya dengan Lisa di toilet tadi. Ini membuat Lisa semakin kesal namun berusaha menyembunyikannya, demi keutuhan persahabatan mereka dan tak ingin menyinggung perasaan para sahabatnya itu.
Teett.. Tet, Teet...
Bel istirahat berbunyi, segera semua murid berhamburan keluar kelas dengan suara berisik mereka. Seketika Joe berbalik badan ke arah Pelangi yang duduk di belakang nya sejak awal.
"Langi," Panggilnya dengan ceria.
"Hem, apaan?" Jawab Pelangi sembari merapikan buku dan pulpennya tanpa menoleh ke arah Joe.
"Ayo, ke kantin bareng."
"Dih, gak usah berlebihan deh."
"Berlebihan apanya, Langi? Wajar bukan, mengajak mu. Tanpa rayuan nih, hehe."
"Iya, tapi gak usah pakai acara ngajak segala. Sudah pasti kita akan ke kantin bersama, dasar gombal."
"Kok gombal sih, dasar." Jawab Joe dengan menarik hidung Pelangi di depan ketiga sahabat Pelangi yang sedang menyimak percakapan mereka.
"Adu duh, aduuh. Ih, Joe... Sakiit," Pelangi mengaduh serta merengek manja. Ujung hidungnya sedikit memerah bekas cubitan Joe yang sedikit keras, lalu Pelangi mendecak kesal beranjak dari posisi duduk nya. Ia keluar lebih dulu dari kelas dengan ekspresi sedikit marah.
"Eeh, Langi. Apa kau marah? Tunggu." Joe kebingungan hendak mengejar Pelangi yang meninggalkannya lebih dulu keluar kelas.
"Oh my God. Kenapa suasana di kelas ini mendadak gerah? Hah, begitu panas sekali ku rasa." Ucap Lisa sembari mengipas jemarinya ke arah leher jenjangnya.
"Hikzt, hatiku rasanya saakiiit melihat romansa mereka berdua."
"Cih, gila lu ya. Dasar waria, huuuuh..." Umpat Lisa dan Jeni kompak. Kemudian mereka keluar kelas menyusul Pelangi dan Joe menuju kantin sekolah.
Tiba di kantin, Joe masih terlihat merayu dan mendekati Pelangi yang tengah duduk di kursi meja kantin tempat favoritnya.
"Langi, pliss jangan marah. Maaf, tadi aku tidak sengaja mencubitnya terlalu keras. Yah, maaf."
"Kau menyebalkan, selalu saja main cubit. Sakit tauk,"
"Iya deh iya, janji. Tidak akan lagi, hem.. Mau kan maafin aku?"
"Janji dulu, tidak akan mencubitku dengan kasar lagi?" Ucap Pelangi sembari mengulurkan jari kelingking nya ke hadapan Joe.
Joe tersenyum dan mengaitkan jari kelingkingnya kemudian.
"Janji !!!"
"Senyum dong," Ucap Joe kembali.
Pelangi menurut dengan melempar senyuman nyengir ala kuda.
"Gitu ya, kalian. Asyik berdua, marahan pergi berdua, baikan pun lagi berduaan. Kita mulai tidak di anggap, hikzt.."
"Betul, heh." Jawab Lucas mengiyakan ucapan Lisa yang mulai protes melihat kebersamaan Pelangi dan Joe.
"Ehhem, eh Joe. Kau sudah pesan makanan?" Tanya Jeni membuat suasana hening dan canggung.
"Oh, belum. Baru saja aku akan memesannya," Jawab Joe santai. Pelangi mulai menyantap kembali semangkuk bakso yang di pesannya lebih dulu.
"Biar aku yang pesankan ya," Tanya Joe kembali.
"Wah, thank you Jen." Ucap Joe lalu kembali menatap Pelangi yang sibuk menyantap bakso nya.
"Sekalian punya ku ya, Jen."
"Eh gue juga deh,"
Ucap Lisa dan Lucas seolah sengaja mengerjai Jeni. Tampak Jeni sedikit kesal lalu pergi untuk memesan makanan yang mereka inginkan.
Beberapa saat kemudian, Jeni kembali duduk berkumpul bersama para sahabatnya. Jeni, Lisa, dan Lucas duduk berhadapan dengan Joe yang duduk berdampingan dengan Pelangi. Joe begitu memperhatikan Pelangi yang menyantap bakso nya namun sedikit terganggu oleh rambutnya yang terurai menutupi pipinya. Dengan lembut Joe membenahi rambut Pelangi ke belakang agar tidak lagi mengganggu aktifitas makannya.
Lisa dan Lucas hanya bisa tercengang memandangi mereka berdua. Sementara Jeni berulang kali terdengar menarik nafasnya dalam-dalam, sesekali Lisa meliriknya diam-diam. Lalu pesanan mereka tadi tiba dan di hidangkan di atas meja.
Di susul oleh ketiga sahabat Pelangi yang ikut menyantap bakso yang mereka pesan tadi.
"Ini, aaa a a.." Joe mencoba menyuapi Pelangi dengan sebuah pentol kecil yang ditusuk oleh sendok garpu milik Joe.
"Dih, apaan sih. Aku bukan anak kecil lagi, Joe. Aku bisa makan sendiri,"
"Cobain punya ku, lebih enak tauk."
"Lebih enak apanya? Kita memesannya saja satu kantin, Joe. Astaga, kau ini ada-ada saja."
"Cobain dulu punya ku, Langi. Ini, aaa a a..." Joe kembali memaksa.
"Iih, enggak. lagi pula sejak tadi aku sudah menyantap bakso ku sendiri."
"Percaya pada ku, Langi. Ayo cobain punya ku, pasti lebih enak. Ayo coba, sekali aja. Aaa a emm..." Joe berhasil memasukkan satu buah pentol ke dalam mulut Pelangi secara paksa.
"Oh astaga, sepertinya setelah ini kita akan memilih meja yang berbeda." Ucap Lisa setengah berbisik.
"Hatiku bagai teriris-iris namun jujur mereka sangat romantis, aku seperti menonton sebuah drama romansa anak muda. Awh..." Lucas menopang dagu nya dangan kedua tangannya memandangi Pelangi dan Joe yang sibuk berdua saja.
"Hemm... Enak kaaan, iya kaan???" Tanya Joe setelah berhasil menyuapi Pelangi.
"Eh, enggak tuh. Sama saja, bakso di kantin ini memang enak sih."
"Dih, gak peka banget jadi cewek."
"Apa?" Tanya Pelangi dengan cetus.
"Kau ingat, saat kecil dulu aku selalu menyuapi mu makan. Dan kau selalu bahagia lalu memberiku upah dengan kecupan di pipi, tanda sayang dan terimakasih."
"Joe..." Panggil Pelangi dengan nada manja menyebut nama Joe.
"Hihihi, maafkan aku. Itu kan dulu, saat kita masih kecil. Kalau pun sekarang akan begitu lagi, dengan suka rela aku menerimanya... Nih," Ujar Joe sembari mendekatkan pipinya ke arah Pelangi, sontak Pelangi sedikit menjauh.
Lalu kemudian Jeni membanting botol kedua sendok yang di gunakannya hingga berbunyi nyaring pada mangkok kaca yang berisikan bakso pesanannya. Membuat yang lain terkejut menoleh ke arah Jeni.
"E,eh.. Sory, aku enggak sengaja. Maaf," Ucap Jeni dengan salah tingkah.
"Hahaha, Jeni. Ada apa dengan mu? Ehm, aku tahu... Lagi putus cinta ya, hahaha. Sejak tadi ku perhatikan kau tidak seperti biasanya, Jen."
Joe mencoba mencairkan suasana dan menggoda Jeni.
"Ah, eh.. Putus cinta apaan, Joe? Aku jomblo. Sama sepertimu, hehe."
"Oh ya, mau ku kenalin teman-teman ku di LN gak? Mereka baik-baik kok. Kau juga manis pasti salah satu diantara mereka akan menyukai mu, Jen."
"Kamu aja deh, Joe. Aku pasti mau banget," Jawab Jeni tanpa ragu.
"Jangan nekat lu, Jen." Bisik Lisa sembari menggertakkan giginya.
"Ya ampun, Jeens. Elu mabok?" Tanya Lucas dengan bibir bentuk O, seakan tak percaya jika Jeni sahabatnya yang terkenal sedikit tomboy dan tidak pernah melontarkan kata rayuan. Kini menggoda Joe dengan berani.
"Hahaha, aku? Hemm.. Aku, maaf Jen. Hatiku sudah milik orang lain, hehe."
Jawaban Joe membuat Pelangi menolehnya seketika, sesaat mata mereka saling memandang dengan lekat satu sama lain.
"Waow, siapa cewek beruntung itu Joe? Apakah lebih dari kita para cewek cantik ini. Hihi," Tanya Lisa kemudian. Seolah dia sengaja ingin membuat Jeni menyerah.
"Lebih dari cantik, dia bahkan sangat imut. Membuatku selalu gemas ingin berada di dekatnya terus,"
Kembali hening diantara mereka berlima. Pelangi tampak kikuk melempar pandangannya pada Jeni yang mematung tanpa ekspresi. Sedang Lucas dan Lisa hanya saling memandang kemudian mereka kikuk, entah kenapa candaan mereka sejak tadi berubah serius seketika.
"Woah, apa-apan sih ini? Kenapa jadi pada serius bahas percintaan. Aaah, kalian ini. Ayo makan lagi," Ujar Pelangi memecah keheningan.
"Heh. Dasar tukang makan," Jawab Joe dengan membelai rambut Pelangi kembali. Melihat dan mendengar hal itu Jeni seolah kian terdengar jelas menarik nafasnya dalam-dalam.