Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 214



Tik tak tik tak tik tak...


Pelangi terus melirik setiap jarum jam yang berputar setiap detiknya. Pelangi masih menatap wajahnya di hadapan cermin, ada perasaan ragu untuk pergi malam ini. Rasanya dia kehilangan kepercayaan dirinya untuk pergi ke kafe dan melihat kembali kedekatan Jeni dan Joe di hadapannya.


"Hah, sudah lah. Lagipula ini inginku bukan? Lambat laun aku akan terbiasa walau mungkin membutuhkan waktu yang cukup lama."


Pelangi meraih sebuah spray cologne aroma buah yang begitu manis dan fresh untuk di semprotkan di bagian tengkuk leher serta telapak pergelangan tangannya. Lalu berjalan menuju pintu untuk keluar dari kamar, dia menuruni anak tangga dengan setengah berlarian.


"Nah, itu Pelangi sudah turun. Waaah, cantik sekali anak mama malam ini."


Langkah kaki Pelangi bagai terhalang kobaran api, terhenti seketika dengan kaku. Melihat sosok yang di pikirkannya sejak tadi, sedang duduk manis di ruang tamu dan melambaikan tangannya dengan senyuman tanpa dosa.


"Joe, kau..."


"Kok kaget begitu. Joe datang untuk menjemputmu nak, Joe bilang kalian akan dinner malam ini sekalian ngumpul dengan yang lain. Kalau begitu hati-hati ya, jangan pulang larut malam."


"Ta,tapi ma.. Pelangi.."


"Makasih tante, emang paling baik deh. Salam untuk om Irgy ya, Tan. Ayo Langi, kita berangkat. Teman-teman udah pada nungguin loh,"


Aaaaarght... Sial, mau mu apa sih Joe?


Pelangi hanya bisa menggerutu dalam bathinnya. Ia tidak ingin membuat semua makin runyam jika saja dia berniat nekat menolak Joe yang sudah datang menjemputnya. Dia hanya bisa menurut melangkah menuju mobil Joe, di balik hatinya yang terus menggerutu tanpa henti.


"Cih, jangan di tekuk gitu dong wajahnya. Kan jadi jelek, entar cepet tua loh." Joe mulai menggoda Pelangi sembari fokus menyetir.


"Mau mu apa sih, Joe?"


"Maksudnya?"


"Untuk apa menjemputku segala? Aku tidak ingin membuat kesalahpahaman diantara kau dan Jeni," Jawab Pelangi dengan membuang wajah nya menatap kaca mobil.


Lalu Joe memutar setir mobilnya menuju sisi jalan untuk berhenti. Pelangi kebingungan menoleh ke arah Joe kembali dengan penuh tanda tanya.


"Kenapa berhenti?"


"Langi, apa kini kau telah membenciku?"


"Pertanyaan konyol!" Jawab Pelangi dengan cetus.


"Bisakah kita tetap akrab dan dekat seperti biasanya, Langi? Aku gak bisa kamu giniin. Aku merasa kehilangan sosok Pelangi yang selalu ada di sisi ku,"


"Lalu Jeni? Kau anggap apa, dia kekasihmu bukan?"


"Kau cemburu?" Tanya Joe dengan tersenyum nakal menggoda Pelangi.


"Tidak. Untuk apa aku cemburu lagi pula Jeni sahabat ku, dia cantik, dia juga pintar, dia baik, tentu dia juga lebuh jago dari ku untuk peduli dan memperhatikan mu, dia selalu bisa membuatmu tertawa riang setiap hari di sekolah, dan kaupun sepertinya juga..."


Cup!!!


Pelangi terhentak dengan membelalakkan kedua matanya ketika Joe memberikan kecupan singkat di bibirnya. Dan ini ciuman pertama Pelangi, oh Tuhan... Bisa kau bayangkan bagaimana rasanya bukan?


"Joe, kau.. Kau brengsek. Kau gila, beraninya kau mencuri ciuman pertamaku, kau jahat!!!"


Bug bug bug...


Pelangi menggila, Ia berteriak dan mengumpat serta memukuli tubuh Joe tanpa henti setelah ia sadar apa yang di lakukan Joe padanya tadi.


"Aduh, aduh. Ampun, ampun, iya maaf, aduh Langi. Hentikan, sakit. Pukulan mu itu, sungguh sakit Langi. Pelangi, hentikan!!!" Joe mencoba menangkap kedua tangan Pelangi setelah dia mengadu kesakitan.


"Hentikan, pliss. Kau menyakitiku, Langi." Ucap Joe kembali dengan manatap kedua mata Pelangi begitu lekat dan cukup dekat.


"Kau..." Pelangi tak kuasa meneruskan ucapannya lagi. Ketika wajah mya begitu dekat dengan sosok lelaki yang kini telah mencuri ciuman pertamanya. Dengan cepat dia mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat, bahkan kini tenggorokannya mendadak mengering di rasakannya.


"Maafkan aku, aku tidak bisa mengontrol diri lagi. Kenapa kau tidak juga menyadari dan mengakui perasaan mu pada ku? Apakah belum cukup yang ku tunjukkan pada mu, Langi? Aku mencintaimu, aku jatuh cinta pada mu. Kau paham?"


"Cih, pembohong!!!" Pelangi menepis tangan Joe lalu menyilangkan kedua tangannya sendiri di atas perutnya.


"Kau selalu mengataiku pembohong apa itu berarti kau pun merasakan hal yang sama padaku?"


"Enggak, tidak sama sekali."


"Ok, jika begitu. Berarti perjuangan dan penantian ku sudah sia-sia selama ini, besok aku akan segera kembali ke LN. Jaga dirimu baik-baik, Langi."


"Jjoe..." Panggil Pelangi dengan lirih ketika Joe menyalakan mesin mobilnya. Lalu di matikannya kembali ketika dia mendengar Pelangi memanggilnya.


"Apa lagi? Ini bukan yang kau inginkan? Kau selalu menjauhiku. Kau berubah dingin padaku, dan kau tidak lagi ada di sisiku,"


"Ti-dak. Jangan pergi jauh lagi dariku, Joe. Jangan pergi..." Pelangi mulai merengek manja setelah mendengar Joe akan kembali ke LN.


Joe tak kuasa dan merasa bersalah mendengar hal itu, hatinya kembali bergemuruh semakin gusar. Lalu kemudian dia meraih kedua tangan Pelangi dan di genggamnya dengan erat.


"Pliss, jawab aku. Apakah kau juga merasakan hal yang sama seperti ku, Langi? Apa kau juga mencintaiku? Apakah kau pun jatuh cinta padaku?"


Pelangi terdiam dan menundukkan wajahnya.


"Aku tidak tahu, Joe. Yang ku rasakan selama ini, aku nyaman di dekatmu. Aku ingin kita selalu bersama, aku ingin kau hanya perhatian dan peduli padaku saja, dan setiap kali kita berdekatan seperti ini, ada getaran yang hebat di hatiku. Hingga itu membuatku sulit bernafas, tapi aku.. Aku tidak ingin egois dan jadi pengkhianat, Jeni.. Jeni mencintaimu."


"Hah, dasar bodoh!!!" Mendengar hal itu membuat Joe tidak tahan lagi dengan hanya membiarkan dirinya menjadi pendengar dan penonton saja.


Joe menarik Pelangi dalam dekapannya, di peluknya gadis yang saat ini dicintainya dengan terus menghujaninya dengan kata 'Bodoh' tanpa henti.


"Aku memang bodoh, lalu kenapa kau masih mencintaiku hah? Kau jauh lebih bodoh jika begitu." Balas Pelangi dalam dekapan Joe.


"Sssttt... Jangan bicara lagi, ayo kita ke kafe Lucas segera. Semua sudah menanti kedatangan kita,"


"Tapi, Joe. Bagaimana dengan Jeni?" Dengan cepat Pelangi melepas pelukan Joe, mengingat kembali bahwa Joe sudah menjadi kekasih Jeni, sahabatnya.


"Jeni? Ehm.. Aku tidak tahu, aku hanya berpikir bagaimana jika dia tahu bahwa kekasihnya yang sangat dia cintai saat ini telah memberikan satu kecupan manis di bibir cewek lain. Apakah dia akan memakan mu?"


"Joe. Kau memang brengsek, aku serius!!!" Pelangi melototi Joe dengan ekspresi marah dan juga rasa bersalah. Dia sungguh merasa telah mengkhianati sahabatnya, Jeni.