
"Ex..." Panggil Pelangi menyambut kedatangan Exelle.
"Sssttt... Tenanglah. Aku akan membawamu menjenguk Joe dirumah sakit, ayo." Ajak Exelle seraya meraih tangan Pelangi dalam genggamannya.
"Tunggu, bagaimana ini bisa terjadi? Aaah, kasihan Joe. Hikzt..." Ujar Lisa dengan merengek.
"Ya, walaupun kami masih marah dan kesal pada Joe. Aku juga sangat membencinya, tapi mendengar hal ini... Aku turut bersedih." Ujar Jeni. Sedangkan Lucas yang mendengar bahwa Joe mengalami koma karena kecelakaan, seketika ia menangis tersedu seperti anak kecil.
"Ehm, aku tidak bisa menjelaskan ini semua. Mari, kita ke rumah sakit saja."Jawab Joe dengan suara lemah.
Mereka menurut lalu pergi bersama.
30 menit kemudian, mereka tiba di rumah sakit yang di tuju untuk menjenguk Joe. Pelangi berjalan tergesa-gesa meninggalkan Exelle yang sejak tadi berjalan di sisinya.
Pelangi. Apakah kau masih mencintai Joe? Lalu bagaimana dengan cintaku?
Pelangi terus berjalan dengan setengah berlari, di susul oleh ketiga sahabatnya, setelah Pelangi mengetahui dimana ruang Joe berada. Sementara Exelle tertinggal jauh di belakang dengan kedua temannya.
"Ex, lu udah siap dengan konsekwensinya nanti?" Tanya salah satu teman Exelle sembari berjalan di sisi Exelle.
"Entah lah, aku... Aku hanya tidak ingin jika suatu hari Pelangi tahu aku menyembunyikan ini semua, dia akan membenciku." Jawab Exelle dengan lirih.
"Apapun itu, kami tetap akan mendukung lu Ex." Jawab kedua temannya itu.
Tiba diruang ICU, langkah Pelangi terhenti ketika melihat ayah Joe terduduk lesu di kursi tepat depan ruangan ICU.
"Om," Panggil dengan pelan. Di temani oleh ketiga sahabatnya.
"E,eh nak. Kau, kau disini? Bagaimana kau tahu jika Joe..."
"Aku ingin melihat Joe, Om. Pliss..." Ujar Pelangi memutus ucapan ayah Joe.
"Ba,baiklah. Tunggu sebentar, om akan panggilkan tante mu. Dokter melarang lebih dari satu orang yang berada di sisi Joe."
Kemudian suami Abel memasuki ruangan untuk memberitabu Abel bahwa Pelangi datang untuk menjenguk Joe. Pelangi terus meremas kedua jari jemarinya, terasa dingin berkeringat.
Beberapa saat kemudian Abel keluar dari ruangan, dengan mata sayu yang berkantung hitam di bawahnya. Dia menatap Pelangi sesaat, lalu menangis histeris dan memeluk tubuh Pelangi.
"Ta...Tante, maafkan Pelangi datang terlambat. Aku ingin melihat Joe saat ini, izinkan aku." Jawab Pelangi dengan isakan tangis.
"Masuk lah, masuklah Nak. Joe pasti sudah menunggumu." Jawab Abel dengan meregangkan pelukannya pada Pelangi.
Dengan cepat Pelangi masuk ruangan tanpa pedulikan orang-orang di sekitarnya lagi. Kemudian Exelle sudah tiba, di pandanginya wajah Exelle oleh Abel yang sedikit murung.
"Terimakasih!!!" Ucap Abel singkat. Exelle menanggapinya dengan mengangguk pelan.
Sementara di dalam ruangan...
Pelangi menarik nafas dalam-dalam, melihat Joe yang terbaring koma. Pelangi menghampirinya dengan linangan air mata. Walau bagaimanapun, mereka sudah bersahabat sejak kecil. Dan mereka sempat menjalin hubungan asmara.
"Hai, ada apa dengan mu? Apa kau sengaja ingin mengerjaiku?" Ucap Pelangi dengan menggenggam tangan Joe. Namun tak ada respon, Joe yang di kenalnya selalu ceria dan banyak bicara saat dulu masih bersamanya. Kini terbaring lemah memejamkan mata dengan berbagai alat medis memenuhi sekujur tubuhnya.
"Cepatlah sadar, Joe!!!" Ujar Pelangi sembari menyeka air matanya berkali-kali.
Lalu kemudian Pelangi keluar dari ruangan, sontak ketiga sahabat Pelangi berdiri menghampirinya. Di susul oleh Exelle yang berdiri namun mematung di tempat. Ketiga sahabat Pelangi tak berani bertanya bagaimana kondisi Joe saat ini, melihat ekspresi Pelangi yang terlihat sangat murung dengan kedua mata yang sembab.
"Tante, Om, aku pulang dulu. Besok aku akan datang kemari lagi." Ujar Pelangi pada Abel dan suaminya.
"Baiklah, nak. Kami akan menunggu, Joe pasti akan senang jika tahu kau datang menjenguknya." Jawab Abel.
Kemudian Pelangi dan ketiga temannya berlalu pergi.
"Tante, om, kami juga pamit. Besok kami akan datang kemari lagi." Ujar Exelle.
"Ah, baiklah. Terimakasih, Exelle. Sudah membawa Pelangi menjenguk Joe."
Exelle tersenyum tipis menanggapi ucapan Abel. Lalu berbalik badan beranjak pergi dengan langkah cepat untuk menyusul Pelangi dan ketiga sahabatnya.
Melihat punggung Exelle dari belakang, Abel bergumam dalam hatinya.
Kau baik. Tapi walau demikian, aku masih belum benar-benar memaafkan mu atas kejadian ini, Ex. Mungkin hingga Joe sadar kembali nantinya, walau kenyataannya kau dan Joe saudara kandung satu ayah.