Because, I Love You

Because, I Love You
Episode 131



Selama di perjalanan, Abel hanya terdiam di kursi belakang saat berada dalam satu mobil bersamaku dan Irgy. Begitu pula dengan ku, mulutku bagai terkunci untuk memulai obrolan.


"Ibu Abel, rencana menginap dirumah ibunda Fanny kah?" Tanya Irgy memecah keheningan.


"E,eh.. Ehm, mungkin di hotel saja." Jawab Abel kikuk.


"Apa rumah bunda ku tidak nyaman untuk mu?" Tanya ku menyela.


"Hey... Bukan begitu, aku lebih dulu menikah dari kalian. Aku, mengerti. Jika kalian akan menghabiskan waktu semalaman berdua, hihi.." Jawab Abel menggoda kami.


"Ehhem, ah.. Ehm, ibu Abel terlalu berlebihan." Ujar Irgy salah tingkah.


"Haih, tuan Irgy juga bisa malu begitu ternyata. Hahaha,"


Seketika aku menoleh dengan tajam ke arah belakang, dimana Abel sedang duduk cekikikan menggoda Irgy sejak tadi.


"Upz, baiklah. Aku akan diam saja, tidak akan menggoda lagi." Ujar Abel dengan gugup ketika aku menatapnya dengan kesal.


"Ehm, sayang. Bagaimana kau berpikiran untuk menelpon Kevin agar menjagaku saat dirumah duka tadi? Kau keterlaluan. Membuatku malu saja,"


"Lalu aku harus bagaimana lagi? Aku sangat cemas, aku mengkhatirkan mu. Dan hanya Kevin yang terlintas dipikiranku saat itu, karena ku tahu Kevin pasti sedang disana bukan?"


"Dan kau juga belum tahu bukan, jika Nia..."


Oh astaga, aku lupa jika disini masih ada Abel bersama kami. Pasti dia sedang menguping saat ini, perlahan ku lirik dia di belakang yang benar saja. Tampak begitu serius menyimak obrolan ku dengan Irgy.


"Nia kenapa yank?" Tanya Irgy heran, sesekal menatapku dari posisinya yang sedang fokus menyetir.


"E,ehm.. Lupakan saja." Jawab ku singkat. Terdengar keluhan panjang dari nafas Abel karena aku memutuskan obrolan begitu saja.


Tak berapa lama kemudian tiba dirumah, ibu ku sudah terlihat menunggu di halaman rumah dengan ekspresi heran ketika mobil yang di kendarai Irgy memasuki halaman. Sedangkan Pelangi begitu asyik bermain dengan Tama kecil di atas rerumputan yang hijau menghiasi halaman rumah ibu.


Dengan langkah cepat Irgy menghampiri ibu setelah keluar dari mobil lalu meraih tangan ibu dengan santun.


"Waow, tuan Irgy memang menantu idaman banget." Ujar Abel menyeru sembari menyenggol bahu ku, Aku hanya meliriknya dengan tatapan sinis.


"Bagaimana kabarmu bu?"


"Nak, bagaimana.. Kau bisa bersama Fanny dan Abel?" Tanya ibu dengan gelagapan. Ia terlihat takut akan kehadiran Irgy yang tiba-tiba bersama ku dan Abel, sedang ibu tahu betul aku dan Abel menghadiri pemakaman istri Ammar.


"Bu, tadi aku menyusul Fanny ke kota B. Karena aku sangat mencemaskannya, tapi beruntung sebelum aku tiba Kevin sudah menemaninya disana." Jawab Irgy dengan lembut, ia berusaha menenangkan kecemasan ibu.


"Maafkan ibu Nak, ibu sudah melarang Fanny untuk tidak hadir saja. Tapi..."


"Tak apa bu, lagi pula aku juga mengizinkannya. Walau bagaimanapun Ammar dulu pernah menjadi bagian keluarga ini, tapi aku juga bersyukur Ammar tidak mengetahui kedatangan kami." Jelas Irgy.


"Nak, kau sungguh mulia." Jawab Ibu ku sembari menyentuh pipi Irgy dengan lembut.


"Ayo masuk dulu," Ajak ibu ku kemudian.


"Papa... Kapan papa disini?" Ujar Pelangi berlari menghampiri, setelah sadar akan kedatangan Irgy.


"Hemm, apa kau begitu asyik bermain dengan kakak Tama sampai tidak menyadari kalau papa sudah berdiri disini sejak tadi." Jawab Irgy mencubit gemas pipi Pelangi.


"Hai Om, apa kabar?" Sapa Tama kecil.


"Om baik, bagaimana dengan mu anak tampan?"


"Baik om, om juga sangat tampan."


Irgy tersenyum menanggapi nya.


"Eh, tante.. Aku langsung pamit saja, aku tidak ingin mengganggu waktu kalian." Ucap Abel menyela.


"Abel, kau mau kemana nak? Menginap saja disini, kalian hanya berdua saja bukan?" Jawab ibu ku.


"Tapi tante, aku..."


"Sudah lah, rumah ini banyak kamar kosong. Jangan sungkan lagi, ayo masuk. Bermalam saja dirumah ibu, di jamin kau akan ketagihan setelah melewati waktu malam dirumah ini. Kami juga tidak akan menyiapkan makanan seafood lagi untuk mu,"


"Aaah.. Fanny, kau selalu mengejekku di masa lalu." Ujar Abel mendecak kesal. Kemudian aku merangkulnya untuk segera masuk ke dalam rumah.


🍃🍃🍃


Tiba malam hari, Irgy sedang asyik bergulat menemani Pelangi dan Tama bermain. Aku dan Abel duduk santai di ruang TV menyaksikan mereka diruang bermain.


"Fan, bolehkah aku bertanya sesuatu yang serius padamu?" Tanya Abel dengan nada serius.


Aku menolehnya sembari mengunyah cemilan yang sejak tadi menemaniku mengobrol dengan Abel sembari menonton drama korea.


"Apa?" Tanya ku singkat.


"Tuan Kevin itu tampan ya?"


Seketika ucapan Abel membuatku tersedak dengan cemilan yang sudah ku telan. Dengan cepat Abel meraih segelas jus jeruk hangat untuk ku yang terletak tepat di meja.


"Aku sudah bisa menebak apa tanggapanmu."


Aku menoleh dengan tajam kembali ke arah Abel.


"Apa? Apa hah?" Tanya ku cetus.


"Hahaha, astaga. Jadi benar?"


"Cih, apaan sih. Jangan berpikir yang berlebihan," Jawabku dengan kembali menatap fokus drama korea yang sudah lama ku nantikan untuk segera tayang.


"Sepertinya hubungan kalian sangat erat." Ucap Abel kembali.


"Itu dulu, saat aku terluka karena mu dan Ammar."


"Aku?" Abel membelalakkan kedua matanya menatapku.


"Hemm.. Dan jujur ku akui, Kevin orang yang begitu baik dan tulus. Ku pikir tadinya, setelah patah hati karena Ammar aku tidak akan bisa menerima cinta dari laki-laki lain. Namun Kevin berhasil merebutku dari genggaman Ammar."


"Lalu?"


"Lalu apa?"


"Kenapa kau... Pada akhirnya menikah dengan tuan Irgy?"


"Tuhan sudah menciptakan Irgy sebagai jodohku. Lalu aku bisa apa? Aku dan Kevin memilih mengakhiri hubungan kita saat itu."


"Tapi kenapa Fanny?"


"Ehm, sory. Aku tidak ingin mengingat dan menceritakannya lagi masa pahit itu. Tapi aku juga bersyukur pada Tuhan, kami masih bisa berteman meski dalam hati kami menolak untuk tetap bersama dan bertemu walau dengan ikatan sebagai teman biasa." Jelas ku dengan tegas pada Abel.


"Tapi sepertinya, dia masih mencintaimu. Aku bisa merasakan sikapnya yang begitu berbeda padamu,"


"Tidak, kami hanya berusaha untuk tetap bersikap layaknya kakak beradik. Hanya saja, istri Kevin mendadak berubah padaku. Sikapnya begitu dingin, dan berpikir jika aku adalah wanita penyebab retaknya rumah tangga Ammar dan Eliez."


"Tunggu. Wanita tadi, sepertinya... Aku pernah melihatnya," Ujar Abel tiba-tiba dengan ekspresi wajah yang sedang berusaha mengingat sesuatu yang entah itu apa.


Aku mengerutkan kedua alisku melihatnya demikian, berpikir panjang seolah mencoba menelusuri ruang waktu yang sudah berlalu.


"Oh astaga !!!" Ucapnya menepuk keningnya dengan lembut.


"Ada apa?" Tanya ku dengan terkejut.


"Wanita yang bersama tuan Kevin tadi, ya. Aku mengingatnya, kenapa aku tidak menyadarinya tadi.." Ucap Abel dengan mengepalkan kedua tangannya.


"Nia? Kau.. Mengenal istri Kevin sebelumnya?"


Abel menatapku dengan mulut menganga ketika aku menyebut Nia sebagai istri Kevin.


"Fanny, entah ini suatu kebetulan atau memang sengaja adanya. Wanita itu lah yang di tolong oleh puteraku dari cengkraman Tama saat itu."


"A..apa maksudmu Abel?" Tanya ku mulai salah tingkah.


"Iya, wanita itu sepertinya punya hubungan yang lebih dengan Tama. Tapi saat itu dia begitu ketakutan karena paksaan Tama, entah lah.. Ku harap ini hanya pikiran konyol ku saja." Jelas Abel.


Oh Tuhan, apa yang dilakukan oleh Ammar pada Nia?


Mulutku bagai terkunci mendengar yang Abel tuturkan saat ini, bagaimana mungkin?


"Fanny, hey.. Kau baik-baik saja?" Ucapan Abel mengejutkan ku kala terhanyut sejenak dalam lamunan.


"Kau.. Pasti salah lihat." Jawab ku mencoba membantah.


"Heey.. Apa kau pikir aku rabun? Aku sangat jelas melihat wajahnya begitu ketakutan saat itu, lalu dengan terburu-buru menaiki taxi untuk menghindari Tama yang saat begitu terkejut akan kedatanganku di kota A kembali."


Aku masih berusaha untuk tidak mempercayai yang telah Abel katakan. Aku hanya menatapnya dengan mengatupkan bibirku rapat-rapat.


"Ah, kau ini. Apakah saat ini kau sudah melupakan sifat ******** mantan kekasihmu itu?" Ucap Abel mengumpat.


"Tapi yang ku tahu, Nia begitu menghormati keluarga besar Eliez. Rasanya tidak mungkin jika mereka..."


"Yah, semoga saja ini tidak berhubungan dengan masa lalu mu dengan tuan Kevin. Tama memang mudah memaafkan orang yang selalu mencari masalah dengannya saat di kampus dulu, tapi soal cinta.. Dia belum pernah mau mengalah jika ada orang lain yang berusaha merebutnya." Jawab Abel dengan lantang, menghentakkan hatiku akan ucapannya.


"Itu tidak mungkin. Masa lalu kami sudah berakhir begitu lama, aku dan Kevin bukan kah sudah memiliki kehidupan masing-masing? Ammar tahu itu."


"Cih.. Kau pikir Tama orang yang demikian? Hahaha... Sudah lah, lupakan saja." Jawab Abel mengalihkan.


Aku masih mencoba berpikir positif dan berusaha menetralisir kembali segala bentuk kegelisahanku sejak tadi. Rasanya sulit di percaya jika memang Ammar masih menyimpan dendam yang begitu dalam pada Kevin.