Because, I Love You

Because, I Love You
#84



Olivia semakin tidak terkendali dan tubuhnya semakin merasa kepanasan. Dia membuka seluruh pakaian yang menempel ditubuh indahnya dengan kasar.


Axel semakin kagum melihat betapa indahnya tubuh Olivia. Dia menarik pinggangnya dan menciumnya dengan menggebu.


Tangannya tak tinggal diam. Axel menyentuh dan meremas dada Olivia membuat Olivia melenguh dalam ciumannya. "Emhhh..


Axel melepaskan ciumannya dan menatap Olivia dengan menyeringai lalu mendorongnya hingga terbaring kembali disofa.


Hati Olivia ingin sekali memberontak dan menendang Axel untuk tidak menyentuhnya. Tapi tubuhnya sangat ingin menginginkannya saat ini. "Axelhh..


"Ya? Katakan kalau kau menginginkan aku honey." Ucapnya dengan menyeringai licik. Dia tidak akan bisa menyentuh Olivia kalau tidak dengan cara licik seperti ini karena Olivia pernah trauma dan takut bertemu dengannya apalagi bisa kembali merasakan kehangatannya seperti ini.


"Sentuh aku." Ucap Olivia sambil meremas dadanya sendiri merasa frustasi karena Axel mempermainkannya.


"Kalau begitu memohonlah." Ucap Axel dengan melebarkan senyum liciknya.


"Aku mohon! Sentuh aku!" Teriak Olivia yang sudah tidak bisa menahan segala rasa yang semakin bergejolak didalam dirinya.


Axel kemudian langsung melepas jas dan kemejanya. Dia mendekat pada Olivia dan menciumnya. Mencumbu tubuhnya dengan mendamba.


Diluar, orang-orang Axel yang berjaga disekeliling tempat itu sudah berhasil dilumpuhkan oleh anak buah Beni.


Beni memberi kode pada Andreas dan dengan cepat Andreas langsung menekan pemicu pada pistolnya keatas hingga menimbulkan suara keras dan atap menjadi bolong membuat Axel seketika menghentikan aksinya yang sedang mencumbu Olivia.


"Berengsek!" Geramnya dengan menatap tajam pada Andreas dan Beni yang langsung menodongkan pistol kearahnya.


Axel memejamkan matanya sejenak sambil menarik nafas panjang merasa sangat marah. "Siapa kalian?!" Tanya nya setelah membuka matanya sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Tidak perlu tau siapa kami!" Jawab Beni dengan menatap lurus sambil menodongkan pistol pada Axel dan perlahan melangkah maju lebih mendekat pada laki-laki itu.


Andreas dengan cepat melepas jaketnya lalu memakaikan pada Olivia lalu menggendongnya dan membawanya keluar.


Beberapa anak buah Beni masuk membawa tali, kemudian mengikat Axel disebuah bangku dengan. "Hey! Apa-apaan kalian?! Lepaskan aku atau kalian akan menyesal!" Teriak Axel penuh emosi karena diperlakukan seperti ini.


Beni menyeringai. "Sekarang kamu akan merasakan bagaimana rasanya disekap!"


"Berengsek! Siapa kau hah?!" Bentak Axel sambil terus bergerak sepenuh tenaga untuk melepaskan dirinya tapi sia-sia.


"Bungkam mulutnya!" Titah Beni dan anak buahnya langsung membungkam mulut Axel dengan kain lalu menutupi matanya dengan kain hitam.


"Ayo cepat pergi, sebelum orang-orangnya yang lain datang!"


Beni dan semua anak buahnya pun segera pergi meninggalkan Axel dalam keadaan di ikat dibangku dengan mata dan mulut yang ditutup rapat.


Sialan! Aku bersumpah akan membunuh kalian! Oh sial! Aku tidak menghafal wajah mereka semua! Berengsek!


Batin Axel penuh emosi sambil terus bergerak berusaha melepaskan tali yang mengikat tubuhnya begitu kencang.


...


Olivia terus memberontak dalam dekapan Andreas karena dia belum mendapatkan pelepasannya.


Rendy duduk didepan mengemudi mobil menuju bandara karena malam ini juga mereka harus segera pergi meninggalkan New York atau mereka akan mendapat masalah besar karena telah mengusik anak dari seorang mafia yang ditakuti di New York.


"Tenanglah Oliv!" Andreas berusaha menenangkan Olivia tapi itu sia-sia.


Olivia menghempaskan tangan Andreas kemudian dia melepaskan jaketnya. "Aku mohon sentuh aku..."


Ucap Olivia sambil menyandarkan tubuhnya dan tangannya meraba tubuhnya sendiri.


Rendy yang sedang menyetir sedari tadi hanya diam dan sesekali melirik memperhatikan Olivia yang semakin tidak terkendali. Hatinya merasa nyeri melihat wanita yang pernah sangat dicintainya dalam keadaan seperti ini.


Dia merasa kasihan kepada Olivia. Rendy membelokkan mobilnya dan masuk kedalam parkiran sebuah hotel membuat Beni mengernyit. "Bos, kenapa...


"Kita nggak mungkin bawa Oliv dalam keadaan seperti ini." Sahut Rendy dengan cepat menyambar ucapan Beni.


"Oliv, tenanglah! Jangan seperti ini!" Ucap Andreas yang melihat Olivia terus bermain sendiri tanpa kendali.


"Aahh..


Saat ini Olivia dalam keadaan setengah sadar. Bahkan dia tidak tau kalau Rendy ada bersamanya. Dia hanya tau laki-laki yang duduk disampingnya ini adalah Andreas.


Andreas memakaikan jaketnya lagi pada Olivia dan menggedongnya keluar.


Rendy dan Beni memesan dua kamar.


Andreas hanya diam dan segera menuju kamarnya dengan menggendong Olivia. Rendy dan Beni menuju kekamar mereka bersama.


Rendy terlihat begitu tenang namun hatinya merasa sedikit cemburu melihat Andreas membawa masuk Olivia kedalam kamar dengan cepat. Tapi hatinya juga merasa lega karena berhasil membawa Olivia keluar dari jeratan Axel.


"Bos, kamu baik-baik aja kan?" Tanya Beni setelah masuk kedalam kamar, membuat Rendy mengernyitkan keningnya.


"Memangnya aku kenapa?"


"Aku cuma merasa kalo kamu...cemburu." Jawab Beni dengan menyeringai.


"Jangan sembarangan ngomong kamu!" Bentak Rendy sambil menedengkus kesal kemudian berjalan masuk kedalam kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya.


"Dasar Bos! Keliatan jelas kalo dia cemburu. Katanya udah nggak peduli. Apa kabar dengan mbak Kirana?" Gumamnya setelah Rendy masuk kedalam kamar mandi dan merebahkan tubuh kekarnya disofa lalu memejamkan matanya.


................