Because, I Love You

Because, I Love You
Episode 151



Hari-hari yang ku lalui begitu lama terasa, dan baru ku sadari ini sudah hari ke 4 Irgy sibuk di kantor. Pergi pagi dan kembali saat malam mulai larut. Kadang aku bertanya-tanya dan curiga, tapi sampai saat ini tidak ada yang berubah dengan sikap dan perhatiannya.


Malam ini pun sama, aku menunggunya hingga tertidur di sofa ruang TV. Kemudian sayup ku dengar suara seseorang yang membangunkan ku perlahan.


"Sayang, sayang... Bangun, kenapa kau tertidur disini?"


Perlahan ku buka mata dengan setengah terpejam, ku lihat senyuman suamiku menyambut hangat. Terlihat jelas ekspresi rasa bersalah dari wajahnya.


"Kau sudah pulang?" Tanya ku sembari mengucek kedua mataku. Irgy tersenyum menanggapi ku kemudian melonggarkan ikatan dasi di lehernya, tanpa menjawab nya dia langsung menggendong ku menaiki tangga hingga memasuki ruangan kamar kami.


"Apa kau tidak lelah? Menggendong ku dengan menaiki tangga hingga sampai di kamar."


"Maafkan aku, akhir-akhir ini aku selalu sibuk. Aku jarang memberikan waktu berdua dengan mu, dan aku tidak pernah pulang dengan tepat waktu."


"Tak apa, aku mengerti."


"Aku tahu kau mulai bosan, mengertilah.." Ucap Irgy dengan menyibak rambutku ke belakang daun telinga ku.


"Tidur lah, kau pasti lelah."


"Aku akan membersihkan diri dulu. Kau boleh tidur lebih dulu, tak usah menunggu ku."


Aku mengangguk pelan. Kemudian membenahi posisi ku dalam selimut, lalu Irgy beranjak menuju kamar mandi. Dalam hati aku ingin sekali meluapkan keluh kesah ku, tapi sepertinya tidak tepat. Dia begitu lelah, sebaiknya aku diam saja.


Pagi telah tiba dengan cepat...


Di meja makan sudah siap dengan segala suguhan untuk sarapan kami yang di sediakan oleh bibi aisten. Pelangi telah siap duduk di kursi untuk meneguk segelas susu hangat dan sepiring nasi goreng ayam.


"Eh, sayang. Nanti malam bersiaplah, rubah dirimu secantik mungkin dan penampilan mu semenarik mungkin." Ucap Irgy di sela kami menyantap sarapan.


"Apakah kau ingin mengajakku dinner diluar malam ini?"


"Tidak, kita akan pergi ke pesta. Aku mendapatkan undangan ulang tahun dari salah satu teman SMA ku, sekaligus kita mengadakan reuni."


"Kenapa baru memberitahu ku sih?"


"Ehm, maafkan aku sayang. Bukan kah semalam kau sudah tertidur lelap?"


"Aku belum menyiapkan gaun yang pantas untuk malam ini,"


"Apapun, apapun yang kau gunakan pasti akan terlihat pantas dan cantik."


"Pa, Pelangi mau ikut." Ucap Pelangi nyeletuk di tengah perbincangan kami.


"Haha, tentu saja Pelangi harus ikut. Nanti kau juga akan bertemu banyak dengan teman-teman baru dari teman-teman papa dulu."


"Sayang, apakah di pesta itu nanti kau memiliki mantan?" Spontan aku bertanya demikian, membuat Irgy mengernyit menatapku.


"Emmh... Apa aku terlihat seorang playboy?"


"May be yes, may be no." Jawab ku singkat.


"Cih, sudah lah.. Jangan berpikir hal yang tidak penting. Tapi aku harus hadir di pesta ini, dia salah satu teman baik ku di SMA dulu."


"Kau tidak pernah menceritakannya padaku sebelumnya..."


"Kami baru saja bertemu sayang, saat di luar kota kemarin." Jelas Irgy padaku.


"Laki-laki atau wanita?"


"Astaga, dia laki-laki yang sudah memiliki 5 anak. Hanya kita yang baru memiliki satu anak, hehe."


"Cih, baiklah. Aku akan berdandan cantik seperti yang kau minta." Jawab ku cetus.


🌻🌻🌻


Sesudah menjemput Pelangi, aku mengajaknya pergi dahulu ke sebuah butique handal untuk membeli beberapa gaun pesta beserta accessories lainnya. Begitu juga dengan Pelangi, aku ingin mendandaninya bak seorang puteri.


Setelah itu aku juga mengajak Pelangi ke salon. Untuk mengemas rambut kami agar lembut dan wangi serta mudah saat di tata nanti. Ini pertama kalinya aku mengajak Pelangi ke salon, dia memang penurut. Tapi sangat kaku bak sebuah robot saja, aku selalu tertawa lepas ketika melihatnya.


Tiba waktu petang, aku sudah bersiap-siap setelah mendandani Pelangi lebih dulu. Kemudian aku mengenakan gaun pesta berwarna gold lengkap dengan hight hell senada. Rambut panjang ku yang kini melewati bahuku, ku tata semanis mungkin dengan hiasan rambut poni yang ku kesampingkan dengan rapi.


Serta aku menggunakan kalung berlian keluaran terbaru yang Irgy hadiahkan minggu lalu padaku. Dengan beberapa cincin mungil ku padukan di beberapa jari jemariku, sebuah gelang cartier berukuran kecil ku kenakan juga untuk melengkapi kekosongan pergelangan tangan kanan ku. Sementara di tangan kiri aku sudah mengenakan jam tangan berlapiskan emas, di desain khusus oleh designer handal ternama.


Beberapa saat kemudian, ponsel ku berdering. Ku angkat segera setelah tahu jika Irgy yang memanggilku.


"Sayang, kau sudah siap?" Ucap Irgy di ujung ponselnya.


"Hemm, 95% aku sudah siap." Jawab ku sembari kembali menambahkan polesan bedak tabur di kedua pipi ku.


"Hanya 95%? Sisanya apakah aku harus menunggunya lagi?"


"Ehm, tidak. Kau bisa menjemput kami sekarang juga, Pelangi sudah siap, aku hanya perlu memoles bibirku dengan lipstik saja."


"Cih, kau akan melupakan bagaimana keburukan wajah istrimu sebelumnya."


"Hahaha, baiklah. Aku akan menjemputmu segera."


Klik !!!


Panggilan terputus.


Lalu aku keluar kamar untuk menunggu Irgy di teras depan bersama Pelangi. Namun Pelangi tak terlihat dan terdengar suaranya sejak tadi, kemana dia???


Aku mencoba untuk melihatnya di kamar dahulu, karena ku lihat dari atas Pelangi tiada berkeliaran di bawah.


Oh Tuhan, kau tahu..


Ku lihat Pelangi tertidur lelap tergeletak di kasurnya begitu saja. Semakin ku dekati terdengar suaranya mendengkur.


"Sayang, apakah kau begitu lelah menemani mama seharian ini?"


Dia begitu lelap dan sangat terlihat kelelahan tentunya setelah seharian menemaniku ke butique dan salon selama berjam-jam. Bagaimana ini, aku tidak tega membangunkannya.


Terdengar suara Irgy memanggilku dari kamar kami di sebelah, bergegas aku keluar dari kamar Irgy setelah membenahi posisi tubuh Pelangi yang sudah terlelap.


"Sayang, ssssttt..." Aku memberikan arahan pada Irgy untuk menahan suaranya. Irgy menanggapinya dengan anggukan kepala.


"Puteri kita tertidur. Lalu bagaimana kita akan pergi, aku tidak tega meninggalkannya sendiri disini." Ucapku pada Irgy.


"Ya Tuhan, apa yang dia lakukan seharian ini sayang?"


"Ehm, aku mengajaknya ke butique dan ke salon selama berjam-jam sepulang dari sekolah."


"Ya ampun Tuhan, sayang. Kau keterlaluan,"


"Eh, maafkan aku. Aku hanya ingin menampilkannya yang terbaik di pesta malam ini. Tentunya banyak anak-anak disana bukan? Aku ingin Pelangi menjadi yang tercantik."


"Hum.. Aku mengerti, Tapi kasihan Pelangi kita."


"Jika begitu, kau saja yang pergi. Aku akan menjaganya disini,"


"Sayang, aku tidak mungkin pergi ke pesta ini sendiri. Kita bisa meminta bibi menjaganya sebentar, hem..?"


"Sayang. Kasihan bibi, seharian ini dia sudah sibuk dengan banyak pekerjaan rumah. Usianya sudah semakin tua bukan, biarkan dia istirahat saja."


"Tuan, nyonya. Kalian bisa pergi, biarkan bibi saja yang menjaga nona kecil. Bibi juga masih belum mengantuk, kalian tidak perlu khawatir." Tiba-tiba muncul bibi asisten dari arah belakang.


"Bibi, sungguh tak apa?" Jawab ku menatapnya dengan sesal.


"Iya nyonya, tidak apa. Ini acara kalian, anggap saja kalian sedang berkencan. Kalian pun tahu, jika nona kecil sudah tertidur dia tidak akan mudah bangun hingga pagi."


"Bi, terimakasih. Kau sangat mengerti kami, bulan ini gaji saya naikkan plus bonus."


"Ah, terimakasih banyak tuan. Terimakasih, tapi tidak perlu demikian. Saya hanya menjalankan tugas saya disini."


"Baiklah bi, kami pergi ya. Jaga Pelangi baik-baik. Bibi bisa sambil istrahat juga di sisinya jika mulai mengantuk,"


"Baik nyonya. Hati-hati dan bersenang-senanglah kalian."


Aku mengangguk menanggapinya dengan senyuman kemudian kami melangkah menuruni tangga untuk segera pergi memasuki mobil dan menghadiri pesta.


Dalam perjalan aku sedikit gugup, juga gelisah. Di satu sisi aku khawatir karena ini pertama kali aku meninggalkan Pelangi dirumah sendiri saat malam dan hanya di temani bibi asisten rumah ku. Dia memang baik selama bertahun-tahun mengurus segalanya. Tapi aku tetap khawatir.


Dan disisi lain, Irgy begitu antusias hadir di pesta dan reuni ini. Bukan kah itu menyebalkan dan mencurigakan? Ah tapi mungkin, ini hanya perasaan ku saja bukan?


"Sayang, kenapa kau begitu gusar sejak tadi?"


"Apakah ada hal yang begitu special dalam pesta dan reuni ini, hah? Kau begitu antusias untuk hadir."


"Ya ampun sayang, ayo lah. Berhenti berpikir berlebihan, aku hanya rindu pada mereka semua, dan ini adalah pesta teman baikku. Apa kau lupa saat pernikahan kita dia hadir bersama istrinya yang saat itu sudah hamil tua."


"Aku lupa." Jawab ku cetus.


"Ok ok, baiklah. Kita sebentar saja disana ya, jika kau merasa tidak nyaman."


"Aku hanya kepikiran Puteri kita, Pelangi."


"Aku mengerti, senyum dong. Jangan cemberut begitu, aku ingin kau terlihat menawan nantinya. Tanpa kerutan di wajahmu hanya karena cemberut sejak tadi."


"Cih, lakukan saja sesukamu." Jawab ku mengalihkan pandangan dan menatap setiap trotoar jalanan di balik jendela mobil kami. Entah ada apa dengan ku, begitu terasa gelisah. Dan aku merasa berat untuk hadir di pesta ini, tapi ini juga kesempatan bagiku untuk mengetahui masa-masa suami ku saat di bangku SMA dulu.


Semoga tidak ada hal yang mengejutkan dan membuatku merasa tidak pantas berada di acara itu... Yah, semoga saja.