Because, I Love You

Because, I Love You
Episode 139



"Fanny, Fanny.. Fan, bangun."


Aku terhentak membangunkan diri begitu saja, ketika mendengar suara yang begitu ku kenal terus memanggilku dengan lantang. Sejenak, luka jahitan di kening dan bahu ku terasa nyeri. Nafasku terasa sesak hingga aku terengah-engah melihat sekeliling ruangan, penglihatanku masih sedikit kabur.


"Fanny, ada apa? Kau bermimpi tentang Ammar? Apakah buruk?"


Aku menoleh ketika Abel kembali bertanya padaku. Seketika aku memeluknya yang berdiri di sisi ku, menyentuh lembut bahu ku untuk menenangkanku sejenak.


"Abel, aku sangat takut." Ku peluk erat tubuh Abel yang sedikit kaku, sepertinya dia sedikit shock aku langsung memeluknya begitu saja.


"Cup cup cup, ssst... Tenang ya, jangan takut. Aku disini, tidak akan ada yang berani mengganggumu. Jika berani aku akan membunuhnya saja, berani-beraninya mengganggu teman ku ini."


"Dimana Irgy, kemana dia pergi?"


Aku masih gusar melepaskan pelukan Abel kemudian.


"Ehm, Tuan Irgy baru saja keluar. Dia bilang ingin meminum secangkir kopi untuk menahan ngantuknya. Apa perlu ku cari?"


"Ti,tidak. Jangan, biarkan saja dulu. Kasihan dia, pasti sangat lelah." Jawab ku dengan tangan masih gemetaran.


"Fanny, seburuk itu kah mimpi mu? Kau menyebut nama Ammar dengan teriakan yang sangat mengejutkan ku." Tanya Abel sembari menggenggam lembut tangan ku.


"A,aku.. Aku sungguh takut, ku pikir itu adalah hal yang nyata. Begitu terasa sentuhan tangan Ammar menakutiku, dan aku... Ammar tertusuk benda tajam dari tangan ku sendiri. Saat itu ku lihat Ammar sedang terbaring lemah dengan kantong infus yang menggantung di sisinya. Wajahnya begitu pucat hingga bibirnya sedikit menghitam. Dia berusaha menyentuhku, melakukan hal yang.. Yang tidak bisa ku bayangkan."


Tangisan ku pecah. Aku tersedu menahan sesak dan mengingat kembali bayangan di mimpi tadi. Bersyukur ini hanya mimpi, Tuhan...


"Sssst... Tenangkan hatimu, jangan di pikirkan lagi. Itu hanya bunga tidur, karena kondisimu masih belum stabil."


"Tapi itu sungguh seperti nyata, dia dirumah sakit ini Abel. Dia berada disini saat kami bertemu di mimpi tadi, itu menakutiku. Ammar begitu buruk, begitu gila, dan begitu kacau."


Astaga Tuhan, bagaimana bisa mereka yang berada dalam satu tempat saat ini, dalam kondisi yang sama-sama terluka di pertemukan dalam mimpi. Sungguh suatu hal yang mengerikan, bathin mereka menyatu dalam mimpi.


Hati Abel bergumam lirih.


"Abel, apa yang kau pikirkan. Apa kau mendengar ucapan ku?" Aku menaikkan nada suaraku mengejutkan Abel.


"Aah, iya. Iya, aku mendengarnya Fanny. Astaga, tenangkan dirimu. Ayo minum dulu,"


Lalu Abel menyodorkan segelas air putih padaku. Aku meminumnya dengan ketakutan, untuk menetralisir segala kegelisahan.


Aku tidak bisa bayangkan, bagaimana jika Fanny tahu. Kalau Tama juga di rawat di rumah sakit ini, dia pasti akan semakin ketakutan. Aku jadi kasihan padanya, semua ini karena mu Tama. Meski aku merasa iba dengan kondisimu saat ini, tapi Fanny sudah cukup terluka...


Kembali Abel bergumam dalam hatinya dengan sedikit gusar.


"Ya ampun, Fan. Luka di keningmu mengeluarkan darah, aduh... Tunggu sebentar. Aku panggilkan dokter,"


Dengan cepat Abel keluar ruangan berlarian tanpa arah. Tak berapa lama kemudian seorang dokter dan beberapa perawat datang berduyun-duyun memasuki ruangan di susul kemudian oleh Abel.


Dengan sigap dokter segera ambil tindakan akan luka di kening ku yang mulai basah oleh darah. Kemudian seluruh orang diruangan dikejutkan dengan pintu yang terbuka dengan hentakan. Irgy terengah-engah memasuki ruangan lalu menghampiriku.


"Sayang, sayang maafkan aku. Meninggalkan mu sendiri,"


"Dokter, apa yang terjadi?" Tanya Irgy dengan panik.


"Tidak apa, ini mungkin karena pasien terlalu memaksakan diri bergerak. Lukanya tak apa, mohon bersabar nyonya. Jangan banyak bergerak." Perintah dokter.


Aku melirik ke arah Abel memberikan isyarat. Entah Abel mengerti maksudku atau tidak, namun dia mengangguk pelan.


Kemudian Irgy memelukku setelah dokter dan para perawat keluar ruangan.


"Sayang, kau ini nakal. Apa yang kau lakukan? Apa kau olahraga sejak tadi, hingga luka mu kembali berdarah?" Irgy mulai mengomeliku.


"A,ah.. Tuan, maaf. Tadi aku yang lengah membiarkannya membangunkan diri. Fanny bilang bosan, jadi aku membiarkannya."


"Apa kau sengaja hah? Membuatnya kembali terluka dan merasakan sakit."


Aku kembali terkejut akan gertakan Irgy yang spontan begitu saja terhadap Abel. Abel mematung mengatupkan kedua bibirnya akan gertakan Irgy padanya.


"Sayang, ada apa dengan mu? Kendalikan emosimu." Ucapku menyela.


Tampak Irgy menghela nafasnya dalam-dalam lalu menatapku. Aku membalas tatapannya dengan tajam kali ini.


"Ma,maafkan aku. Nona Abel, maafkan aku. Aku hanya, aku terlalu panik." Ucap Irgy dengan lirih.


"Tak apa Tuan, aku mengerti kepanikanmu. Ini salah ku, setelah ini aku akan menjaga Fanny lebih baik lagi. Aku tidak akan membiarkannya keluar selangkah pun dari posisinya, ji..jika perlu. Ke toilet pun aku akan ikut," Ucap Abel terbata-bata.


"Abel.. Maafkan aku, ini bukan salah mu." Aku menatap Abel dengan rasa bersalah. Dia melindungiku kali ini, untuk meredakan kepanikan Irgy yang nyatanya salahku karena mimpi buruk itu.


"Tak apa, aku mengerti. Ehm, baiklah. Aku akan keluar dulu, kalian lanjutkan saja obrolan berdua. Jika butuh sesuatu, telepon saja. Aku pasti akan langsung kemari,"


"Terimakasih." Jawab Irgy canggung. Lalu kemudian Abel melangkah pergi keluar ruangan. Hanya tinggal aku dan Irgy berdua di ruangan.


"Sayang. Maafkan aku, sudah membuatmu khawatir tadi." Ucapku kemudian.


"Sebenarnya apa yang kau lakukan tadi istriku?"


"Ehm, aku.. Aku hanya tidak ingin berlama-lama terbaring disini. Satu haripun, rasanya suntuk." Jawab ku berusaha mengalihkan.


"Ayo lah, jangan begitu. Kau sungguh nakal, aku sungguh takut."


"Baiklah, maafkan aku. Kali ini aku akan penurut, aku akan berdiam diri saja." Jawab ku dengan wajah memelas.


"Akh... jangan memasang wajah begitu. Kau membuatku gemas dan ingin memakan mu saja, aku sungguh takut terjadi hal buruk padamu sayang."


Irgy memeluk tubuhku dengan erat dan penuh kehangatan. Aku tersenyum menanggapinya, tanpa berani mengatakan yang sebenarnya. Mimpi burukku tentang Ammar, entah bagaimana itu bisa terjadi begitu terasa nyata di mimpi.


Hatiku masih belum jua mampu ku netralisir dari pikiran yang berkecamuk. Semoga hanya di mimpi pertemuan yang mengerikan itu, aku tidak ingin menemuinya lagi sejak awal. Terlebih lagi dengan kepergian mendiang Eliez aku tidak bisa membayangkan bagaimana hati dan kondisi Ammar saat ini.


Di tempat lain, Abel berjalan dengan pikiran kosong. Mengingat kembali yang terjadi padaku hari ini, tentang mimpi buruk ku.


"Oh my God, tetap saja membuatku merinding mengingat hal tadi. Jangan kan di dunia mimpi, di dunia nyata pun Tama begitu mengerikan." Ucap Abel sembari terus berjalan.