
Joe mulai berani mengecup bibir ranum Pelangi dengan lembut. Pelangi sedikit tergerak, ia merasakan bahwa ada sesuatu yang menyentuh bibirnya. Ingin sekali membuka paksa kedua matanya namun masih berat.
Joe masih terus mengecupi seluruh wajah Pelangi hingga kini dia meneruskan untuk ******* bibir Pelangi. Itu membuat Pelangi kesulitan bernafas karena wajah Joe begitu mendekatinya. Perlahan Joe membuka kancing kemeja yang dia kenakan malam ini.
Pada akhirnya Pelangi berhasil antara sadar dan tidak, dilihatnya dengan ragu jika Joe kini sudah setengah menindihnya. Pelangi meronta, kedua tangannya hendak mendorong Joe yang kini sudah Pelangi sadari bibirnya di tekan oleh bibir Joe.
"Engh... Emh..." Pelangi kesal serta meronta. Joe lalu menangkap kedua tangannya, dia sudah benar-benar buta. Buta karena ego dan cintanya. Pelangi sudah kembali terkulai lemas tak berdaya, karena pengaruh obat yang sudah Joe campurkan dalam minuman tadi.
"Maafkan aku, Langi. Aku mencintaimu, aku ingin kita selalu bersama seperti dulu. Tetaplah menjadi milikku." Bisik Joe di telinga Pelangi. Joe menyeringai, tersenyum puas ketika Pelangi sudah benar-benar terkulai lemas tanpa berontak lagi.
Joe sudah kian semakin nekat, membuka seluruh kancing baju kemejanya. Ia mengangkat sedikit bagian bawah dress yang Pelangi kenakan menutupi bagian lututnya. Aroma parfum yang Pelangi kenakan begitu wangi semerbak membuat Joe menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya di daun telinga Pelangi. Pikiran dan khayalan Joe kian liar tanpa ia sadari mulai meremas lembut bahu Pelangi. Joe hendak menciumi wajah Pelangi lagi. seakan dia tak puas apa yang dia lakukan sejak tadi.
Gubrak!!!
Diluar dugaan Exelle pada akhirnya berhasil menemukan ruangan tempat Joe dan Pelangi berdua. Dilihatnya Joe sedang mencium bibir Pelangi lalu terkejut akan suara pintu yang terbuka dengan dengan paksa.
"Brengseeek kau Joe."
Tanpa ampun lagi Exelle menghuyungkan satu pukulan meninju bibir Joe. Terlambat untuk menghidari pukulan Exelle karena terlalu mendadak serangan itu.
Bugh bugh bugh...
Exelle meninju mulut Joe tanpa henti. Joe tak bisa melawannya karena Exelle sudah menindihnya di atas. Seluruh wajah Joe kini sudah babak belur dan darah segar melumuri bagian mulutnya.
"Astaga. Ex, hentikan. Hentikan!!!" Jeni memasuki ruangan dan menahan kepalan tangan Exelle yang akan menghajar Joe kembali.
"Lepaskan tangan gue, Jen. Biarin gue menghajar cowok ******** ini." Exelle menepis tangan Jeni untuk kembali menghajar wajah Joe yang sudah kacau.
"Exelle. Hentikan, gue bilang!!!" Bentak Jeni menahan keras kepalan tangan Exelle. Sementara Joe sudah terbatuk-batuk dan sedikit terengah-engah.
"Aaaaarght..." Exelle berdiri dengan geram. Seketika dia menyadari siapa Joe baginya, bagaimana status Joe saat ini dengannya.
Jeni membantu Joe untuk bangun dari posisinya yang terkulai lemas dengan wajah babak belur. Dengan kemeja yang di kenakannya masih terbuka bertelanjang dada.
Jeni kebingungan dan sedikit shock. Ia tatap dengan lekat wajah Joe yang merah lebam dan berdarah. Sementara Exelle segera melepas jaket nya, untuk dia tutupi di bagian paha Pelangi meski dress yang di kenakannya kembali menutupinya hingga di lutut nya.
"Pelangi, Pelangi. Bangun!!!" Exelle menggoyang-goyang pelan tubuh Pelangi dan menepuk-nepuk bahunya.
"Dia tidak akan sadar, Ex. Dia masih dalam pengaruh obat." Ujar Jeni menjelaskan dengan terus menatap tajam ke arah Joe.
Joe menyeringai mendengar ucapan Jeni. Dan itu membuat Exelle kembali naik pitam menghampiri Joe.
"Beraninya kau masih tersenyum begitu, hah?"
"Exelle stop!!!" Bentak Jeni yang kedua kali.
"Jen, elu apa-apaan sih? Elu liat, Joe hampir saja menodai sahabat elu, Pelangi." Ujar Exelle dengan menggertakkan giginya.
"Ex, apa kau sungguh mencintai Pelangi?"
Exelle terhentak dengan mulut gemetaran, dia tidak tahu harus menjawab apa akan pertanyaan Jeni yang mendadak.
"Jawab aku, Ex!" Jeni membentaknya.
"Ya, aku mencintai Pelangi. Aku sangat mencintainya!" Jawab Exelle dengan lantang.
"Heh, hahaha. Hahaha, gila. Apa ini? Apa baru saja kau sengaja menghinaku, Jen? Atau kau sengaja menjual sahabatmu sendiri pada orang yang sok baik sepertinya hah?" Joe berucap dengan nada sombong.
Jeni mundur satu langkah, dia menoleh ke arah Exelle.
"Lakukan, jika kau ingin menghajarnya lagi. Aku tidak akan melarangnya, kau berhak melakukan demi melindungi wanita yang kau cintai saat ini, Ex."
"Cih, Jen. Harusnya aku yang berhak melindunginya. Aku yang lebih dulu memilikinya." Ujar Joe meremas kedua bahu Jeni dan menggoyangkannya.
"Lepasin tangan lu dari gue, Joe. Gue najis bersentuhan dengan Elu." Jeni lalu menepis tangan Joe dengan kasar.
"Jen, gue lakuin ini karena gue mencintai Pelangi. Gue gak salah, elu gak perlu menghakimi gue seperti itu."
Plak!!!
"Tampar, tampar gue. Ayo, hajar gue Jen. Itu tidak akan membuat gue menyerah." Bantah Joe setelah Jeni menamparnya.
"Aku sungguh kasihan padamu, Joe. Kau sangat menyedihkan, kau sangat memalukan."
"Itu semua gara-gara..."
Bugh!!!
Kali ini Exelle sudah meninju wajah Joe kembali. Hingga tubuh Joe terpental jauh dari hadapan Jeni. Jeni tersenyum sinis menatap Joe tersungkur.
"Selama ini aku masih berusaha menahan diri, karena aku tidak ingin terlalu jauh melukaimu Joe. Tapi tidak kali ini, bersyukur kau masih..."
"Halah, jangan kau sok bijak. Aku tahu selama ini kau diam-diam mendahuluiku untuk mendekati Pelangi, dengan berpura-pura mengajaknya belajar bersama. Kau pikir aku tidak tahu?"
"Aku akan membiarkan semua ini. Aku akan berpura-pura tidak mengingat kau melakukan hal tadi pada Pelangi, tapi ku mohon menjauhlah. Jangan pernah muncul di hadapan ku atau pun Pelangi mulai detik ini." Ujar Exelle dengan menunjukkan jari telunjuknya tepat di depan ujung hidung Joe.
"Aaah, kau banyak alasan. Bilang saja kau takut kalah saing padaku kan, gak usah sok peduli dan mengalah. Aku tahu kau jauh lebih licik dariku." Jawab Joe lagi.
Exelle melempar wajahnya berpaling dari tatapan Joe yang berucap demikan, lalu dia menghampiri Pelangi dan menggendong Pelangi. Jeni membantunya dengan membawa tas serta ponsel Pelangi seraya menatap Joe kembali.
"Gue, gue kecewa sama elu Joe. Gue jijik sama elu, ternyata Exelle lah yang sangat baik selama ini walaupun dia kini memiliki posisi yang sama sepertimu."
Jeni beranjak pergi melewati Joe begitupun dengan Exelle yang sudah menggendong Pelangi. Seakan tak mau kalah, Joe meraih gelas kaca bekas minuman tadi yang mereka teguk, gelas itu sangat bening memanjang. Dia remas gelas itu lalu berjalan dengan tatapan kesetanan mengejar langkah Exelle dan Jeni yang pergi keluar dari ruangan.