Because, I Love You

Because, I Love You
#BILYS3 223



Hari mulai petang, setelah melirik jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 6 sore Pelangi beserta para sahabat dan pacarnya, Joe. Hendak pulang kerumah masing-masing untuk melepas lelah setelah hampir seharian mereka berkeliling di mall, berbelanja banyak hal yang sebenarnya tidak begitu penting. Mereka hanya terbiasa lapar mata tanpa pedul berapa banyak uang yang mereka habiskan.


Sebelum melajukan mobilnya, Joe menatap wajah Pelangi yang sedang membenahi posisi duduknya di kursi mobil sebelah Joe.


"Langi.."


"Hem?" Jawab Pelangi singkat dengan menoleh ke arah Joe. Perlahan kemudian Joe meraih tangan Pelangi dengan lembut.


"Maafkan atas sikap ku tadi, aku sudah salah paham dan berpikiran yang terlalu berlebihan."


Pelangi tersenyum lembut menanggapi ucapan Joe atas penyesalannya dari sikapnya tadi.


"Gapapa, aku mengerti. Maafkan aku juga, Joe. Aku tidak jujur sebelumnya, mulai saat ini aku akan jujur dengan semua hal yang terjadi dan yang ku alami."


"Terimakasih, My Dear.."


Kemudian mereka saling melempar senyuman hangat, lalu Joe mengecup punggung telapak tangan Pelangi dengan bibir lembutnya. Seketika Pelangi kembali kikuk dan salah tingkah, ia belum terbiasa selalu mendapatkan perlakuan manis yang biasa di lakukan oleh pasangan yang sedang menjalin hubungan pacaran.


"Hahaha. Kenapa mendadak dingin gini sih tangan mu? Gerogi ya, atau.. oh, astaga Tuhan. Maafkan aku, Langi. Apa kau merasa tidak nyaman aku selalu memperlakukan mu seperti ini?" Tampak Joe merasa sedikit menahan malu.


"E,eh.. Maafkan aku, Joe. Kau tahu itu, selama ini aku belum pernah merasakan hubungan lebih dari sekedar berteman saja. Dan itu pun, aku hanya mau bersentuhan dengan Lisa, Jeni dan Lucas."


"Ow My God, aku sungguh merasa memaksakan kehendak ku sebagai pacarmu. Maafkan aku, Langi."


"Ti,tidak. Jangan selalu minta maaf begitu, Joe. Aku hanya butuh waktu sedikit lagi untuk terbiasa, aku.. Aku yang harus minta maaf."


"Hah, baiklah. Aku tidak akan melakukan hal yang diluar batasku lagi, aku tidak ingin merubah apapun yang sudah membuatmu nyaman sebelumnya."


Pelangi terdiam sesaat, dia memandangi wajah seorang cowok yang kini berstatus sahabat sekaligus pacarnya. Joe tersenyum tipis dengan mengerutkan kedua alisnya hingga menjadi satu.


"Terimakasih, Joe. Kau sungguh baik, selalu mengerti dan memahamiku sebagai pacar dan juga sahabat yang baik."


"Aku mencintaimu, Langi."


"Aku juga, Joe." Jawab Langi dengan tersenyum hangat.


🌻🌻🌻


Sampai di halaman rumah, hari mulai gelap. Pelangi segera turun dari mobil Joe. Di susul oleh Joe kemudian, hingga sampai di teras depan rumah. Secara bersamaan aku membuka pintu rumah, terlihat Pelangi yang berpegangan tangan dengan Joe saling melepas gelagapan.


"E,eh.. Tante. Selamat malam, tante." Sapa Joe dengan gagap.


"Hem, malam Tama eh Joe. Kalian sudah pulang? Ayo masuk." Jawab ku berusaha menahan tawa geli.


"Ma, Joe sudah lelah. Dia harus pulang dan istirahat,"


"Tapi kita baru saja akan makan malam, Nak. Gapapa kan sekalin ajak Joe juga, ayo Joe kita makan malam bersama."


Duuh mama, bisa habis nih di godain mulu.


Seolah bathin Pelangi bergumam demikian, terlihat dari ekspresi wajahnya yang gusar. Ah, sungguh aku kian terlihat jahat sebagai seorang ibu. Mungkin kah dulu aku juga di perlakukan sama oleh ibunda ku? Hihi..


"Ehm, boleh deh tante. Hehe, sekali-kali gapapa kan makan malam disini." Bisik Joe kemudian pada Pelangi.


"Hai, Joe. Selamat malam, wah.. Ayo sini, kita makan malam bersama."


Irgy menyambutnya dengan ramah setelah kami duduk manis di ruang makan.


"Hai om, selamat malam. Terimakasih om, sudah mengajak ku makan malam bersama."


"Eh, kakak tampan. Yeay, yeay.." Rafa dan Rafi menyambut dengan riang gembira. Suasana semakin terasa hangat dan ramai terasa, meski Pelangi begitu kikuk terlihat.


Kami mulai menyantap hidangan makan malam kami di meja, Joe dan Pelangi sesekali saling melirik diam-diam. Irgy yang duduk bersebelahan dengan ku memberikan isyarat melihat sikap mereka berdua.


"Ehhem, Joe. Bagaimana anak om Pelangi, di sekolah? Apakah dia masih jutek dan dingin seperti dulu pada lain jenis?"


Kali ini Irgy mencoba memancing keadaan, membuat mereka saling menatap satu sama lain lalu membuang muka dengan malu-malu.


"Ehm, walau demikian dia tetap menjadi kejaran banyak para murid cowok di sekolah om."


"Hahaha, sungguh? Hmm... Pasti mereka belum tahu siapa pacar Pelangi saat ini."


Sontak mereka terkejut menatapku setelah berkata demikian.


"Hahaha, kami setuju saja jika akhirnya kalian menjalin hubungan pacaran saat ini. Tapi kami harap, hubungan kalian sebagai salah satu pendorong semangat kalian belajar di kelas. Sebentar lagi kalian kan kelas 12, kelas yang akan di penuhi dengan banyak ujian dan praktek untuk kelulusan kalian nantinya."


"Papaa, ih apakah terlihat jelas. Mama juga ih, sejak kapan mama tahu hubungan kami?" Pelangi mulai angkat bicara setelah Irgy berkata demikian.


"Om, tante.. Maafkan Joe, sudah lancang. Tapi Joe berjanji akan menjaga hubungan kami sebaik mungkin, saling mendukung hingga kami akan sukses bersama nantinya." Dengan penuh antusias Joe bertutur kata di hadapan kami, kemudian mereka saling memandang satu sama lain. Terlihat jelas di kedua mata mereka sebuah keseriusan, membuatku lega.


"Joe, terimakasih Nak. Tante akan memegang janji mu ini, kami titip puteri kesayangan kami ya. Jangan sakiti dan jangan kecewakan kami, kalaupun terjadi suatu pertengkaran itu sudah hal wajar salam suatu hubungan berpacaran. Asal, jangan pernah berpikir itu adalah akhir dari suatu hubungan." Jawab ku, mencoba memberikan mereka pengertian.


"Baik tante, Joe berjanji. Lagi pula, kami masih sedang mencoba menjalani hubungan kami sebaik mungkin. Kita dekat sebagai sahabat, dan saat ini pun meski berubah sebagai pacar tapi kita masih tetap sebagai sahabat baik."


"Ma, pa. Apa itu pacaran?" Tanya Rafa menyela perbincangan kami. Ah, aku jadi lupa jika di hadapan kami saat ini juga tengah duduk dua anak kecil yang belum mengerti apapun.


"Eh anak kecil, kalian makan saja. Ini urusan orang dewasa tau," Jawab Pelangi mencoba menegur adik kembarnya.


"Huuuh, kakak jelek." Balas Rafa.


Hingga makan malam pun berakhir, Joe berpamitan untuk pulang kemudian. Pelangi mengantarnya hingga ke teras depan setelah Joe mengucap kata salam dengan santun pada kami.


"Hati-hati di jalan, Joe. Sampaikan salam ku pada tante dan om," Ujar Pelangi.


"Ehm.. Rasanya sedih harus berpisah."


"Dih, mulai deh lebay nya. Besok juga masih bertemu lagi di sekolah, astaga... Kau ini," Balas Pelangi dengan mencubit mesra bagian perut Joe.


"Hahaha, aku bahagiaaa banget. Akhirnya kedua orang tua kita pun menyetujui hubungan kita ini, semoga hubungan ini akan terus berlanjut hingga kita akan menua bersama, Langi."


"Hmm... Semog saja, udah ah. Pulang gih, nanti kemalaman. Kabari aku setelah tiba di rumah, ok."


"Hahaha, ya ya baiklah. Aku pulang ya, kita bertemu lagi di mimpi nanti. I love you, Pelangi ku."


Pelangi tersipu malu mendengar ucapan Joe yang sejak tadi menggodanya, menyentuh lembut hatinya. Kemudian Joe memasuki mobilnya dan melambaikan tangan pada Pelangi sembari melajukan mobilnya lalu menghilang dari pandangan.