
Tiba disuatu pusat perbelanjaan, Lisa sudah langsung menarik tangan Pelangi untuk segera masuk ke dalam lalu memilih segala banyak hal di dalam nya. Baju, celana, sepatu, tas, accessories dan lainnya lagi.
"Princess cold, aku di sebelah sana. Jangan tinggalin aku, kita ketemu lagi disini. Awas ya, jangan ninggalin aku. Oke," ujar Lisa mengingatkan, seolah dia benar takut jika Pelangi akan meninggalkannya sendirian lalu kembali ke apartemen lebih dulu. Karena Lisa saat berbelanja selalu tak kenal waktu, tidak ada yang betah menemaninya.
"Hah, iya... Iya, bawel. Udah sana, aku akan menunggu mu disini." jawab Pelangi mendorongnya untuk segera mencari apa yang akan Lisa pilih. Sepertinya Exelle dan Lucky terpisah sejak mereka sampai di dalam.
Pelangi menoleh ke arah kanan dan kiri juga sekitar ruangan yang begitu luas. Dia mencoba untuk berjalan berkeliling sebentar untuk melihat-lihat, barangkali ada beberapa benda yang membuatnya tertarik.
Dan benar saja, seorang wanita memang tidak akan bisa tahan untuk tidak membeli satu benda kala mata sudah menatapnya dengan penuh cinta pada suatu benda. Ah, tidak. Bukan hanya satu benda, Pelangi sudah memilihnya lebih dari 3 macam barang belanjaan hingga dia sampai di pusat accessories.
Tatapannya tertuju dan fokus pada satu gantungan kunci dengan logo kepala minnie mouse. Sontak saja, itu membuatnya berbinar-binar penuh rasa cinta untuk meraihnya. Tanpa di sadari jika di lain tempat seseorang juga mengincar gantungan kunci yang hanya tersisa satu saja.
"Eh?" Pelangi terkejut lalu langsung menoleh ke arah darimana datangnya tangan yang juga meraih gantungan kunci itu. Dengan cepat Pelangi menarik tangannya karena yang dilihatnya adalah sosok yang membuatnya mengenang masa kecilnya tadi, Lucky.
"E,eh. Maaf, jika aku mengagetkanmu lagi." Ujarnya seketika membungkukkan setengah badannya.
"Ke,kenapa kau selalu bersikap seperti itu? Kau mengingatkanku pada teman masa kecilku. Itu membuatku sakit, apa kau tahu?" Tiba-tiba saja ucapan itu spontan terucap dari mulut Pelangi.
Lucky mengerutkan keningnya, menatap Pelangi begitu lekat. Dadanya bergemuruh hebat, mencoba menelaah apa yang Pelangi ucapkan.
Apa yang cewek ini maksud? Tapi, apakah namanya sungguh Pelangi? Kenapa begitu mirip? Ah, tidak. Di dunia ini nama bisa saja sama bukan? Tidak mungkin dia...
"A,apa maksudmu?" Lucky mencoba menepis pikiran dalam hatinya itu.
"Oh, eh, aah... Lupakan saja." Jawab Pelangi salah tingkah.
"Kau, menyukai benda ini?" Tanya Lucky lagi.
"He-em, aku menyukai semua benda dengan karakter mickey dan minnie mouse. Tapi jika kau menyukainya, kau boleh ambil saja." Jawab Pelangi sembari membalik badannya hendak pergi, berlama-lama berdiri dengan Lucky membuatnya tak tahan dengan debaran keras di jantungnya.
"Tunggu!!!"
"Eh, ya?" Pelangi kembali menoleh dengan cepat saat Lucky memanggilnya.
"Ambil saja, jika... Kau... Suka." Jawab Lucky seraya memberikan gantungan kunci tersebut padanya dengan ragu.
"Apakah... tak apa?"
Lucky tersenyum tipis, membuat Pelangi semakin berdebar-debar melihat senyumnya yang menawan itu. Pelangi meraih benda itu dengan ragu kemudian.
"Sayang sekali. Hanya ada satu, jika saja banyak mungkin kita bisa masing-masing memilikinya. Tapi apakah kau juga menyukai karakter lucu ini?" Pelangi memberanikan diri menatap Lucky kembali.
"Ehm, karena seseorang. Seseorang menyukainya, aku hanya..."
"Seseorang yang pernah berarti, sampai detik ini."
"O,oh.. Begitu, haha. Jadi kau sudah memiliki pacar, kasihan Lisa. Jika dia mendengarnya akan patah hati nantinya."
"Li-sa? Aku, aku bahkan tidak mengenalnya. Aku pun lupa jika kami pernah bertemu seperti yang dia ceritakan. Ehm, maafkan aku." Lagi-lagi Lucky meminta maaf dengan cara yang sama.
Aku bisa mati jika terus begini. Sikapnya ini, oh Tuhan.
"Apakah kau..."
"Cewek galak, hei... Ternyata disini, kau."
Tutur kata Pelangi terhenti ketika tiba-tiba saja Exelle datang memanggil namanya dengan sangat lantang.
"Haish, saudaraku. Kenapa tidak mengajakku bersama jika disini ada calon pacarku juga." ujar Exelle menyenggol bahu Lucky.
"Oh, aku... Aku tidak sengaja berpapasan. Sejak tadi aku melihat benda kecil yang lucu, aku menyukainya dan akan menyimpannya." jawab Lucky jelas.
"Cih, benda apa itu? Kemarikan, biar aku beli semua untukmu, my bro?"
"Ehm, tidak perlu, Ex. Aku sudah membeli yang lain, benda itu hanya tersisa satu, jadi.. Tak apalah. Kita bisa mencari yang lain." jawab Lucky dengan melirik sejenak ke arah pandangan mata Pelangi yang menatapnya sejak tadi.
"Oh? Apa kau butuh banyak sehingga tidak jadi membelinya?"
Lucky menggelengkan kepalanya pelan.
"Aah, dasar payah. Jika hanya sisa satu apakah tidak boleh membelinya?"
"Bukan, Ex. Hanya saja, ah sudahlah. Ayo kita mencari tempat lain." Jawab Lucky mengalihkan.
"Tunggu, aku harus memberikan ini pada calon pacarku." ujar Exelle seraya memberikan tas kantong pada Pelangi yang berisikan baju hangat dan sebuah syall di dalamnya.
Pelangi yang menerima itu kebingungan dan meraihnya dengan ragu-ragu.
"Pakailah saat kau ingin menghangatkan badanmu. Ku rasa ini sangat cocok untukmu, aku memilih sesuai warna kesukkaanmu."
Pelangi membuka tas kantong tersebut lalu menatap Exelle dengan senyuman.
"Terimakasih, Ex. Nanti aku akan memakainya."
Exelle tersenyum puas mendengar Pelangi berkata demikian.