
"Ada apa?" Tanya Rendy pada Olivia.
"Ren, tentang berita itu, aku minta maaf. Aku baru tau dari managerku. Aku akan memintanya untuk mengurusnya." Ucap Olivia terdengar begitu lemah dan merasa bersalah.
"Nggak perlu. Aku udah mengurusnya. Mungkin semua udah beres." Ucap Rendy memberi tahu Olivia.
"Apa siang ini kamu bisa datang? Aku sendirian di apartemen dan aku demam." Pinta Olivia.
Kirana bisa mendengar suara Olivia tapi dia hanya diam saja tidak ingin ikut campur. Kalau memang Rendy mencintainya dan benar-benar serius dengan hubungan ini, pasti Rendy akan menolaknya.
"Maaf Oliv, aku nggak bisa. Aku sangat sibuk. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan dan siang ini aku udah ada janji." Rendy berusaha menolak dengan halus.
Kirana tersenyum tipis merasa sangat senang karena Rendy benar-benar menolak Olivia.
Rendy sendiri juga tidak mau membuat masalah ini semakin runyam. Mungkin, para wartawan sedang menunggunya keluar dan mencari tau apa saja yang ingin dilakukannya. Selain itu, dia juga harus bisa menjaga perasaan Kirana.
"Baiklah aku mengerti." Ucap Olivia kemudian langsung memutus sambungan teleponnya begitu saja dengan hati yang penuh rasa kecewa karena Rendy menolak untuk datang menemuinya.
Rendy menghela nafasnya lalu menoleh menatap Kirana yang terlihat menjadi sangat murung. "Hey, kenapa cemberut? Cemburu ya?" Goda Rendy sambil merangkul Kirana.
"Idih, apaan sih Pak! Siapa juga yang cemburu?" Ucap Kirana dengan sinis sambil menepis tangan Rendy yang merangkul pundaknya.
"Ki, please! Jangan lagi panggil aku Pak!" Rendy sangat tidak suka mendengar Kirana masih selalu memanggilnya Pak.
"Biar kamu tau kalo aku lagi kesel sama kamu!" Ucap Kirana ketus sambil mendengus kesal.
"Oh, jadi kamu kesel sama aku? Kamu cemburu?" Tanya Rendy dengan menyeringai.
"Siapa yang nggak cemburu kalo pacarnya masih ada hubungan dengan mantannya? Kalo kamu masih belum bisa melupakan Olivia dan masih cinta sama dia, kenapa nggak balikan aja? Dia sangat cantik. Banyak laki-laki yang juga tergila-gila sama dia. Kalian cocok. Dibandingkan dengan ammph..."
Rendy langsung membungkam bibir Kirana dengan bibirnya.
Kirana terbelalak dan sangat terkejut saat Rendy tiba-tiba menciumnya lagi. Dia mendorong kuat dada bidang Rendy, tapi Rendy menangkap tangannya dan menggenggamnya erat lalu mendorong Kirana hingga bersandar pada sofa dan tidak bisa memberontak lagi.
Rendy menciumnya dengan dalam dan penuh kelembutan. Kirana yang masih berusaha memberontak kehabisan tenaga dan akhirnya pasrah lalu menjadi terbuai dengan ciuman Rendy. Dia pun memejamkan matanya kemudian.
Rendy tersenyum disela-sela ciumannya. Dia tau kalau Kirana masih belum terbiasa dengan yang namanya ciuman karena dialah laki-laki pertama yang mengambil ciuman dari bibir manis Kirana yang semakin membuatnya candu.
Sesaat kemudian, Rendy melepaskan ciumannya. Dia menatap lekat Kirana sambil mengusap bibirnya yang basah sedikit bengkak akibat ulahnya.
Kirana membuka matanya dengan nafas yang terengah-engah. Wajahnya tampak merona lalu menunduk. Perasaannya kini bercampur aduk. Ingin sekali marah kepada Rendy, tapi dia sendiri merasa menikmati ciuman barusan. Hatinya juga merasa berbunga-bunga karena Rendy telah menyatakan perasaannya dan hubungan mereka saat ini benar-benar serius. Tapi, Kirana juga merasa sangat malu.
Kirana masih terdiam menundukkan wajahnya. Dia semakin tersanjung dengan apa yang dikatakan Rendy barusan. Dia yang terbaik? Kirana merasa tidak percaya dan seperti sedang bermimpi hingga dia senyum-senyum sendiri.
'Pletak!'
"Aww! Maaas sakiiiit! Kamu apa-apaan sih?!" Pekik Kirana sambil mengusap-usap keningnya dan menatap Rendy dengan kesal.
"Kamu kebiasaan kalo diajak ngomong malah diem aja. Ngapain senyum-senyum sendiri? Atau...?" Rendy menunduk dan menatap Kirana dengan lebih dekat lagi. "Kamu bayangin ciuman barusan? Mau lagi?" Lanjutnya dengan menyeringai dan menaikkan sebelah alisnya.
"Iiiish! Apaan sih? Ngaco deh! Pikiran kamu terlalu kotor! Lagian kamu main nyosor aja! Ini dikantor Mas! Nggak sepantasnya seorang Presdir main cium-cium karyawannya!" Kirana mengomeli Rendy dengan keras sambil memukul dada bidang kekasihnya ini dan mendengus sinis. "Udah ah, aku harus balik ke ruanganku. Aku tadi bilangnya mau ketoilet tapi lama banget gara-gara kamu." Lanjut Kirana sambil bangkit berdiri.
"Udah jam makan siang. Sebaiknya kamu ikut aku, kita lunch bareng. Ayo!" Rendy bangkit berdiri dan menarik tangan Kirana mengajaknya keluar.
"Eeeh Mas, lepasin! Nggak usah pegang-pegang gini juga!" Pekik Kirana dan Rendy menghentikan langkahnya sebelum sampai dipintu.
"Kenapa? Kamu masih takut semua orang tau dengan hubungan kita?" Tanya Rendy. "Udahlah Ki, mulai sekarang nggak perlu lagi sembunyi-sembunyi. Aku capek!" Lanjut Rendy.
"Tapi Mas, jangan sekarang ya? Aku masih belum siap kalo semua orang disini tau. Mereka pasti akan benci sama aku." Ucap Kirana sambil memegang erat tangan Rendy dengan wajah cemas.
"Kenapa mereka harus benci sama kamu sih?" Tanya Rendy merasa heran dengan pemikiran Kirana.
"Mas, semua perempuan disini suka sama kamu! Harus berapa kali aku bilang? Aku cuma mau jaga perasaan mereka aja." Jawab Kirana dengan wajah yang menjadi sedih karena sejujurnya, dia juga ingin semua orang tau kalau dirinya punya pacar yang begitu tampan dan mencintainya. Tapi, untuk saat ini belum saatnya mengumbar kebahagiaannya kepada semua orang yang nantinya malah akan membuat dirinya menjadi dibenci dan dikucilkan semua orang disini.
Rendy menghela nafasnya panjang mencoba mengerti dan menyetujui permintaan kekasihnya ini. "Ok kalo itu maumu. Tapi, aku nggak bisa janji bakal bisa bertahan untuk diem aja. Tapi aku usahain." Ucap Rendy sambil mengusap sisi wajah Kirana.
"Makasih ya Mas." Ucap Kirana dengan tersenyum.
Kirana pun keluar lebih dulu dan meminta Rendy untuk menjaga jarak selama berada didalam kantor. Dia masih tidak bisa membayangkan kalau semua karyawan disini tau tentang hubungannya dengan Pak Presdir idola mereka. Sudah dipastikan, mereka akan melemparkan kata-kata yang buruk kepadanya.
Melihat Kirana tidak sengaja tersandung hingga menubruk Rendy saja, reaksi mereka begitu mengerikan bagi Kirana. Apalagi kalau melihat dirinya berjalan bersama Rendy dengan bergandengan tangan misalnya? Tidak terbayangkan bagaimana reaksi mereka.
Kirana merasakan ponselnya bergetar disaku celananya. Dia segera melihat ternyata ada notifikasi pesan dari Rendy.
"Langung ke parkiran mobilku. Kita Lunch bareng."
Kirana menghela nafasnya lalu tersenyum dan membalas pesan dari Rendy. "Iya."
Rendy mengernyit membaca pesan balasan yang hanya singkat satu kata saja. "Dia ini. Apa keyboard HPnya rusak? Nggak bisa ngetik lebih panjang? Dasar!" Gumam Rendy sambil mendengus lalu memasukkan ponselnya kedalam saku jasnya dan segera keluar dari ruangannya.
................