
Jungkook diam mematung. Tatapan terluka yura membuatnya merasa bersalah. 'Apa benar gadis itu tak berniat menghinanya ?. Dia bilang mengolok dirinya sendiri, jadi apa mungkin gadis sok tau itu juga sedang patah hati seperti dirinya' tanya jungkook dalam hati.
________
Yura terus melangkah menjauh dari kelas. Setelah adegan pertengkarannya dengan jungkook tadi, mood yura untuk makan sudah hilang tak bersisa. Yura terus mencibir dalam hati tentang tempramen buruk jungkook. Kenapa anak yang dulu yura kenal manis dan pemalu bisa berubah menjadi remaja tempramental sekarang.
Hah, yura menghela nafas panjang. Yura harus kemana sekarang ? Kantin jelas bukan pilihan yang bijak. Kalau oppa nya melihat wajahnya yang bertekuk seperti sekarang yura yakin dia pasti akan ditayai habis*an oleh yoongi oppa. Dan berbohong jelas bukan pilihan yang bisa yura pilih karna kakaknya itu sudah seperti dukun. Jadi mencoba berbohong pada min yoongi itu pilihan paling bodoh.
Yura terus melangkah dengan kepala menunduk sampai dia melihat sepasang sepatu seseorang menghalanggi jalannya, membuat kepalanya mendongak, melihat siapa kah pemilik sepatu tersebut. Dan ternyata park jimin sedang berdiri di depannya dengan wajah tersenyum. "Jangan jalan sambil nunduk, nanti nabrak." Jimin memberi peringatan sambil tersenyum manis. Melihat senyum jimin mau tak mau yura ikut tersenyum.
"Kenapa lama sekali menyalin catatannya, yang lain sudah menunggumu di kantin" ucap jimin.
"Kau sudah selesai makan siang ?" Tanya yura. Jimin mengangguk, karna memang dia sudah selesai makan tadi. Mata yura melihat kearah tangan kanan jimin yang menenteng kantong plastik warna putih berisi beberapa roti dan juga minuman.
"Kalau sudah makan kenapa bawa-bawa makanan ?"
"Ah ini bukan untukku, tapi untukmu" mendengar jawaban jimin yura menunjuk wajahnya sendiri seolah memastikan. "Iya, roti ini untukmu, yoongi hyung tadi menitipkan nya padaku karna dia pikir kau malas ke kantin, jadi dia menitipkan ini untuk makan siang mu." Yura hanya mengangguk saja, terlampau paham dengan perangai sang kakak yang terlampau perhatian. Tapi ada sedikit rasa syukur karna yoongi oppa nya sudah membelikannya makanan, itu berarti dia tak perlu ke kantin sekarang.
Jimin menyerahkan kantung itu pada yura. "Kau mau makan ini dikantin atau kembali ke kelas ?" Yura tampak berfikir sebentar kemana dia harus pergi, kantin Jelas bukan pilihan yang tepat, tapi kalau dia kembali ke kelas dia akan bertemu jungkook lagi. "Kau mau ke kelas jim ?". "Tidak aku mau ke ruang dance sebentar" mendengar jawaban jimin tiba* satu ide terlintas di kepalanya.
"Aku ikut ke ruang dance ya ?" Jimin yang melihat yura menampilkan ekspresi memelas seperti kucing kecil yang minta dipungut hanya bisa tersenyum saja. Menimang, mungkin tidak ada salahnya juga mengajak yura ikut, lagipula jimin hanya perlu membersihkan ruang dance itu agar bisa digunakan untuk berlatih nanti siang. "Ayo kalau mau ikut." Mereka berdua berjalan beriringan menuju ruang dance.
_______
Kalau dipikir lagi setiap kali dia bertemu dengan gadis sok tau itu. Mereka selalu saja bertengkar. Ah lebih tepatnya dia sendiri lah yang selalu marah pada si gadis min yang ia beri julukan gadis sok tau itu. Entah kenapa tempramennya selalu saja terpancing setiap melihat tingkah laku gadis itu. Ada setitik rasa heran pada dirinya sendiri, sebab selama ini ia selalu pandai mengendalikan dirinya. Tapi kenapa berhadapan dengan si gadis min itu membuat perasaan nya terlampau sensitif sampai* amarahnya mudah sekali terpancing.
Meletakkan manga nya kasar. Menyerah, karna ia sama sekali tak bisa fokus pada manga yang sedang ia baca. Jungkook membentur benturkan kepala pelan ke meja. Berharap banyangan kejadian beberapa saat lalu hilang dari ingatannya. Bayangan gadis sok tau yang memakinya dengan pandangan sedih itu terus membuatnya merasa bersalah. Rasanya sekarang kepalanya hanya penuh dengan bayangan gadis min itu.
Jungkook bangkit dan memilih untuk menuju ke taman belakang sekolah. Sekedar mencari udara segar untuk menyehatkan otaknya lagi. Karna jika seperti ini terus dia juga tak akan bisa fokus untuk pelajaran selanjutnya.
Jungkook berjalan ke luar kelas. Ia sengaja memilih jalur yang melewati ruang dance, karna jalur itu adalah yang paling dekat menuju taman belakang. Dan biasanya jalur itu lebih sepi dibandingkan jalur yang lain. Tapi saat mendekati ruang dance ia mendengar suara tawa seorang gadis.
Agak tidak yakin dengan apa yang ia dengar karna jam segini biasanya ruang dance akan kosong, sebab biasanya ruangan dance hanya digunakan saat jam ektrakulikuler berlangsung. Jungkook bukan tipe penakut yang akan berpikiran tentang hantu di siang hari. Karna itu untuk menuntaskan rasa penasarannya ia mengintip ke jendela ruang dance tersebut.
Pemandangan yang ia tangkap dengan matanya benar* membuatnya mengepalkan tangan. Di dalam sana, jimin sedang menari dengan gerakan konyol sedangkan di lantai ada yura yang duduk sambil terus tertawa melihat aksi konyol jimin. Dalam persekian detik wajah jungkook memerah marah, dia merasa bodoh karna merasa bersalah pada gadis sok tau itu beberapa saat lalu sampai membuat pikirannya kacau. Sedangkan sang pelaku yang membuat pikirannya kacau justru sedang tertawa lepas dengan park jimin. 'Sialan sekali' batin jungkook.
Tanpa berlama lama mengintip pemandangan yang membuatnya mual itu. Jungkook berlalu meneruskan tujuannya untuk ke taman belakang. Entah kenapa mood nya semakin kacau saja.
***