
Rendy mengajak Kirana sarapan bersama sebelum dia pergi ke kantornya.
Ponselnya yang dia letakkan dimeja makan bergetar. Ada panggilan masuk. Rendy hanya meliriknya saja dan tidak mengangkatnya.
Kirana ikut melirik kearah layar ponsel Rendy. Kemudian Rendy terlihat mempercepat menghabiskan sarapannya.
"Aku tinggal ya? Kamu habisin sarapanmu. Aku ada meeting. Kamu istirahat dulu aja disini." Ucap Rendy selesai sarapan lalu bangkit berdiri.
"Emm..aku mau pulang aja Mas." Ucap Kirana karena merasa sangat tidak enak dihatinya kalau dia masih disini.
Rendy mengernyit menatapnya. "Kenapa? Kamu takut sendirian disini?"
Kirana melebarkan matanya. Apa Rendy menganggapnya sebagai seorang penakut?
"Bukan. Aku cuma ngerasa nggak enak aja kelamaan disini apalagi sampai nginep. Takut jadi fitnah." Jawab Kirana.
Rendy tersenyum sinis. "Terserah kamu. Aku suruh Beni nganter kamu. Aku buru-buru, udah telat." Ucap Rendy dengan dingin kemudian segera pergi.
Kirana terpaku sesaat menatap kearah punggung tegap Rendy yang kemudian membuka pintu dan keluar lalu menutup pintunya lagi.
Muncul perasaan aneh dibenak Kirana. Kirana menghela nafasnya panjang kemudian berbalik dan segera beranjak kekamar mandi.
Beni sudah menunggu didepan pintu. Tak lama Kirana keluar. "Pagi mbak Kirana." Sapa Beni dengan ramah.
"Pagi juga Pak Beni." Balas Kirana dengan tersenyum.
"Mari aku anter kamu mbak."
Kirana pun mengangguk dan berjalan dibelakang Beni. Sesampainya di basement, Beni membukakan pintu mobil untuk Kirana dan Kirana masuk duduk dibagian penumpang.
Beni berjalan mengitari mobil, membuka pintu dan masuk dibagian kemudi. Dia menyalakan mesin mobilnya lalu melajukannya.
"Pak Beni, boleh aku tanya sesuatu?" Tanya Kirana dengan ragu-ragu tapi dia ingin tau.
"Silahkan mbak." Jawab Beni sambil melirik Kirana dari kaca spion.
Kirana merasa ragu tapi dia ingin memastikan saja.
"Apa Pak Beni tau siapa Lena?"
Beni sedikit terkejut dan tidak langsung menjawab pertanyaan Kirana. Dia merasa bingung harus memberitau Kirana atau tidak.
Saat ini memang Kirana sudah menjadi kekasih Bosnya. Tapi Beni masih sangat ragu kalau Rendy akan benar-benar jatuh cinta kepada Kirana. Karena Rendy sering terlihat sedang bicara ditelepon dengan seorang wanita dan Beni tau kalau wanita itu adalah Lena.
Beni hanya terkejut karena tiba-tiba Kirana menanyakan ini kepadanya.
"Pak Ben?"
Kirana memanggil Beni karena Beni hanya diam saja. "Apa Lena, perempuan cantik dan sexy yang pernah aku liat di Club malam itu?" Lanjut Kirana dengan senyum tipisnya dan tiba-tiba hatinya merasa gundah.
"Em..benar. Tapi, kenapa tiba-tiba kamu tanya itu?" Jawab Beni lalu balik bertanya sambil melirik Kirana dari kaca spion. Beni bisa melihat perubahan wajah Kirana yang terlihat muram.
Meeting? Setauku, pagi ini Bos nggak ada meeting.
Batin Beni kemudian dia menepikan mobilnya dan berhenti.
Beni meraih ponsel dari saku jasnya dan mmebuka kembali email yang berisi jadwal meeting dan pertemuan Bosnya yang dikirim oleh Siska.
Beni selalu tau dan mengingat jadwal Bosnya. Karena Siska selalu mengiriminya email tentang jadwal dari Rendy supaya selalu bisa mengingatkannya. Dan Beni akan selalu mendampingi Rendy saat meeting atau ada pertemuan dengan rekan-rekan bisnisnya.
Tapi, bahkan pagi ini Rendy menyuruhnya untuk mengantar Kirana dan tidak mengatakan kepadanya tentang adanya meeting pagi ini.
"Bos memang ada meeting pagi ini mbak. Kamu nggak usah khawatir. Lena itu cuma temennya Bos aja." Ucap Beni setelah melihat kembali jadwal Bosnya kemudian melajukan lagi mobilnya.
"Idih. Siapa juga yang khawatir?" Gerutu Kirana sambil mendengus menyangkal ucapan Beni.
Beni hanya tersenyum tipis saja sambil melirik Kirana dari kaca spion. Padahal sudah terlihat jelas wajah cemburu Kirana dari pandangan Beni.
...
"Terimakasih banyak atas kerjasamanya Mas Rendy. Saya merasa puas dengan tawaran anda. Sekali lagi terimakasih banyak." Ucap klien Rendy dengan tersenyum lebar sambil berjabat tangan.
"Sama Pak. Senang bisa bekerja sama dengan perusahaan anda." Ucap Rendy dengan tersenyum ramah kemudian bangkit berdiri setelah melepaskan jabatan tangannya. "Kalau begitu saya pamit dulu, masih ada urusan." Lanjut Rendy.
"Oh, silahkan Mas." Jawab klien Rendy dan Rendy bersama Siska beranjak pergi.
"Kamu duluan aja balik ke kantor. Saya masih ada urusan." Ucap Rendy menghentikan langkahnya dilobby hotel.
"Baik Pak." Jawab Siska dengan hati yang bertanya-tanya.
Pak Rendy ada urusan apa emangnya?
Rendy berbalik dan meninggalkan Siska setelah mendengar jawabannya.
Siska masih berdiri diam memperhatikan Rendy. Kemudian dia terbelalak ketika melihat Rendy menghampiri seorang wanita yang sedang duduk disana.
"Eh, siapa dia? Dia bukan Olivia kan?" Gumamnya dengan melebarkan matanya memperhatikan wanita yang langsung tersenyum senang dan berdiri ketika Rendy mendekatinya.
"Memang bukan Olivia. Terus siapa dia?" Lanjut Siska dengan sangat penasaran.
"Lama ya nunggunya?" Tanya Rendy pada Lena.
"Wah, aku hampir nggak ngenalin kamu. Kamu udah kayak Bos Bos pengusaha aja." Ucap Lena semakin terpana dan kagum melihat Rendy memakai setelan jas berwarna gelap terlihat semakin tampan dan gagah seperti seorang pengusaha kaya yang sering membookingnya minta dipuaskan. "Enggak lama kok. Kalopun lama, aku juga rela nungguin kamu." Jawab Lena dengan terkekeh dan Rendy hanya tersenyum.
"Ya udah ayo!" Ucap Rendy dan mereka berdua pergi.
Lena sama sekali belum tau tentang siapa Rendy. Dia hanya mengenal Rendy sebagai orang biasa karena Rendy juga tidak pernah memperkenalkan dirinya sebagai pimpinan perusahaan terbesar dikota ini. Akan lebih baik seperti ini.
Diam-diam, Siska mencuri foto Rendy dan Lena dari balik pilar. "Mau kemana ya Pak Rendy sama cewek itu?" Gumamnya sambil memperhatikan langkah mereka yang menuju pintu keluar. "Tau ah." Imbuhnya kemudian segera pergi karena dia masih banyak pekerjaan dan harus kembali kekantor.
................