
Pelangi dan kedua sahabatnya sudah duduk dalam satu meja bersama Joe dan Lucas yang lebih dulu nongkrong di sebuah restoran. Pelangi memberikan isyarat pada Jeni dan Lisa sebelumnya agar mereka tidak menceritakan hal yang sudah mereka alami tadi.
"Kalian lama banget sih, kemana aja?"
"Ehm, maaf Joe. Tadi, itu.. Eeh, Lisa masih keliling di store make up."
"Bener?" Tanya Joe menyelidik.
"Hem, ya. Benar Joe, tadi kita masih menemani Lisa di store make up."
"Udah ah, makan yuk." Ujar Lisa mengalihkan.
Tengah asyik menyantap makanan dan minuman yang sudah mereka pesan sejak tadi. Pelangi dan Joe terlihat mesra dengan segala senda gurau mereka, Jeni dan Lisa mendecak sebal di susul oleh Lucas karena mereka merasa di jadikan obat nyamuk.
Drrrtt... Drrrtt...
Tiba-tiba ponsel Pelangi bergetar, sebuah panggilan masuk dari nomor baru terlihat di layar ponsel nya yang sejak tadi dia letakkan di atas meja. Joe melirik ponsel tersebut, dengan cepat Pelangi menyentuh layar untuk mengakhir panggilan tersebut.
Aduh, pasti cowok gila tadi yang menelpon ku barusan. Mau apa lagi sih dia?
Bathin Pelangi berbicara.
"Siapa sih, yang nelpon daritadi?" Joe mulai kesal setelah melihat Pelangi berulang kali me-reject panggilan tersebut di ponselnya.
"Ah, eh... Entah lah, paling juga panggilan spam."
Joe mengerutkan keningnya menatap Pelangi yang berusaha membohonginya.
Sementara Lisa dan Jeni salah tingkah dan saling menyenggol lengan masing-masing.
"Iih, apaan sih liatin aku gitu? Gak percaya?" Pelangi mulai merasa di introgasi melihat ekspresi Joe yang sedikit berbeda. Ada kecemburuan muncul dalam tatapan matanya.
"Jen, ku tahu kau paling tidak bisa berbohong diantara kita. Aku lebih percaya padamu, apakah ada cowok lain yang mengganggu Pelangi ku?"
Jeni membelalakkan kedua matanya mendengar Joe memberinya pertanyaan demikian. Jeni mulai kikuk dan kebingungan untuk memberikan jawaban yang tepat.
"Hey, kau. Sikap apa itu? Kenapa seolah kau menuduh kami berbohong padamu, Joe?" Ujar Lisa mencoba melindungi Jeni dari desakan Joe.
"Joe, apaan sih.. Gak ada cowok lain yang menggangguku," Pelangi mencoba menjelaskan kembali untuk meredakan kecurigaan Joe.
Namun ponselnya kembali bergetar, sebuah pesan singkat mendarat di layar ponselnya.
Aaaarght, sial!!! ****** gue, ngapain sih pakai kirim pesan segala. Joe pasti bakal salah paham nih, duuuh...
Dengan cepat Joe meraih ponsel Pelangi dan membaca pesan singkat tadi.
Hai cewek galak, haha. Beraninya ya, kau menolak panggilan telepon ku. Aku tidak akan menyerah!!!
"Ini apa, Langi?"
Sontak Pelangi menundukkan wajah dan memejamkan kedua matanya, tanpa berani menatap wajah Joe sedikitpun.
"Ehm, Joe. Tadi, saat kita akan menyusul kalian kami sempat beradu cekcok dengan tiga cowok sekaligus. Salah satu dari mereka tidak sengaja menubruk Pelangi dan menindihnya. Jadi aku memberinya sedikit pelajarana tadi, itu sebabnya kami terlambat menyusul kalian kemari." Jelas Jeni yang pada akhirnya menceritakan semua yang terjadi tadi.
"Apa? Ya ampun, Langi. Kau baik-baik saja? Apa ada yang terluka?" Joe mulai panik menyentuh dan meraba sekujur tubuh Pelangi.
"Oh astaga. Sudah ku duga, Jeni tidak akan bisa berbohong." Keluh Lisa dengan helaan nafas panjang.
"Joe, apaan sih. Jangan lebay deh, geli ah. Aku gapapa, tadi cuma terjatuh aja. Tapi beneran gapapa, lagian Jeni sudah menghajar mereka dengan pukulan mautnya. Hehe,"
"Helloo, Joe. Pliss deh, kita kesini bukannya mau senang-senang dan menemani kalian kencan. Jangan berlebihan doong, Princess cold baik-baik aja." Lisa membantah sikap Joe yang berubah panik dengan menggenggam erat kedua tangan Pelangi.
"Tau nih, Joe. Lebay tau gak? Pelangi gapapa. Ayo lah, kita happy-happy." Jawab Jeni kemudian.
"Sory, Joe. Aku gak bermaksud bohongin kamu, jangan marah ya."
"Hah, baiklah. Dengan satu syarat, jangan pernah jauh satu langkah pun dari ku. Aku akan menjagamu, aku akan melindungimu, baby."
"Diih, kamu duluan yang meninggalkan ku demi Lucas. Jadi bukan salah ku dong, jika ada cowok lain yang berusaha mendekatiku." Balas Pelangi mencoba menggoda pacarnya itu.
"Ooh, jadi kau cemburu pada Lucas. Maka itu kau memberikan nomor ponsel mu pada cowok yang menindihmu tadi, begitu?"
"OMG, pliss jangan bawa-bawa gue dalam hubungan kalian. Cukup aku sudah mengalah demi elu, Princess cold." Jawab Lucas memainkan bibir bawahnya.
"Jadi kamu nuduh aku yang memberinya nomor ponsel ku dengan sengaja? Iya? Apa aku terlihat segampang itu, Joe?" Pelangi mulai kesal karena merasa jika Joe mulai tidak mempercayainya.
"Lalu bagaimana mungkin cowok gila itu tahu nomor ponsel mu, Langi?"
"Tauk ah, percuma aku menceritakan jika kau tetap menuduhku demikian." Jawab Pelangi dengan memalingkan wajahnya.
"Ya wajar dong, aku begini. Karena kau pacar ku saat ini, Langi. Dan sejak tadi kau merahasiakan nya dariku tentang cowok itu."
"Apaan lagi sih, siapa yang merahasiakannya darimu. Aku tidak mengenalnya, untuk apa aku merahasiakannya darimu, Joe?"
"Astaga, elu sih Jen. Ini nih akibat dari mulut elu yang gak bisa diajak kerja sama, jadi berantem tuh mereka." Bisik Lisa menyenggol lengan Jeni yang tercengang menyaksikan pertengkaran mereka.
"Aduh, iya maaf. Sa, lagian bukan salah gue aja dong. Lihat, cowok tadi sudah berani menelpon Pelangi. Gila gak sih, dia. Nekat, belum tahu aja bagaimana Pelangi."
"Iya nih, gara-gara dua teman nya yang resek itu. Kita jadi kecolongan jagain Princes cold,"
"Aduh Tuhaaan... Bisa gak sih, kalian jangan berantem gitu." Lucas meneriaki mereka. Dia merasa terganggu yang sejak tadi menikmati makananya dengan lahap.
Pelangi dan Joe terdiam sesaat menoleh ke arah Lucas.
"Hah, astaga. Maafin aku, sudah membuat kalian jadi tidak nyaman." Ucap Joe dengan suara lirih kemudian.
"Sa, Jen. Aku pulang duluan aja, aku capek." Ujar Pelangi berenjak berdiri.
"Langi..." Panggil Joe dengan lembut, kemudian meraih tangan Pelangi.
"Pliss jangan pulang dulu, ok ok. Maafin aku, kita jangan bahas ini lagi ya?" Pinta Joe dengan suara memelas. Membuat Pelangi mengurungkan niatnya untuk pulang lebih dulu. Kemudian Joe berdiri menghadapnya lalu memeluk tubuh Pelangi tanpa pedulikan ketiga sahabat Pelangi yang sedang menyaksikan hal ini.
Cup!!!
Joe mengecup kening Pelangi dengan lembut, sontak Pelangi sedikit menjauh dengan wajah merah jambu. Dia sedikit salah tingkah mendapat perlakuan Joe demikian.
"Kyaaaaaaaa... Kaliaaan, dasar. Pergi saja kalian, gak usah ngajakin kita-kita lagi. Huh, menyebalkan!!!" Teriak Lisa menyaksikan mereka beradu salah tingkah satu sama lain.
"Sa, izinin gue melempar mereka dengan sendok ini." Jeni pun terlihat kesal.
"Hikzt, huwaaaaa... Joe, kau jah-hat. Beraninya kau bermesraan di depan ku begitu, aaaah... Aku cemburu..." Lucas merengek manja, mendecakkan kaki nya di lantai membuat Pelangi dan Joe tertawa cekikikan.
Dalam bathin Pelangi bergumam...
Hah, cowok pembawa sial. Gara-gara dia aku dan Joe jadi berantem kan, menyebalkan!!!
🐝Masih mau lanjut gak nih??? Udah vote dan like belum??? Hehe... Jangan cuma nuntut crazy up, tapi lupa like dan vote banyak. Dan pliss jangan berasumsi sendiri yang membuat kisah ini tidak diminati lagi oleh pembaca lainnya. Sebelum kalian tahu cerita di setiap episodenya, hehe🐝